PURNAMA

PURNAMA
The End


__ADS_3

“ Gue benci pagi ini. ” gumam Rassya.


Ralin dan Rassya tengah duduk dimeja makan bersama dengan kedua orang tuanya. Makanan yang tersaji tidak berkurang sedikitpun dari piring saji ketiga anak remaja yang duduk dimeja makan itu. Satu dari tiga remaja itu berwajah risih. Ada hal yang sedikit mengganggu dari pikiran juga ingatannya yang tidak biasa yang kini terjadi dimeja makan. Bertambahnya satu orang yang tiba-tiba saja bergabung menjadi anggota keluarga tersebut.


Sejak kejadian kemarin, Leticia yang tidak ingin lagi berpisah dengan Ralin, memilih bergabung menjadi anggota keluarga Adityapati dan meninggalkan sosok Andra yang selama ini tengah mengasuh dan menjaganya.


Rassya sedikit merasa singkuh dengan hadirnya Leticia yang menjadi saudara kembar Ralin. Tidak dengan Ralin . Dia telah terbiasa dengan perubahan yang dibuat Andra dan Atlas untuk dirinya. Termasuk Leticia yang tiba-tiba ada dan datang kembali di hidupnya. Ralin tersenyum senang.


“ Kami berangkat. ” ucap ketiga anak dari keluarga Adityapati itu. Mereka melangkah sampai menuju mobil yang  sudah menunggu mereka didepan rumahnya.


“ Nunggu lama? ” Ralin menyapa Andra yang tersenyum dibalik kaca mata hitamnya. Menaiki mobil yang sama, Leticia merangkul mesra tangan Atlas yang duduk dibelakang kemudi dengan maksud membiarkan Andra dan Ralin duduk bersebelahan.


“ Sejak kapan lo suka nempel sama gue? ” Atlas menarik diri dari rangkulan tangan Leticia.


“ Sejak kemarin. ” Leticia terkekeh dengan rangkulannya yang enggan ia lepaskan. Dia merebahkan kepalanya pada bahu Atlas yang tersipu malu dengan kejujuran yang diucapkan Leticia padanya. Biasanya gadis itu selalu kaku dan acuh tak acuh pada dirinya yang mati-matian menunjukan niat baiknya kepada sang gadis.


“ Gue nggak bisa mengendalikan mereka. ” ucap Andra sembari menyetir dengan santainya.


“ Buat apa lo kendalikan? ” Ralin menoleh kebelakang nya. “ Mereka manis kok. ” jawab Ralin membenarkan posisi duduknya dengan menghadap kearah Andra yang tengah menyetir.


“ Trimakasih sudah menunggu sekian lama. ” ucap Ralin dengan riangnya. Mata Ralin berbinar-binar melihat sosok Andra yang selalu ada dalam hidupnya.


Sosok pendengar yang baik. Penolong yang paling pertama. Pemberi kepercayaan penuh dan….

__ADS_1


“ I … love…. You… ” ucap Ralin bahagia.


“ Hmm… ” jawab Andra sekenannya. Dia menoleh lalu membelai lembut rambut Ralin. Dia membalas senyum. “ I Love You Too.. ”


Tersipu malu dengan apa yang dilakukan Andra, Ralin memalingkan wajah secepat kilat. Hal itu membuat Andra tersenyum puas dan langsung memilih menggunakan kaca matanya. Di lampu merah perempatan jalan, mobil itu berhenti. Ralin membuka kaca mobil dan melihat Rassya menghentikan laju motornya dengan santai. Nathan dan Celine di mobil merah seberang Rassya. Mereka semua saling menatap senang.


Lampu hijau menyala. Dan ketiga kendaraan melaju menuju sekolah kebanggaan mereka, SMA Kenanga.


//


Halaman utama SMA Kenanga.


Diruang Osis mereka semua kembali dengan kesibukan yang dimilikinya. Leticia memperhatikan setiap riuh sekolah yang ada menggantikan sosok Andra. Nathan dan Celine menerima orderan foto sebagai model dari seragam sekolah yang baru melalui voting sosial media sekolah. Sosok Atlas yang dengan seriusnya tengah merapikan setiap tumpukan buku dan beberapa album kenangan sekolah yang beberapa dekade berisi foto dirinya dan pejabat Osis yang lain. Rassya dengan semua tumpukan file yang harus ia koreksi dan tanda tangani. Dan Andra, dia berdiri disamping Rassya dan ikut memeriksa setiap file yang ada.


Teringat hal itu, Ralin terperanjat dan berdiri dari duduknya. Ketegangan tiba-tiba memenuhi benaknya. Semu wajah Ralin berubah serius.


Sedetik.


Bersamaan dengan hembusan angin yang cukup kuat, Ralin sudah berdiri didepan Rassya dan sosok Andra tengah menangkap beberapa file yang berterbangan karena hadirnya Ralin secara tidak terduga.


“ Lo apa-apaan sih, Lin? ” Andra mempercepat tangkapan tangannya seperti tangan dewa.


Rassya menatapnya pelan dengan memegang pena yang ia gunakan untuk menandatangani file-file yang tengah beterbangan. Memperhatikan wajah Ralin, sang adik yang nampak penasaran dan menginginkan sesuatu dari dirinya, Rassya meletakkan penanya.

__ADS_1


“ Apa yang bisa gue bantu dari tindakan lo sekarang ini? ”


“ Dimana Kristal es itu berpindah? ”


Mendengar pertanyaan Ralin yang tanpa basa-basi, Leticia berbalik dan masuk kedalam ruangan. Atlas terdiam dan mengingat lagi dengan memegang buku yang hendak ditaruhnya di almari paling atas. Celine dan Nathan saling menatap menyadari kalau hal itu benar-benar terlewat oleh mereka. Andra menyimak dengan semua file yang ada ditangannya.


Melihat ekspresi yang ditunjukan Rassya, semua yang didalam ruangan harap-harap cemas menanti jawaban yang akan Rassya keluarkan. Apa dia akan menjawab ‘tidak tahu’ atau mungkin ‘entahlah’. Mereka yang didalam ruangan menatap lekat.


“ Sepertinya itu tempat yang jauh dan kelam. ” jawab Rassya menggantung.


Setengah yakin dengan apa yang ia lakukan, Rassya mengingat betul tempat yang ia maksud. Tempat yang cukup jauh dari tempatnya duduk kini. Dia melihat ke ujung bukit yang jauh dibalik ujung bukit belakang sekolah. Disana ada hawa yang menyesakkan untuknya.  Ralin dan yang lainpun melihat kearah yang sama.


Hening.


***


Sebuah kastil tua yang tetap berdiri kokoh ditengah-tengah hutan pinus diujung bukit. Tidak ada jalan setapak atau petunjuk apapun yang mungkin mengarah kearah kastil tua itu. Tanda-tanda kehidupan disekitarnya pun seakan menjauh dan bahkan tidak ada diarea hutan tersebut.


Ditengah bangunan kastil tua yg dimaksud, terdapat ruangan seperti aula yang menunjukan sebuah bongkahan Kristal es merah kehitaman yang berdiri tepat ditengah-tengah ruangan. Dalam kristal es itu, samar-samar terlihat bayang tiga anak kecil yang terkurung dan membekukan tubuhnya. Sosok dari vampir kegelapan yang merupakan


penghuni dari kastil tua itu sendiri.


Tamat.

__ADS_1


__ADS_2