Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
40. Pengorbanan


__ADS_3

"Menundukkk!!" Frode spontan berteriak memberi peringatan. Ia menekan paksa kepala Dean ke bawah supaya ikut membungkuk bersama. Liv pun melakukan hal yang sama sambil terus memegang tali kendali oxin.


"Itu Melian, bersama para prajurit!" pekik Dean.


"Nona Liv! Bagaimana ini?" tanya Frode ikut panik. Liv menoleh sebentar ke belakang. Kedua matanya menatap ngeri pada pasukan Melian. Sementara itu, para prajurit bersiap menembakkan deretan panah sihir berikutnya.


"Liv, lakukan sesuatu!" seru Dean. Liv mengangguk dengan pandangan tetap lurus ke depan.


"Aku akan membuat lapisan bola kabut. Akan makan waktu beberapa menit. Lindungi aku selagi berkonsentrasi!" seru Liv.


Di dalam gerobak terdapat tong-tong kayu berisi buah-buahan. Dean memiliki inisiatif untuk melempar buah-buahan tersebut ke arah para prajurit.


"Pakai ini, Pak! Elf lemah dalam pertahanan fisik. Lempar yang tepat ke arah kepala para burung hawker yang mereka naiki!" perintah Dean.


Dean dan Frode mengambil semua persediaan buah dan mulai melempar. Beberapa lemparan sempat meleset, tetapi pada akhirnya mengenai kepala burung raksasa tersebut. Hawker yang dilempari menjadi oleng, lalu jatuh, membawa prajurit yang menaiki pelananya.


"Lihat! Ayo, lagi!" Dean dan Frode kembali melancarkan serangan. Para prajurit membalas dengan melemparkan sederet panah sihir kembali. Dean dan Frode berlindung di balik tong-tong kayu buah-buahan yang ada. Mereka berdua tidak mengkhawatirkan Liv karena kabutnya secara otomatis melindungi tubuh gadis itu dari serangan apa pun.


Akan tetapi, persediaan buah-buahan yang ada di atas gerobak sudah habis. Kini, Dean dan Frode hanya bisa berlindung dari serangan para prajurit, tanpa bisa membalas sedikit pun.


"Kenapa bawa buahnya tidak banyak sekalian, Pak!" omel Dean.


Frode langsung menyahut, "Mana saya tahu kalau akan dipakai perang seperti ini! Yang tadi itu bahkan buah-buahan sisa untuk rujak!"


Tak lama, Dean menyadari, dari sekujur tubuh Liv keluar kabut putih yang membentuk lapisan bola transparan menyelimuti seluruh bagian gerobak. Kini ada pelindung yang menjadi penghalang antara gerobak Frode dan pasukan Themaris.


Benar saja, lapisan kabut itu menghalau seluruh panah sihir para prajurit. Dean sempat memicingkan mata, takut apabila panah tersebut bisa tembus ke arahnya. Namun, ternyata tidak. Semua panah sihir itu membentur lapisan kabut Liv, lalu menghilang begitu saja.


Akan tetapi, Melian tidak kehabisan akal. Dia membentuk sebuah tombak persis seperti yang sebelumnya dilemparkan pada Dean, hanya ukurannya jauh lebih besar.


Melian mengarahkan tombaknya ke arah lapisan kabut Liv, bermaksud untuk menghancurkannya. Melian berdiri di atas pelana burung hawker dengan keseimbangan yang luar biasa, lalu mengambil ancang-ancang dan melemparkan senjatanya tersebut kuat-kuat.

__ADS_1


"Awasss!!" teriak Frode.


Tombak sihir itu menghantam dan menancap lapisan yang terdekat dengan kepala Frode. Ujung bilahnya berusaha menembus lapisan, menyebabkan gesekan arus listrik yang hebat. Perlahan tapi pasti, lapisan tersebut mulai retak sedikit demi sedikit.


"Liv, lapisan pelindungnya!" peringat Dean.


Liv jadi panik, keringatnya membasahi dahi. Dia menggeleng dan berkata, "Aku harus fokus menerbangkan gerobak ini dan membuat kedua oxinnya tenang. Aku tidak bisa berkonsentrasi penuh pada tiga sihir berbeda sekaligus!"


Melian melihat bahwa adiknya itu tidak berbuat apa-apa pada tombak sihir yang telah menancap. Dia memanfaatkan kesempatan tersebut. Gadis itu membuat tombak sihir kedua. Kemudian, Melian mengambil ancang-ancang yang sama dan melemparkan senjatanya kuat-kuat, kali ini di area lapisan yang berbeda dari tombak pertama.


Retakan yang sama terjadi, disebabkan oleh tombak kedua. Begitu yang kedua ini ikut menancap, gerobak oxin yang Dean, Frode, dan Liv naiki sempat oleng, hilang keseimbangannya.


"Liv!"


"Maaf! Aku tidak bisa berbuat banyak!" sahut Liv panik.


