
"Paman tidak ikut kami masuk ke hutan? Tapi, kenapa?" tanya Liv. Gadis elf itu berpikir bahwa sampai tujuan kuil, mereka akan selalu bertiga.
Frode membenarkan duduknya yang bersila. Dia menyeruput teh manis sejenak, lalu melanjutkan. "Pedagang ternama yang mengajak bekerja sama denganku tinggal di Kota Hartvig. Aku harus bertemu dengannya terlebih dahulu, dan akan memakn waktu. Kalian harus buru-buru sampai Themaris, bukan?"
Dean membuka gulungan peta. Hutan Nitville terletak di sebelah selatan Kota Hartvig. Hutan itu akan menjadi jalan pintas bagi mereka untuk sampai ke kota Tranum dalam waktu lebih pendek. Setelahnya, baru mereka bisa melanjutkan perjalanan ke kota Themaris, yang ada di sebelah barat Tranum.
"Anda benar, Pak. Keadaan Hutan Nitville terlalu gelap dan dipenuhi hewan-hewan buas. Oxin tidak akan bisa selamat masuk ke hutan itu," jelas Dean.
"Jadi, kami akan berpisah dengan Paman Frode?" Liv bertanya dengan nada sendu.
Dengan lembut, Frode mengelus kepala Liv. "Berpisah sebentar saja, Nona. Nanti kalau semua urusanku di Hartvig sudah selesai, aku akan menyusul kalian di Themaris."
"Baiklah ... ."
Dean menunjuk kota Themaris di peta, memperlihatkannya pada Frode. "Kalau kita bertiga bisa sampai di Hartvig besok sore, berarti perjalanan dilanjutkan lusa. Lusa pagi, aku dan Liv akan menyeberangi hutan sampai Tranum dalam satu hari. Lalu, dari Tranum sampai Themaris, satu hari. Menelusuri gua, satu hari. Tiga hari kami akan beres dan keluar dari Themaris. Apa Anda bisa menemui kami di kota itu pada hari keempat dari sekarang?"
Frode meneliti peta yang ditunjukkan Dean. "Kurasa bisa. Perjalanan dari Hartvig – Erling – Eskildsen – Themaris memakan waktu tiga setengah hari. Jadi, kemungkinan besar malah aku sampai di Themaris saat kalian masih berada di dalam gua!"
"Baguslah kalau begitu," ucap Dean. Kemudian, lelaki itu berpikir sejenak. "Aku butuh tendamu, untuk menginap di hutan."
Frode terkesiap. "Kalian berencana menginap di Nitville?!"
"Untuk berjaga-jaga saja, seandainya kami keluar dari hutan angker itu saat hari sudah gelap, atau bila terjadi hujan. Desa terdekat memakan waktu dua puluh menit berjalan kaki, dengan kekuatanku sebagai manusia, tentu saja. Tapi aku tidak yakin dengannya ...," ucap Dean sambil melirik Liv.
Gadis elf itu hanya mengangguk pasrah. Dean melanjutkan berkata, "Seandainya hal itu terjadi, sebaiknya kami menunggu pagi."
"Oh, baiklah. Akan kukemas barang-barang di gerobakku, yang nantinya mungkin akan kalian perlukan selama perjalanan menuju Themaris." usul Frode, yang langsung diiyakan oleh Dean dan Liv.
Selesai makan malam bersama, Frode dan Liv keluar dari kamar Dean, hendak beristirahat di kamar masing-masing. Dean menatap kembali peta Kerajaan Legolas.
Dulu sewaktu menulis, Dean bersemangat sekali menggambarkan world building tempat tinggal Haldir ini. Dean menambahkan hewan buas di sana-sini, hutan ajaib, sungai yang selalu dilimpahi ikan-ikan besar, dan banyak hal lainnya. Sketsa gambar yang dia buat tentang Kerajaan Legolas pun persis seperti peta yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Dean menggulung peta tersebut, lalu mengemasnya rapi di dalam tas kain barunya. Perjalanannya masih begitu panjang, di dunia imajinasi karangannya sendiri.
***
Sementara itu, keesokan sore di ibu kota. Melian tampak sedang bersantai di kediaman Themaris. Padahal, Liv sudah pergi dari rumah sejak berhari-hari lalu.
Semua orang mengira, Melian bersedih atas kepergian adiknya itu. Bahkan, tiap kali para pelayan hendak menjalankan tugasnya di kamar Melian, mereka selalu mendapati nona mudanya itu sedang menangis. Saat ditanya, dia selalu menjawab, "Aku kesepian sejak Liv tidak ada."
Namun, begitu tidak sedang dilihat oleh siapa pun, Melian mulai tersenyum simpul. Seolah kesepian yang tadi dia ucapkan meluap begitu saja. Seolah, tangisannya itu tidak nyata.
