Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
45. Bab Baru


__ADS_3

Empat tahun kemudian.


"Yang ingin minta tanda tangan dan bersalaman dengan penulis Dean Prayogo, silakan baris di sebelah sini, ya!"


Sejumlah pembaca mengantri di depan meja yang ditempati oleh Dean. Saat ini, lelaki itu sedang menghadiri acara bedah naskah di kawasan Mall ternama di kota. Dean menjadi salah satu pembicara, bersama dengan para penulis terkenal lainnya, dalam seminar sekaligus acara temu sapa yang diadakan secara langsung oleh platform daring tempatnya menulis.


Para penulis selain Dean turut berpartisipasi. Tentunya, acara ini makin diramaikan dengan antusias ribuan pembaca yang datang ingin bertemu dengan penulis kesukaan mereka.


Dean telah bersiap dengan pena bertinta hitam di tangan. Empat tahun telah berlalu sejak peristiwa koma singkatnya dalam kamar, yang tak pernah bisa dijelaskan secara ilmiah. Dean pun tak pernah membagi kisahnya pada siapa pun, kalau dia pernah terjebak di dunia novel yang dikarangnya sendiri dan bertemu dengan para tokoh fiksinya. Bisa-bisa dia dianggap gila.


"Kak, minta tanda tangannya!" Seorang fan menyodorkan karya Dean yang sudah terbit cetak ke hadapan lelaki tersebut. Segera dia membuka halaman pertama dan menuliskan nama "Dean Prayogo" di sana.


"Terima kasih, ya!" seru Dean, sembari tersenyum basa-basi. Meski cuma senyum ala kadarnya, itu sudah merupakan hal besar bagi seorang Dean. Biasanya, lelaki itu ketus, tidak ramah bila berhadapan dengan orang asing.


"Kak, aku mau nanya satu hal, boleh?" tanya si fan. Dean mendongak, penasaran. "Tanya apa?"


"Apa yang membuat Kak Dean pada akhirnya mengubah jalan cerita Liv? Apa karena kritikan-kritikan yang Kak Dean terima?"


Dean termangu sejenak mendengar pertanyaan tersebut, kemudian menjawab, "Aku sadar kalau konsepku tentang si antagonis itu kurang matang. Dan memang benar kata teman-teman pembaca, aku terlalu sadis menuliskan tentang akhir hidup Liv Themaris, padahal dia memiliki latar belakang menyedihkan."


"Tapi, bukannya Kak Dean juga punya banyak pendukung yang menyukai caramu menuliskan antagonis seperti itu?" tanya si fan lagi.


Dean menghela napas. "Yah, entahlah. Mungkin karena lama-lama aku jadi kasihan juga."


"Kasihan? Tapi dia kan hanya tokoh karangan?"


Dean tergelak mendengar pernyataan fannya tersebut. "Iya, memang. Tapi suatu malam, aku bermimpi didatangi oleh Liv yang protes padaku, hehehe!"


"Begitukah?" Si fan rupanya masih tidak puas mendengar jawaban Dean.

__ADS_1


Mau bagaimana lagi. Mana mungkin lelaki itu membeberkan bahwa dia telah bertemu dengan si tokoh antagonis yang menjadi perdebatan tersebut, lalu jatuh cinta padanya. Bisa-bisa Dean Prayogo dicap sebagai penulis yang terobsesi terhadap tokohnya sendiri.


Selang satu jam, acara ditutup dan semua partisipan pulang. Hari sudah hampir sore. Setelah mengobrol sedikit dengan teman-teman sesama penulis, kini saatnya Dean pulang. Bukan ke kamar kontrakan, melainkan langsung bertolak ke rumah ibunya di desa.


Sudah empat tahun terakhir ini, Dean memutuskan untuk tidak meneruskan sewa kamar dan memilih untuk tinggal di desa bersama dengan ibu dan adiknya. Meskipun itu berarti harus mengorbankan jaringan internet yang tidak lancar bila turun hujan, tetapi Dean tidak memikirkan hal itu lagi.


Dean membelikan sepetak kebun buah-buahan dan sayuran untuk sang ibu, supaya tidak lagi menjadi buruh tani. Di tanah itu pula, Dean mendirikan kandang ayam dan membangun kolam lele kecil. Jadi, ibunya tidak perlu banting tulang lagi, cari nafkah dengan susah payah.


Meski kebun dan peternakan kecilnya itu belum tentu menghasilkan uang, setidaknya mereka tidak akan kekurangan makanan sehari-hari karena bisa panen dari tanah sendiri.


