
"Melian! Apa maksud perkataanmu?" Olrun terkejut mendengar pernyataan putri sulungnya itu.
"Aku bersungguh-sungguh!" Melian meraih tangan Liv dan menunjukkannya pada Olrun. "Kalau Liv tidak memiliki tempat tinggal, berarti aku juga! Ayo, Liv!"
"Kakak!"
Melian menarik tangan Liv untuk pergi keluar dari ruangan Olrun. Pria tua itu mulai berpikir cepat. Dia tidak akan masalah bila kehilangan putri keduanya yang terkutuk itu, tetapi tidak dengan Melian. Hanya si sulung yang sanggup menemani hari-harinya selama ini, sebagai pengganti istri yang telah tiada.
"Tunggu, Melian!" Teriak Olrun memanggil putrinya. Melian dan Liv serempak berhenti di ambang pintu.
Olrun menghela napas panjang. Kali ini, dia harus mengalah, setidaknya demi Melian. "Aku tetap tidak ingin melihat anak itu ada di rumah ini. Maka dari itu, dia boleh tinggal di kota Themaris."
"Kota Themaris?! Tapi, Ayah---"
"Ini bukan pilihan, Melian!" sahut Olrun tegas, lalu memandang tajam ke arah Liv yang masih menunduk. "Dia tetap sudah melakukan kesalahan!"
"Tidak apa, Kak ... ," ucap Liv lemah. Air matanya telah terkuras habis. Keputusan sang ayah tidak dapat diganggu gugat lagi. Liv memegangi dada, rasanya begitu menyengat, menyakitkan.
Tidak apa-apa ... Ayah sudah baik, mau menampungku hingga seusia ini. Padahal, kalau mau, dia pasti sudah membuangku sejak bayi. Tidak apa-apa, aku pasti akan baik-baik saja ... Tidak apa-apa, ya, 'kan, Ibu?
Liv melangkah gontai keluar dari ruangan, sambil terus mengenang ibunya yang telah tiada. Seandainya beliau masih ada, dirinya tidak akan pernah mengalami hal seperti ini.
***
Siang itu, Liv menyiapkan tas untuk segera pergi, meski tak banyak juga yang bisa dia bawa. Berbagai gaun lungsuran dari Melian hanya dipilihnya beberapa saja. Tak lama, Melian datang ke kamar adiknya itu, lalu menyerahkan sekantung kain berisi koin-koin emas.
"Bawalah. Ini untuk bekal perjalananmu." Melian turut memasukkan kantung uang itu ke tas milik Liv. Adiknya terkejut begitu melihat kantung yang terlihat berat tersebut.
"Kakak, aku tidak ingin membawa sepeser uang pun dari Ayah!"
"Bukan, ini adalah uang hasil dari tabunganku selama ini. Aku tidak memerlukannya. Bawa saja, aku memaksa!"
"Baiklah ... ," sahut Liv, mengangguk perlahan. Melian mengelus kepalanya lembut.
"Berhati-hatilah selama perjalanan. Kata Ayah, kau bisa membawa salah satu kereta lizardan untuk sampai ke Themaris."
"Ah, itu tidak perlu, Kak!" tolak Liv, terhadap tawaran bantuan Melian untuk menaiki kereta beroda yang dibawa oleh kadal besar tersebut. Sang kakak mengernyitkan dahi dan bertanya, "Kenapa?"
__ADS_1
"Ah, itu ... Aku tidak ingin para warga tahu kalau aku diusir dari rumah ini. Kereta lizardan kita memiliki simbol keluarga Themaris, jadi ... ,"
"O-oh iya, aku mengerti. Baiklah," sahut Melian. Raut wajahnya masih menunjukkan kebingungan, mengapa Liv menolak tumpangan kereta roda kayu lizardan milik keluarga.
Apa mungkin, Liv takut menggunakan kendaraan Themaris untuk pergi keluar kota? Apa dia takut kalau warga akan mengetahui kepergiannya, lalu menganggap dirinya menghindari konflik yang ada di surat kabar? Tapi ... kenapa jadi seperti ini? Kenapa berbeda---
"Kakak, aku sudah siap ... ," panggil Liv pada kakaknya yang sedang melamun. Melian tersadar dan segera memeriksa kembali keadaan tas milik Liv apakah sudah tertutup rapat atau belum.
Hanya Liv yang tahu, alasannya menolak bantuan untuk menaiki kereta lizardan dari keluarganya. Liv ingin pergi menemui Dean di Litavenue terlebih dahulu, baru setelah itu pergi ke Themaris bersama-sama.
Bila Liv menggunakan kereta lizardan bersimbol keluarga Themaris, si pengemudi pasti curiga mengapa Liv membawa orang asing untuk ikut bersama. Pengemudi tersebut bekerja untuk Olrun. Liv tidak bisa menjamin kalau hal itu tidak akan sampai ke telinga ayahnya.
Kini, Liv telah berada di halaman mansion keluarga Themaris. Ayahnya tak tampak di mana pun. Sudah jelas, dia tidak ingin melihat Liv bahkan untuk yang terakhir kali. Para pelayan pun tidak ada yang berdiri di halaman saat ini. Hanya Melian yang terlihat sedih melepas kepergiannya.