Kini, Melian sedang duduk di kursi malas ayahnya yang terletak di dekat jendela lobi, sambil membaca buku. Sinar matahari masuk ke ruangan tersebut, menyinari rambut Melian yang putih keperakan dan kulitnya yang putih porselen. Melian beranjak, melihat pantulan dirinya pada kaca jendela.
Aku memang yang tercantik! ucapnya dalam hati seraya tersenyum menyeringai.
Tampak dari pantulan kaca tersebut, para pelayan tampak berlalu-lalang di koridor, terlihat dari lobi yang pintunya terbuka. Melian penasaran. Dia pun melangkah, ingin menanyai para pelayan yang lewat. Mereka membawa lemari reyot yang cerminnya pecah, bantal yang sudah usang, dan beberapa barang lainnya lagi.
Melian melihat, kalau semua pelayan itu berasal dari tangga yang menuju ke lantai tiga.
"Atas perintah Tuan Besar, kami diminta untuk mengosongkan kamar di lantai teratas," sahut si pelayan.
Melian mengangkat alis. "Kamar Liv?"
"Iya, Nona."
Apa Ayah ingin membuang semua barang-barang Liv yang tersisa? tanya Melian dalam hati.
"Maafkan kami, Nona. Kami tahu, Anda sangat menyayangi Nona bungsu. Tapi, kami diperintah oleh Tuan Besar ... ," ucap si pelayan, merasa tidak enak.
Cepat-cepat, Melian mengubah wajahnya menjadi sedih. "Tidak apa ... tapi, aku ingin melihat kamar Liv untuk yang terakhir kali. Apa boleh?"
"Tentu, Nona! Silakan naik ke atas. Tapi harap berhati-hati, ada pecahan kaca dan banyak debu." Si pelayan pun pamit dan Melian naik ke kamar Liv.
__ADS_1
Kamar Liv kini tampak sedikit lebih luas setelah lemari reyot miliknya dikeluarkan. Hanya kasur yang tersisa, serta kain alas yang tak lagi bersih dan tampak berantakan.
Melian masuk ke dalam. Melihat sang nona muda, pelayan yang sedang mengepel lantai langsung menunduk.
"Ah, teruskan saja pekerjaanmu. Aku tidak akan lama," ucap sang nona muda.
Melian duduk di tepi kasur tempat adiknya biasa tidur. Mungkin bukan cuma tidur, tapi makan, minum, dan memandangi bintang yang terlihat dari jendela, juga Liv lakukan di atas kasur ini.
Di atas meja tulis yang permukaannya telah kasar, ada pena bulu dan tinta yang pernah Melian berikan pada Liv dulu. Melian memberikannya agar adiknya itu bisa menulis, mencurahkan isi hatinya ke dalam sebuah buku harian, yang juga pemberiannya.
Apa buku harian itu dibawa Liv, atau masih ada di kamar ini?
Melian kembali penasaran, pada barang pribadi satu-satunya milik Liv. Melian berharap, agar buku harian itu tertinggal, supaya bisa dibaca olehnya.
Harapannya terkabul, ketika melihat sebuah buku berisi kertas-kertas linen yang dijilid dengan benang dan bersampul cokelat, menyembul dari balik lipatan alas kasur yang berantakan.
Wah, ketemu! Aku tidak menyangka, akan benar-benar tertinggal!
Melian membuka halaman buku tersebut, satu per satu. Gadis itu membaca isinya perlahan, sesuatu yang harusnya menjadi rahasia Liv pribadi.
Setiap kali Melian selesai membaca, dia tersenyum menyeringai, bahkan sesekali tertawa kecil.
Padahal, kalimat demi kalimat yang Liv tuliskan, menceritakan semua kesedihan dan kemalangan gadis itu selama hidup di dunia, berupa surat untuk mendiang sang ibu. Padahal, isi buku itu sama sekali tidak lucu.
Tawa Melian terhenti, ketika membalik halaman terakhir. Tampak di sana, Liv kehabisan lembaran kertas buku hariannya, jadi gadis itu menulis di balik sampul belakang.
Tulisannya menggunakan tinta hitam, di atas sampul cokelat. Sedikit buram, tetapi masih bisa terbaca. Tulisan buram itu membuat Melian begitu terkesiap dan melotot membacanya.
"Ibu, hari ini aku akan berangkat. Liv pamit, ya. Aku akan mengubah takdirku. Ada seseorang yang berjanji akan mewujudkan hal itu, asal aku bisa membantunya pulang. Katanya, dia adalah pencipta dunia ini. Sampai jumpa, Ibu."
***
__ADS_1