PURNAMA

PURNAMA
Masih tentang Andra


__ADS_3

Bisikan parau yang sempat mengambil ingatan dan diri Ralin, kalah efektif dengan hal yang dilakukan Andra terhadap dirinya. Kehilangan kendali diri, Ralin sudah berhasil menyerang Andra dengan gesit. Memukul, menendang, melempar, dan bahkan sempat membanting Andra ketanah. Tapi Andra terus bangkit secepat kilat menghindari setiap serangan yang Ralin berikan.


“ Apa hanya sebatas ini kemampuan lo mengendalikan diri lo sendiri? ” ujar Andra ditengah-tengah perkelahian yang terjadi.


Tidak menjawab, Ralin tersenyum kecut. Kembali menyerang tanpa aba-aba membuat Andra mempunyai kesempatan untuk mengunci kedua tangan Ralin pada batang pohon dibelakangnya. Menatap dan mengendalikan waktu dipikiran Ralin agar dia bisa mengambil alih kendali dirinya sendiri, Andra terdiam menatap Ralin yang perlahan melemah.


“ Serangan lo sama sekali nggak berubah. ” Andra tersenyum.


Kendali waktu Andra membantu Ralin menahan amarahnya. Mengembalikan kendali diri dan ingatannya, Ralin tertunduk. Andra membawa Ralin dengan mengendong tubuhnya ke bangku yang ada dibawah pohon trembesi tua tempat awal mereka berbicara. Duduk dan bisa melihat kalau Ralin tersengal, Andra kembali membawa gadis itu kedalam pelukannya seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.


“ Lebih baik? ” Andra terus mendekap gadis yang sempat menyerangnya dengan bengis tersebut.


“ Hemm.. ” Ralin bergumam lemah dalam dekapan Andra.


“ Lain kali, jangan dengarkan siapapun selain insting lo sendiri. Abaikan setiap hal buruk yang lo terima. Semua itu tidaklah penting kalau tujuan awal lo emang baik. ”


“ Hemm.. ” kini suaranya terdengar sedikit malu-malu.


Andra tersenyum.


“ Dan... ” dia menempelkan tangannya pada pipi Ralin yang kini tengah menatap dirinya dengan rasa bersalah. Wajah yang terlihat begitu manis itu sempat membuat dirinya tersipu.


“ Ingat ini,” Satu kecupan menempel manis dibibir Ralin. Tangan gadis itu mengepal kaget.


Perasaan yang menghangat mengembalikan sisi manusia Ralin. Merasakan debaran yang perlahan semakin kencangnya, dia memejamkan mata. Berharap apa yang dilakukan Andra bukan hanya sekedar kecupan.


Melihat reaksi yang ditunjukan Ralin, perlahan Andra menarik diri dari gadis yang duduk didepannya itu. Berdiri cepat karena merasa salah tingkah, Andra menahan senyum kegembiraanya.


“ Sepertinya gue perlu antar lo pulang. ” ucap Andra membuang pandangannya dari gadis yang kini merasa bodoh karena tengah memejamkan matanya. Ralin membuka sedikit matanya. Dilihatnya sosok Andra yang berusaha menahan rasa senangnya dengan hal yang terjadi.


“ Mau pulang nggak? ” Andra menoleh. Dia masih terlihat malu-malu dan salah tingkah.


“ Ng.. ” angguk Ralin menunduk malu. Sempat ada kekakuan diantara keduanya.


Mendahului langkah Andra, dijalan setapak yang sedikit menurun itu, Ralin kehilangan satu langkah yang hampir membuatnya terjatuh. Lebih cepat dari yang bisa dibayangkan Ralin, Andra merangkul tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. Kemudian digendongnya Ralin seperti yang hari ini Andra lakukan.


“ Gue perlu antar lo pulang lagi kan? ” senyum Andra sumringah menebak ingatan yang sedang dibayangkan oleh gadis yang sedang digendongnya tersebut. Diturunkan pelan tubuh Ralin. Membantu Ralin berdiri dengan baik, Andra mengikatkan jas Osis yang ia gunakan untuk menutupi bagian lutut yang disadari ingin Ralin sembunyikan.

__ADS_1


“ Ayo. ” Andra membukakan pintu mobil disamping kemudi.


