Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
33. Perintah


__ADS_3

Dean dan Liv menghabiskan waktu pagi hari dengan berjalan kaki, dari tempat mereka menginap kemarin malam hingga desa terdekat. Tentunya, Dean kembali menggendong Liv supaya cepat. Berkali-kali, Liv meminta maaf akan hal itu.


"Sudah, jangan minta maaf terus. Berisik!" sahut Dean ketus. Liv pun cemberut.


Selagi menggendong Liv, Dean mengutarakan rencana agar mereka bisa sampai di kota Themaris dengan cepat, yakni menumpang pada gerobak oxin yang bisa mereka temukan.


"Menumpang?" tanya Liv seraya mengernyitkan dahi. "Apa kau lupa, pakaian yang kau kenakan sangat tertutup seperti itu? Ditambah lagi, kulitku hitam. Mana mungkin mereka mau ditumpangi dua orang mencurigakan sepeti kita?!"


Dean berdecak kesal, begitu menyadari gadis elf itu ada benarnya. Lalu, Dean bertanya, "Kau ada ide?"


"Hmmm ... mungkin menyelinap di antara barang-barang gerobak oxin?" usul Liv. Mereka pun tiba di perbatasan desa. Dean menurunkan Liv dari gendongan, lalu mereka berdua melewati penjagaan dengan mudah.


"Ide bagus. Biasanya, para pengemudi gerobak berkumpul di pusat desa," ujar Dean. Kedua matanya mengedarkan pandangan.


Tiba-tiba, Liv menepuk pundaknya dan berkata seraya menunjuk, "Atau ... di depan sebuah rumah makan. Sarapan sebelum mengantar barang."


Liv menunjuk ke arah sebuah kedai kayu. Tak ada yang istimewa dari kedai sederhana tersebut, kecuali antrian gerobak dan dua oxin masing-masing di bagian depan, saling melenguh bersahutan. Wajah Dean berubah ceria. Dia pun mengajak Liv untuk mengendap-endap di balik tembok, mengintai antrian gerobak oxin tersebut. Seluruh kabin gerobak berisikan barang-barang.


"Kita naik yang mana?" tanya Liv, berbisik. Gerobak-gerobak itu cukup banyak. Para oxin yang terikat di tali kekangnya tampak tenang, menunggu majikannya kembali dari dalam kedai, selesai mengisi perut.


"Tunggu sebentar," sahut Dean, seraya mengamati semua gerobak secara saksama.


Tak lama, beberapa pengemudi keluar dari rumah makan. Satu per satu dari mereka mulai menaiki gerobaknya masing-masing. Liv mulai panik. "Bagaimana ini?"


"Ssttt, kita akan naik gerobak yang i---"


"Apa kabar pagi ini?" Seorang pengemudi gerobak menyapa temannya yang seprofesi. Si teman menjabat tangan si penyapa. Dean terdiam, mencuri dengar.


"Hai! Ya, ada banyak pesanan hari ini. Terutama karpet-karpet ini." Si teman menunjuk gulungan kain di atas sebuah gerobak. "Harus kuantarkan ke Themaris hari ini."


"Ah, jadi kau juga akan ke sana? Kalau begitu, kita searah!"

__ADS_1


"Ini gerobakmu?"


"Ya, aku harus mengantarkan bahan-bahan makanan ini ke salah satu restoran di sana."


Begitu mendengar percakapan tersebut, Dean langsung bergerak. Lelaki itu meminta Liv untuk ikut salah satu pengemudi, menaiki gerobaknya. Sementara itu, Dean menaiki yang lainnya.


Liv memandangi Dean ragu. Lelaki itu berbisik, "Tenang saja. Nanti kalau gerobakmu sudah berhenti di tempat tujuan, turunlah sebelum si pengemudi memeriksa barang-barangnya."


Liv mengangguk. Kemudian, Dean dan Liv berjalan jongkok mendekati kedua gerobak. Dean menaiki yang berisi bahan-bahan gulungan karpet. Dia bersembunyi di balik gulungan-gulungan yang disandarkan pada salah satu kayu pembatas gerobak.


Sementara itu, Liv menaiki gerobak yang berisi kotak-kotak peti kayu berisi bahan makanan. Gadis elf itu mengambil tempat di salah satu peti yang ternyata kosong. Gadis elf itu bisa muat di dalamnya bila dalam pose duduk meringkuk.


Tak lama, kedua pengemudi itu menaiki kursi depan gerobak masing-masing. Saat gerobak mulai melaju, tentu saja ada berat tambahan yang mereka rasakan.


"Kenapa jadi lebih berat sebelum aku makan tadi, ya?" tanya si pengemudi gerobak bahan makanan. Dia menoleh ke belakang, hendak menjulurkan kepala ke bawah guna mengintip isi gerobak. Itu gerobak yang ditumpangi Liv, tetapi Dean yang berkeringat dingin. Dia takut Liv jadi panik dan malah ketahuan.


Teman si pengemudi tergelak. "Hanya perasaanmu saja! Lemakmu yang bertambah sehabis sarapan, makanya jadi berat, hahaha!"


