PURNAMA

PURNAMA
Mereka itu siapa?


__ADS_3

Dihari lain yang begitu tenang, Ralin tengah berusaha menahan amarah dengan apa yang dialaminya.


“ Gue nggak ada niatan kenal sama mereka. Jadi ogah deh gue berurusan sama para pengurus Osis itu. ” ujar Ralin menyemil snack yang dibawa Atlas dihari yang lain. “ Ada yang aneh dengan mereka, termasuk elo! ”


“ Gue juga ?? ” Atlas menuding dirinya. Raut wajahnya seakan tidak menerima tudingan Ralin pada dirinya.


Ralin mengangguk. “ Lo aneh aja. Kemaren udah kaya ngilang aja beberapa hari. Gue cari kekelas pun, teman lo nggak ada yang tahu lo dimana. Lo masuk apa nggak? Alamat rumah lo dimana! ”


Atlas menggaruk kepalanya dan sedikit kebingungan dengan jawaban yang harus ia berikan kepada Ralin.


“ Soal para pengurus Osis itu, memangnya mereka kenapa? ” kilah Atlas.


Ralin mendelik kesal. Dia tahu kalau Atlas bermaksud menghindari alasan menghilangnya dia beberapa hari kemarin. Atlas sejak kedatangannya pagi ini memang dengan sengaja mengalihkan setiap pertanyaan Ralin yang membahas soal hilangnya dia dari sekolah beberapa hari kemarin.


“ Jelas aneh! Lihat mereka.. ” Ralin menuding kelantai dua Ruangan Osis dibangunan Utama gedung sekolah yang menghadap kearah timur. Tepat diarah teras dimana para pengurus Osis sering berkumpul atau paling tidak tempat mereka selalu menghabiskan waktu istirahatnya.


Diteras ruang itu, Celine tengah bersanding dengan Andra. Dan Nathan berada diantara keduanya. Dikursi meja samping ada Rassya, sang kakak tengah membuka sebuah map yang mungkin sedang dipelajarinya. Memperhatikan dengan begitu seksama sosok para pengurus Osis, Ralin sempat terdiam. Dia merasa kagum dengan apa yang dilihatnya. Seakan dirinya telah melihat sebuah lukisan dengan nilai sejarah yang tinggi. Dimana teras ruang Osis sendiri memang terlihat sangat mewah. Terlihat seperti balkon pada sebuah gedung opera yang hanya ditempati oleh orang-orang penting saja seperti para pengurus Osis, mereka mengenakan jas hitam dengan label merah dibagian lengan kanan atas sebagai blazer resmi yang membedakannya dengan para siswa lainnya.


“ Mereka aneh. Seperti bukan manusia saja. ” tambah Ralin disela kediamannya yang terkagum-kagum akan pandangan yang dilihatnya kini.


“ Kalau bukan manusia, ” Atlas menatap Ralin dengan pasti. “..lalu menurut lo mereka itu apa? ”


“ Ng, entahlah. Mana gue tahu. ” jawab Ralin mengantung. Dia menatap Atlas sejenak.


“ Apa maksud pertanyaan lo barusan? ”


Tidak berkenan menjawab, Atlas hanya mengangkat bahunya lalu melambai dan pergi dari hadapan Ralin tanpa permisi. Pertanyaan dari Atlas itu terus mengusik pikiran Ralin setelahnya. Ditambah kejadian kemarin, dimana Ralin ingat betul bagaimana cepat dan tepatnya apa yang Andra dan Celine lakukan. Untuk ukuran seorang manusia tentunya.

__ADS_1


Langkah Ralin terhenti menyadari sosok Atlas yang meninggalkannya jauh dibelakang. Hanya melempar senyum penuh makna, hawa dingin tiba-tiba menyeruak disekeliling Ralin. Hawa yang datang dari balik pohon kenanga disudut ruang UKS sekolah. Terjebak dalam hawa dingin yang berhembus, terlintas mimpi yang selalu mengganggu tidurnya beberapa bulan belakangan.


