
Sesuai perkiraan Dean sebelumnya, gerobak yang ia dan Liv tumpangi telah sampai di kota Themaris sebelum sore. Kecepatan elf yang memiliki sihir berkekuatan normal memang berbeda dibandingkan Frode.
Kini, kedua gerobak sedang berada dalam antrian kendaraan yang ingin memasuki wilayah kekuasaan ayah Liv tersebut.
Dean sabar menunggu. Rencananya, ia akan turun di dalam kota, sebelum si pengemudi memeriksa barang bawaannya. Dia juga menginstruksikan hal yang sama pada Liv. Sekali lagi, Dean mengintip gerobak yang Liv tumpangi. Masih ada dalam antrian, tak jauh dari gerobak tempatnya berada.
Akan tetapi, Dean merasa antrian ini begitu lama. Aneh sekali. Padahal, seharusnya tidak banyak yang bisa diperiksa bila sebuah kendaraan ingin masuk ke dalam kota, selain surat identitas pengemudi, ditambah surat dagang untuk gerobak oxin. Tidak mungkin yang seperti itu bisa memakan waktu lama seperti ini.
Dean mengintip keadaan sekitar melalui celah pembatas kayu. Dia melihat ada banyak kendaraan dalam antrian yang sama, bahkan makin panjang. Beberapa pengemudi turun dari kursinya, melihat ke arah depan, untuk mencari tahu apa yang menyebabkan antrian terhambat.
"Apa yang terjadi?" tanya seorang pengemudi pada rekan seprofesi, yang baru saja kembali dari dekat gerbang pembatas.
"Ada pemeriksaan menyeluruh. Pengawal gerbang akan menggeledah barang bawaan kita."
Apa?! Penggeledahan? jerit Dean dalam hati. Dia tidak mengantisipasi hal ini.
"Seluruh barang? Tapi, ada barang-barang yang tidak boleh dibuka sampai ke tangan penerima di tujuan!" protes seorang pengemudi.
"Mereka tidak akan membongkar peti-peti berisi. Hanya akan menanyai apa isinya," jelas pengemudi lain.
Kedua mata Dean terbelalak. Segera dia mengintip ke arah gerobak Liv. Gadis elf itu bersembunyi di dalam kotak tertutup. Liv aman. Dean yang akan terkena masalah. Dia hanya bersembunyi di balik gulungan karpet. Tidak ada satu pun kotak kosong di gerobaknya, seperti yang Liv temukan.
Dean berpikir cepat. Keringat membasahi dahi dan jantungnya berdegup seolah mau lepas dari rongga dada. Kalau dirinya tertangkap, habislah sudah ia di dunia elf ini.
Satu ide terlintas. Lelaki itu turun perlahan dari gerobak, mengendap-endap. Dia berharap pengemudi lain di sekitar tidak memperhatikannya.
Dean beruntung, seluruh pengemudi terlalu lelah menunggu antrian, sampai tidak memperhatikan ada sosok bertudung hitam diam-diam turun dari sebuah gerobak.
Setelah kakinya berhasil menginjak tanah, Dean merangkak masuk ke kolong gerobak. Setiap kali gerobak itu bergerak maju, Dean ikut merangkak mengikuti lajunya. Sampai di depan gerbang tembok perbatasan, giliran gerobak tempat Dean bersembunyi yang diperiksa.
Sebelum prajurit sempat mendekat, Dean berpegangan pada kayu-kayu di bawah gerobak, merapatkan dirinya di sana. Dean bergelantungan di balik dasar gerobak seperti tokoh pahlawan manusia laba-laba yang ada di film aksi favoritnya.
"Kami akan memeriksa barang bawaan Anda," ucap si pengawal. Si pengemudi mempersilakan.
Beruntung, Dean sudah tidak berada di atas gerobak. Prajurit yang memeriksa benar-benar menggeledah seluruh sudut, bahkan gulungan karpet tempat tadi Dean bersembunyi juga diangkat sementara, untuk melihat apa yang ada di baliknya. Dean menghembuskan napas panjang, sangat lega.
