
SMA Kenanga
“ Apa yang sedang kamu pikirkan? ” Qean menyapa dengan senyum khasnya. Penampilannya yang sederhana dengan hanya mengenakan kaos hitam oblong dan topi yang menutupi sebagian wajahnya cukup membuat pangling Ralin yang tengah sibuk-sibuknya menyebar pamflet kelasnya.
Ralin hanya mengejap-ngejapkan matanya sejenak. Sejak kapan dia disini??
“ Tidak sedang memikirkan apapun. ” jawab Ralin akhirnya.
“ Kamu sedang memikirkan sesuatu. Kamu nggak bisa menutupi itu, Lin. ”
“ Maksudmu? ”
“ Saat memikirkan sesuatu, kening mu akan mengkerut. Dan kamu baru saja melakukannya. ”
“ Kamu memperhatikan hal seperti itu? ”
Qean tersenyum puas. “ Semua tentangmu selalu menjadi perhatianku, Alin. ”
“ Makasih! ” Tersenyum kaku dengan jawaban yang didengarnya, Ralin tiba-tiba mendapati sosok Andra dan mengabaikan sosok Qean yang tengah berusaha menahan langkahnya. Tengah lewat diseberang tempatnya berdiri kini, Ralin berusaha mengejar langkah sang pemuda.
“ Andra. ” panggil Ralin disela-sela kesibukannya dengan acara Festival sekolah hari ke tiga yang tengah berlangsung. Menatap heran, Andra tetap menyambut Ralin dengan santainya. “Bisa bicara sebentar? ”
Sejenak diam, Andra tidak ingin lagi menyembunyikan jati dirinya dihadapan Ralin. Dia mempercepat laju waktu disekitarnya. Lalu lalang setiap kegiatan Festival berjalan sangat cepat. Tapi tidak ada yang menyadarinya sedikitpun, kecuali para pengurus Osis yang akhirnya bisa dengan leluasa bergerak secepat yang mereka inginkan. Ralin masih berdiam diri di hadapan Andra. Tidak terpengaruh dengan hal yang Andra lakukan, Ralin tidak melepaskan pandangannya sedetikpun dari mata indah Andra yang memancarkan cahaya keemasan.
Satu jentikkan jari,waktu kembali berjalan normal.
“ Ayo ikut gue. ” ajak Andra mendahului Ralin.
Berjalan santai, Andra mengajak Ralin berjalan menuju kebalik pohon kenanga yang merupakan jalan lain menuju puncak bukit dibelakang sekolah. Juga merupakan jalan yang Andra gunakan untuk kabur sejenak dari kegaduhan acara Festival sekolah tempo hari.
Diarea parkiran itu, Ralin menghentikan sejenak langkahnya. Ragu.
“ Benar mau bertanya sesuatu? ” Andra meyakinkan dari jalan disamping pohon Kenanga didepan Ralin menghentikan langkahnya.
Kini keduanya berseberangan.
“ Tapi lo nggak bakalan ngapa-ngapain gue kan dengan ngajakin gue kesana? ” Ralin bertanya ragu.
Andra mengangkat bahu. Tidak mempunyai pilihan lain, Ralin kembali melanjutkan langkahnya mengikuti Andra yang sudah cukup jauh berada didepannya.
__ADS_1
Hari sudah sore dan cuaca sedikit mendung. Menaiki jalan setapak yang membentuk tangga alami dari bebatuan, Ralin menikmati kesejukan yang ditawarkan alam untuknya. Melangkah dengan perlahan, Ralin merasa seakan terbiasa melalui tanjakan setapak tersebut. Ada rindu di setiap langkahnya. Ada juga bayangan tawa gembira sesosok gadis kecil yang menyamai langkah Ralin setapak demi setapak. Larut dalam bayangan itu, Ralin menabrak punggung Andra yang mendadak berhenti didepannya.
Ralin menengok.
Dihadapannya kini terdapat sebuah tempat yang amat indah. Sebuah tempat yang sangat rindang. Tempat yang dikelilingi pohon trembesi tua dengan dahan yang menjulang seakan memayungi sebuah bangku besi kuno panjang
yang terdapat tiang lampu tua disampingnya. Tiang lampu itu menambah kesan kuno dari bangku besi coklat tua tersebut. Pijakan kaki dari batu alam berwarna coklat kekuningan dan disekelilingnya terdapat kerikil-kerikil kecil
tempat rerumputan hijau menyela untuk tumbuh.
