
Ada banyak partikel hitam beterbangan di udara, mengelilingi tubuh Liv dan Dean. Bila diukur, Dean dan Liv seperti berada di tengah bola kabut hitam berdiameter tiga meter. Gadis elf itu mengangkat tangannya ke depan wajah. Kulitnya yang gelap terus mengeluarkan partikel kabut gelap.
Tak jauh dari mereka, ada seekor hewan berbentuk kelinci bertaring, berlari mendekat. Begitu memasuki lingkup udara yang dipenuhi partikel hitam, kelinci itu langsung terpental, seolah ada dinding di hadapannya.
"Kabut ini ... benar melindungiku?" tanya Liv tidak percaya. Selama ini, dia membenci kabut hitamnya itu. Padahal, berkali-kali kabut itu melindunginya dari serangan fisik yang dia terima.
Dean melakukan percobaan. Dia sengaja menjauh dari tempat Liv berdiri, sampai dia keluar dari lingkup kabut. Rupanya kabut itu hanya berporos di Liv saja dan diameter tiga meter di sekelilingnya. Kabut itu tidak mengikuti ke mana Dean melangkah.
"Kau sedang apa? Nanti diserang hewan ganas lagi!"
"Cuma mau uji coba. Aku tidak bisa pergi jauh-jauh darimu," sahut Dean, mengambil kesimpulan. "Kau jalan di depanku."
Mereka berdua kembali memulai perjalanan, kali ini Liv yang memimpin. Namun, selang lima menit, langkah gadis itu mulai melambat. Sementara itu, di belakangnya, Dean berhasil menyusul berkali-kali, meski di tengah-tengah dia sempat minum sebentar dan memeriksa luka yang mulai mengering.
"Kita bisa sampai besok pagi kalau begini terus!" Dean mulai protes. Liv tidak menjawab. Dia hanya berwajah masam mendengarnya.
Dean menghela napas. Kemudian, dia mengambil tas milik gadis itu dan mengalungkannya di leher, bersamaan dengan tas kain miliknya. Dean mengulurkan tangan kanannya pada Liv.
"Ayo, cepat!"
"Gandeng ...?"
"Iya!"
"Tapi, jalanku tidak akan jadi lebih cepat meski kau gandeng ... ."
Dean mulai gusar, lalu meraih tangan Liv dan menggandengnya. "Setidaknya kau tidak akan selambat tadi. Aku pun tidak akan sampai keluar lingkup kabut ini karena bisa mengimbangimu berjalan."
Mereka berdua bergandengan tangan menyusuri pepohonan. Sesekali, Dean dan Liv mencuci muka di anak sungai yang mereka temukan. Selama mereka berjalan berdekatan, tidak ada satu pun hewan ganas yang menyerang.
"Aku tidak hafal persis lokasinya, tapi setelah ini kita akan menemukan jembatan gantung. Kota Tranum ada di seberangnya," ucap Dean seraya menunjuk jauh ke depan jalur yang mereka tempuh.
"Jembatan gantung itu apa?" tanya Liv, yang tidak pernah sekali pun melihat jembatan gantung seumur hidupnya.
"Sama seperti jembatan di ibu kota. Hanya dia tidak ditopang kayu-kayu, melainkan tali panjang yang menggantung."
"Kenapa harus digantung?"
"Karena di bawahnya itu jurang."
"Jurang ...?"
__ADS_1
"Iya, dan sangat dalam. Kalau jatuh, bisa langsung tewas."
Langkah Liv terhenti. Wajahnya pucat. Telapak tangannya yang digandeng Dean berkeringat. Lelaki itu juga jadi ikut berhenti.
Dean kembali menghela napas. Baru kali ini, emosi Dean diuji sedemikian rupa dan harus banyak bersabar. Dia tidak bisa memaksakan arogansi dan temperamennya pada Liv.
"Ada aku. Tenang saja."
Jembatan gantung yang dimaksud telah terlihat. Benar kata Dean, di bawahnya terdapat jurang sedalam puluhan meter. Ada sungai yang mengalir sangat deras di bawah, di antara kedua tebing jurang. Kedua kaki Liv gemetaran begitu melihat jurang tersebut. Dia tidak berani melangkah sedikit pun, saat Dean sudah membawanya ke tepi jembatan.
"A-a-apa ti-tidak ada jalan lain ...?" tanya Liv terbata.
Dean menggeleng. "Hanya ini saja."
"Ba-barangkali a-ada---"
"Tidak ada! Aku yang menulis tentang hutan ini dan isinya. Tidak ada! Ayo, cepat!"
Dean menarik kasar tangan Liv, membuat gadis itu terpaksa melangkah dengan oleng dan hampir terjatuh ke atas dek jembatan. Saat hampir terjatuh itulah, Liv melihat ke sela-sela dek jembatan, betapa posisinya begitu tinggi dari sungai di bawah.
Seketika itu juga, Liv berteriak histeris. Kedua tangannya menggenggam kuat lengan kanan Dean, lalu menelungkupkan wajahnya di sana, ketakutan.