Hutan pinus, hamparan mawar putih, cahaya senja yang perlahan menghilang dibelahan bumi bagian barat, dan sosok misterius yang seakan memanggil Ralin untuk mendekatinya.


Samar-samar dari kejauhan sosok Atlas yang mendekat perlahan, memaksa Ralin mengingat sebuah mimpi buruk. Mimpi yang membawa ingatannya jauh kedalam kegelapan.


Gelap yang benar-benar gelap. Sampai terlihat seperti ada nyala obor kecil diujung sana. Suara teriakan itu semakin jelas terdengar ditelinga. Ada jerit ketakutan. Erangan rasa sakit. Tangisan dan lalapan api yang memporak porandakan sebuah desa kecil. Tatapan kebencian segerombolan orang, tangan yang berlumuran darah, serta seorang anak laki-laki yang terkulai lemas dibawah sepasang kaki yang mengenakan sepatu berwarna merah menyala. Nafasnya tersengal. Dia terengah-engah melihat tangannya sendirilah yang penuh dengan lumuran darah. Sampai hembusan angin yang kuat menerpanya dan tubuhnya terhempas jauh kebelakang.


Begitu tersadar akan rasa kaget akibat tubuhnya yang terhempas jauh, Ralin baru menyadari semua yang dilihat dan dirasakannya tadi hanyalah sebuah mimpi. Mimpi buruk yang terasa benar-benar nyata. Mencoba mendengar dengan jelas suara yang terdengar disekelilingnya, matanya memutar memperhatikan ruangan bernuansa hijau turkis tersebut. Selimut putih yang menyelimuti sebagian tubuhnya dan bau obat-obatan yang samar-samar tercium olehnya. Disamping ranjang ruangan UKS itu, terdapat sekat gorden yang membatasi sosoknya dengan pemilik suara yang juga berada diruangan itu. Dari celah yang sedikit terbuka, Ralin coba melihat dan mencuri dengar arah pembicaraan yang terjadi antara Andra dan Atlas yang nampak bersitegang.


“ Sebenarnya apa yang ada dipikiran lo saat melakukan hal tadi? ” Andra menahan pundak Atlas dengan santainya. “ Belum saatnya dia harus mengingat semuanya sampai sejauh itu.”


“ Lo tahu bagaimana jadinya kalau dia sampai kembali tanpa mengenal siapa dirinya yang sebenarnya? ” suara lain terdengar meninggi. Suara perempuan yang cukup familiar ditelinga Ralin. Suara halus yang sedikit mirip dengan suara lengkingannya. “ Atau tanpa dia tahu siapa dirinya dimasa lalu? ”


Itu suara Celine. Apa yang mereka bicarakan sebenarnya. Masa lalu siapa? 


“ Tunggulah sampai saatnya tiba. ” Andra terlihat menepuk pundak Atlas. “ Setidaknya sampai kita tahu kebenaran dibalik masa lalunya? ” Andra melirik kebalik gorden tempat Ralin terbaring tidak sadarkan diri. Tatapannya penuh dengan kegelisahan dan kekhawatiran. Juga kekesalan dan kesedihan.


“ Gue nggak bisa menunggu lebih lama lagi. ” Bayang muram seorang gadis melintas dibenak Atlas. Gadis yang mengahabiskan sebagian besar waktunya bersama Andra berabad-abad lamanya. Gadis yang mengorbankan waktu, keinginan dan hasratnya hanya untuk mencari sosok yang ada dalam tubuh Ralin. Gadis yang mengulurkan tangan pada dirinya dan meminta bantuannya untuk mencari sebuah kebahagiaan bersama-sama.


Atlas menepis tangan Andra dari bahunya dan berlalu secepat hembusan angin melalui jendela yang ada disamping ranjang tempat Ralin terbaring.  Melihat hal itu, Ralin kembali berpura-pura tertidur. Dia tidak ingin Andra dan pejabat Osis lainnya tahu kalau dirinya mendengar dan melihat apapun yang terjadi diruang UKS kini.


“ Sudah berkali-kali… ” Celina memecah keheningan yang ada. Seakan berusaha memperlihatkan sesuatu, Celine memegang bahu Andra dan membiarkan Andra mengetahui sesuatu yang mampu dilihatnya beberapa kali secara kebetulan.


