
Di bumi.
"Sstt, ssttt! Tuh lihat!"
Segerombolan siswa-siswi SMA sedang berdiri di koridor sekolah, memperhatikan gadis berkacamata yang berjalan ke arah mereka. Gadis itu membawa tumpukan buku tinggi di tangan. Tumpukan tersebut adalah tugas-tugas dari teman-teman sekelas yang harus dikumpulkan ke ruang guru segera.
Tumpukan buku itu menghalangi pandangan, hingga dia kesulitan berjalan. Kacamata minusnya yang kebesaran turun ke hidung. Rambut panjangnya lepek dan kasar, menutupi kedua daun telinga dan kulit pipi yang memiliki bekas luka bakar.
Gadis itu bukanlah ketua kelas, bukan juga siswi yang sedang piket hari itu. Akan tetapi, dialah yang selalu bertugas mengumpulkan tugas-tugas, lalu membawanya ke ruang guru.
Namanya Rika, dia adalah budak di kelasnya.
Para siswa sering mengasingkan seolah dia tidak ada. Para siswi merundungnya setiap hari dengan berbagai alasan. Hanya karena dia datang dari keluarga tidak mampu dan di pipinya ada jejak kecelakaan sewaktu kecil, dia jadi objek bulan-bulanan di sekolah.
Rika berjalan sangat hati-hati supaya tidak jatuh. Namun, nasibnya memang selalu sial. Seorang siswi mengulurkan sebelah kaki. Rika langsung tersandung begitu berusaha lewat, seluruh buku yang dibawanya jatuh berhamburan. Suara gelak tawa ramai terdengar memenuhi koridor.
"Mampus!" sorak salah satu siswa, tanpa memedulikan perasaan dan keadaan Rika. Gadis berkacamata itu hanya bisa meringis. Lututnya baru saja menghantam ubin koridor yang keras. Mereka yang menyorakinya kemudian menginjak tangan Rika. Spontan, Rika berteriak kesakitan.
Rika hanya bisa menunduk, menunggu semua itu berlalu. Dalam hati dia mengutuk, Awas saja! Seandainya aku memiliki sihir yang kuat seperti Melian, sudah kubakar mereka semua!
Tentunya, berandai-andai menjadi seorang protagonis dalam novel favorit adalah hal bodoh yang bisa dia mimpikan.
Masih bersungut kesal, Rika mencoba merapikan buku-buku yang berserakan. Tiba-tiba, ada tangan yang terulur, menyodorkan buku ke wajah Rika.
Gadis itu mengangkat kepala, lalu melihat senyum tulus seorang lelaki yang digadang-gadang sebagai tertampan nomor satu di sekolah. Bahkan, lelaki ini mendapat julukan Prince. Namanya Andres.
"Ini," ucap Andres. Rika mengangguk kecil, menerima buku itu malu-malu. Gadis itu terus fokus merapikan sisa buku di lantai, sambil salah tingkah. Belum pernah dia melihat si pangeran sekolah itu berada sedekat ini dengannya.
Andres membantu Rika mengambil semua buku yang ada, lalu menumpuknya. Ketika selesai, lelaki itu membawa sendiri tumpukan tersebut di tangan, meski Rika sudah berusaha mengambilnya.
__ADS_1
"Biar kubantu bawakan sampai tujuan. Kamu pasti kesulitan berjalan kalau tumpukannya setinggi tadi, ya 'kan?"
Rika mengangguk. Ada seulas senyum kecil tersungging di bibir. Hatinya berbunga-bunga. Dia jadi membayangkan kalau dirinya benar-benar Melian dalam novel "Sang Pangeran Terbuang", dan Andres adalah Pangeran Haldir Legolas.
Aku memang pantas bersanding dengan orang setampan Andres, seperti ini! seru Rika dalam hati.
Selain menjadi pelayan bagi teman-temannya di sekolah, Rika tidaklah terlalu menonjol. Nilai akademisnya biasa-biasa saja. Di waktu senggang dia juga gemar menyendiri, tidak mengikuti kegiatan apa pun di sekolah. Gadis itu suka pergi ke perpustakaan, meski tidak ada satu pun buku cetak yang ingin dia baca di sana.
Rika adalah penggemar novel daring, dan sudah beberapa bulan ini asyik membaca sebuah novel berjudul "Sang Pangeran Terbuang".
Kisah Haldir yang hidup miskin sering dicemooh dan diremehkan, akhirnya memperlihatkan kekuatan aslinya. Haldir adalah tokoh idola Rika. Sifat lelaki elf si protagonis tersebut yang gigih dalam berjuang membuatnya tetap bersemnagat menjalani hidup, meski selalu menerima hinaan. Rika pun senang sekali, ketika Dean - author novel tersebut - menghadirkan tokoh utama wanita pendamping Haldir, bernama Melian.
