PURNAMA

PURNAMA
Mengusik Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

“ So? ” Leticia memecah kediaman Andra dan yang lain disebuah rumah sederhana diujung bukit. “ She’s back? ” tatapannya menyelidik. Mencari tahu siapa yang lebih dulu menyadari kembalinya sosok Ralin dari masa lalunya.


“ Feeling lo mungkin benar, Ndra. ” jawab Celine. Dia mengingat semua hal tentang Ralin belakangan ini. “ Yang terjaga adalah Ralin bukan Alin. ”


“ Sifat, wajah, dan insting yang dimiliki, mungkin memang mirip dengan Alin. Tapi Ralin tetaplah Ralin. ” Nathan menoleh pada Andra.


Celine yang duduk di sofa panjang ruangan tengah rumah itu melihat pasti perbedaan Ralin dan Alin dari masa lalu yang pernah ia lihat dari ingatan Andra.Celine menunduk.


“ Dia Ralin dengan keping ingatan yang terpecah. ” kalimat itu keluar tegas dari Andra disela keheningan yang kembali terjadi. “ Gue memang merasakan keberadaan Alin dalam dirinya, tapi dia bukan Alin yang sama. Dia bukan Alin yang gue tunggu selama ini. ”


“ Instingnya kuat. Banyak hal yang dialaminya, banyak ingatan pula yang dia punya. ” Leticia memperlihatkan kekecewaan atas kalimat yang dilontarkannya tersebut. Dia berdiri dari duduknya di single chair disamping Celine.


“ Tapi sampai saat ini, gue nggak tahu gimana dia bisa terlahir. ” Leticia geram. Dia membalik kasar tubuh Andra yang membelakanginya. “ Lo pastinya tahu itu kan, Andra? ”


“ Leticia, perhatikan omongan lo.” Celine bersuara lantang.


Berbalik geram kearah Celine, Leticia menahan setiap amarah yang memuncak dalam keinginannya.


“ Ini bukan soal bagaimana dia lahir, ini soal bagaimana dia bertemu dengannya…”


Leticia tertunduk mengingat bayangan ingatan Ralin yang pernah dilihatnya beberapa kali. “...sosok kegelapan yang membayanginya tidak pernah bisa pergi dari ingatan Ralin saat ini.”


Celine dan Atlas saling menoleh. Tatapan curiga dan penasaran itu menghampiri Leticia yang tersudut dengan kalimat yang diucapkannya.


“ Sosok kegelapan? Siapa?  ”


“ Maksud lo apa?? ” Giliran Andra yang langsung merasa jengkel mendengar ada sosok lain yang membayangi Ralin, sosok yang tengah mereka bicarakan. Leticia merenung sejenak. Mengingat semua hal yang sudah ia lewati beberapa bulan terakhir bersama Ralin.


“ Bukan kegelapan yang ada dalam dirinya, tapi adanya sosok kegelapan yang membayanginya. ” jelas Leticia.


“ Sekali waktu gue emang nyuri kesempatan untuk melihat kedalam ingatan Ralin. Melihat bagaimana hidupnya berjalan, tapi ada banyak hal yang menghalangi ingatan masa lalunya. ”


Leticia meratap.


“ Gue benar-benar merindukan sosoknya itu. Bagi gue, Alin ataupun Ralin sama saja. Dia kakak gue! ”


Mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh Leticia, Andra menunduk kesal ketika semua pasang mata yang ada di ruangan itu menoleh padanya dengan penuh tanya. Ada kekesalan dan juga kesedihan didalam matanya.Ada beberapa kejadian yang luput dari pantauannya setelah dia sempat terkurung dalam Kristal es abadi Ralin dimasa lalu.

__ADS_1


“ Kepergiannya masih menjadi misteri buat gue. ” jawab Andra atas tatapan penuh tanya teman-temannya. “ Entah karena dia telah dikuasai oleh kegelapan itu atau dia berusaha melakukan sesuatu terhadap desa kecil tersebut. ”


Menerawang, Andra membuka kembali ingatannya kepada teman-temannya.


“ Semua berawal dari perginya Alin untuk memetik bunga mawar putih ditepi bukit dekat air terjun.”


Sebelum berangkat, Alin nama Ralin dimasa lalu sempat mengatakan kalau mawar putih adalah lambang dari hari kelahirannya sebagai vampir. Setiap sepuluh tahun sekali, Alin memetik seratus tangkai mawar untuk dibekukannya dengan kristal es. Dan setelah sepuluh tahun lamanya, bunga yang dibekukannya akan mulai mencair dan layu. Bunga baru yang dipetik olehnya lah yang menjadi pengganti dari bunga mawar yang layu itu.


