Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
38. Borgol Anti Sihir


__ADS_3

Melian memerintahkan penjaga untuk membuka gembok penjara, tempat Dean disekap. Gadis itu melangkah perlahan menghampiri tubuh Dean yang telah kelelahan menggantung sejak dua jam lalu. Tidak seperti Liv yang diborgol dengan posisi duduk, saat ini kedua tangan Dean yang terlihat transparan itu dibentangkan ke atas membentuk huruf V, diikat menggunakan rantai sihir.


Melian mengelus dada Dean yang bidang, lalu berlanjut pada perutnya yang bagai roti sobek. Meski jarang berolahraga keluar, Dean masih rajin push-up di dalam kamarnya. Melian menatap takjub tubuh Dean, kemudian membelai pipinya dengan lembut.


"Aku tak menyangka akan betemu dengan idolaku di situasi seperti ini. Berbeda dunia pula," ucap Melian sambil tertawa kecil.


"Rika, lepaskan aku. Aku harus segera pergi ke kuil Lileathhof! Aku harus kembali ke dunia asalku!" teriak Dean, seraya menggoyang-goyangkan kasar rantai besi yang melilit pergelangan kakinya.


Namun, Melian malah tertawa begitu keras melihat Dean yang seperti itu. Begitu tawanya mereda, dia berkata, "Lalu, membiarkanmu mengubah kisah dari novel ini, begitu? Jelas tidak akan kubiarkan!"


"Aku sudah menunggu sejak lama untuk bisa menjadi seorang putri, menjadi seorang Melian yang sempurna! Sejak dilahirkan kembali, aku selalu menjalankan peranku dengan baik. Aku berusaha merawat tubuhku agar selalu mulus, juga rambutku agar selalu lembut dan tidak lepek seperti dulu.


Aku selalu belajar keras agar bisa memenuhi ekspektasi semua orang di sini, agar bisa menjadi Melian seutuhnya. Semua sudah bergerak sesuai keinginanku. Aku bahkan sudah menjadi kakak yang baik dan selalu sayang pada adik yang tidak berguna ini!"


Melian berteriak sambil menujuk Liv di sel sebelah. "Apa kau tahu, aku sudah lama mengimpikan untuk bisa menjadi pasangan Haldir. Setiap harinya kujalani dengan sempurna, persis seperti apa yang tertulis di novel. Tapi, tiba-tiba semua jadi di luar kendali sejak Liv bertemu denganmu!"


"Kakak ... tahu dari mana kau---"


"Aku bukan kakakmu!!" pekik Melian gusar, memotong perklataan Liv. "Dasar bodoh! Aku tahu kau memiliki teman manusia, sejak kutemukan darah merah menetes di lantai kamarmu! Hanya manusia yang memiliki darah merah seperti itu!"


Liv terkesiap. Ia lupa kalau Dean pernah terluka akibat serangan sihirnya sewaktu datang ke kamar. Gadis itu tidak menyangka kalau warna darah Dean membuat Melian menyadari ada hal yang aneh.


"Lalu tiba-tiba, adegan kau diusir dari rumah terjadi lebih cepat dari yang seharusnya tertulis di buku. Pasti telah terjadi sesuatu. Sudah kuduga, kau bertemu seseorang yang memberitahumu tentang kekuatan dari bongkahan kristal di gua Themaris."


Melian menunjuk tajam ke arah Liv dalam sel. "Tidak akan kubiarkan kalian melanjutkan perjalanan, sampai waktunya tiba ketika aku menikah dengan Haldir!"


"Rika, kumohon! Apa kau tidak lihat kedua tanganku!" Kali ini Dean yang berteriak mengambil perhatian Melian alias Rika. Lelaki itu menggoyang sedikit kedua tangannya yang terlilit rantai ke atas. Wujudnya lebih transparan ketimbang terakhir kali diperhatikan.


"Aku akan menghilang, bila makin lama aku berada di dunia ini! Kumohon!"

__ADS_1


"Dan membiarkanmu mengubah naskah demi Liv, begitu? Tidak akan!" balas Melian.


"Aku bersumpah, meski aku mengubah naskah tentang Liv, kau akan kubuat tetap menikah dengan Haldir! Percayalah padaku!"


Melian mengernyitkan dahi. Gadis itu mulai menimbang-nimbang. Namun, mengingat apa yang pernah terjadi padanya di kehidupan terdahulu, dikhianati oleh orang-orang yang dia telah percaya begitu saja, membuatnya menepis sumpah Dean.


"Kau pasti berbohong, aku sudah tidak percaya lagi! Kalian semua sama saja! Bisanya mempermainkan perasaan orang lain. Aku tidak akan terjebak untuk kedua kalinya!"


"Rika---"


"Tidak!!"


Melian berlari keluar dari ruang bawah tanah, meninggalkan Dean dan Liv tetap tersekap. Sang penjaga kembali mengunci sel Dean rapat, menggunakan lilitan rantai besi serupa seperti yang menahan pergerakan tubuh Dean dan Liv, lalu pergi ke mejanya kembali.


Dean berdecak kesal. Liv hanya bisa menangis pasrah. Keinginanya untuk mengubah takdir sama besarnya seperti Rika, tetapi kesempatan itu akan hilang begitu saja dari depan matanya.