Dean menepuk jidat. Dia melihat ke arah langit. Matahari sudah lewat dari atas kepala. Sebentar lagi sore. "Ya sudah, pejamkan matamu saja. Aku akan menuntunmu," cetus Dean.
"Tapi kau tidak akan mendorongku jatuh, kan ...?"
"Untuk apa aku melakukannya, bodoh! Aku, 'kan, memerlukanmu untuk pergi ke kuil!"
"Oh, iya ... ."
Lengan Dean dicengkeram oleh Liv kuat-kuat hingga lelaki itu meringis, tetapi ditahannya. Dean melirik ke arah Liv, mendapati gadis itu memejamkan mata erat.
Dean tertawa geli. Lelaki itu meminta Liv kembali membuka mata begitu mereka sudah berada di seberang. Perlahan, Liv melihat keadaan di bawah kaki. Dia sudah menginjak tanah lagi.
"Terima kasih ... ," ucap Liv.
Dean melirik ke arah Liv sejenak, sebelum mengajaknya kembali berjalan. Sambil melangkah, Dean bercerita, "Kau itu sama seperti Delia."
"Adikmu?" tanya Liv.
Dean mengangguk. "Dia juga ketakutan seperti kamu tadi, waktu harus menyeberangi jembatan gantung saat berwisata."
__ADS_1
"Tapi tadi, 'kan, memang menakutkan! Memangnya kamu tidak pernah takut apa pun?!"
"Pernah. Dulu, aku sangat pengecut." Dean menerawang, sambil berhati-hati memilih tanah untuk berpijak.
Liv mengernyitkan dahi dan bertanya, "Pengecut? Kamu??"
Dean mengangguk. "Waktu kecil, aku takut gelap. Aku takut kalau harus ke kamar mandi sendirian malam-malam. Aku juga takut ruang sempit dan ketinggian. Aku juga takut bertemu macam-macam hewan. Tapi, semua itu berubah, beberapa bulan sebelum Delia lahir."
"Apa yang terjadi?" tanya Liv.
"Ibu menasihatiku. Kata beliau, aku akan melewatkan banyak hal menarik kalau selalu diliputi ketakutan. Aku juga bisa melewatkan banyak kesempatan. Beliau bilang, kalau takut terhadap sesuatu, aku harus mencari tahu banyak hal tentangnya. Kadang, kita takut karena kita tidak mengenalnya," terang Dean.
"Tapi ... kalau tetap takut juga, bagaimana?" tanya Liv, dia menggigit bibir.
"Kalau begitu, berarti saatnya kamu meminta bantuan teman!"
Dean menoleh seraya tersenyum lebar. "Ayo, kita percepat. Sudah makin sore."
***
Matahari hampir tenggelam, tetapi sinarnya tertutup oleh awan-awan mendung. Beruntungnya, Dean dan Liv berhasil mencapai tepi Hutan Nitville yang mengarah ke kota Tranum, sebelum hujan sempat turun. Sama seperti ketika masuk, Dean mengangkat tali suci pembatas tinggi-tinggi agar Liv bisa keluar. Tak lupa, Liv meredam kabut hitamnya masuk ke tubuh, tak lagi menguar seperti tadi.
"Sepertinya, kita harus mendirikan tenda di sekitar sini saja. Apa kita punya banyak persediaan air?" tanya Dean.
Liv memeriksa isi tas dan menjawab, "Ada sekitar tiga botol besar di tasku. Tadi sudah kuisi penuh di sungai."
"Baiklah. Seharusnya cukup sampai kita bertemu sungai lagi," sahut Dean. Dia bersyukur menuliskan air sungai yang selalu jernih dalam ceritanya, hingga aman diminum tanpa harus dimasak.
Dean mengeluarkan kain tenda dan tali panjang dari dalam tasnya, lalu mencari dahan dan ranting yang cocok untuk menopang. Tak seperti tenda modern di bumi, di dunia ini tenda hanya terbuat dari kain yang ditahan oleh dahan dan tali, seperti pembuatan tenda darurat.
Tangan kirinya tidak mampu bergerak banyak. Dean meminta Liv untuk mencari dedaunan dan jerami banyak-banyak. "Di depan sepertinya ada ladang warga. Ambillah jerami dari sana."
"Mencuri ...?" Liv bertanya ragu.
Dean berdecak. "Aku penciptamu, aku menitahmu untuk ambil jerami, segera!"
"Iya, iya!" Liv berdecak kesal. Selagi Liv pergi, Dean kembali mengikatkan tali di batang pepohonan terdekat untuk menopang bagian tengah kain tenda. Lelaki itu terkejut ketika melihat tangannya saat terulur untuk mengambil tali.
Dean sampai mengibas-ngibas tangannya dan mengusap mata, supaya yakin apa yang telah dia lihat. Punggung tangannya tampak transparan, seperti tembus pandang.
***
__ADS_1