Si pengemudi bahan makanan mengurungkan niatnya untuk mengintip. "Enak saja, kau!" balasnya pada si teman yang tertawa. Liv selamat. Dean yang mengintip dari celah pembatas juga ikut bernapas lega.


Dean yakin, kalau lancar seperti ini terus, dia dan Liv bisa sampai di kota Themaris bahkan sebelum sore.


***


Sementara itu di ibu kota, Melian sedang bersiap-siap. Dia mengenakan pakaian santai, tanpa banyak perhiasan seperti biasa. Gaun yang dia pakai adalah untuk pergi ke luar kota. Para pelayan sibuk mengemasi barang-barang Melian ke dalam koper-koper besar.


Tak seperti ketika Liv yang pergi dan mengemasi barang-barangnya sendiri, Melian dapat mengerahkan seluruh pelayan untuk hal itu. Dalam sekejap, dia tampak siap, hanya perlu memanggil kereta lizardan saja sebagai alat transportasi.


"Kau benar-benar akan pergi ke kota Themaris?" Tiba-tiba, Olrun berdiri di ambang pintu kamar Melian. Wajahnya menunjukkan raut tidak suka. Melian menyatakan, dia ingin menyusul adiknya yang sudah diusir dari ibu kota.


"Iya, Ayah. Aku rindu sekali pada Liv. Dia pasti sudah sampai di sana!" Melian mengatakan hal itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Olrun memasuki kamar putri kesayangannya itu. Dia berdecak kesal. "Untuk apa kau harus menemuinya lagi!"


"Ayah, bagaimanapun juga, dia tetaplah adikku. Dia yang selalu bersamaku, menjadi teman bicara. Sekarang, dia sudah tak ada, aku kesepian ... ," sahut Melian. Nada suaranya terdengar sedih. Olrun jadi tidak tega mendengarnya.


Memang ada perubahan, sebelum dan setelah dia mengusir si putri bungsu. Melian jadi lebih sering berada di kamarnya. Biasanya, meski tidak suka, Olrun selalu memperhatikan Melian dan Liv bermain bersama. Melian jadi pendiam, setelah dia melihat para pelayan merapikan kamar peninggalan Liv.


"Izinkan, ya, Ayah! Kali ini saja. Aku tidak akan lama!" Melian mulai merengek. Jelas Olrun tidak mungkin untuk tidak mengabulkannya.


Dengan berat hati, Olrun mengiyakan. Beliau pun mengecup kening putrinya. "Ya sudah, lakukan sesukamu. Jaga diri baik-baik, dan jangan berlama-lama di sana."


"Terima kasih, Ayah!" Melian memeluk Olrun.


Sesaat setelah sang ayah pergi dari kamarnya, Melian mengeluarkan bola komunikasi dari dalam lemari. Bola itu diambilnya dari ruang kerja sang ayah.


Terbuat dari kaca yang berisikan sihir berlemen angin, bola itu mampu menyampaikan pesan rekaman suara si pemilik untuk disampaikan pada si penerima, meski jaraknya sangat jauh. Dilengkapi dengan enam tombol, guna menyimpan enam gelombang sihir milik bola komunikasi yang berbeda.


Melian menekan salah satu tombol, dengan tujuan bola komunikasi yang ada di kota Themaris. Bola yang dimaksud berada di lobi kastel, dipantau oleh kepala pelayan di sana yang bernama Elrond.


Melian berbicara dengan raut wajah tegas, sebelum akhirnya mematikan fitur rekaman bola tersebut. Kemudian, gadis itu mengirim pesan tersebut.


Di kota Themaris, cahaya yang ditampilkan bola komunikasi berpendar-pendar, diiringi bunyi berkepanjangan. Elrond si kepala pelayan menekan tombol penerima pesan dan bunyi itu pun berhenti. Terdengar jelas, suara nona muda majikannya di seberang sana.


"Bila Liv dan seorang temannya datang ke Themaris, cegat dan tangkap mereka! Jebloskan ke penjara bawah tanah kastil kita!"


Elrond terkesiap. Tak pernah dia mendengar suara Melian memerintah seperti itu, apalagi menyangkut Liv. Selama ini yang dia tahu, Melian selalu bertutur kata lemah lembut. Dia pun selalu baik terhadap adik bungsu yang tak pernah disukai Olrun Themaris.


Si kepala pelayan mulai terheran-heran. Dahinya yang keriput makin berkerut. Elrond bertanya dalam hati, Apa yang si nona bungsu lakukan, sampai Nona Melian ingin menjebloskannya ke penjara?


Tanpa berpikir panjang lagi, Elrond segera melangkah cepat untuk pergi ke markas prajurit, yang terletak di menara sisi kanan kastil. Perintah Melian sama prioritasnya seperti perintah Olrun.


Si nona bungsu terkutuk itu pasti telah melakukan sesuatu yang membuat Nona Melian marah, begitu pikir Elrond.

__ADS_1


Dia segera menyampaikan pesan Melian, lalu menitahkan komandan dan para prajurit keluarga Themaris untuk segera berpencar ke seluruh kota, terutama di bagian tembok perbatasan.


***


__ADS_2