Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
27. Manusia dan Elf


__ADS_3

Perjalanan dimulai lagi pada pagi hari. Setelah begadang semalaman untuk menangkap ikan dan menyiapkan sarapan, kini Dean tertidur pulas di dalam gerobak.


Lelaki itu duduk bersandar di tumpukan jerami dan peti-peti kayu yang ada. Kedua matanya terpejam, menikmati embusan angin semilir. Frode mengatakan kalau energi sihirnya sudah terkumpul cukup untuk bisa memuluskan jalannya roda gerobak selama perjalanan. Jadi, Dean bisa tidur tenang tanpa terbangun oleh guncangan-guncangan akibat tanah yang tidak rata.


"Bangunkan aku, kalau sudah sampai di kota Eetelbum," pesan Dean pada Liv sebelum tidur. Gadis elf itu mengangguk. Masih setengah jalan dari tempat mereka berkemah tadi hingga sampai ke Eetelbum. Liv duduk di sebelah Dean yang sudah terlelap.


Liv sebenarnya penasaran pada ciri-ciri tubuh manusia yang ada pada diri Dean, tetapi dia tidak pernah punya kesempatan untuk mempelajari lebih dekat. Berkali-kali, Liv memperhatikan telinga Dean yang bulat, dan memegang sendiri miliknya yang lancip. Rambut Dean yang hitam pun tak luput dari fokus matanya.


Begitu dekat Liv mengamati wajah Dean, hingga sebuah batu besar menghalangi lintasan mulus gerobak, membuat gadis itu jatuh tersungkur ke dada Dean. Spontan, lelaki itu terbangun dan terkejut ketika Liv sudah berada di dadanya.


Frode berteriak dari kursi kemudi tanpa melirik ke dalam gerobak. "Maaf, aku tidak lihat, tadi ada batu besar!"


Teriakan Frode tidak terlalu terdengar di telinga Dean. Jantungnya berdegup terlalu kencang melihat Liv ada di dekatnya. "Sedang apa kamu!" teriak Dean.


Liv bangkit dari jatuhnya. Kabut hitam menguar di bagian hidung, menebal dan melindunginya dari benturan dengan Dean. "A-aku sedang penasaran, tubuh manusia itu seperti apa ... itu saja!"


Dean mengernyitkan dahi dan mengangkat alis. Kemudian, lelaki itu membalik tubuhnya ke samping. "Jangan ganggu aku! Aku mengantuk!"


"Iya, iya, maaf!" ucap Liv ketus. Dean berusaha memejamkan mata, kali ini memunggungi Liv. Akan tetapi, dia tidak bisa tidur nyenyak lagi sekarang.


***


Menjelang sore, kastel Elvenar Eetelbum mulai tampak dari kejauhan. Tiap Elvenar memiliki kastel di kota kekuasaannya masing-masing. Sesuai pesanan, Liv membangunkan Dean. Lelaki itu mengusap-usap mata sebelum bisa melihat jelas.


Langit senja tampak kemerahan. Jalan di depan terbagi menjadi dua, yakni berbelok masuk ke kota Eetelbum, atau lurus terus melanjutkan perjalanan mencapai kota Hartvig.


"Apa kita akan memasuki kota?" tanya Liv. Dean menggeleng. "Ada pemeriksaan. Sebaiknya kita tidak singgah di sana."


"Tapi, ada pelanggan-pelanggan yang harus kuantarkan pesanannya di Eetelbum," sahut Frode.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana? Apa aku dan Dean turun di sini saja?" tanya Liv lagi.


Dean berpikir sejenak sebelum memutuskan. "Kalau kita jalan terus, ada desa setelah kota Eetelbum ini. Ayo kita menginap di sana."


"Jalan kaki?" tanya Liv memastikan. Dean mendengkus. "Tidak mungkin terbang, 'kan?"


Liv mengerucutkan bibir. Gadis itu kesal setiap kali Dean ketus padanya. Frode segera menepikan gerobak ke pinggir jalan, agar Dean dan Liv bisa turun tanpa menghalangi kendaraan lain yang ingin lewat.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ke Eetelbum. Nanti akan kususul kalian di desa. Apa ada yang mau menitip untuk dibeli, selagi aku di dalam kota?" tanya Frode.


Dean mengacungkan tangan. "Pakaian ganti untukku. Oh, belikan aku tas, yang kain biasa saja cukup."


"Baiklah. Ada lagi?"


Liv berpikir, lalu menyahut, "Dariku tidak ada, Paman!"


"Baiklah. Aku pergi dulu. Kalian hati-hati, ya!"


