
“ Gue harap nggak datang terlambat kali ini. ”
"Sedikit..." Ralin berpegang erat pada tubuh Andra.
Mendarat dengan menggunakan tumpuan kedua kakinya, Andra menggendong tubuh Ralin yang melemah akibat pertarungan yang dilakukannya sendirian dalam menghadapi para lawannya.
Diperhatikan setiap detail goresan luka baru yang ada pada tubuh Ralin. Andra menatap kearah depannya. Dimana sosok Queen dan Qean tengah menatapnya dengan sinis. Disudut itu, dilihatnya sosok lain, itu adalah sosok dia yang tengah berdiri didepan tiang bendera halaman utama sekolah-. Sosok kegelapan yang paling gelap.
" Akhirnya muncul juga! " sambut sosoknya itu pada kedatangan Andra di halaman utama sekolah SMA Kenanga.
Membaringkan Ralin dijalan utama papan catur sekolah. Mata itu memancarkan cahaya mata merahnya, kegelapan dalam diri Andra seketika bangkit. Menyerang Aska tanpa peringatan, Qean berdiri dan menjadikan dirinya bidak menggantikan sosok Aska yang menjauh dan melesat berdiri tepat diujung puncak tiang bendera.
“ Kita selesaikan urusan yang dulu disini! ” Qean menyapa ramah sosok Andra yang menerjang tanpa aba-aba.
“ Urusanku saat ini dengannya! Kau hanya bidak, jadi mundur lah! ” mengabaikan keberadaan Qean, Andra melesat maju menuju tempat Aska berdiam diri.
“ Aku tak ingin diabaikan lagi kali ini. ” Qean menghalangi arah lesatan Andra dan melibatkan diri lagi dalam pertarungan dengan Andra yang menjadi temannya sejak dulu. Serangan itu langsung menghantam Andra beberapa langkah.
Andra menatap bengis dan sekali mengeluarkan pukulannya, hal itu langsung membuat Qean terlempar cukup jauh.
"Akan ada waktunya kita menyelesaikan apa yang tertunda dulu. Dan itu tidak sekarang." Kembali mengabaikan Qean, Andra bergerak cepat mendekati arah tiang bendera sekolah.
Dari ujung puncak tiang bendera sekolah, Aska menikmati setiap kesenangan yang ia rasakan dalam pertarungan yang sama sekali belum memasuki puncaknya. Matanya kala itu sama sekali tidak bisa lepas dari sosok Andra yang dikenalinya sebagai sang pengendali waktu.
__ADS_1
"Waktu akan berpihak padaku kali ini..." ujar Aska memperhatikan ke sekelilingnya. Pertarungan baru akan dimulai, begitu Nathan dan yang lain datang menyusul.
Mereka menghentikan laju langkahnya tepat disamping Ralin yang masih terbaring lemah. Melihat pertarungan yang terjadi antara Qean dan Andra, tatapan Nathan tidak lepas dari sosok Queen yang berdiri dengan manisnya dibawah tiang bendera halaman utama sekolah. Mengenakan dress putih selutut berbalut jubah hitam, Queen tersenyum manis melihat boneka kesayangannya datang bersama beberapa rekannya.
"Aku merindukanmu, boneka ku tersayang..." senyum itu merekah, akan tetapi senyum itu palsu bagi yang sudah mengenal sosok Queen yang sebenarnya.
Celine menepuk bahu Nathan yang terdiam melihat sosok makhluk yang pernah mengacaukan kedamaian paginya dan juga merupakan sosok yang dulu pernah meracuni pikirannya dengan kegelapan.
" Aku tidak suka melihatnya. " Celine bergumam disamping Nathan.
"Dua itu menjadi bagian mu, Celine!" Sedikit menyentuh dan memulihkan kesadaran Ralin, Leticia langsung bersimpuh dihadapan Ralin, sang kakak.
Ralin tersengal dan kembali sadar dari serangan mendadak yang sempat Queen lancarkan ditengah pertarungannya dengan Aska dan Qean. Membuka mata dan melihat Andra bertarung menggantikan dirinya, Ralin bangkit dan bermaksud menyerang bersama Aska. Leticia menahan tubuh sang kakak untuk tidak bergabung lagi dalam pertarungan yang terjadi.
