Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
22. Gerobak Oxin


__ADS_3

"Hanya pada Pak Frode. Dia ini temanku yang kukatakan tadi. Dia berjasa padaku selama aku di sini," sahut Dean.


"Berarti, dia juga tahu kalau kau adalah manusia dari dunia lain?" tanya Liv. Gadis itu menepuk jidat, tak habis pikir.


"Tenang saja, dia tidak akan membeberkan hal ini kemana-mana!" seru Dean. "Pak Frode, tolong urus penyewaan kamar untuk Liv, ya!"


"Baiklah," ucap Frode, kemudian membantu Liv membawakan tas gadis itu. "Mari, Nona!"


"Ya sudah, aku pergi dulu." Liv pergi keluar kamar menuju lantai satu. Dengan segala cap kutukan menempel pada Liv, tidak akan ada yang mau berurusan dengannya, termasuk resepsionis. Untung saja ada Pak Frode yang siap membantu.


Setelah dari resepsionis, Frode kembali ke kamar Dean dan bertanya, "Kau akan berangkat besok pagi?"


Dean mengangguk. "Ya. Tapi aku masih bingung, harus naik kendaraan apa untuk bisa sampai ke kota Themaris."


"Themaris? Bukan langsung ke puncak pegunungan Nautabu?" tanya Frode. Dean pun menjelaskan bahwa Liv harus mendapatkan kekuatannya terlebih dahulu di Themaris sebelum bisa memasuki area kuil Lileathhof.


"Selain untuk menghalau monster-monster yang mungkin akan kita temui selama perjalanan, kekuatannya juga berguna untuk bisa masuk ke dalam area kuil."


"Memangnya, ada apa di area kuil tersebut?" tanya Frode. Warga biasa seperti dirinya tidak pernah sekali pun pergi ke sana. Persembahan dikirimkan biasanya melalui kuil-kuil kecil di setiap kota, kemudian dikumpulkan oleh para pendeta, lalu dikirimkan ke Lileathhof.


Dean menerawang, berusaha mengingat apa saja yang dia tuliskan sebagai narasi tentang Lileathhof.


"Aku menulis, ada lapisan pertahanan yang para pendeta pasang di sana, untuk menghalangi siapa pun yang berniat jahat di area kuil.


Kau tahu kan, banyak persembahan dikirim ke sana dari seluruh warga. Hanya orang-orang yang memiliki energi sihir besar yang dapat melewati lapisan pertahanan tersebut."


"Oh, benar juga, ya!" Frode mengangguk paham. "Oh iya, aku ingin menawarkan bantuan. Kalau soal transportasi, jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya."


"Benarkah?" tanya Dean.


Frode memberi senyuman meyakinkan dan berkata, "Iya, tenang saja."


***

__ADS_1


Keesokan paginya, Liv telah bersiap-siap dengan segala perbekalan yang ada. Kini, Liv sedang berpakaian, ketika tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Dean berdiri di ambang pintu dan terkejut melihat Liv. Spontan, gadis elf itu berteriak.


"Maaf!" ucap Dean, dia tergesa-gesa menutup pintu kembali.


"Jangan sembarangan masuk ke kamar orang lain!" teriak Liv gusar. Selama ini, tidak pernah ada yang berani masuk kamarnya begitu saja.


Rumor kutukan Liv bahkan beredar luas sampai ke telinga pelayan di wastu Themaris, sehingga tak satu pun dari mereka yang mau berurusan dengannya.


Liv selalu menyediakan apa-apa untuk dirinya sendiri. Melian pun selalu mengetuk pintu terlebih dahulu bila ingin memanggil Liv. Baru kali ini, dia melihat ada seseorang yang sangat tidak sopan seperti Dean.


"Makanya kalau lagi ganti baju, kunci pintunya!" balas Dean, tak kalah kesal. Dia hanya berniat menjemput gadis itu dan membantunya berkemas-kemas. Mana mungkin dia tahu, kalau saat itu Liv sedang berpakaian.


Liv sendiri menyesali tidak segera mengunci pintu, setelah kembali dari kamar mandi umum di lantai satu penginapan. Setelah kegaduhan yang terjadi, akhirnya Liv mempersilakan Dean masuk. Raut wajahnya masih bersungut kesal melihat Dean.


Ditatap seperti itu membuat Dean jadi gusar juga. Akhirnya lelaki itu berkata, "Aku ini penciptamu. Mana mungkin aku bisa tertarik pada tokoh buatanku sendiri!"


"Kau pikir aku sudi untuk tahu kau tertarik atau tidak!" balas Liv tak kalah sengit. Seumur hidup, baru kali ini pula, Liv berdebat dengan seseorang. Bahkan pada Melian pun, Liv tidak pernah menaikkan nada ketika berbicara, seperti yang saat ini sedang dia lakukan.


Setelah semuanya siap, Liv keluar kamar dan menjinjing tas. Tanpa segan, Dean mengambil alih pegangan tas itu dan memanggulnya di pundak.