Seakan melupakan tujuannya bertemu Andra dan terpesona dengan keindahan tempat yang dipijaknya kini, Ralin melempar pandangannya ke setiap sudut yang ada. Ada senyum tersemat di wajah Andra melihat setiap ekspresi yang ditunjukan Ralin.
“ Bicara hal penting bukan? Apa? ” Andra terduduk di kursi panjang itu dengan mata terpejam dan wajah tengadah ke langit. Menikmati dan merasakan setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya, Andra mengabaikan banyaknya suara-suara burung dan gesekan ranting-ranting pohon yang beradu disekitarnya.
Terdiam memperhatikan Andra dengan seksama, Ralin lebih memilih berdiri dari pada menerima tawaran Andra yang meminta Ralin untuk duduk disampingnya dengan menepuk bagian kursi kosong disebelahnya.
“ Siapa lo sebenarnya? ” tanyanya tanpa ragu.
Angin berhembus pelan ketika Andra masih enggan membuka matanya. Mencoba membenarkan posisi duduknya, Andra perlahan menatap Ralin yang masih kukuh berdiri setelah bertanya tanpa basa-basi.
“ Lo dan teman-teman lo aneh. ” ujar Ralin tidak menghiraukan tatapan Andra terhadapnya. “ Lo dan teman-teman lo itu bukan manusia, kan? ”
“ Kalian sangat cepat. Tubuh kalian sebenarnya begitu dingin. Wajah terlalu pucat. Kalian hampir tidak pernah terlihat menikmati waktu makan siang di kantin sekolah ataupun di acara festival. ” Ralin menekankan kalimatnya.
“ Ada yang lain? ” Andra membenarkan posisi duduknya yang terlihat amat santai.
“ ..dan kalian juga kelihatannya sangat tertarik pada darah... ”
“ Darah? ” Andra menatapnya lekat. " Yang mana? " Bukan takut yang Ralin rasakan ketika terpaku pada tatapan lekat itu tapi... Rindu.
Menggeleng dari rasa yang mendera dirinya, ingatan Ralin akan darah tiba-tiba membawanya pada rasa dahaga yang muncul seketika. Bau darah berceceran dihalaman utama dihari pertama acara Festival sekolah dan juga wangi darah segar siswi yang mencoba bunuh diri dari atap bangunan utama, melintas dalam benaknya.
Berusaha menolak rasa haus yang tiba-tiba menyerang kerongkongan, Ralin tertunduk dan sedikit mengerang. Andra tidak bergeming dengan itu, dia hanya tetap memperhatikan Ralin yang kini matanya tengah memancarkan cahaya kemerahan.
Semakin lama dahaga yang dirasakan semakin kuat, membuat Ralin semakin tertunduk. Hampir bersimpuh lemah menerima keadaan yang menimpa dirinya, Andra bangkit. Dia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Ralin berdiri dari posisinya kini. Menerima uluran tangan Andra, suara parau yang berbisik itu terngiang ditelinga Ralin.
“ Habisi. Bunuh dia! ”
Menahan cengkraman kuat tangan Ralin padanya, Andra tetap berdiri dihadapan Ralin yang tengah berusaha mengendalikan diri dan ingatannya. Tangan Andra sempat mengkristal oleh cengkeraman tangan Ralin. Hanya sesaat. Kristal itu menghilang secara perlahan bersamaan dengan Ralin yang mendapatkan kembali kendali dirinya.
__ADS_1
“ Aku selalu menunggu untuk mengetahui ini. ” ucap Andra. Wajah sendunya berubah lega melihat kristal es yang sempat menyusup pada kulit tangannya.
“ Mengetahui soal apa? ” Ralin menatapnya.
