PURNAMA

PURNAMA
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Malam yang sama dan terletak jauh di pedalaman hutan. Dua sosok misterius dengan jubah hitamnya tengah memperbincangkan hal yang sama. Orang yang sama. Dan sosok yang sama. Ralin.


" Tidakkah kau terlalu memaksakan diri? " sebuah kegelapan yang paling gelap tengah berbincang di gelapnya tengah hutan yang tanpa celah cahaya. Kabut malam membayangi setiap langkah kedua orang tersebut. Dia yang satu tersenyum mengenang hal apapun yang ada dalam ingatannya. Sementara sosok yang lain memandang penuh dengan kebencian dan amarah berkecamuk dalam dirinya. Tapi sosoknya masih nampak berwibawa dengan semua yang di perlihatkannya.


"Aku ingin melakukannya. " Dia yang tersenyum hangat mulai menyandarkan diri disalah satu dahan pohon rindang disekelilingnya.


"Karena kau menyukainya, bukan? " suara lembut namun centil itu menyela dari balik punggung sosok lainnya. Kedatangan perempuan bertubuh mungil itu bukanlah hal yang mengejutkan. Berhubung dia adalah salah satu pengikut setia sosok yang sedang berdiam diri dengannya kini.


" Dia terlalu berharga untuk aku abaikan. " jawabnya.


" Seberharga itukah? " si pemilik suara lembut namun centil itu terdengar mengejek. "Sosok yang selalu seenaknya  saja. Tadi pagi saja dia sudah dengan berani melihatku tanpa rasa hormat. Dasar rendahan."


" Siapa yang kamu maksud rendahan? " sosok lain tiba-tiba muncul tanpa peringatan apapun. Sosoknya langsung berdiri dibelakang perempuan bertubuh mungil tersebut. Tatapan matanya menerawang tapi juga nampak begitu siaga.


" Seorang yang kau kenali dengan sangat baik. " jawab sang perempuan tersenyum licik.


Sosok gamang yang kini berdiri dihadapannya nampak begitu lues. Tidak kaku seperti awal pertama pertemuan mereka dengan cara yang tidak terduga.


" Aku tidak ingin membuang-buang waktu. " Dia yang berdiam diri sedari tadi setelah membuka percakapannya, mulai melangkahkan kakinya menuju arah paling gelap dari sisi hutan yang dia pijak. Tempat yang menjadi awal kemurkaannya dibangkitkan. Tempat yang begitu gelap dan kelam.


" Lebih cepat, lebih baik. " jawab sosok satunya. " Aku akan menikmati setiap hal yang mungkin terjadi. "


Bersama hembusan angin malam yang begitu teduh, keempat sosok itu menghilang dalam lesatan di kesunyian malam yang tercipta.

__ADS_1


***


Keberangkatan Ralin pagi-pagi buta membawa keanehan sendiri bagi sang ibu. Hal yang tidak biasa dilakukan oleh putrinya itu membuat sang ibu tersenyum. Mengingat sosok Andra yang pernah menjemput putrinya itu, sang ibu yakin sekali kalau kepergiannya pagi-pagi buta kesekolah karena tidak sabarnya sang putri untuk bertemu pemuda ganteng tersebut.


“ Kamar Alin udah rapih aja? ” Rassya menyapa dari balik pintu.


“ Iya nih! Lagi kasmaran paling. ” sang ibu cekikikan.


“ Hmm… ” Rassya manggut-manggut.


“ Andra itu anaknya gimana sih, Sya? ”


“ Ya… sama anehnya kaya Alin kok bu. Tenang saja.  ” jawab Rassya sekenannya.


“ Ya. Ya. Ya. Adik yang sangat manis. ” jawab Rassya lagi memasuki ruang tamu.


Di sofa panjang itu, Rassya disambut oleh sosok kharismatik Qean dengan setelan jas serba hitamnya. Sang ayah duduk di sofa lain dengan Koran yang dibacanya. Membungkuk sopan memberi salam, sang ibu menyambut sosok Qean dengan ramah.


***


SMA Kenanga.


Berjalan santai menyusuri jalan setapak menuju gedung utama, Ralin bersenandung santai. Beberapa kali dia memperhatikan langkah kakinya pada ubin batu yang ada.