"Mengapa perlu ada penggeledahan seperti ini? Ini tidak pernah terjadi! Aku bisa terlambat mengantarkan barang!" protes si pengemudi.
__ADS_1
Para pengawal pemeriksa sedikit membungkuk, lalu berkata, "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Ini perintah langsung dari anggota keluarga Themaris."
Anggota keluarga Themaris? Mungkinkah ayahnya Liv? Apakah dia mencari Liv? Tapi, untuk apa? Bukankah dia sendiri yang mengusir Liv untuk pergi ke kota Themaris ini?
Gerobak Dean berhasil lolos pemeriksaan. Roda kendaraan tersebut terus melaju, masuk ke kota, melewati berbagai bangunan dan pemukiman.
Kedua tangan Dean sudah memerah, menahan perih dan pegal berpegangan di kayu gerobak. Sekali lagi dia beruntung, karena tak lama, si pengemudi menghentikan gerobaknya di suatu tempat. Si pengemudi melihat-lihat isi gerobaknya sejenak, lalu masuk ke dalam sebuah bangunan.
Di saat itulah, Dean melepaskan pegangan. Lelaki itu merangkak keluar. Suasana jalanan sepi. Rupanya, ia berada di pinggir kota dekat tembok perbatasan. Dean segera berlari menghindari keramaian, menyelinap di antara rumah-rumah pohon, menuju ke gerbang barat kota. Gua terbengkalai tujuannya ada di sisi luar tembok perbatasan sebelah barat.
Kedua tangan Dean yang memerah saling mengusap satu sama lain. Dalam hati, ia berdoa bahwa Liv juga bisa lolos pemeriksaan gerbang tersebut.
***
"Kau! Akhirnya sampai juga!"
Dean berseru, menyambut Liv yang baru saja tiba di mulut gua tempat mereka berdua akan mencari bongkahan kristal sihir. Gua tersebut memang tampaklah tua, dengan berbagai batu dan dedaunan tumbuh liar di sekitar. Ada sebuah pita kuning melintang mulutnya, pertanda bahwa gua ini tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk karena berbahaya.
Liv datang berlari, napasnya terengah-engah. "A-aku tidak mengerti ... kenapa para prajurit itu mencariku ... ," ucap Liv. Rupanya dia juga mendengar kalau ada pemeriksaan menyeluruh di gerbang perbatasan.
Dean mengintip ke balik badan gadis itu, memeriksa apakah ada yang mengikutinya.
Dean mengajak Liv lebih jauh lagi masuk ke sisi gua yang lebih dalam. Di atas lantai tanahnya terdapat jalur rel yang dulu digunakan oleh para penambang untuk mengantarkan gerbong pengangkut hasil tambang berupa bijih besi. Semasa aktifnya gua ini, bijih besi tersebut terus ditambang dan dikirim ke berbagai pelosok negeri untuk dibentuk menjadi barang-barang kebutuhan sehari-hari. Hingga suatu hari, bijih besi itu habis dan gua ini ditinggalkan begitu saja.
Liv menyulut obor menggunakan api dari batu sihir. Kegelapan dalam gua kini sirna, meski belum sepenuhnya. Kesunyian menghadang, ketika Dean makin melihat jauh ke dalam gua.
"Apa gua ini aman? Bagaimana kalau nanti ada hewan-hewan ganas?" tanya Liv, seraya bersembunyi di balik punggung Dean. Lelaki itu meraih obor yang ada di tangan Liv.
"Pendeta sudah menyucikan tempat ini terlebih dahulu sebelum para penambang bekerja. Sihir pendeta itu masih ada hingga sekarang. Jadi, yah, ini aman. Tenang saja," sahut Dean. Meski begitu, Liv tetap takut untuk berjalan di depan. Perlahan, dia mengikuti Dean memimpin jalan.
"Apa kau tahu jalannya?" tanya Liv.
