
Dean membawa keranjang anyaman berisi ikan-ikan ke depan api unggun. Frode membantu mencarikan ranting-ranting, lalu membersihkannya. Elf tua tersebut menusukkan masing-masing satu ranting ke mulut ikan, sebelum ditancapkan pada tanah, menghadap ke arah api.
Menu makan malam kali ini adalah ikan bakar. Frode dan Liv menyantap lahap ikan bagian mereka, sedangkan Dean hanya memutar-mutarkan tangkai kayu ikannya, tampak tak bernafsu makan. Ia tak pernah memakan masakan yang hanya dibakar dan tanpa bumbu sedikit pun seperti itu.
Aku bisa mati lebih dulu sebelum mencapai Kuil Agung, karena makanan tidak enak seperti ini.
"Pak, bukankah kau membawa bahan bumbu saus kacang di gerobakmu?" tanya Dean pada Frode, sambil menunjuk gerobak. Kedua oxin yang membawa gerobak tersebut saat ini sedang memakan rumput di sekitar.
Frode berpikir sejenak, berusaha mengingat-ingat apa saja yang dia bawa. "Itu semua adalah bahan-bahan untuk demo masak di depan rekan pedagang yang kuceritakan kemarin."
Dean berpikir sejenak. Bergantian dia menatap antara ikan bakar di tangan dan gerobak Frode. Akhirnya dia memutuskan dan berkata, "Ambil sedikit. Kalau hanya ikan bakar seperti ini aku tidak berselera."
"Tapi, nanti---"
"Diambil sedikit tidak akan masalah!" potong Dean. "Oh ya, jangan lupa peralatan untuk menyiapkannya. Anda juga membawanya, kan?"
Tak ingin berdebat lebih lama dengan Dean, Frode pun menurut. Bagaimanapun juga, Dean memang pemilik dari ide saus kacang yang membuat Frode bisa hidup nyaman saat ini.
Pria tua itu pun beranjak ke gerobak dan membuka kotak-kotak yang ada di atas gerobak. Ia menurunkan peralatan memasak seperti kompor, wajan, dan ulekan dari atas gerobak.
"Kau mau apa? Sampai menyuruh-nyuruh Paman seperti itu!" Liv protes pada Dean karena lagi-lagi melakukan hal yang melanggar peraturan.
"Jangan bawel! Lihat saja apa yang akan kulakukan!" seru Dean.
Frode membawakan barang-barang yang diminta oleh Dean, berupa semangkuk kacang tanah, dan beberapa bahan lainnya seperti garam dan gula. Dean pun melakukan aksinya, untuk membuat saus kacang khas yang mulai mendapatkan popularitas di kalangan distrik menengah ibu kita.
"Oh, ini adalah saus cokelat yang sedang populer itu?!" tanya Liv memastikan. Dean tak menggubris, ia terus berkonsentrasi.
Frode yang menanggapi ucapan Liv. "Nona mengetahuinya?"
Liv mengangguk cepat. "Beberapa kali, pelayan mengantarkanku makanan dengan saus ini. Tapi, aku tak memakannya."
__ADS_1
Dean mengernyit. "Kenapa?"
"Warna dan teksturnya aneh. Apakah ini benar-benar dimakan?"
"Tentu saja!" sahut Dean sambil terus menghancurkan kacang tanah dengan ulekan. " Ini adalah masakan bumi, resep dari ayahku. Pasti enak. Semua orang yang kukenal memuji kelezatannya!"
Selanjutnya, Liv tanpa sadar asyik memperhatikan Dean secara lihai menumbuk kacang tanah dengan tangan, seakan sudah terbiasa memasak sehari-hari.
Liv tidak pernah pergi ke dapur untuk melakukan hal apa pun, kecuali mengambil makanan yang sudah ada. Dia tidak diperkenankan untuk menyentuh barang apa pun yang ada di luar kamarnya sendiri, karena Olrun melarangnya. Ayahnya membatasi ruang interaksi Liv pada benda apa pun yang ada di rumah Themaris.
Setelah dirasa cukup, Dean memotong-motong ikan bakar miliknya, menyingkirkan duri, lalu membalur dagingnya dengan adonan saus kacang tanah. Liv mengernyit jijik, begitu melihat saus kacang yang berwarna cokelat melumuri daging ikan yang putih.