__ADS_1


“ Hijau. Putih. Hijau. Putih. Hijau. Putih. ” gumam Ralin saat setiap langkahnya sampai pada ubin berwarna putih dan sela rumput hijau yang membuat jalan setapak ini bak papan catur.


“ Hai. ” sosok Qean menyapa dengan senyum penuh makna. Senyum khas itu menunjukan kalau sosoknya begitu ingin diperhatikan saat ini.


Ralin menatap. Sosok Qean memang nampak berbeda kali ini. Dari sinar matanya yang berwarna merah kehitaman, bibirnya yang berwarna kelewat merah merekah dan senyum khas itu seakan membuat Ralin mengingat hal yang benar-benar telah ia lewatkan. Hal paling pertama yang harus diingat Ralin tentang dirinya sendiri. Tentang bagaimana ia terlahir menjadi sosok dirinya yang sama seperti para pengurus Osis sekolahnya.


“ Kenapa kamu benar-benar tidak asing buatku? ”


“ Sudahkah kau mengenaliku? ” Qean merubah sedikit tatanan rambutnya yg sedikit panjang.


“ Bau mu…sangat ku benci. ” Ralin menatap bengis. Kebencian menyeruak dalam ingatan Ralin. Ada amarah yang tidak dia mengerti muncul begitu saja melihat sosok Qean dengan kesan yang jauh berbeda dari sosok Qean yang dia kenali belakangan.


" Apa hanya hal itu saja? " Qean menampakan sebuah wajah yang begitu nampak familiar dalam ingatan Ralin. Sebuah wajah yang mengundang begitu banyak kebencian dan kepedihan bagi dirinya. Wajah yang sudah cukup lama ia lupakan. Sosok wajah yang membuatnya menjadi dirinya yang sekarang ini. Sosok wajah yang dengan entengnya mengambil keputusan tanpa memperdulikan hak hidup orang lain.


Langkah demi langkah Ralin lewati dengan mengabaikan Qean yang tetap berdiam diri dibelakangnya. Ada riak bayangan dimana sosok Qean yang berpenampilan kaku dan angkuh dengan rambut klimis nya tengah menancapkan taringnya pada leher seorang gadis yang mirip dengan dirinya. Rambut gadis itu tidak sepanjang rambutnya kini, tapi sosok gadis itu benar-benar tidak ada bedanya dengan dirinya saat ini. Hanya saja dalam ingatan itu, sosok gadis itu tidak mengenakan gaun hitam selutut seperti mimpi biasanya. Sosok gadis itu tengah mengenakan pakaian yang cukup kuno. Dalam ingatan itu, Ralin melihat bagaimana sosok yang mirip dirinya sendiri dibiarkan tergeletak begitu saja ditengah-tengah hutan. Merintih dan mengerang menahan kesakitan yang diakibatkan oleh gigitan itu, Ralin kembali mengingat kemunculan Andra yang membuat dunianya kala itu langsung menjadi gelap gulita.


Mengingat perlahan semua hal yang terjadi setelah itu dengan cukup baik, Ralin menghentikan langkahnya. Ralin berdiri dalam diam. Mengingat sosok Andra dan memandang lurus ke depan dan melihat jauh ke ujung bukit. Kepalanya seakan berputar secara tiba-tiba. Ingatan demi ingatan yang terpecah-pecah menunjukan kisah hidup masa lalunya yang kelam.


Bagaimana sosoknya terlahir oleh bantuan Andra. Bagaimana dirinya, Andra, dan Leticia kecil menempati sebuah rumah  sederhana di kaki sebuah bukit. Mawar putih yang melambangkan kelahirannya. Bulan purnama merah. Permohonan seorang anak kecil yang masih polos. Sosok kegelapan Aska. Hancurnya sebuah desa. Suara berbisik parau yang memerintahkan untuk menghabisi seisi desa. Sosok Andra dan Leticia yang ia kunci dalam kristal es. Pertarungan dirinya dengan Aska. Sampai kekuatan kristal merah itu bangkit bersamaan dengan bulan purnama merah. Mengunci dan mengurung sosok Aska dan dirinya dalam dua kristal es yang berbeda.


Nafasnya tersengal. Bersimpuh lemah, Ralin merasakan  keberadaan Aska dalam diri pemuda yang kini sudah berdiri dihadapannya itu. Berusaha meraih Qean yang berdiri tepat di hadapnya, perlahan Ralin mulai tidak sadarkan diri.


***

__ADS_1


__ADS_2