
“ Apa kabarmu.....Nathan? ” gumam seorang gadis dengan jubah hitamnya berdiri tepat dibawah salah satu pohon perindang halaman utama sekolah. “ Lama tidak berjumpa. ”
Tatapannya langsung terkunci ke teras ruang Osis. Dimana dia akhirnya menemukan kembali sosok sang mantan kekasih yang memilih mengkhianati dirinya. Kebahagiaan yang ditunjukan Nathan dan Celine langsung mengundang tatapan bengis dari sang gadis.
Awan gelap langsung mengusik seisi sekolah. Gemuruh yang beradu dengan kilat yang menyambar di setiap sudutnya, Nathan langsung menjatuhkan pegangan tangannya pada tangan Celine. Perlahan dia melihat ke sekelilingnya. Melihat kearah cuaca yang ia kenali hawanya. Nathan memastikan sosok dibalik cuaca ekstrem yang merusak paginya secara tiba-tiba adalah seorang yang pernah ia kenal dimasa lalunya jauh sebelum dia mengenal sosok Celine.
Matanya memicing melihat sosok gadis yang tengah berdiri dibawah pohon perindang halaman utama sekolah. tidak terlalu jauh dari tempat Ralin biasa menyendiri. Gadis berambut pendek sebahu dengan keseluruhan bola matanya yang berwarna hitam, bertubuh mungil dengan mengenakan gaun putih selutut yang tertutup oleh jubah hitam yang dipakainya, dia menatap kearah Nathan.
“ Ada apa??? ” Andra menepuk bahu Nathan dan ikut memperhatikan perubahan cuaca ekstrem yang terjadi yang secara tiba-tiba.
“ Dia datang kembali. ” ujar Nathan. Dilihatnya lagi sosok yang telah menghilang dari bawah pohon perindang halaman sekolahnya.
“ Siapa? ” tanya Celine sambil berusaha menenangkan Nathan yang nampak gusar.
Ada kemarahan yang memancar dari tatapannya terhadap cuaca ekstrem yang berlangsung pagi ini. Atlas, Leticia dan juga Rassya yang hanya sekedar melihat dari dalam ruang Osis pun ikut penasaran dengan jawaban yang akan Nathan berikan pada Andra.
Dari sudut lain halaman utama sekolah, sosok Ralin pun ikut memperhatikan. Dia melihat kearah tatapan Nathan disudut lain tempatnya berdiri kini. Ralin terpaku sejenak. Ada bayangan yang langsung menghilang begitu Ralin menoleh ketempat itu. Dirinya kembali melihat kearah teras ruang Osis. Melihat ada gelagat yang tidak biasa dari para pengurus Osis yang sedang menikmati waktu siang di sarangnya mereka.
Saat ini Celine menyadari ada kegusaran yang sama seperti yang pernah dia lihat diawal pertemuan dirinya dengan Nathan. Takut kegelapan pada diri Nathan kembali bangkit, Celine membelai lembut pipi Nathan. Membawa semua perhatian Nathan tertuju hanya pada dirinya. Celine berjinjit. Tangannya menopang pada kedua bahu kekar Nathan. Satu kecupan dia tempelkan dibibir sang pria yang tidak siap dengan hal apa yang dilakukan sang kekasih.
Hening.
Waktu sempat berhenti sesaat sampai tepukan tangan Atlas pada bahu Rassya tiba-tiba tidak terpengaruh lagi. Rassya menepis tangan Atlas dan mengabaikan apa yang Celine dan Nathan lakukan di teras ruangan itu. Tidak terpengaruh dengan kekuatan waktu milik Andra, Rassya bersandar didepan meja kerjanya.
“ Bisa nggak lakukan hal semacam itu di sekolahan nggak? Gue bosan lo ngelakuin hal yang sama berulang-ulang.” ujarnya.
Celine dan Nathan langsung menoleh kearah Rassya secara bersamaan. Leticia langsung mendekatinya. Menatap dan memastikan kalau Rassya memang tidak terpengaruh sedikitpun dengan hal yang dilakukan Andra dan Atlas kali ini.