Rika jadi sering bermimpi untuk bisa seperti Melian yang cantik, baik, dan cerdas. Rika benar-benar memuja Dean sebagai author terbaik, karena bisa menampilkan adegan-adegan antara Haldir dan Melian yang membuat gadis itu tersipu-sipu tiap kali membacanya.
Maka dari itu, Rika tidak terima kalau ada pembaca lain yang mengkritik karya Dean. Rika bersedia berdiri di garda terdepan bagi Dean untuk menyerang para kritikusnya. Hingga akhirnya, Rika diangkat sebagai ketua grup fan karya-karya Dean. Betapa senangnya Rika saat itu. Dia menganggapnya sebagai suatu pencapaian.
Kebahagiaan Rika bertambah, ketika ternyata Andres menaruh perhatian padanya. Musuh-musuh Rika memang bertambah, yakni siswi-siswi fan Andres, tetapi Rika tidak peduli. Yang Rika tahu, dirinya pantas diperlakukan seperti Melian. Dirinya pantas mendapatkan seorang Haldir.
Kejadiannya begitu cepat. Andres hendak menyatakan cinta pada Rika di tengah lapangan sekolah, disaksikan oleh seluruh murid. Rika, tentunya, mengiyakan dan menerima cinta Andres. Para siswa bertepuk tangan, para siswi memandang iri. Kemudian, tiba-tiba Andres tertawa keras dan meludah ke arah Rika.
"Lo pikir, gue mau jadian sama cewek udik kotor macem lo! Gak tau diri, dasar! Jijik gue liat lo deket-deket tiap hari!"
Detik berikutnya, segerombolan teman Andres datang dan memberikan segepok uang pada lelaki tampan berhati sadis itu. Seluruh sekolah menertawakan Rika.
"Malu-maluin! Dasar cewek gak tau diri!"
"Bisa-bisanya dia kegeeran, kalau Andres bakal suka sama dia! Hahaha!"
"Hiii, jangan dekat-dekat! Kotor!"
__ADS_1
"Diam kalian semua!!" Teriakan Rika membuyarkan semua gelak tawa yang ada. Semuanya hening, hingga Rika mengatakan hal yang membuat semua tercengang.
"Aku ini adalah seorang putri yang akan menikahi Pangeran! Kalian semua akan menyesal!"
Rika berteriak. Dia berdelusi. Spontan, tawa terbahak-bahak terdengar seantero sekolah.
"Udah gila, dia! Hahaha!!"
Dimulai dari satu lemparan gumpalan sampah ke arah wajah Rika, diikuti lemparan-lemparan berbau busuk lainnya. Semua orang meneriaki dan memperlakukan Rika bagai tong sampah. Cemoohan dan hinaan terdengar sadis dari mulut para siswa-siswi tersebut, tak terkecuali Andres dan teman-temannya.
Kedua mata Rika mengilat, mengutuk dalam hati dengan mulut terkatup. Awas saja mereka semua! Awas saja! Aku pasti bisa jadi cantik dan bahagia seperti Melian!
Rika berlari keluar lingkungan sekolah.
Bisa-bisanya mereka menghina seorang putri! Akan kubawa seluruh pasukan kerajaan Legolas untuk membunuh mereka semua!
Rika terus-menerus berandai-andai, berhalusinasi menjadi seorang putri. Bahwa mereka semua yang menghinanya akan mendapatkan ganjaran dan menyesal. Delusinya makin tidak wajar.
Semua cemoohan itu tidak terdengar lagi di telinganya. Semua suara itu terdengar samar, termasuk suara yang berusaha menghentikannya menyeberang karena ada mobil cepat yang melintas dari samping. Hingga tabrakan tak terelakkan itu terjadi.
Rika kehilangan kesadaran. Namun tak lama, Rika mendengar suara seorang wanita lembut, mengelus kepalanya. Anehnya, gadis itu tidak dapat melihat dengan sempurna. Semua terlihat seperti bayangan abu-abu yang bergerak. Ada suara tangis bahagia. Ada suara tawa.
Tak lama, si wanita bersuara lembut itu berkata, "Olrun, bayi kita cantik sekali, ya!"
Seorang pria pun menyahut, "Iya, Elanor. Mirip sekali seperti dirimu."
"Sayang, aku sudah menyiapkan nama yang cantik juga untuk bayi kita ini. Apa boleh aku yang memberinya nama?" tanya wanita bernama Elanor tersebut.
"Tentu saja, Sayang. Siapa namanya?"
__ADS_1
"Namanya ... Melian. Melian Themaris."
***