Malam itu bulan purnama bersinar dengan sangat terang. Alin yang berangkat semenjak senja belum juga kembali kerumah sederhana tempat Andra dan sang adik Leticia menunggu. Ditengah kecemasannya setelah mendengar erangan dan merasakan hawa kegelapan yang berkecamuk, Andra dimasa lalu bergegas pergi mencari Alin ketempat dimana sang gadis memetik mawar putih tanda kelahirannya. Ditengah kepanikan karena hawa kegelapan semakin menusuk dan merubah cahaya bulan menjadi kemerahan, Andra menghentikan lajunya kearah


air terjun.


Berhenti di jarak satu kilometer dari ladang bunga mawar yang dituju, Andra melihat sebuah keranjang dan beberapa bunga mawar putih berserakan ditengah-tengah hutan pinus dengan hamparan semak belukar berduri mengitarinya. Sementara, gadis pemilik keranjang itu tidak terlacak dan tidak terjangkau keberadaannya oleh Andra. Mengambil dan mengembalikan semua tangkai mawar putih itu pada tempatnya, Andra kembali melanjutkan pencariannya dengan mengikuti suara erangan dari arah sebuah kastil tua diujung bukit diseberang air terjun.


Belum pernah ia melangkah sampai sejauh itu. Diujung air terjun, dia melihat ke seberang. Dimana disebuah ujung bukit, terlihat kilat yang menyambar dengan membabi buta. Awan gelap dan angin badai seakan menjadi perisai dari kastil tua tersebut. Satu erangan kembali terdengar, dan kilatan itu semakin menyebar dan meluas ke tempatnya kini tengah berdiri.


Disebuah ujung tebing besar yang berjarak beberapa kilometer dari kastil, Andra berdiri dan bersiap menerjang masuk kedalamnya. Dia memperlambat laju waktu disekitar kastil tua yang menjadi tujuannya. Bermaksud untuk mencegah kilat menyerang dan menyambar dirinya saat coba menerobos masuk kedalamnya.


Menginjakan kaki tepat ditengah-tengah ruang utama kastil, waktu masih berhenti disekitarnya. Bukan hal yang biasa tapi hal itu cukup bagus karena dirinya tidak punya tujuan mengacau. Melainkan mencari sosok yang ia perkirakan berada didalam kastil tua tersebut. Dilihatnya sesosok vampir lain duduk dengan wajah murka di singgasananya. Disamping kirinya berdiri seorang gadis dengan wajah manis dan tubuh mungil yang mengenakan dress putih selutut dengan jubah hitamnya. Dan disisi kanannya, berdiri seorang pria yang masih terlihat gamang. Antara dia vampir murni atau seorang yang dirubah menjadi vampir dengan paksaan. Matanya yang memancarkan kegelapan dan kendali diri yang hilang, Andra yakin dia baru saja dilahirkan.


Tanpa sempat peduli dengan keberadaan Alin yang dia rasa telah menjauh dari kastil tua itu, Andra meladeni sang vampir baru untuk bertarung. Dan dua sosok lain di singgasana tersenyum menikmati tontonan kecil tersebut. Beberapa lainnya langsung menepi atas perintah dari pria yang duduk diatas singgasananya.


Alih-alih mencoba mengalihkan waktu, Andra selalu menghindar dari serangan yang dilancarkan. Hanya untuk memastikan dan mencari tahu bahwa ada kekuatan lain yang menghalangi kekuatannya dalam kastil tua tersebut. Andra dimasa lalu terus saja mengulur waktu.


Andra berhenti dari lajunya didepan pintu ruangan. Dia berbalik dan menghentikan waktu untuk semua yang berada dalam ruangan kastil tua tersebut. Hening sesaat sampai matanya menatap jeli satu benda yang dikenalinya. Sampai satu tepukan tangan ia terima dari pria yang duduk di singgasana. Kekuatannya dalam menghentikan waktu tidak berpengaruh terhadap pria itu. Kini si pria bangkit dari singgasana dan menghampirinya.


///


“  Perisai menjadi kekuatan alami pria itu. Dan karena itulah, dia tidak terpengaruh sama sekali dengan kekuatan lainnya. ” Andra kembali mengingat.


“ Kau sama istimewanya denganku. ” ucapnya senang. Tatapannya seakan dia menemukan hal yang sama luar biasanya dalam diri Andra. “ Mau kah kau bergabung dan menjadi bagian dari kastil kami ini? ”


Andra dan pria itu saling berhadap-hadapan dan hanya menatap. Yang satu memancarkan hawa kegelapan dan satunya lagi memancarkan kekuatan cahaya bulan purnama merah yang sedang bersinar pada puncaknya.