Kini, kegiatan Dean sehari-hari adalah membantu ibunya mengurus kebun dan ternak di pagi hari, lalu menulis dari siang sampai malam sebelum tidur. Kalau tidak ada panggilan menjadi pembicara di seminar, tentu saja.


Dean baru saja pulang dan hendak pergi ke kamar, ketika adiknya menyapa, "Baru pulang, Kak?"


Dean mengangguk, lalu melihat Delia yang mengenakan kemeja kerja. "Habis dari mana?"


Empat tahun telah berlalu, Delia telah lulus kuliah tepat waktu dengan beasiswa penuh. Kini, kegiatan Delia adalah mencari kerja sambil menunggu wisuda. Betapa prestasinya telah membanggakan keluarga, termasuk Dean.


"Terus?"


"Aku diterima!" seru Delia semringah.


Dean mengernyitkan dahi. "Kerja di kota? Mau tinggal ngontrak di sana?"


"Cuma di kota sebelah, kok! Aku masih bisa pulang pergi dari rumah naik motor, hehe!" seru Delia sambil cengengesan.


Dean tersenyum, lalu mengelus kepala adiknya sambil berlalu, "Selamat, ya!"


Delia menatap punggung kakaknya yang hendak masuk ke kamar, dan berceletuk, "Kakak abis pulang pacaran?"

__ADS_1


"Hah? Aku mana punya pacar! Ini dari seminar, jadi pembicara."


"Oh, seminar lagi, toh." Delia memanyunkan mulutnya. "Kapan aku bisa punya kakak ipar, kalau kakakku gila kerja terus kayak gitu!"


Dean tergelak. "Ada-ada aja kamu!"


Dean masuk ke kamar dan mengunci pintu. Bersandar di pintu, lelaki itu menghela napas panjang. Pandangan matanya tertuju pada komputer yang menyala, di atas meja tulis di hadpaannya.


Sebuah wallpaper bergambar Liv Themaris terpampang di desktop monitor. Seorang seniman menggambarkan karakter tersebut atas permintaan Dean, sesaat setelah dia selesai mengubah naskah. Tujuannya agar Dean tidak lupa pada gadis elf tersebut. Gambar sang seniman cukup memuaskan, karena benar-benar mirip seperti Liv yang Dean temui.


Tidak mungkin aku bisa melupakan dia, ucap Dean dalam hati.


Kemudian, dia menghampiri komputernya, mencari fail naskah "Sang Pangeran Terbuang" pada dasbor di platform daring tempatnya menulis. Dean kembali membuka bab-bab yang telah selesai diubah bahkan sampai ke epilog.


Naskah itu sudah selesai dan tak ada lagi yang disunting selama empat tahun terakhir. Pro dan kontra berdatangan dari para pembaca, tetapi Dean tidak peduli. Lelaki itu tahu dia sudah melakukan hal yang benar untuk Liv, gadis yang selama ini tidak bisa dia lupakan.


Pikirannya selalu terbayang pada gadis elf tersebut. Dean selalui dihantui berbagai pertanyaan, tentang apakah suntingan naskahnya benar-benar berhasil mengubah kisah hidup Liv dan Frode, atau tidak berpengaruh sama sekali. Dean begitu penasaran, hingga tiap malam Liv selalu hadir dalam mimpinya.


Meski berbagai kesibukan memenuhi hari-hari Dean sebagai penulis ternama saat ini, tetapi sejujurnya dia merasa hampa. Dia merindukan petualangannya bersama gadis elf tersebut, tetapi dia tidak pernah bisa kembali ke dunia novel itu lagi.


Pandangan mata Dean tertuju pada menu bersimbol tanda tambah berbentuk lingkaran yang terdapat di pojok kanan bawah layar. Itu adalah menu untuk menambahkan bab baru. Dean termenung, merasa kursornya bergerak sendiri mengeklik menu tersebut. Dean dihadapkan pada lembaran kosong di depan layar.


Perlahan, Dean mulai mengetik, apa yang selama ini ditahannya. Kerinduannya pada Liv Themaris membuatnya melakukan hal ini.


Judul: Extra Part.


Seorang manusia bernama Dean masuk ke dalam dunia Haldir berada, untuk bertemu dengan Liv Themaris. Entah bagaimana caranya, ciri-ciri tubuh manusia lelaki itu perlahan menghilang dan digantikan oleh ciri-ciri tubuh elf, seperti rambut berwarna dan telinga lancip. Kemudian, Dean bertemu Liv Themaris di tepi danau. Gadis itu tampak sedang menggenggam sebuah kalung yang dia terima dari Pendeta Agung sewaktu lahir ke dunia... .


***

__ADS_1


__ADS_2