Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
26. Kalung Memori


__ADS_3

"Ayah meninggal sejak aku berusia sembilan tahun, karena sebuah kecelakaan. Waktu itu, Ayah, Ibu, aku, dan adikku Delia sedang pergi ke taman.


Saat itu, Ayah dan Ibu sedang membiarkan kami bermain sendiri, sementara mereka menyapa tetangga yang kebetulan ada di sana juga.


Aku bermain bola, tanpa memperhatikan kalau Delia ternyata sedang asyik melihat mainan-mainan yang dijajakan pedagang keliling. Dia bahkan berjalan mengikuti si pedagang." Dean menerawang, mengingat masa lalu.


Lelaki manusia itu menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. "Ayah menyadari hal itu dan segera memanggil, tetapi Delia tidak mendengarnya. Ayah berlari menghampiri adikku yang ada di seberang jalan. Kejadiannya begitu cepat. Ayah tersambar oleh mobil yang melaju dari samping."


"Apa itu 'mobil'?" tanya Liv.


"Kendaraan seperti kereta lizardan, tapi menggunakan mesin dan lajunya cepat sekali."


"Dan mobil ini tidak mau berhenti saat ayahmu lewat?"


"Bukannya tidak mau, tapi tidak bisa kalau orang yang lewat terlalu mendadak seperti itu. Pengemudinya saat itu juga terkejut begitu tahu dia telah menabrak seseorang ... ."


Dean tidak melanjutkan lagi kalimatnya. Lelaki itu terpaku menatap api unggun yang menari-nari. Dia mengingat masa lalu, ketika sang ayah masih hidup dan sering bermain bersama.


Tak jarang pula, Dean membakar sate bersama beliau yang memang adalah makanan kesukaan keluarga. Kecelakaan itu mengubah segalanya.


Dean mengutuki dirinya sendiri. Padahal orang tuanya sudah meminta untuk menjaga Delia, tetapi Dean tidak melakukannya karena asyik bermain sendiri. Ayahnya dilarikan ke rumah sakit dengan pendarahan di kepala. Beliau meninggal di meja operasi.


Setelahnya, keadaan begitu kacau. Ibu terpuruk dan mengurung diri di kamar berhari-hari karena kehilangan suami tercinta. Di saat itu, Dean tersadar bahwa dia harus bisa menggantikan posisi ibu dan ayahnya sekaligus bagi Delia. Dean merasa dia perlu bertanggung jawab atas segala yang dia perbuat.


Dean mengurus keperluan keluarga, hingga ibunya sadar kalau harus bisa segera bangkit demi kedua anaknya. Beban Dean sedikit berkurang ketika sang ibu makin bisa menerima kenyataan.


Dean berusaha untuk belajar giat dan lulus sekolah cepat, supaya bisa segera bekerja. Namun, dunia kerja tidak semulus apa yang sering dia lihat di sinetron. Meski begitu, hal itulah yang menuntunnya menjadi seorang penulis seperti sekarang ini.


Liv tertegun mendengar cerita Dean. Kehilangan ayah sejak kecil, kisahnya mirip seperti dirinya hang ditinggal ibu. Bedanya, Liv tidak punya kenangan apapun tentang ibunya.


"Jadi ... meninggalnya ayahmu adalah karena adikmu?" tanya Liv.

__ADS_1


Dean memicingkan mata dan mengangkat alis ke arah Liv. Kemudian, lelaki itu menggeleng. "Aku tidak akan mengatakan hal seperti itu. Lagipula, saat itu Delia masih berumur enam tahun. Dia belum mengerti apa-apa."


"Kamu tidak menyalahkan adikmu ...?" tanya gadis elf itu lagi. Dia tampak tidak percaya atas sikap Dean.


Lelaki manusia itu menghela napas. "Ayahku tidak akan kembali hidup meski aku menyalahkan seluruh dunia sekalipun."


Dean mengeluarkan seuntai kalung yang terpasang di lehernya. Kalung itu berbandul loket kotak besar, berukuran setengah telapak tangan. Loket tersebut bisa dibuka dan berisi dua foto. Dean meminta Liv untuk duduk mendekat dan melihat isi loket tersebut.


"Ini adalah kalung memori. Foto yang ini adalah ayahku, ibuku, Delia, dan aku saat kami masih kecil." Dean memperlihat sebuah foto yang tersemat di salah satu sisi loket. Di sisi lainnya, terdapat foto Dean sendiri yang telah dewasa.


"Sejak kecil, Ayah berpesan agar aku selalu menjaga adikku, apa pun yang terjadi. Akan tetapi, kecelakaan itu terjadi. Jadi, sebenarnya bukan salah Delia, tapi aku."


"Kau menyalahkan dirimu sendiri ...?" tany Liv. Dean kembali menutup loket kalungnya dan memasukkannya kembali ke balik baju.


