Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
36. Kepribadian Asli


__ADS_3

"Kakak! Kau ada di sini?" Liv bertanya seraya kedua matanya terbelalak.


Seharusnya, Melian masih berada di ibu kota, tinggal di wastu yang baru saja Liv tinggalkan hampir seminggu lalu. Hal yang lebih mengejutkan adalah ketika Liv melihat sederet prajurit bersenjata lengkap berbaris di belakang Melian.


"Kenapa kau kaget sekali melihatku? Oh, rupanya warna kulitmu sudah berubah, ya?" Melian mengamat-amati Liv dari kepala hingga ujung kaki.


"Ah, iya, aku tidak menyangka saja Kakak bisa sampai di sini. Padahal, kemarin jalanan masih ditutup karena longsor!" seru Liv senang.


"Aku bisa menerbangkan kendaraan yang kutumpangi, kau lupa?" jawab Melian.


Liv dapat bertemu dengan kakaknya sekali lagi. Tentu saja ia merasa senang. Gadis itu berlari kecil menghampiri sang kakak, hendak memeluknya. Namun, yang terjadi malah di luar dugaan. Melian menepis kedua tangan Liv, lalu berjalan melewatinya, melongok ke sisi dalam gua.


"Ka-kakak, sedang cari apa?" Ada kepanikan terdengar dalam suara Liv, dan kakaknya menyadari.


Melian bertanya, "Di mana temanmu? Aku belum melihatnya sedari tadi."


"Te-teman apa--- Kak, jangan!"


Liv berusaha mencegah Melian pergi lebih jauh ke dalam gua, tetapi langkahnya sendiri dihentikan oleh dua tombak prajurit. Kobaran api sihir pada kedua tombak tersebut terasa panas dan terus menyala meski ditancapkan ke tanah secara menyilang. Liv menoleh kaget pada kedua prajurit, lalu pada Melian.


"Ka-kakak! Apa maksud semua ini!" Liv berteriak.


Melian berbalik seraya tersenyum menyeringai. "Teman manusiamu, mana dia?"


"Teman manusia apa---"


"Jawab!!"


Liv sampai terlonjak, saking kagetnya pada bentakan Melian. Kedua mata sang kakak terlihat begitu sangar, garang. Seperti bukan Melian yang Liv kenal, yang selama ini merupakan sosok baik hati dan lembut.

__ADS_1


"I-itu ...."


"Liv, ada apa?"


Suara Dean muncul tiba-tiba. Lelaki manusia itu melongok berjalan keluar gua, tanpa menyadari adanya bahaya. Langkah Dean terhenti ketika melihat Liv disandera oleh para prajurit. Dean terkesiap, dia menyadari ada sosok Melian di hadapannya.


Seketika itu juga, spontan Liv berteriak, "Dean, lariii!!"


Melian langsung melancarkan serangan sihir pada Dean, begitu mendengar teriakan Liv. Dean pun langsung sigap menghindar, hendak kabur ke dalam gua. Namun, niatnya terpaksa dihentikan, ketiak dia mendengar ancaman Melian. "Akan kubunuh Liv kalau kau berani kabur dari hadapanku!"


Tubuh Dean mematung. Liv terperanjat mendengar ancaman tersebut.


"Ka-kakak ... kenapa ...?" Liv bertanya terbata-bata, dia benar-benar tidak mengerti sama sekali.


Melian tidak ambil pusing. Gadis itu sama sekali tidak menggubris pertanyaan adiknya. Ia menitahkan para prajurit untuk menangkap Dean, lalu menggiringnya bersama Liv sampai ke penjara bawah tanah kastel Themaris.


***


Liv tidak bisa bergerak banyak. Tangan dan kakinya dipasangi rantai bola besi. Ada borgol besi melingkar di kedua pergelangan tangan. Ia hanya bisa duduk diam.


Liv dulu pernah berpikir, bahwa kamarnya selama ini di wastu ibu kota sudah jadi yang terburuk, hanya kasur reyot di ruangan sempit. Ternyata, penjara jauh lebih buruk. Liv belum pernah ke tempat ini sebelumnya. Tidak banyak pencahayaan di penjara bawah tanah seperti ini, hanya dua batang lilin di sudut terjauh, dekat meja penjaga.


Jeruji besi terletak tak jauh dari tempat Liv berada sekarang. Di baliknya, ia bisa melihat sel tempat Dean disekap. Kedua tangan dan kaki lelaki itu diborgol dan dirantai berbola besi sama seperti Liv. Tubuhnya tak mengenakan sehelai kain pun, hingga tersingkap warna kulitnya yang cokelat, rambut hitam dan telinga yang bulat. Fakta bahwa Dean adalah seorang manusia terekspos sudah.