"Biarpun kita berbeda, kamu elf dan aku manusia, tapi aku tetap laki-laki. Harga diriku jatuh kalau aku diam saja melihat perempuan bawa barang berat!"


"Oh ... ." Liv sedkkit tertegun dengan ucapan Dean. Biasanya, ia selalu diperlakukan bagai sampah atau malah tak ada sama sekali. Baru kali ini, ia diperlakukan sebagai perempuan.


"Sudah jangan melamun. Ayo!" ajak Dean. Mereka berdua menuruni tangga penginapan.


"Kita mau naik apa untuk pergi ke Themaris? Ingat, penjagaannya ketat sekali!" peringat Liv.


"Entahlah. Semalam, Pak Frode menjamin sesuatu tentang transportasi."


Dean dan Liv pergi keluar dari penginapan sederhana tersebut. Baru memijakkan kaki kembali di atas tanah, mereka berdua telah disambut oleh Frode, yang sedang mengemudikan sebuah kendaraan.


"Kalian berdua, kemarilah!" Frode melambaikan tangan pada Dean dan Liv. Mereka berdua saling berpandangan, sebelum akhirnya menghampiri Frode di atas kursi kemudi gerobak hang tampak baru, ditarik oleh dua sapi bercorak cokelat tua besar bertanduk.

__ADS_1


"Ini ... hewan oxin, 'kan?" tanya Dean memastikan, seraya menunjuk salah satu hewan mirip sapi itu. Frode mengangguk. "Benar. Apa ini juga ada di duniamu?"


"Ah, tidak. Aku menulisnya mengambil inspirasi dari dua jenis hewan berbeda di duniaku, sapi dan banteng." Dean mencoba mengelus salah satu kepala oxin, lalu hewan itu melenguh layaknya sapi biasa.


"Kita akan naik gerobak ini, Paman?" tanya Liv. Gadis itu memperhatikan isi gerobak yang dikemudikan Frode. Terdapat karung-karung berisi bahan-bahan untuk membuat saus kacang. Ada pula tong-tong kayu berisi buah-buahan dari Litforest.


Luas gerobak itu sendiri sekitar dua ratus kali 120 sentimeter. Kayu pembatas yang ada di pinggir memiliki tinggi masing-masing seratus sentimeter. Cukup untuk Dean dan Liv duduk di tengah-tengah, di antara barang-barang yang ada.


"Oh, beberapa hari terakhir kau tampak sibuk sendiri, jadi ini yang kau kerjakan, Pak Frode?" tanha Dean, mengamati isi gerobak.


Frode mengangguk mantap. Pria tua itu duduk di kursi kemudi yang posisinya lebih tinggi dari kabin gerobak.


"Aku pernah menceritakannya padamu kemarin. Ada pedagang besar yang tinggal di luar kota. Ia tertarik untuk menjual rujak dan sate di kotanya. Kau bilang, terserah padaku. Jadi, kuambil perjanjian dagangnya, dan ia menyiapkan gerobak oxin ini!"


"Hmmm, kalau begitu, kita bisa sampai pegunungan Nautabu dalam kurun waktu kurang dari dua minggu!" sahut Dean sembari tersenyum.


Liv naik terlebih dahulu. Gerobak itu cukup tinggi, setara dengan dadanya, membuat gadis itu memerlukan bantuan.


Dean membantu membuatkan pijakan dengan kedua telapak tangan disatukan, lalu Liv naik dengan menumpukan satu kaki di atasnya. Dean naik terakhir, dengan bantuan tarikan tangan Liv yang sudah berada di dalam gerobak.


Frode menoleh sejenak ke belakang. "Kalian berdua, pakailah cadar rapat-rapat saat nanti ada pemeriksaan. Para penjaga tidak akan memerika wajah di balik cadar, tetapi kita harus tetap berjaga-jaga. Beraktinglah kalau kalian adalah asistenku. Mengerti?"


"Baik, Paman!" sahut Liv menyanggupi.


Dean mengernyitkan dahi. "Apa ciri tubuh manusiaku tidak bisa kalian sembunyikan saja dengan sihir?"


"Kau tahu sihirku terlemah, 'kan? Mana mungkin aku bisa melakukannya!" pungkas Liv. Frode pun mengatakan hal serupa. "Butuh sihir tingkat tinggi untuk mengubah tubuh seseorang."


"Tch!" Dean berdecak. Liv memandang lelaki itu kesal. "Ingatlah, kau yang menciptakan kami lemah!"


Dean menjadi gusar dan berkata, "Setelah dari Themaris nanti, kau tidak akan lemah lagi!"


"Kalau begitu, tunggulah sampai nanti. Kau mau berubah jadi elf selamanya pun, aku tidak peduli!" balas Liv. Dean bersungut kesal.

__ADS_1


"Hei, sudahlah! Kalian ini bertengkar saja!" Frode geleng-geleng melihat tingkah Dean dan Liv.


***


__ADS_2