__ADS_1
“ Bukan hanya kali ini ya, Sya? ” Leticia meyakinkan.
Dilihatnya bayangan lalu dimata Rassya. Dihari pertama Ralin disekolah, Atlas menjentikkan jari dengan cepat saat Rassya melihat Nathan melompat ke atap gedung sekolah dengan cara yang tak biasa. Kedua, menyadari Atlas berusaha mendorong Ralin dari lantai dua di lorong kelas. Saat Ralin hampir kehilangan kendali dirinya didepan ruang Osis. Saat Andra dan Atlas menangkap seorang siswi yang mencoba bunuh diri dan pada akhirnya membiarkan siswi tersebut tergeletak dihalaman utama sekolah. Pada kerumunan acara Festival saat Rassya menyaksikan apa yang Leticia, Andra, dan Atlas lakukan untuk menyelamatkan hari pertama festival dan yang terakhir adalah hari ini.
“ Kalian bukan mahkluk aneh pertama yang gue temui sepanjang hidup gue. ” jawab Rassya dengan tatapan aneh
yang diberikan Atlas dan Leticia padanya.
“ Yang pertama, ” Andra menengahi. “ Ralin? ” Andra menaruh file itu didepan meja Rassya. Tepatnya disamping tempat Rassya bersandar kini. Matanya melirik tajam.
“ Dia mimpi indah untuk kehidupan gue baik dulu maupun saat ini. ” Rassya tersenyum. “ Dia penyelamat hidup gue. ”
***
Rassya kembali mengingat sebuah mimpi buruk yang berakhir indah dalam hidupnya dimasa lalu.
Rassya kecil dimasa lalunya tengah berlutut dan memohon pada Aska. Tanpa tahu bagaimana dahsyatnya perubahan yang akan dialaminya. Bagaimana Rassya kecil dimasa lalunya akan kehilangan banyak sosok baik dalam hidupnya. Aska tersenyum menyambut keinginan itu. Pada bayang matanya, dia melihat Rassya kecil dimasa lalunya akan menjadi mesin penghancur untuk desa yang menjadi tempat tinggalnya.
Sebelum taring beracun itu menancap pada leher Rassya kecil dimasa lalu, sosok Ralin yang bergaun hitam selutut menepis dan menjauhkan Rassya kecil dimasa lalu dari sosok Aska. Melesat dan menjauh dari kastil kelam itu, erangan kemarahan Aska berkecamuk. Kilat menyambar dengan membabi buta. Awan gelap dan angin badai seketika mengelilingi kastil tua tersebut. Satu erangan terdengar, dan kilatan itu semakin menyebar dan meluas mendekati sosok Ralin yang tengah mengendong Rassya kecil dimasa lalu.
“ Mungkin kebencian tumbuh dan berakar dalam ingatan Aska pada sosok Ralin yang sudah lancang telah menganggu kesenangannya. ” Rassya memangku dagunya dengan satu tangan diatas meja. Benar-benar mengingat hidupnya dimasa lalu, Rassya melanjutkan ceritanya.
Tujuh tahun berselang. Cahaya bulan purnama merah menunjukan sisi gelap dari sang pemilik kastil. Rassya dimasa lalu yang dikunci ingatannya dengan kristal abadi oleh Ralin, kembali bertemu dengan Aska setelah berhasil memporak-porandakan desa tempat Rassya tinggal dimasa lalu. Sebuah desa kecil dengan penduduk yang hidup dalam damai.
“ Kau.. ” ucapnya geram mendekati Rassya dimasa lalu.
Rassya dikala itu yang tengah menginjak umur dua belas tahunan, perlahan mundur ketika sosok Aska mendekatinya dengan taring berlumuran darah milik penduduk desa.
__ADS_1
“ Ayo! Serahkan dirimu! Bukankah kau ingin menjadi salah satu dari kami? ” Aska mencekik leher Rassya dimasa lalu.
“ Tolong! To...long.. ” rintihan Rassya dimasa lalu dengan terbata-bata.