“ Ndra, gue... ” Ralin clingukan merasakan hawa aneh berhembus dari arah sampingnya. Ditatapnya halaman utama sekolah itu yang ternyata sudah sepi.


“ Alin, ayo masuk. ” salah memanggil nama Ralin, Andra yang berdiri disamping pintu kemudi bergegas masuk menyusul Ralin yang tiba-tiba sudah menutup pintu mobil disamping kemudi.


Ada hal mengganjal dipikiran Ralin ketika ia melihat halaman utama sekolah. Samar-samar Ralin dapat merasakan adanya sosok lain dihalaman itu. Sosok pembisik parau yang ia cari keberadaannya.


Memasang safety belt, Ralin melihat kearah spion depan, saat mobil memutar untuk keluar area parkir sekolah, Ralin melihat sesosok pria berpakaian hitam yang berdiri tepat ditengah-tengah halaman utama sekolah. Sosok itu menatap kearah laju mobil Andra. Semakin diperhatikan, sosok itu seakan mendekat setiap kali tatapannya bertemu dengan pandangan Ralin.


Sempat menoleh kebelakang dengan panik, Ralin mengernyitkan dahi begitu sosok yang dilihatnya ternyata masih berdiri ditempat yang sama dimana awal pertama ia melihat sosok pria berpakaian serba hitam itu.


“ Ada apa? ” Andra menghentikan laju mobilnya. Dia melihat kebelakang dan tidak mendapati apa-apa.


“ Bukan apa-apa kok. ” jawab Ralin. “ Ayo jalan lagi. ”


***


Awan malam bergerak cepat menjauh dari cahaya bulan yang memancarkan warna kemerahan. Angin beradu cepat. Hening malam tepat pukul dua belas. Cahaya bulan menusuk masuk kedalam sela kamar Ralin yang tengah tertidur.


Jeritan kehilangan terdengar menggema ditelinga Ralin. Tangisan, tatap kesedihan, tubuh yang ketakutan, mata yang perlahan menunjukan kebencian. Seorang ibu yang menerjang tubuh Ralin dengan pisau belati perak yang diselipkan dalam kantong depannya. Menggores lengan, Ralin memekik sakit. Luka itu tidak berdarah. Hanya menganga dan terlihat terbakar. Sang ibu memeluk anak laki-laki yang terkulai lemas. Menjaga sang anak dengan mengancam Ralin menggunakan belati perak yang dibawanya. Ralin menatap nanar ketika melihat anak laki-laki itu mengerang kesakitan. Matanya berbinar kemerahan sama seperti cahaya merah dari bulan purnama dimalam itu.


Sedetik.


Waktu berhenti saat anak laki-laki itu menyerang dan menggigit leher sang ibu yang berusaha melindunginya. Mata anak laki-laki itu kini memicing melihat kearah Ralin. Menerjang cepat, Ralin hanya bisa terdiam.


“ Dek... ayo bangun. Udah pagi lo. ” sapa ibu sambil menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Ralin. “ Kamu nggak mau kesekolah? ”


“ Ng... ” jawab Ralin sekenannya.  Mimpi itu seakan benar-benar nyata bagi Ralin. Sebelum melihat ibunya yang sedang membuka tirai jendela kamarnya, Ralin mengusap belakang lehernya. Perasaan tidak enak menyerang pikiran Ralin pagi itu.


“ Kamu sakit, Lin? ” tanya sang ibu melihat keringat dingin mengucur dari dahi anaknya. Sang Ibu menempelkan telapak tangan itu pada kening putrinya. " Nggak panas ikh! "


Menggeleng pelan, Ralin terduduk ditempat tidur sambil mendengarkan kembali ocehan pagi sang ibu yang mengurusnya dengan sangat baik sejak ia dilahirkan. Dilihatnya sang ibu yang mondar-mandir sambil merapikan kekacauan semalam yang ditinggal tidur oleh putrinya itu.


“ Cepetan mandi gih! Udah ditungguin nak Andra tuh dibawah. ” celoteh ibu keluar dari kamar Ralin.


