
Kenapa dengan tanganku?! tanya Dean penasaran dalam hati.
Lelaki itu mengangkat tangannya ke atas kepala, matanya berusaha menerawang. Benar-benar transparan, meski tidak sepenuhnya jelas. Dean bisa melihat awan mendung di atas kepala, meski pandangannya terhalang oleh tangan.
Aku ... transparan?! Tapi, kenapa?
"Dean! Ini sudah kukumpulkan jeraminya. Apa sudah cukup segini?"
Liv memanggil Dean dengan membawa setumpuk jerami. Dean cepat-cepat menurunkan tangan, lalu menghampiri Liv.
"Dua kali angkut lagi." Dean memberi instruksi.
Dean sendiri melanjutkan membuat tenda dari kain. Tali diikat membentang di antara dua pohon yang berdekatan, lalu kainnya diletakkan di atas tali dan diseimbangkan kanan kirinya. Kemudian, tiap ujung kain diberi lubang kecil untuk empat utas tali pendek. Keempat ujung tali ditancapkan dengan pasak ke dalam tanah.
Jadilah tenda bivak darurat ala Dean. Sentuhan terakhir adalah menambahkan tumpukan jerami dan banyak dedaunan hijau ke atas tenda kain tersebut agar tahan air saat terkena hujan.
Sebelumnya saat ada Frode, Dean tidak perlu menumpukkan dedaunan seperti ini, karena Frode menyihir agar kain-kain tenda mereka tahan air sepanjang malam. Kini, saat Frode tidak ada, Dean bersyukur dulu saat sekolah pernah belajar untuk membuat bivak.
Berkali-kali, Dean menggunakan gigi sebagai pengganti tangan kiri yang terluka, untuk memegang dan menarik sesuatu. Kini, rahangnya sedikit kaku setelah tenda itu jadi.
Liv menambahkan tumpukan daun terakhir. Dia juga mengumpulkan kayu dan ranting kering berbagai macam ukuran, yang bisa dia temukan di sekitar. Gadis elf itu memperhatikan Dean yang menggerak-gerakkan rahang bawahnya. "Kenapa itu?"
"Keram sedikit," sahut Dean. Liv tertawa.
Angin dingin pun berhembus, pertanda sebentar lagi akan hujan. Dean mengajak Liv untuk segera masuk ke dalam tenda. Tepat kakinya berada di bawah naungan bivak tersebut, hujan pun mengguyur tanah. Dean memeriksa bagian atap tenda. Tumpukan dedaunan mampu menghalau air hujan untuk tembus ke bawah.
Tumpukan jerami yang dibawa Liv masih tersisa. Dean membentuk dua tempat duduk dari sisa-sisa jerami tersebut. Setelahnya, Dean duduk perlahan, meringis menahan sakit di pundak kirinya.
Liv mengeluarkan sebuah batu merah sebesar telapak tangan dari dalam tas. Warna merahnya begitu menyala seperti api. Dean langsung mengetahui benda apa itu. "Kamu beli batu sihir api?"
"Iya, kemarin aku sempat titip pada Paman Frode sebelum kita masuk ke dalam hutan. Ini bisa jadi pengganti api unggun."
"Itu mahal, kan?" tanya Dean memastikan. Memindahkan energi sihir ke dalam batu sebesar itu memerlukan keahlian tinggi. Sudah pasti harga jualnya mahal sekali.
Liv mengangguk. "Iya, tapi tidak masalah. Masih ada sisa uang. Kak Melian sudah memberikan sekantung koin penuh uang untuk kugunakan. Yang penting, selama Paman Frode tidak ada dan kekuatanku masih lemah, kita tidak akan kedinginan."
Liv menggenggam batu sihir merah tersebut dan menggesekkannya ke salah satu ranting kering. Saat ranting itu menyala merah, Liv membenamkannya ke dalam tumpukan kayu kering lainnya di tengah-tengah tenda. Api langsung menyala tanpa perlu bersusah payah. Udara hangat langsung menyelimuti tenda. Liv kembali menyimpan batu sihir itu ke dalam tas.
__ADS_1
Dean membuka tunik yang dia kenakan. Darah dari lukanya tampak telah mengering. Perban yang dibalutkan Liv menggunakan kain gaunnya tadi telah penuh bercak merah. Dean melepaskan balutan perban tersebut. Tampak bekas tancapan deretan gigi yang mulai mengering.
"Lukamu ... ." Liv melihat luka Dean dengan cemas.
"Sudah mengering. Aku hanya perlu mengganti perbannya," sahut Dean.
Dengan sigap, Liv mengeluarkan sisa sobekan kain gaun miliknya yang masih ada di dalam tas. Pertama-tama, gadis itu membersihkan luka Dean menggunakan air, kemudian dia menutup luka tersebut dengan kain yang baru.