Dean berbalik, lalu menyambar tas jinjing di tangan Liv. Lagi-lagi, Liv terkejut tasnya diambil begitu saja. Dean melangkah pergi, memanggul tas Liv di pundak, sebelum Liv sempat menolak bantuannya. Tak lupa, lelaki manusia itu memasang tudung di kepala guna menutupi rambut hitam dan telinganya yang bulat.


"Apa desanya masih jauh?" tanya Liv, yang telah berhasil menyamai langkah Dean. Lelaki manusia itu menunjuk jauh ke depan. "Cuma sepuluh menit jalan kaki."


Dengan santainya Dean mengatakan hal itu, tanpa ingat kalau kaum elf tidak pernah berolahraga. Keberadaan sihir membuat para elf tidak pernah mengandalkan kekuatan fisik. Apalagi Liv, yang hanya sekali dua kali pergi keluar rumah seumur hidup. Baru lima menit berjalan, Liv sudah megap-megap kehabisan napas.


Dean menyadari bahwa gadis elf tokoh fiksinya itu tidak lagi berjalan di sisinya. Liv jauh tertinggal di belakang, membuat Dean harus berjalan balik arah. "Kenapa?"


"Capek ... ," sahut Liv, seraya terengah-engah. Tubuhnya terbungkuk kelelahan.


Dean menghela napas panjang. Dia baru ingat karakteristik tubuh elf yang ditulisnya dalam novel. "Kau tidak mampu berjalan lagi?"

__ADS_1


"Aku bisa, tapi pelan-pelan, ya ... ," pinta Liv.


Dean melihat ke arah langit. Tidak mungkin bisa pelan-pelan, karena sebentar lagi matahari akan terbenam. Mereka berdua tidak ada yang bisa menyalakan obor api sihir.


Dean mengalungkan pegangan tas jinjing Liv di leher, lalu duduk bersimpuh pada dua lutut. Kedua tangannya terjulur ke bawah. Kemudian, dia berkata, "Kugendong saja, biar cepat."


"Eh?!" Liv terkesiap. Digendong laki-laki?! Liv berteriak dalam hati.


"Sudah cepat! Keburu malam!" Dean berdecak kesal.


"Tapi, apa kamu kuat menggendongku?" tanya Liv ragu.


"Aku ini manusia, fisikku lebih kuat dari elf. Ayo!" ajak Dean lagi.


Ragu-ragu, Liv mendekat ke punggung Dean, lalu menyandarkan tubuhnya di sana. Kedua tangan Dean yang lebar menopang paha Liv dengan kuat. Kemudian, lelaki manusia itu berdiri dan mulai berjalan.


"Ka-kalau berat, aku jalan saja ... ," ucap Liv. Gadis itu sungguh merasa tidak enak pada Dean sekarang.


"Sudah, tenang saja. Badanmu itu enteng sekali."


Liv tertegun. Aroma keringat tubuh Dean dan rambutnya berbeda dari elf, tercium sampai ke hidung Liv. Namun, gadis itu tidak membencinya. Liv tersenyum dan berkata, "Terima kasih, ya!"


"Hm ... ," sahut Dean singkat. Dalam hati lelaki itu berharap, semoga degup jantungnya tidak terdengar oleh gadis itu.


Sesampainya di penginapan, mereka segera memesan dua kamar. Beruntungnya, Liv bisa menyewa kamar dengan penampilan bertudung. Di desa memang para warganya tidak banyak curiga pada orang asing yang datang. Sudah sangat lazim, para pendatang singgah di desa-desa untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke kota tujuan.


Sepertinya, mereka tidak mengenali sosok Liv Themaris, sehingga rumor kutukan menular Liv tidak begitu tersebar di desa kecil seperti ini. Hanya saat membayarkan uang sewa, pemilik penginapan sempat terkesiap begitu melihat punggung tangan Liv yang berkulit hitam. Cepat-cepat Liv menutupi tangan dan mengajak Dean ke kamar, sebelum kehebohan muncul.


Tak lama, Frode datang membawakan pesanan Dean. Sehelai pakaian ganti, tudung mantel, dan tas kain. Tak lupa pula, Frode memesan makan malam untuk mereka bertiga dan dibawa ke kamar. Kini, Frode dan Liv berkumpul di kamar Dean untuk mendengarkan apa yang ingin dibahas oleh Frode sambil mengisi perut.

__ADS_1


"Besok, kita akan pergi ke kota Hartvig. Seharusnya bisa ditempuh dalam satu hari. Selanjutnya, sesuai rencana Dean, kalian berdua akan memasuki hutan Nitville. Tapi sayangnya, aku tidak bisa ikut serta."


***


__ADS_2