Liv benar-benar tidak percaya bahwa kakaknya tega melakukan hal seperti ini. Padahal, selama ini Liv berpikir bahwa Melian akan selalu mendukung Liv, dalam hal apa pun itu.


"Pasti ada yang salah. Kakak tidak mungkin begitu! Kak Melian orang yang sangat baik. Selama ini dia yang merawat dan membela ketika aku diganggu oleh yang lain! Tidak mungkin kakakku seperti itu!" teriak Liv, tidak menerima kenyataan.


Dean melihat ke arah Liv yang ada di dalam sel seberang. Dean sendiri juga bingung atas sikap Melian. Memang, mungkin saja dia ditangkap karena sosoknya yang manusia. Akan tetapi, lelaki itu bingung kenapa Liv juga harus dijebloskan ke penjara bersamanya.

__ADS_1


Padahal, Dean selalu menuliskan sifat karakter Melian yang bagai malaikat. Tidak mungkin Melian dalam novel bisa sampai hati melakukan hal ini pada Liv, sekalipun Liv sudah berubah menjadi antagonis terkuat sekali pun. Bahkan, ketika karakter Liv pada akhirnya mati di tangan Haldir, Melian adalah yang pertama kali menangis untuk adiknya itu.


Akan tetapi, melihat apa yang sudah terjadi sekarang, seolah-olah kepribadian Melian berubah sama sekali. Seperti orang yang secara keseluruhan berbeda dari apa yang Dean tulis.


Terdengar suara langakh kaki menuruni anak tangga batu di sisi ruangan. Prajurit yang sedang berjaga memberi salam. Sosok yang dipikirkan oleh Dean dan Liv tampak mengenakan gaun putih dan merah marun, berjalan menghampiri sel tempat mereka disekap sambil membawa kandil lilin.


Melian menoleh ke arah Liv yang duduk bersimpuh sejenak, lalu mengalihkan pandangan pada sel Dean. Melian tersenyum geli melihat mereka berdua. Dari senyuman, berubah menjadi suara tawa menyeramkan, melengking jahat.


Liv benar-benar tidak percaya pada apa yang dilihatnya di depan mata saat ini. Air matanya mulai menetes di pipi.


"Kakak ... kenapa Kak Melian berubah? Selama ini, Kakak tidak pernah membentakku ... Kak Melian selalu baik padaku ... tapi kenapa sekarang---"


"Karena selama ini aku menahan diri. Sejujurnya, aku sudah lama ingin bisa bebas dari peranku sebagai seorang kakak yang baik hati!" sahut Melian, memotong pertanyaan Liv seraya mendengkus. "Aku juga tidak menyangka kalau harus mengeluarkan kepribadian asliku lebih cepat seperti sekarang ini."


"Peran? Kepribadian asli? Apa maksud nya, Kak?"


Begitu mendengar pertanyaan Liv barusan, Melian mengernyitkan dahi. Kemudian, dia tertawa terbahak-bahak, hingga terdengar menggaung di lantai bawah tanah tersebut.


"Ah, ternyata memang bodoh sekali, karakter Liv yang satu ini!" seru Melian di sela-sela tawanya, lalu mengalihkan pandangan pada Dean di sel sebelah kanan. "Kau menuliskan tentang Liv ini benar-benar satu paket, ya, Author! Sudah cengeng, hina, cacat, bodoh pula!"


Dean terkesiap. Melian memanggil nama aslinya, ditambah lagi menyebutkan panggilan author.


Panggilan itu yang biasa disebut oleh pembaca pada penulis di platform daring! Ini mustahil ... tidak mungkin kan dia ... .


"Ah, rupanya kau juga kaget, ya, Author Dean? Apa kau tidak mengenaliku?" Melian bertanya, seraya berjalan mendekat ke arah sel Dean.


Melian menatap Dean lekat-lekat dari luar jeruji. "Aku ini fan beratmu! Fan yang paling setia, yang siap mendukung apa pun hasil karyamu, dan bersiap menyerang siapa pun pengkritik bodoh yang menghujat jalan cerita yang telah kau tuliskan!"


"Fan setia ...? Jangan-jangan, kau adalah ... ."

__ADS_1


Melian tersenyum lebar. "Ya, namaku adalah Rika, ketua grup fanmu, Dean!"


***


__ADS_2