Dean mendengkus. "Tentu saja!"
"Gua ini menyeramkan ... apa benar, dalam novelmu, aku seberani itu sampai menelusuri gua ini sendirian?"
"Hmmm, di novel, kau tidak bisa berpikir jernih. Setelah diusir oleh ayahmu, kau pergi ke sini setelah pikiranmu kalut berhari-hari. Bisa dibilang, kau tidak sadar kalau sudah melangkah begitu jauh ke dalam gua."
__ADS_1
Dean memimpin jalan, beberapa kali dia memutuskan apakah akan belok ke kanan atau kiri. Memang benar, tidak ada satu pun hewan ganas yang menyerang. Masih ada sisa-sisa gerbong-gerbong kayu kecil yang ditinggalkan pemiliknya, berada di jalur rel yang berkarat. Dinding gua dibentuk melingkar dan ditahan oleh kayu guna mencegah longsor.
Kini kayu-kayu itu terlihat lapuk dimakan usia. Ketimbang takut diserang hewan ganas, Liv lebih takut kalau-kalau terjadi longsor di dalam gua ini.
Dean dan Liv terus berjalan dan berjalan. Sesekali ada beberapa kelelawar yang terbang keluar. Tak terasa, setengah jam mereka berjalan. Kaki mulai terasa pegal. Liv mulai mengeluh.
"Apa masih jauh?"
"Sebentar lagi ... nah, di sekitar sini!"
Dean menunjuk satu area terbuka. Tidak ada rel gerbong di atas tanahnya. Tidak ada apa pun. Hanya satu sudut gua biasa yang tak berarti.
Dean menyerahkan obor pada Liv, kemudian berlari kecil menghampiri area tersebut. Lelaki itu mulai mengentak-entakkan kakinya ke lantai tanah gua. Hal itu membuat Liv panik.
"Apa yang kamu lakukan?! Hentikan! Nanti bisa longsor!"
Peringatan Liv tidak digubris oleh Dean. Lelaki manusia itu malah menyuruh Liv melakukan hal yang sama.
"Ada ruang bawah tanah di sekitar sini, tempat kristal sihir tersebut berada. Dalam novel, kamu terperosok jatuh ke dalam lubang yang menuju ruang tersebut. Kita hanya perlu menemukannya saja!"
Liv menuruti perintah Dean. Gadis itu mulai mengentak tanah kuat-kuat. Terdengar bunyi bum-bum bersahutan-sahutan, dihasilkan dari kakinya dan Dean. Lima menit mereka melakukan hal itu tanpa hasil. Tidak ada satu pun lubang yang muncul dari retakan tanah yang diinjak kuat-kuat itu. Dean mulai gelisah.
"Apa aku salah tempat? Tapi aku ingat persis, ke arah sini jalannya ... ." Dean menggumam seraya masih mengentak tanah.
Mulai gusar, entakannya makin kencang dan membuat dinding gua bergetar. Serpihan tanah jatuh dari langit-langit gua. Liv mulai ketakutan.
"Dean, hentikan! Kamu bisa menghancurkan tempat ini!!"
Lagi-lagi, perkataan Liv tidak digubris. Dean mulai memaki. "Ayo, dong, si*lan! Aku harus menemukan kristal itu ... HAH!!"
Teriakan terakhir Dean disertai entakan sangat keras, berhasil membuat tanah di sekitar kakinya terbelah. Hanya selang beberapa detik, belahan tanah itu makin lebar dan kepingannya jatuh entah ke mana. Tiba-tiba saja ada lubang besar menganga.
"Aghhh!!" Dean berteriak. Lelaki itu terperosok ke dalam lubang tersebut.
"Dean!!"
***
__ADS_1
((Ryby: Mohon maaf sudah berhari-hari tidak upload. Kakak kandung, saudara satu-satunya, baru saja berpulang ke Rahmatullah. Mohon doanya ya, semoga almarhumah husnul khotimah. Aminn ya robbal alamin.))