Cekikan itu semakin kuat. Dan beberapa saat setelahnya, taring berlumuran darah milik Aska itu menancap dileher Rassya dimasa lalu. Racun kegelapan langsung menyebar cepat dan menyentuh kristal ingatan yang dikunci Ralin tujuh tahun silam.
Terkulai lemas, Rassya dimasa lalu mendapati Ralin yang entah datang dari arah mana, dia tengah membopong dirinya dimasa lalu dihadapan Aska. Darah segar Rassya dimasa lalu mengucur dari luka gigitan dileher itu. Menciprati wajah Ralin dan mengalir dikedua tangannya. Aska berbisik perlahan melihat satu lagi sosok yang ia cari, lagi-lagi tengah berani mengganggu kesenangannya.
Berpindah cepat dan langsung berdiri dibelakang Ralin, Aska membayangi sosok Ralin yang masih memangku Rassya dimasa lalu dalam gendongannya.
“ Habisi... Bunuh mereka. ” bisikan parau itu adalah perintah Aska pada Rassya dimasa lalu.
Racun yang masuk kedalam tubuh Rassya dimasa lalu memberontak. Tapi kunci Kristal ingatannya berhasil menetralkan kegelapan yang berkali-kali menyerangnya dengan paksa. Sampai Ralin dikala itu dibawa kabur oleh sosok lain berjubah hitam.
Tidak lama. Hanya selama satu hari satu malam Rassya berhasil menahan diri dari racun kegelapan yang menjalar ditubuhnya. Menyaksikan pembantaian demi pembantaian yang dilakukan Aska dan pengikutnya pada warga desa. Yang disisakan Aska dari penduduk desa itu hanya sosok ibu Rassya dimasa lalu. Sang ibu dibiarkan tergeletak tidak sadarkan diri dihadapan Rassya yang terkulai lemah usai menahan reaksi racun kegelapan yang perlahan mengambil kesadarannya.
Senja semakin turun. Gelap mulai menyelimuti seluruh desa. Dan nyala api dari rumah penduduk yang sengaja dibakar para pengikut Aska, membawa Rassya dimasa lalu pada ingatan akan keinginan masa kecilnya yang terkunci oleh Kristal es Ralin.
Nafasnya tersengal, haus, dahaga mulai menyerang dirinya. Bau amis dari darah para penduduk desa menyeruak dan menyita pikirannya. Tubuhnya mulai tak terkendali. Dan sosok Ralin lagi-lagi sampai dihadapannya setelah satu malam yang sangat menyiksa untuknya. Masih dengan gaun yang sama dan beberapa goresan kecil dari semak berduri didekat hutan pinus, Ralin mendekap Rassya dimasa lalu yang meronta dengan kuatnya.
Sedetik. Hanya sedetik. Karena konsentrasinya terganggu oleh cekikan Aska dari arah belakang, Ralin dikala itu harus menyaksikan Rassya dimasa lalu menggigit dan mencabik-cabik tubuh ibunya sendiri. Rassya dimasa lalu sempat mengerang saat mencabik-cabik tubuh sang ibu. Kesadaran sempat terlihat saat dirinya menatap mata sang ibu meneteskan air mata dengan tubuhnya yang dicabik-cabik oleh anaknya sendiri.
*Ralin berontak. Melepaskan diri dari sosok Aska, dilemparnya pria itu sekuat tenaga yang ia punya. Menarik tubuh Rassya yang menahan kesakitan dalam dirinya, Ralin menancapkan kedua taring itu pada bekas luka gigitan dilehernya. Menghisap semua racun yang menyebar dibeberapa bagian dalam tubuhnya, Rassya dimasa lalu yang mulai tidak sadarkan diri. Samar-samar dalam redup pandangan matanya, dia melihat Ralin dikala itu menghunus *belati perak tepat di dada kiri Aska. Belati yang sama yang melukai lengannya oleh serangan sang ibu.
Erangan menggelegar di seluruh kawasan desa dan hutan pinus sekitarnya. Suara yang ada perlahan menghilang dari pendengaran dan Rassya dimasa lalu mulai terpejam.
***
__ADS_1