Dari balik kegelapan yang ada dimatanya, si pria dari singgasana memandang kagum akan kastil tuanya. Nilai sejarah yang tinggi melekat pada setiap dinding kastil. Setiap detail ukiran dan corak pada lantai maupun pada beberapa bagian penyangga menambah kesan betapa tuanya kastil tempatnya berdiri kini. Beberapa benda-benda yang tak ternilai harganya juga terpajang dimeja-meja yang memenuhi setiap sudut kastil. Tapi dari semua pandangan yang berhasil ia lihat, bagian kecil berharga dari sosok yang ia cari telah ditemukannya.


“ Aku tidak tertarik. ” jawab Andra. “ Aku hanya sedang kemari mencari sesuatu.” Andra menunduk dan mengambil sebuah kalung kecil yang terbuat dari kristal es abadi didekat sebuah meja kayu yang nampak tua dan retak. Retakan itu baru. Membalik bayang waktu, Andra akhirnya mengetahui kalau Alin sudah tidak berada didalam kastil tua tersebut.

__ADS_1


Berbalik, dia mendapati sosok sang pria dari singgasana sudah berdiri dihadapannya. Menebak apa yang dicari Andra, sang pria tersenyum kaku. Menjentikkan jari dan mengembalikan poros waktu dalam kastil, Andra terdiam.


“ Dia sudah tidak berada disini. ” ujar sang pria.


Menghindari terjadinya pertarungan yang mungkin tidak akan bisa usai, Andra memasukan kalung itu kedalam saku celananya. “ Sepertinya memang seperti itu. ” Andra melihat sekelilingnya.


Beberapa penghuni kastil bawahan si pria bersiap siaga untuk menyerang dengan satu perintah kecil. Kecuali sosok gadis disamping singgasana yang kini tengah berbisik dan menempelkan kedua tangannya pada vampir baru yang dirubahnya. Tak ayalnya sebuah boneka mainan, sang vampir baru menuruti setiap kata yang dikatakan oleh sang gadis mungil.


“ Aku akan pergi. ” tatapan Andra tidak lepas dari vampir boneka yang kini ia kenali sosoknya sebagai temannya, Nathan.


“ Pergilah. ” si pria tersenyum.


Si pria menyadari betul kalau dirinya mungkin akan kalah bertarung dengan sosok Andra karena cahaya bulan purnama merah yang menjadi sumber kekuatan Andra sedang bersinar pada puncaknya. Dan dirinya sendiri telah melemah karena mengeluarkan amarahnya tanpa menyangka dia akan kedatangan tamu lain yang terlihat begitu istimewa selain sosok Alin.


“ Aku menghargai bakat alami yang kau miliki. Dan berharap kita bisa bertemu lagi diwaktu yang berbeda. ” Andra mengulangi kalimat yang dilontarkan vampir penghuni kastil tua tersebut pada teman-temannya termasuk Leticia yang baru mendengar sepenggal cerita dibalik sosok kegelapan yang dilihatnya dalam ingatan Ralin.


Ingatan lainnya, Leticia menyambung kisah Andra dari apa yang dia ketahui.


“ Tepat dimalam purnama yang mulai mencapai puncaknya, Alin datang dengan menggendong seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Tubuh anak laki-laki itu dan diriku tidak beda jauh. ” Leticia menatap Andra.


“ Kakak. ” sambut Leticia kecil sembari membiarkan sang kakak membaringkan anak laki-laki itu di teras depan.


“ Tolong bantu aku? ” Alin sang kakak membelai lembut pipi Leticia kecil.


Meminta dirinya memulihkan tenaga anak laki-laki yang dibaringkan Alin. Leticia menempatkan jari-jari mungilnya pada bahu anak laki-laki tersebut. Hanya sekejap mata. Leticia berusaha menjauh dari denyut nadi yang mungkin bisa ia rasakan.


“ Siapa anak ini, kak? ”


Belum sempat mendengar jawaban sang kakak, Leticia mengingat masa kecilnya, dimana sosok Andra tengah berdiri dihalaman depan rumah dengan membawa sekeranjang bunga mawar putih milik kakaknya. Kediaman Andra yang menerawang menatap kearah sang kakak, membuat Leticia kecil murung dan masuk kedalam ruangan.


“ Tepat tengah malam setelah mengunci ingatan sang anak, gue dan Alin mengembalikannya ke desa tempatnya tinggal. Meninggalkan bocah itu terlelap didepan pintu rumah salah satu penghuni desa yang pada akhirnya hancur entah oleh penghuni kastil tua itu atau.... oleh Alin.”


Andra terpaku melihat ke seberang bukit yang jauh dari tempatnya berdiri kini. Dimana awan gelap, badai dan petir tengah menyambar-nyambar seakan menjadi perisai dari ujung bukit itu.


Berlalu.


***

__ADS_1


__ADS_2