"Itu lihat, warna dan teksturnya aneh seperti lumpur--- hmphhh!"
Sebelum Liv menyelesaikan kalimatnya, Dean sudah menyuapi mulutnya dengan satu potongan ikan berlumur saus kacang. Liv tampak terbelalak. Mulut gadis itu yang masih menganga ditutup oleh Dean dengan tangannya.
"Coba dulu, baru komentar! Nih, makan!"
"Ummm! Enakkk!" ucap Liv, mulutnya masih sibuk mengunyah.
Frode pun penasaran, dia mengambil sepotong ikan yang telah berlumur saus kacang lalu melahapnya.
"Ini ... Sate ikan? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku resep ini sebelumnya?" tanya Frode antusias.
"Yang lebih terkenal di duniaku adalah sate daging. Sebenarnya, semua hewan yang bisa dimakan bisa dijadikan sate seperti ini."
Dean membagi-bagikan potongan ikan berlumuran saus kacang pada Liv dan Frode. Bahkan, karena takut merasa belum kenyang, Frode menangkap ikan-ikan baru di sungai dengan cara yang sama seperti Dean, yakni menggunakan jala.
"Paman!" Liv berteriak melihat yang dilakukan Frode.
Pria tua itu tertawa menanggapi. "Aku harus makan banyak, karena harus mengemudi sepanjang hari besok!"
__ADS_1
Liv tidak protes lagi. Gadis elf itu memilih untuk tutup mulut sekarang. Dean yang melihat hal tersebut, berusaha menenangkan Liv. "Tenang saja. Ikan di sungai ini tidak akan habis. Makanlah yang tenang tanpa perlu khawatir."
Dean menyodorkan seporsi ikan bakar saus kacang ke hadapan Liv. Gadis itu menerima makanannya seraya berkata, "Baiklah. Aku tidak boleh menyia-nyiakan makanan yang ada."
Setelah semuanya siap, mereka bertiga kembali menyantap makanan masing-masing dengan wajah lebih ceria dari sebelumnya. Liv menghabiskan saus kacang di piringnya sampai tak bersisa.
"Kamu pintar masak, ya?" tanya Liv. Dean menghabiskan ikan dalam mulutnya sebelum menjawab, "Tidak juga. Aku hanya tahu beberapa resep saja."
"Ayahmu yang mengajari?" Liv bertanya lagi, mengacu pada perkataan Dean sebelumnya. Dean mengangguk.
"Wah, pasti beliau memasak makanan enak setiap hari untukmu, ya?"
Kali ini, Dean tidak menjawab. Dia tertegun menatap piring di hadapannya. Dean tak kunjung menanggapi, sampai setelah semua ikan habis disantap dan piring-piring selesai dicuci. Frode pamit untuk tidur terlebih dahulu di dalam tenda, karena dia harus bangun lebih pagi untuk memberi makan kedua oxin sebelum melanjutkan perjalanan.
Dean memutuskan untuk begadang, duduk di dekat di api unggun, barangkali ada hewan buas yang menghampiri.
"Kamu tidak tidur?" tanya Liv.
Dean menggeleng. "Belum mengantuk, jadi sebaiknya aku berjaga-jaga. Kamu sendiri?"
Liv menggeleng. "Belum mengantuk juga. Kamu mau teh? Kakakku menyelipkan daun teh tumbuk siap seduh di tasku. Tadi Paman juga bilang kalau dia membawa teko dan gelas kayu."
"Baiklah," sahut Dean. Liv beranjak untuk mengambil tasnya dan mengeluarkan sejumput daun teh kering. Liv juga mengambil sebuah teko dan dua gelas kayu milik Frode di gerobak.
Setelah memasak air dan menyeduh teh, Liv memberikan segelas pada Dean. Liv pun kembali duduk di dekat api unggun. Gadis elf itu mengintip Dean dari balik gelasnya. Lelaki manusia itu tampak menikmati teh buatannya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi soal ayahmu. Apa kamu marah?" tanya Liv takut-takut.
Dean melirik ke arah Liv sejenak, lalu menghela napas. Sambil merapikan kayu bakar supaya lebih ke tengah dengan ranting, lelaki itu menjawab, "Ayahku sudah meninggal sejak aku masih kecil."
***
__ADS_1