"Jaga dirimu baik-baik, ya! Kalau sudah sampai sana, kirimi aku surat!"
"Iya, Kak ... Sampai jumpa."
Selangkah demi selangkah, Liv pergi menjauh dari rumah yang sudah ditinggalinya selama enam belas tahun ini. Tak pernah sekali pun Liv merasakan udara luar begitu lama, tanpa harus takut akan amarah ayahnya saat pulang.
Mungkin kemarin itu akan jadi yang terakhir kali aku menyelinap ke danau di malam hari. Setelah ini, aku bisa mengubah takdirku, Liv berkata dalam hati.
Kemudian, Liv si gadis elf berkulit gelap itu berbalik, menuju ke arah pemukiman Litavenue untuk menemui si manusia asing bernama Dean, yang dapat mengubah takdirnya.
***
"Ah, kamu! Akhirnya kau datang!" Dean membuka pintu kamar penginapan dan mendapati Liv ada di ambang pintu. Di tangannya terdapat tas kulit jinjing. Gadis itu dipersilakan masuk oleh Dean.
"Apa kau sudah diizinkan untuk bepergian sekarang?" tanya Dean lagi.
Raut wajah Liv tampak kesal ketika mendengar Dean bertanya seperti itu. Liv mengempaskan tubuh, duduk di tepian kasur.
"Bukan diizinkan, tapi diusir! Aku tidak bisa tinggal lagi di ibu kota ini!" seru Liv kesal.
Dean mengangkat alisnya. "Diusir?"
"Iya, dan itu semua gara-gara dirimu! Kalau kau tidak mengajakku untuk ikut denganmu lari-lari waktu itu, aku tidak akan ketahuan oleh warga kalau sedang keluar malam sendirian!" terang Liv, seraya menatap Dean tajam.
__ADS_1
Dean hanya mengangguk-angguk. "Aku tidak menyangka, hal itu akan terjadi lebih cepat."
Liv mengernyitkan dahi, tak mengerti. "Apanya?"
"Maksudku, adegan kamu diusir dari rumah. Harusnya masih terjadi nanti, setelah adegan Haldir mencari istri dan akhirnya bertemu Melian. Kamu sedih, lalu pergi menyendiri di tepian danau, tanpa memperhatikan sekitar. Baru setelah itu, kamu ketahuan warga sering keluar malam sendirian dan diusir oleh Olrun. Ternyata, malah terjadi sekarang! Hmmm ... ."
Liv menatap Dean tak percaya. Gadis itu beranjak dan menarik kerah Dean kasar. "Apa?! Jadi pengusiranku pun sudah masuk ke dalam skenario yang kamu buat?!"
"Iya. Mau bagaimana lagi. Aku, 'kan, sedang menulis cerita!" jawab Dean sekenanya. Napas Liv terdengar memburu. Ingin rasanya dia menghajar lelaki di hadapannya tersebut dengan sihir lagi. Namun, gadis itu harus bersabar, karena Dean memegang takdirnya.
Liv melepaskan kerah Dean dan mendorong pemuda itu kasar. "Ah, sudahlah!" teriak Liv sebal.
"Jadi, kapan kita akan berangkat?" tanya Liv lagi.
"Besok pagi," sahut Dean. "Sewalah kamar di sebelahku untuk malam ini, temanku akan membantu mengurus ke resepsionis. Kita berangkat sebelum matahari terbit."
"Temanmu? Siapa? Lalu, naik apa kita berangkat besok?"
Dean mengangkat bahunya. "Sebentar lagi temanku akan datang. Soal kendaraan ... entahlah, kamu tidak naik kereta lizardan kemari?"
"Mana mungkin aku memberi tumpangan pada sosok mencurigakan sepertimu, dengan menggunakan kereta lizardan keluarga!" sahut Liv. "Pengemudinya pasti akan langsung lapor ke Ayah!"
"Kalau sewa kereta lizardan umum?" tanya Dean lagi. Dean menulis dalam novelnya, selain milik keluarga secara pribadi, kereta lizardan juga bisa disewa di alun-alun kota.
Liv mengernyitkan dahi dan berkata, "Dengan segala cap diriku yang 'terkutuk' dan 'kalau dekat-dekat bisa ketularan sial', kau pikir ada kendaraan umum yang mau mengangkut?"
"Ah ... iya, aku lupa ... ." Dean kehabisan kata-kata.
Liv mendengkus. "Itu semua karena kau menulis seperti itu. Jadi, salahmu sendiri!" Liv beranjak keluar dari kamar Dean. Begitu membuka pintu, gadis itu hampir bertabrakan dengan Frode yang baru saja ingin mengetuk pintu kamar Dean.
"Ah, salam hormat, Nona Themaris!" Frode membungkukkan badan seraya mengucap salam. Liv sedikit terkejut melihat hal itu. "Anda mengenaliku?"
"Tentu. Anda adalah putri kedua Elvenar Themaris. Aku juga mengetahui tentang Anda dari Dean," jawab Frode.
Liv langsung melotot ke arah Dean. "Kau memberitahu tentang takdirku ke orang lain?!"
***
__ADS_1