Andra mengangkat tangannya yang kembali mengkristal karena menggenggam tangan Ralin. “ Ini. ”
“ Bukan hal aneh bukan? ”
Antara takut dan merasa aneh dengan perasaan senang yang muncul tiba-tiba dalam dirinya, Ralin tidak melepaskan tatapannya sedikitpun dari Andra yang masih memegang tangannya dengan lembut. Sosok Andra dimasa lalu melintas dalam benaknya. Pada anak tangga dekat teras sebuah pondok kecil, mereka terduduk dan saling menatap penuh kasih sayang seperti hari ini.
Waktu terhenti untuk mereka. Desir angin berhenti bergerak. Beberapa helai daun yang jatuh berguguran seakan menggantung. Tetes air hujan pun tidak ada yang jatuh membasahi beberapa bagian tempat itu. Andra terdiam dengan apa yang terjadi. Terus memperhatikan Ralin dengan semua gelagatnya yang tidak dipengaruhi oleh kekuatan waktu yang dimilikinya, Andra membiarkan waktu berhenti lebih lama dari yang dia inginkan.
Ditempat yang sejak awal harusnya hanya ada mereka berdua, membawa prasangka Ralin pada pemilik bisikan parau yang mengganggunya dihari festival sekolah. Mungkin sosok itu kini tengah berada disekitar mereka. Kembali memejamkan mata, Ralin berusaha mencari lagi asal suara bisikan itu. Bisikan parau yang kembali coba mengusik pendengarannya.
Membuka mata perlahan, Ralin menatap tajam kearah samping akar pohon trembesi dibelakang tempat indah itu. Dibalik akar pohon trembesi yang menggantung itu, berdiri sesosok pria berpakaian serba hitam yang menatap bengis kearah mereka.
“ Bunuh! ” ucap pria itu dari kejauhan. Mendengar suara bisikan itu dari balik punggungnya, Andra terdiam.
***
“ Aku berangkat dulu bu...” ujar Ralin sambil berlalu di lorong dapur. Belum sempat membuka pintu keluar, sang ibu memanggil dan menghentikan langkah Ralin.
“ Apa terjadi sesuatu disekolah? ” tanya ibu yang tidak biasanya melihat Ralin berangkat pagi-pagi kesekolah.
“ Tidak ada, bu. ” Ralin menjawab. Dia tersenyum kemudian pergi dari pandangan sang ibu.
Sang ibu hanya tersenyum. Ada kegetiran di wajah sang ibu melihat putrinya yang agaknya sedikit berubah dari biasanya. Sudah sangat lama sang ibu mempunyai kekhawatiran kalau-kalau Ralin akan benar-benar menjadi sosok yang menakutkan seperti dalam mimpinya.
Mimpi yang selalu menghantuinya sejak kali pertama dia menemukan seorang anak laki-laki yang menangis disisi hutan dengan menggendong bayi perempuan. Dimana akhirnya dia mengasuh kedua putra-putri itu bersama sang suami. Dan menganggap mereka sebagai anaknya sendiri. Melihat sosok kedua anak itu tumbuh, sang ibu menyadari betul keanehan demi keanehan akan putra dan putri yang mereka namai Ralin dan Rassya P. Adipati itu.
Mulai dari tetesan darah pertama Ralin diusianya ke enam tahun yang jatuh ketanah. Disamping indahnya mekar mawar putih yang berubah warna menjadi sepekat darah, dia menangis dengan gaun putih selututnya. Menangis karena jarinya mengeluarkan darah, Ralin kecil meneteskan air matanya dan jatuh membasahi kelopak mawar. Seakan bersinar, air mata itu mengembalikan warna bunga mawar ke asal. Darah yang keluar dari lukanya menyusut bersamaan dengan menutupnya luka dijari Ralin kecil.
“ Ayah! Bagaimana kalau mimpi ibu itu benar-benar nyata? ”
“ Kita hanya bisa melakukan yang terbaik dengan tidak membiarkan Rassya terluka seperti kemarin. ” jawab sang ayah yang ikut melihat dan merasakan perubahan Ralin dari hari ke hari.
Sang ibu menangis dipundak suaminya. Mengingat mimpi dimana Ralin, sang putri dengan bergaun hitam selutut menancapkan taringnya pada seorang anak laki-laki yang dikenalinya sebagai sang putra, Rassya.
***
__ADS_1