"Kalau begitu percepat saja terbangmu!" Dean memberi saran. Liv pun menurut. Gadis itu mempercepat laju gerobak. Dean dan Frode pun berpegangan erat. Embusan angin rasanya ingin menerbangkan mereka berdua ke belakang. Tong-tong kayu kosong pun menggelinding dalam kabin. Namun, usaha Liv ternyata percuma. Pasukan Melian dapat mengejar dengan kecepatan setara.


Dari arah belakang, Melian sudah siap memegang tombak sihir ketiganya. Senjata ketiga ini dilemparkan di tengah-tengah area lapisan. Begitu menancap, retakan besar terlihat pada lapisan pelindung. Bola kabut putih itu pun pecah berkeping-keping lalu menghilang, meninggalkan Dean, Frode dan Liv tanpa perlindungan sedikit pun.


"Aghh!"


"Pak Frode!" teriak Dean, ketika Frode mulai terkena serangan anak panah sihir yang datang setelah lapisan pelindung mereka pecah. Anak panah itu mengenai wajah, melesat sampai ujung telinga kanan.


"Aku tidak apa, tapi kita tidak bisa begini terus!" Frode menyeka darah elf berwarna putih kehijauan di pipi, lalu melanjutkan, "Aku ada ide. Nona Liv, lambatkan laju gerobaknya!"


"Apa?! Apa yang ingin Paman lakukan!" tanya Liv heran.


Frode berteriak, "Lakukan saja, sebelum mereka menembak lagi!"


Di belakang, Melian dan pasukannya sedang menyiapkan deretan tembakan anak panah berikutnya. Liv menuruti Frode dan menurunkan kecepatan.

__ADS_1


"Apa yang akan Anda lakukan, Pak?!" tanya Dean heran ketika Frode mengambil ancang-ancang, menghadap ke arah belakang dimana pasukan Melian mengejar. Jarak gerobak dan mereka makin dekat. Dean masih berlindung di balik tong kayu, tetapi Frode tidak. Posenya saat ini seolah ingin melompat ke atas burung hawker yang dinaiki Melian.


"Pak, jangan bilang kalau kau akan---"


"Nak Dean, dengar. Kau harus berhasil kembali ke dunia asalmu. Jangan lupa untuk mengubah naskahmu, memberi takdir yang terbaik bagiku dan Nona Liv," pesan Frode. Nadanya seperti sedang mengucapkan kata-kata perpisahan.


Kemudian, Frode menoleh ke arah Dean seraya tersenyum. "Jangan lupakan aku!"


"Pak!!" Hal yang ditakutkan Dean terjadi. Frode melompat ke arah burung hawker yang dinaiki Melian berada. Pria tua itu bergelantungan di leher hawker yang panjang, spontan membuat hewan tersebut kaget. Terutama Melian. Gadis itu membelalakkan mata ketika Frode berani melompat dan mengganggu arah laju kendaraannya.


"Apa-apaan ini!! Menyingkir!!" teriak Melian panik.


Frode secara cepat naik ke atas leher burung dan memeluk Melian, agar dia berhenti melemparkan tombak sihirnya lagi. Para prajurit yang terbang di belakang Melian tidak bisa menghentikan tindakan Frode.


"Lepaskan!!" teriak Melian berusaha meronta. Frode sekuat tenaga memeluk Melian hingga kedua tangannya terlepas dari tali kendali kendaraannya.


"Tidak akan kubiarkan kau berbuat seenaknya!"


Detik berikutnya, Frode menjatuhkan diri ke daratan jauh di bawah sana setinggi seratus meter, membawa Melian dalam dekapan.


"Pak!!" Spontan Dean berteriak. Tak lama, kedua pipinya basah oleh air mata. Teman pertamanya di dunia elf ini, telah mengorbankan diri untuk bisa mengembalikannya ke dunia asal.


Liv kembali memacu kecepatan. Air matanya ikut tumpah tanpa dia bisa menghindari apa yang telah terjadi. Sementara itu, para prajurit di belakang mereka telah kehilangan pemimpin. Sebagian mengejar Melian yang terjatuh. Sebagian yang lain bingung harus berbuat apa selain terus memburu Dean dan Liv dengan panah-panah sihir mereka, tanpa mengetahui apa alasan sesungguhnya di balik pengejaran tersebut.


Dean menyingkirkan semua tong kosong yang menjadi beban gerobak, menjatuhkannya ke daratan. Kini, hanya tinggal Liv dan Dean di atas gerobak kosong milik Frode.


"Kita tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan Pak Frode ... Liv, percepat gerobaknya."


"Baiklah ... ."


Liv memacu kecepatan dua kali lipat seperti sebelumnya. Di ujung penglihatan, telah tampak deretan gunung-gunung yang puncaknya diselimuti kabut tebal. Akhirnya, mereka sampai di pegunungan Nautabu.

__ADS_1


***


__ADS_2