Melirik sang ibu yang tersenyum jahil, mata Ralin membelalak.  *Andra??? Nunggu dibawah??*

__ADS_1


Terperanjat kaget dan bergegas menuruni anak tangga, Ralin melihat kearah ruang tamu. Disamping kursi singel itu Andra berdiri menyapa Rassya yang siap berangkat kesekolah lebih awal. Rassya beranjak, dan Andra kembali menunjukan sikap sopan nya kepada sang ayah yang menawarinya untuk duduk sambil menunggu Ralin, sang putri.


Bersiap menunggu, mata jeli Andra menangkap sosok Ralin yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya pagi ini. Mengenakan piyama tidur berwarna biru, wajah bangun tidur Ralin mengundang segurat senyum di wajah Andra. Senyuman yang sangat manis. Rambut acak-acakan Ralin pun tidak luput dari perhatiannya.


Sadar dengan keadaan dirinya setelah melirik bayangannya  pada cermin disamping, Ralin merapikan rambutnya. Menyisirnya sembarang dengan jari tangannya. Berbalik cepat, Ralin mengisyaratkan Andra untuk menunggunya bersiap.


“ Lima belas menit. ” ucapnya panik. Bergegas memasuki kamar mandi, Ralin bersiap diri.


30 menit setelahnya, mereka sudah berada dalam mobil berwarna hitam yang selalu dikendarai Andra untuk ke sekolah.


“ Wajah bangun tidur lo lucu yah? ” goda Andra diperjalanan mereka menuju sekolah. Ada senyum bahagia di wajah Andra mengingat momen kecil itu.


“ Iiikh! Jangan diingat! Hapus nggak ingatan itu? ” ancam Ralin rada kesal. Dilipatnya kedua tangan itu di dada dan Ralin membuang pandangannya keluar jendela mobil.


“ Emang apaan?? ” canda Andra. “ Minta dihapus segala? Kusut gitu juga... ” tawa Andra meledek.


“ Andraaa... ” Ralin menekankan panggilannya dan langsung mendelik kearah sang pengemudi. “ Gue baru selesai rapikan rambut nih. ” lagi-lagi Ralin berusaha menyisir rapi rambutnya yang cukup panjang itu.


“ Hei!! ” Andra tiba-tiba mendorong kepala Ralin pada sandaran kursi dibelakangnya.


“ Aduh! Apaan sih? ” reflek Ralin menepis tangan Andra dari keningnya.Dia menatap dengan cukup jengkel.


“ Lo tetep cantik kok. ” satu tangannya memegang setir kemudi, satu tangan lagi ditempatkan pada sandaran kursi tempat Ralin duduk. Matanya menatap sang gadis dengan bahagia. Dan laju mobil ini terus mengarah ke depan tanpa perhatian dari sang pengemudi.


“ Andra, awas nabrak! ”  Ralin panik ketika melihat seorang tengah berdiri disamping jalan raya tepat dimana mobil mereka akan melintasnya. Mobil itu berhasil menghindar tanpa Andra melepaskan tatapannya dari Ralin.


“ Andra! Liat ke depan! ” pekik Ralin takut. Tubuhnya sempat terperanjat. “Please???” Ralin mencakupkan kedua telapak tangannya. Matanya menatap cemas akan keselamatan dirinya dan juga Andra si pengemudi mobil.


Tidak menjawab, Andra hanya tersenyum dan kembali memperhatikan arah laju mobilnya.


***


Melihat keakraban antara Ralin dan Andra membuat Nathan akhirnya tersenyum dibalik kacamata tipisnya. Memperhatikan setiap kejadian yang luput dari ingatannya beratus-ratus tahun yang lalu. Menikmati ketenangan yang ada dan merasakan bahagianya ia bersama Celine, gadis yang ia temui sekitar dua ratus tahun yang lalu. Gadis yang mengulurkan tangan padanya. Gadis yang mendekatkannya pada sosok Andra. Gadis yang menuntunnya kembali dari kegelapan jiwa yang diberikan sesosok makhluk kegelapan padanya.


Kini Celine tengah berjalan santai menuju dirinya. Langkah yang begitu cantik dan anggun. Meski banyaknya sapaan dan pujian yang ia terima dari lawan jenisnya, senyum itu selalu mengabaikan semua dan berakhir dengan mengandeng tangan Nathan yang selalu menunggunya. Tangan itu kembali bergandengan. Ada canda dan tawa yang terekam dari keduanya diantara lalu lalang siswa yang lain.


***

__ADS_1


__ADS_2