"Liv!"


"Tidak akan bisa! Ini bukan rantai besi biasa! Rantai ini dilengkapi pengaman anti sihir, tidak akan bisa dihancurkan semudah itu ... ," jawab Liv sambil menggeleng lemah.


"Pasti bisa! Ingat, kau adalah tokoh terkuat setelah Haldir! Coba dulu!" Dean memberikan semangat.


Liv menatap ke arah kedua tangannya. Kemudian, gadis itu memejamkan mata, berusaha mengumpulkan energi sihir dari dalam tubuh. Dia membayangkan bahwa pori-pori sihirnya terbuka. Lalu dari sana, energinya mengalir ke seluruh tubuh dan berubah menjadi kekuatan besar.


Namun, ternyata tidak semudah itu mewujudkannya. Liv tahu bahwa di dalam dirinya terkumpul begitu banyak energi sihir, dari ibunya sewaktu bayi dan para hewan ganas yang sempat menyerang di hutan Nitville kemarin. Akan tetapi, untuk mengubahnya menjadi kekuatan sihir yang dapat dikeluarkan cukup sulit.


Begitu ada percikan sihir dari dalam diri Liv, rantai di pergelangan tangannya bereaksi. Gelang besi tersebut menyambarkan sengatan yang dapat melukai siapa saja yang berani memakai sihir untuk melepaskan diri.


Sihir dilawan oleh gelang rantai itu dengan sihir pula. Sejauh ini dari semua para kriminal yang pernah dipenjara, tidak ada yang bisa mengalahkan keuatan sihir rantai tersebut. Kekuatan sengatan yang dikeluarkan sebanding dengan sihir yang diberikan.

__ADS_1


"Ahhh!!" Liv berteriak. Dia sedikit terkejut. Kabut hitamnya, yang kini telah berubah warna menjadi putih akibat bongkahan kristal, berhasil melindunginya dari sengatan, meski tidak seampuh biasanya.


Kali ini, Liv masih merasakan sedikit sakit. Seumur hidupnya, Liv tidak pernah merasakan sakit fisik karena selalu dilindungi oleh kabut tersebut. Kini, dia merasakan sakit secara fisik pertama kali. Liv tampak takjub.


"Sedang apa kalian!!" Seorang penjaga datang setelah mendengar teriakan Liv dan melihat apa yang telah gadis itu coba lakukan.


"Jangan coba-coba, Nona! Kekuatan rantai itu tidak akan bisa kalah begitu saja!" Si penjaga tersenyum menyeringai.


"Lepaskan kami, kumohon!" pinta Liv.


Namun, si penjaga menolak dengan tegas. "Perintah Nona Melian adalah mutlak."


Liv mencoba kekuatannya lagi. Sengatan menyakitkan itu kembali hadir. Lagi-lagi, Liv mengaduh. Akan tetapi, Liv mencobanya terus-menerus.


Si penjaga memicingkan mata. Dia melihat adanya keanehan. Kulit Liv tidak terluka seperti napi lain bila terkena sengatan borgol besi tersebut, karena terlindung oleh kabutnya. Kekuatan yang berbalik pada Liv tidak sebanding. Si prajurit penjaga tahu, apabila dibiarkan begitu terus, Liv dan manusia dalam sel itu bisa bebas.


"Hentikan, Nona!" perintah si penjaga. Tentu saja Liv tidak ingin berhenti.


Dean merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Kalau memang si penjaga yakin borgol tersebut kuat, mengapa dia berteriak panik? Ini berarti, borgol ini bisa lepas kalau Liv terus mencoba!


"Liv, jangan patah semangat! Sedikit lagi! Ayo, Liv!" Dean berteriak memberi semangat. Liv mengangguk. Dia kembali mencoba dan mencoba. Si penjaga meneliti borgol Liv dari luar sel. Mulai ada sedikit retakan terlihat di sana.


"Tidak bisa dibiarkan, aku bisa dipecat kalau begini!" seru si penjaga panik. Dia tampak berpikir. Pandangan matanya teralih ke arah sel Dean. Terlintas ide dalam benaknya. Si penjaga bergegas membuka sel Dean, masuk dan berdiri di samping manusia tersebut.


Si penjaga menghubungkan kemampuan borgol Liv dan Dean. Seharusnya, tiap kekuatan sihir yang diterima oleh borgol tersebut akan memberikan sengatan balik pada si pemberi. Dalam hal ini, seharusnya Liv sudah terluka parah. Akan tetapi, karena adanya kabut yang melindungi, Liv masih baik-baik saja. Gadis itu sama sekali belum terluka, padahal sudah mengeluarkan kekuatan sihir lumayan besar sedari tadi. Dia hanya mengaduh perih, seolah baru saja dicubit.


Si penjaga memiliki ide. Dia melancarkan sihirnya, melakukan sesuatu pada borgol Dean dan Liv. Begitu Liv mengeluarkan kekuatannya, sengatan yang harusnya gadis elf itu terima malah menyerang Dean. Jeritan lelaki manusia itu menggaung ke seluruh ruangan bawah tanah.


"Arghhh!!"

__ADS_1


***


__ADS_2