Celine memperlihatkan beberapa bayangan sosok Atlas yang selalu mencoba membangunkan Ralin dari tidur panjangnya. Dengan menggunakan keahlian pengendalian ingatan, Atlas mencoba membuka satu persatu kunci ingatan Ralin. Menunjukan beberapa kenangannya dengan sosok Andra yang dimasa lalu. Atlas yang dengan berani mendorong Ralin dari lantai dua dengan maksud Andra menunjukan jati dirinya pada Ralin. Dan hari ini, Atlas membuka kunci ingatan kelam Ralin dengan paksa. Memperlihatkan sisi kelam yang dimana hanya sosok Ralin dimasa lalulah yang mengetahui kebenaran atas apa yang terjadi pada dirinya dimasa itu.


“ Gue udah baikan kok. ” Kalimat Ralin itu seketika memecah konsentrasi Celine dan Andra.

__ADS_1


Nathan berbalik dan menatap heran. Sedari awal ikut menunggu Ralin tersadar dari pingsannya, Nathan tidak menyadari adanya dera nafas diruangan itu. Aliran darah disetiap nadi dan suara detak jantung Ralin pun luput dari pengamatannya begitu memasuki ruangan bersama teman-temannya itu. Bahkan saat dia mencoba mendengarkan  dan mencari semua hal yang luput dari pengamatannnya dengan lebih baik pun, seakan ada yang menghalangi hal itu.


" Lo udah sadar? " tanya Andra memecah konsentrasi Nathan. Dia melihat Ralin lekat-lekat sampai Celine menyambit lengannya dengan santai.


Nampak bernafas lega melihat Ralin terbangun dari pingsannya, Andra dan Celine menoleh kearahnya. Dibukanya gorden yang membatasi mereka sebelumnya. Andra tersenyum lega melihat Ralin sudah membuka matanya dan terlihat baik-baik saja. Dia bersandar pada meja rawat dan hanya melihat kearah Ralin. Nathan melepas kaca mata tipisnya karena merasa telah menyadari sesuatu yang janggal tapi tetap terlihat kalem dengan memegang lembut tangan Celine dengan kedua tangannya. Bertemu tatap dengan Ralin, sinar mata Celine yang memancarkan warna keemasan membuat Ralin terkagum.


Sangat cantik.


“ Akhirnya sadar juga. ” sambut Celine. Dibalas dengan melempar senyuman, Ralin bersandar diranjang rawatnya.


Seketika angin berhembus menyeruak kedalam ruang UKS melalui jendela belakang tempat Atlas melesat pergi. Ada dera kerinduan yang berhembus mendalam dalam ruangan itu. Hawa yang masuk seakan mengusik dan mengalihkan pandangan ke tiga pengurus Osis kearah luar jendela. Memandang tepat diujung bukit disamping bangunan sekolah yang berdiri dengan kokoh ini. Nathan mengangkat sedikit wajahnya. Dia tersenyum sembari menarik Celine dalam pelukannya yang disambut dengan hangat. Andra sendiri hanya berdiam diri dari sandarannya seakan dia menikmati hawa kerinduan yang sedang menyeruak diruangan itu.


“ Kalian… benar-benar aneh. ”gumam Ralin disela-sela dirinya menikmati hawa yang berhembus.


“ Mungkin. ” jawab Celine.


“ Tapi kami tidak pernah peduli dengan itu. ” timpal Nathan atas jawaban Celine.


Ikut menikmati hembusan angin segar yang masuk, Ralin hanya menatap tiga pengurus Osis yang menemaninya selama berada diruang UKS. Sampai sebuah tangan menepuk kepala Ralin dengan perlahan.


Tepukan pertama, Ralin terpaku.


Tepukan kedua, Ralin mengingat.


Dan tepukan ketiga, Ralin tersenyum.


“ Hangat. ” gumam Ralin dari balik senyumnya. Ditatapnya sosok Andra dengan seksama.

__ADS_1


***


__ADS_2