Angin kembali berhembus dan masuk melalui sela-sela tenda. Dean menggigil kedinginan karena tidak pakai baju. Liv tertawa kecil saat melihatnya.
"Jangan tertawa! Cepat selesaikan ganti perbannya!" seru Dean ketus.
"Iya, iya! Kau ini marah-marah terus!"
Selesai mengganti perban, Dean kembali pakai baju. Saat ingin memakai mantelnya kembali, Dean terpaku pada tangannya yang transparan.
"Tch!" Dean berdecak. Transparansi di tangannya tadi rupanya telah menjalar ke kedua lengannya. Anggota tubuhnya itu masih terlihat, tetapi makin tembus pandang.
"Dean, tanganmu!" Liv menyadari hal tersebut dan histeris.
"Aku juga tidak tahu. Dari tadi seperti ini."
"Kamu akan menghilang ...?"
Dean menghela napas. Lagi-lagi dia menangis, ucapnya dalam hati.
"Saat ini aku masih baik-baik saja. Jangan menangis. Aku belum mati sekarang."
"Jangan berkata begitu! Jangan pernah! Aku takut!" teriak Liv. Air matanya sudah banjir membasahi pipi. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati, ketika Dean melihat Liv yang seperti itu.
"Sudah kubilang, jangan menangis." Dean menyeka air mata gadis itu. "Kalau kau menangis, aku jadi susah."
"Susah ...?"
"Perasaanku jadi tidak enak!"
"Maksud---"
__ADS_1
"Sudahlah!"
Dean jadi gusar, lalu menarik tangan Liv, hingga gadis itu jatuh ke dalam dekapannya. Secepat kilat, Dean memeluk Liv dari belakang. Betapa gadis itu terkejut. Degup jantungnya pun berpacu.
"De-dean ...!"
"Diam. Aku kedinginan. Kau harus bertanggung jawab, gara-gara kau, bajuku jadi robek karena digigit beruang!"
Liv langsung menunduk. "Maaf ... ." Liv berbalik, lalu balas memeluk Dean seraya bertanya, "Masih kedinginan, tidak?"
Ditanya seperti itu sambil dipeluk, bukan hanya Dean tidak jadi kedinginan lagi. Wajahnya langsung merona merah. Hawa tubuhnya memanas. Lelaki itu membuang mukanya ke arah lain.
"Kenapa diam saja? Masih kedinginan, tidak?" tanya Liv lagi.
Dean menggeleng, tak berani menatap langsung. "Sudah cukup hangat," jawabnya lemah. Liv mengernyitkan dahi, tidak mengerti mengapa lelaki itu melihat ke arah lain.
***
Keesokan harinya, Dean membuka mata dari tidurnya. Lengan kanannya keram seperti tertindih sesuatu. Begitu sepenuhnya sadar, Dean mendapati Liv tengah pulas terlelap, menjadikan lengan Dean sebagai bantal.
Semalam ... aku dan dia tidur berpelukan? Tidak terjadi apa pun, 'kan?!
Dean mengingat-ingat kejadian semalam. Setelah mengganti perban, dia dan Liv duduk berpelukan sambil menyantap persediaan roti yang ada. Kemudian, mereka saling mengobrol dan akhirnya tertidur pulas.
Lelaki itu menatap langit-langit tenda, menghembuskan napas lega. Entah apa jadinya, bila sesuatu terjadi antara dia dan tokoh ciptaannya itu. Meski untuk meyakinkan dirinya sendiri, lelaki itu memegangi dadanya. Detak jantungnya masih kencang, tiap kali melihat wajah Liv. Dia berusaha untuk percaya, bahwa degup jantung yang cepat ini bukanlah pertanda apa pun.
Menepis perasaannya yang tak menentu, Dean menjitak gadis itu. Kabut hitam yang tiba-tiba bereaksi dan melindungi kepalanya dari jitakan membuat Liv terbangun.
"Jangan tidur di lenganku, sakit!"
"Tch, kau bisa membangunkanku lebih lembut!" Liv langsung beranjak bangun dan marah-marah.
Dean tertawa, tidak peduli. "Ayo bersiap-siap. Kita masih harus pergi ke Themaris. Gua yang akan kita tuju ada di wilayah barat kota tersebut. Sebisa mungkin sebelum malam, kita harus tiba dan menginap di sana."
Setelah mengemasi barang-barang, Dean dan Liv bergerak ke arah barat daya, menuju kota Themaris. Kota tersebut merupakan wilayah kekuasaan keluarga Liv secara turun-temurun. Tentunya, sama seperti kota-kota lainnya, tembok perbatasan masuk Themaris dijaga oleh para prajurit.
Permasalahannya, dari tepi hutan Nitville sampai di kota Themaris akan memakan waktu lebih dari satu hari bila berjalan kaki.
__ADS_1
***