Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
44. Ritual


__ADS_3

"Apa?! Tidak, aku tidak mau! Tidak!" Liv kembali menangis. Kali ini, Dean tidak bisa menenangkan selain memeluk gadis itu lagi.


Pendeta Torion melafalkan mantra di podium. Lingkaran besar dan kecil yang ada di tengah ruangan tiba-tiba bersinar. Satu persatu, fase-fase bulan yang tergambar di sisi luar lingkaran besar juga mulai bercahaya. Ritual telah dimulai. Sudah saatnya Liv berdiri di salah satu sisi lingkaran besar, menusukkan ujung jari, lalu melumuri kalung Dean dengan darahnya.


"Ayo, sudah waktunya."


"Dean ... ."


"Aku tidak punya banyak waktu lagi ... ," ujar Dean. Liv memandangi tangan yang tengah menggandengnya ke sisi dalam lingkaran saat ini. Tak hanya lengan, bahkan leher Dean hanya berupa garis saja sekarang. Lelaki itu akan menghilang, cepat atau lambat.


Sesampainya di titik Liv seharusnya berdiri, Dean memasukkan ujung jari gadis itu ke dalam mulutnya, lalu menggigitnya hingga mengeluarkan darah putih kehijauan.


"Maafkan aku," ucap Dean. Liv menggeleng, ia mengerti.


Tiba-tiba, dari arah tangga kecil, terdengar suara teriakan Melian, bersamaan dengan munculnya portal berbentuk cahaya muncul dari dalam lingkaran kecil, mencuat setinggi tiga meter.


"Tunggu! Hentikan semua ini! Aku tidak sudi kalau kisah novel ini diubah!!" teriak Melian. Para pendeta lain pun sigap menghampiri Melian dan memegangi kedua lengannya, mencegah Melian berbuat kekacauan lebih jauh.


Di saat yang sama, Liv melumuri kalung Dean dengan darahnya, hingga menetes ke sisi dalam lingkaran mantra. Pendeta Torion secara cepat memberikan aba-aba, "Masuklah, portal hanya terbuka selama tiga puluh detik!"


"Hentikannn!!" pekik Melian histeris dan meronta, begitu melihat Dean melompat melewati portal, lalu sosoknya menghilang bagai ditelan udara.


Tubuh Melian ambruk seketika. Gadis itu bersimpuh, kedua matanya meneteskan air mata deras seraya menggumam, "Tidak ... usahaku ... semuanya ... belum tentu aku bisa jadi Melian lagi setelah semuanya diulang dari awal ... kenapa author favoritku sekejam ini padaku ... tidak ... ."


Tubuh Liv pun ikut ambruk ke lantai, sambil terus menggenggam erat kalung peninggalan terakhir lelaki manusia yang sudah mengisi hari-harinya selama beberapa waktu belakangan ini. Air matanya kembali menetes, mengenai permukaan kalung tersebut, bercampur darah miliknya.


Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Liv mengedarkan pandangan ke sekitar. Semua pendeta tampak bingung dan ketakutan, kecuali Melian yang sepertinya sudah kehilangan akal sehat dan terus menggumam tanpa henti.


Udara sekitar Liv menampilkan guratan-guratan warna yang tidak jelas. Liv merasakan tubuhnya sendiri terguncang, bersamaan setiap kali guratan udara itu muncul.

__ADS_1


Perlahan, semuanya makhluk yang ada di ruangan bawah tanah tersebut menghilang. Bahkan semua orang yang ada di dunia itu pun ikut menghilang, menyisakan perumahan, jalanan, bangunan-bangunan yang kosong.


Semua yang bernyawa telah menghilang, menyisakan Pendeta Torion seorang diri. Sang Pendeta Agung menghampiri titik tempat Liv tadi lenyap. Pria tua itu menemukan kalung Dean terjatuh dari tangan gadis elf itu.


Pendeta Torion menggenggam kalung tersebut, dan memandanginya saksama seraya menggumamkan sesuatu.


"Tuan Pencipta, apakah Anda menyisakanku sebagai makhluk satu-satunya yang akan mengingat semua? Baiklah, aku mengerti maksudmu."


Kemudian, Pendeta Torion pun memasukkan kalung peninggalan Dean ke dalam saku jubahnya. Pria tua itu naik ke lantai atas, kembali ke dalam bilik kamar yang berada di lantai teratas kuil. Beliau tahu, dia hanya perlu berdiam diri sampai semua orang muncul kembali. Pendeta Agung Torion akan berpura-pura seolah tidak terjadi apa pun, sejak dilahirkannya Liv ke dunia, karena semuanya akan diulang kembali dari awal, sejak saat itu.


***


"Liv!"


Dean membuka kedua matanya, terbelalak. Keringat mengucur deras di dahi dan punggung. Napasnya terengah-engah, ketika lelaki itu berusaha mengamati lingkungan sekitarnya. Sebuah kamar petak tiga kali empat meter, dan komputer yang layarnya masih menyala.