“ Pertarungan ini terjadi karena gue…” ucapnya lirih. “Dan gue harus bertanggung jawab dengan ini. ”
“Jangan bodoh! Kita tahu betul bagaimana kebenarannya.” Leticia semakin menahan langkah Ralin untuk bangkit dari posisinya. "Dan kali ini, gue nggak akan rela lo bertindak bodoh sendirian lagi!"
"Jangan cemaskan Andra! Dia tahu betul kekuatan lawan." Nathan menengahi perdebatan kecil kakak beradik disampingnya.
"Benar kata Nathan." jawab Celine. "Simpan tenaga mu! Ini semua bukan cuma masalahmu." Celine tidak melepaskan tatapannya sedikitpun dari sosok vampir perempuan yang bersandar di bawah tiang bendera halaman sekolah
“Jangan cemaskan hal-hal tidak berguna. Ini giliran gue beraksi.” Atlas berdiri gagah didepan Ralin dan Leticia dengan mengenakan seragam sekolah kebanggaannya.
__ADS_1
Seragam sekolah SMA Kenanga. Kemeja putih bersih dengan dasi merah polos, jas hitam Osis yang lengannya dilipat sampai siku serta celana hitam panjang yang menciut dibagian mata kakinya. Hempasan tubuh Andra yang terlempar kearah samping tempatnya berdiri memberi kesan kemeja dan jas Osis itu dikibaskan angin yang membuatnya terlihat sangat keren saat ini.
“Gue maju.” ujar Atlas melesat cepat tanpa menyadari ada gerakan lain yang terjadi menyusul lesatannya. Bahkan lesatan itu mengalahkan kegesitan yang selama ini dimilikinya.
Bergerak sangat gesit dan menyerang tanpa aba-aba mengalahkan gerakan kilat Atlas, Queen menyambut hantaman tubuh Celine dengan pusaran badai yang mengitarinya. Terpental dan hampir menghantam pohon perindang halaman sekolah lainnya, Nathan menangkap cepat tubuh Celine yang langsung bangkit dengan lebih cepat lagi.
“ Bisakah untuk nggak seceroboh ini!! ” hardik Nathan getir dengan kebodohan yang baru pertama kali Celine perlihatkan pada dirinya. Tangannya sedang mencoba menghentikan langka Celine yang bertindak tanpa ragu.
"Aku tahu apa yg ku lakukan!" jawab Celine cuek. Tatapan mata itu tetap tidak melepaskan Queen dari intaiannya.
“ Lo, Ciel! ” Atlas menuding Celine yang berhenti tepat disamping Nathan yang berhasil menangkap sang kekasih. “Bisa Kan nggak halangi aksi heroik gue?!” sambungnya seakan tidak melihat situasi yang terjadi disekelilingnya.
Mendapat tatapan kemarahan dari Nathan, Atlas nyengir kuda. Dia kembali berfokus kearah depan tempat Qean menatapnya dengan jengkel. Andra kini sudah berdiri disampingnya. Nathan menyusul setelah menempatkan Celine disebelah Ralin. Sempat sejenak mencium kening Celine, Nathan bergabung dengan Andra dan Atlas yang berdiri ditengah-tengah halaman utama sekolah.
Masing-masing dari mereka menatap dan memperhatikan sekitarnya dengan jeli. Dimana para musuh sedang tersenyum dengan gembiranya karena akan melakukan pertarungan setelah sekian lama mereka menahan diri untuk bisa melanjutkan apa yang sudah berlangsung sejak lama. Pertarungan untuk menentukan pemenang dari masing-masing bakat yang dimiliki semenjak kelahiran mereka menjadi vampir baru.
Atlas berdiri dengan keberanian dan kegagahan yang untuk pertama kalinya ia perlihatkan. Biasanya Atlas hanya cuek untuk hal yang tidak terlalu mengusik kehidupan yang dijalani nya, tapi kali ini berbeda. Dia benar-benar bersemangat untuk melakukan hal yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Andra sendiri hanya tersenyum kemudian melonggarkan lagi ikatan dasinya yang sempat kembali karena Andra sempat mengembalikan waktu disekitarnya untuk menikmati pertarungan yang sempat terjadi sebelum kedatangan teman-temannya.
"Masa damai gue hanya sebentar ternyata.” Nathan melepas kaca mata tipisnya. Diletakkannya kaca itu pada saku jasnya dan berdiri santai disamping kedua temannya.
***
__ADS_1