"Aku yang harus bertanggung jawab. Seandainya aku tidak asyik bermain bola sendiri. Seandainya aku lebih menjaga Delia saat itu untuk tetap berada di dekatku, Ayah tidak akan bernasib seperti itu ... ," ucap Dean lemah.


"Bagaimana dengan ibumu?"


"Beliau tidak menyalahkan siapa pun. Katanya, memang sudah takdir. Tapi meski begitu, Ibu sering termenung, memandangi foto Ayah di kamar sendirian."


"... kalau begitu, kenapa kau membuat ayahku membenciku ... ." Liv menggumam, tatapan matanya menunduk ke tanah. Dean menatap Liv. Dean tahu bahwa gadis itu pasti sedang menyalahkan dirinya lagi atas apa yang dia tulis.


"Maafkan aku. Untuk saat ini, aku tidak bisa melakukan apa pun, selain berjanji akan mengubah alur ceritamu menjadi lebih baik." Untuk kesekian kalinya, Dean meminta maaf atas takdir Liv yang dia tuliskan.


Gadis elf itu mengangkat kepala, menatap Dean lekat-lekat. "Katakan satu hal, apakah kisahku yang malang itu memberi manfaat bagimu?"


Dean mengangguk. "Sejak aku menulis kisah percintaan Haldir, makin banyak yang membaca novel "Sang Pangeran Terbuang" itu, terutama dari kalangan wanita. Dari sana, banyak uang masuk dari para pembaca, yang bisa kupakai untuk biaya sekolah adikku. Aku bisa menghidupi keluargaku dengan kisahmu itu."


"Meskipun akhirnya mengecewakan?"


"Iya. Namanya sebuah karya, ada yang suka dan tidak. Banyak yang menyukai kisah cinta segitiga antara kamu, Haldir, dan Melian. Ada yang senang terhadap Melian, tapi tidak sedikit juga yang mendukungmu. Mereka kesal ketika aku menulis akhir hidupmu yang seperti itu. Ada yang mengumpat dan menghinaku!" cerita Dean seraya tertawa kecil.

__ADS_1


"Mereka sampai berbuat seperti itu untukku, seseorang yang hanya mereka kenal lewat tulisan imajinasi?" Liv cukup terkejut mendengarnya.


Dean mengangguk dan berkata, "Mereka bahkan melayangkan protes padaku. Jadi, bisa dibilang, kalau kamu itu punya banyak penggemar!"


Sebuah senyum lebar terulas di bibir Liv. "Kalau begitu, kamu kumaafkan. Setidaknya aku tahu, masih ada orang yang menyukaiku, meski berbeda dunia!"


"Ya, mereka sangat menyukaimu, dan malah membenciku karena menuliskan akhir kisah yang buruk. Mereka bahkan berencana memboikot ceritaku kalau aku tidak mengubah alur ceritanya," terang Dean.


Liv terkejut mendengarnya. "Tapi kalau kau ubah, nanti para pembacamu yang lain jadi tidak menyukai ceritamu, ya?"


Dean mengangkat bahu. "Entahlah. Kupikirkan nanti saja. Seandainya aku tidak bisa membuat kisahmu berakhir bahagia, setidaknya akan kutuliskan kau bisa hidup secara biasa-biasa saja. Tidak terlalu malang atau buruk."


Liv tersenyum lebar hingga kelopak matanya menyipit. "Apa saja boleh, asal aku tidak dijauhi orang-orang lagi! Terima kasih, ya!"


Lagi-lagi, senyuman Liv membuat Dean terpana. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya ketika melihat Liv yang ceria seperti itu. Dia seperti merasa ingin ikut tersenyum ketika melihat gadis itu bahagia.


Liv menyadari tatapan mata Dean yang tak lepas darinya setelah setengah menit. Gadis itu mengibaskan tangan di depan wajah Dean, menyadarkan lelaki itu. "Hei, kau kenapa? Dean!"


"Eh?! Ummm, tidak ada apa-apa!" sahutnya, lalu cepat-cepat membuang pandangan ke arah lain. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Apaan sih! Tch! Dean tidak memahami apa yang dia rasakan dan jadi kesal pada dirinya sendiri. Dean beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Liv.


Dean tak menoleh padanya sedikit pun. Lelaki itu menjawab seraya pergi menuju tepi sungai. "Mau menangkap ikan lagi buat sarapan besok!"


"Tapi ini sudah larut! Bagaimana kalau besok? Temani aku berjaga saja untuk sekarang!" ucap Liv setengah berteriak.


Dean mendengkus. Kalau duduk dekatmu, tidak baik untuk kesehatan jantungku, ujar Dean dalam hati.


Tentu saja tidak mungkin dia mengatakannya langsung. Dean tidak memedulikan perkataan Liv dan mulai sibuk menangkap ikan. Dia harus bisa mengalihkan pikirannya dari si gadis elf tersebut.

__ADS_1


Dean tetap pergi menjauh, meninggalkan Liv yang duduk sendirian di dekat api unggun. Gadis elf itu berdecak kesal. "Ih, menyebalkan!"


***


__ADS_2