Dean bangkit dari lantai tempatnya terjatuh sebelumnya. Kepalanya sudah tidak lagi pusing. Lelaki itu mengecek jam dan tanggal yang ada di kalendar komputer. Rupanya, hanya terlewat satu hari sejak dia pingsan, padahal ia sudah berbulan-bulan di dunia novel. Dean mengedarkan pandangan ke sekeliling, tidak ada yang berubah.


"Apa yang tadi itu cuma mimpi?" tanya Dean pada dirinya sendiri. Dean meraba leher dan merasakan ada yang berbeda. Kalung peninggalan ayahnya tidak ada di sana. Padahal, selama ini kalung itu tidak pernah ia lepas.


"Kalungku ... aku benar-benar bertemu dengan Liv?!"


Dean terkesiap. Dia segera duduk di kursi, menghadap ke layar komputer. Sudah saatnya dia memenuhi janjinya pada Liv dan Frode, yakni mengubah kisah hidup mereka.


"Akan kuubah supaya tidak menyedihkan. Paling tidak, akan kuberi kesempatan untuk mengubah takdir."


Dean menggerakkan tetikus, mengarahkan kursor ke menu dasbor penulis pada platform daring tempatnya mendulang rezeki dan popularitas selama ini.


Lelaki itu membuka naskah "Sang Pangeran Terbuang", khususnya di bab-bab yang memiliki kisah Liv, mulai dari latar belakangnya hingga bertemu Haldir. Dean menghapus, menambahkan tulisan, mengganti konflik yang akan dihadapi Haldir, menuliskan titik ******* yang lain dan semua yang dia perlukan supaya nasib Liv dan Frode bisa berubah tanpa menciptakan alur yang rumpang.

__ADS_1


Setiap kali Dean mengubah sesuatu dan menyimpannya, notifikasi update bab muncul di menu pustaka para pembaca. Tentunya, hal ini membuat para penggemar karya Dean terheran-heran, karena yang diketahui bahwa "Sang Pangeran Terbuang" seharusnya sudah mendekati tamat.


Namun, tiba-tiba author favorit mereka mengunggah perubahan di bab-bab terdahulu, banyak sekali. Hal ini membuat mereka mendatangi grup obrolan fan dan menanyakan hal tersebut.


"Thor, kenapa banyak update?"


"Ada yang berubah, ya, jalan ceritanya?"


Dean melihat semua pesan obrolan tersebut dan menjawab mereka dengan singkat. "Nanti akan saya umumkan di bab paling akhir."


Dean menggulir nama-nama para fan eksklusif yang tergabung dalam grup tersebut. Pandangan matanya tertuju pada nama Rika, yang telah ia angkat jadi ketua grup.


Seketika itu juga, Dean teringat pada Melian yang dia temui sebelumnya. Dean pun mengetik pesan, bertanya, "Rika kemana, ya? Dari tadi belum kelihatan."


Lama pesan itu tidak terjawab, hingga akhirnya seorang fan bernama Kana angkat bicara. "Saya teman satu sekolahnya Rika, maaf baru bisa kasih kabar. Baru aja saya pulang dari melayat. Mohon doanya, ya, teman-teman, Rika sudah meninggal dunia."


Dikabarkan oleh Kana, bahwa Rika meninggal karena kecelakaan mobil di depan sekolah. Semua anggota fan lain pun mengucapkan belasungkawa, tak terkecuali Dean, meski ia sempat tertegun sejenak.


Dean melirik kembali naskah yang terpampang di layar, lalu bergumam, "Aku tidak tahu apa nantinya Rika bisa jadi Melian lagi setelah kuubah semua bab naskah ini. Tapi seandainya tidak, semoga ia bisa tenang di alam sana. Kalau diberi kesempatan hidup sekali lagi, semoga ia ditempatkan di dunia yang baik. Amin."


Dean pun menyelesaikan semua suntingan, kemudian mengunggah naskahnya ulang, sekaligus menamatkannya. Di akhir cerita, Dean menuliskan bab berisi pengumuman atas tindakan suntingnya.


"Saya menyadari kesalahan saya, yang tidak bisa menerima kritikan dan saran dari teman-teman semua. Saya mohon maaf atas semua itu. Sebagai simbol permintaan maaf, saya telah mengubah naskah, terutama di jalan cerita si antagonis Liv.


Posisi Liv berubah menjadi pemeran pendamping bagi Haldir dan Melian. Konflik yang dihadapi Haldir ketika meminang Melian bukan lagi harus berhadapan dengan Liv, melainkan Olrun, ayah Melian. Untuk lebih jelasnya, bisa teman-teman baca ulang dari mulai bab 23 dan seterusnya ... ."


***


((Ryby: Halo, aku baru aja bikin grup pembaca di Telegram. Yang mau join, cus langsung aja search Kapal Isekai Ryby di telegram ya! Sampai ketemu di sana!))

__ADS_1


__ADS_2