
"Aghhh!!"
Melian terus terjatuh melewati banyak ranting tajam dan dedaunan di sekelilingnya. Frode ikut jatuh di sebelah. Hingga akhirnya mereka berdua berhenti, tersangkut di salah satu dahan besar. Mereka terselamatkan oleh keberadaan pohon tak berpenghuni.
Melian merasa pusing akibat jatuh dari ketinggian seratus meter seperti itu. Lengan dan kakinya pun penuh lecet akibat bergesekan dengan ranting-ranting tajam. Namun, dia masih beruntung jatuh di atas dahan. Seandainya langsung ke tanah, pasti dia sudah mati.
Di sebelah Melian, tampak Frode pingsan setelah terjatuh bersamanya. Mungkin kepalanya terbentur sesuatu, Melian tidak tahu. Yang jelas, saat ini gadis itu mengeluarkan kekuatan sihirnya untuk menghabisi nyawa Frode sekalian.
Dari telapak tangan Melian, terpancar putaran sihir besar, yang langsung diarahkan ke dada Frode. Pria itu tersentak. Organ vital tuanya tidak dapat menahan kekuatan sebesar itu, lalu meninggal di tempat.
Terlihat dari langit, para prajurit menemukan Melian berada di atas pohon. Melian berdecak kesal. Para prajurit itu tidak becus semua melawan tiga orang saja, terlebih lagi salah satunya manusia. Beberapa prajurit membantu Melian turun dari pohon. Begitu menginjakkan kaki ke tanah, Melian memanggil burung hawker miliknya yang tadi sempat kabur.
"Bagaimana dengan Liv dan temannya?" tanya Melian mengenai situasi saat dia jatuh.
"Mereka berdua berhasil kabur, Nona, ke arah pegunungan Nautabu. Maafkan kami!" ucap seorang prajurit.
Begitu mendengar hal itu, Melian langsung memaki, "Bodoh! Begitu saja tidak becus! Percuma kalian digaji!"
Seluruh prajurit terkejut. Mereka tidak pernah melihat nona majikan yang biasanya lemah lembut dan baik hati berubah jadi kasar seperti itu.
"Tapi, sebagian dari kami masih berusaha mengikuti mereka, Nona---"
"Percuma!" teriak Melian, memotong pembelaan si prajurit. "Mereka itu akan pergi ke Lileathhof. Hanya yang memiliki kekuatan besar yang bisa menembus lapisan pertahanan kuil. Kalian seharusnya mencegah mereka sebelum sampai di Nautabu!"
Dari arah belakang Melian, seorang prajurit ikut membawa turun tubuh Frode yang sudah tak bernyawa, lalu bertanya, "Mau dikemanakan mayatnya ini, Nona?"
"Buang saja ke mana pun! Figuran seperti itu tidak penting bagiku!" sahut Melian gusar.
Si prajurit terkesiap. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap ada elf yang meninggal, jenazahnya akan ditenggelamkan ke dasar danau, sebagai simbol dikembalikan pada Dewi Lileath. Bahkan ketika usai perang sekali pun, seluruh korban jiwa baik dari pihak kawan maupun lawan diperlakukan secara terhormat. Ditenggelamkan di dasar danau atau dikuburkan. Membuangnya ke sembarang tempat sama saja seperti menghina sang Dewi.
"Tapi, Nona, nanti Dewi akan murka---"
"Ah! Berisik! Turuti saja perintahku!" Tanpa menunggu bantahan apa pun lagi, Melian segera menaiki hawkernya, bersiap pergi ke pegunungan Nautabu. Para prajurit Themaris mengekori. Perasaan mereka campur aduk, terheran-heran mengapa nona sulung bisa berubah menjadi sebengis itu.
***
__ADS_1
Sementara itu, Dean dan Liv telah tiba di pegunungan Nautabu. Perjalanan yang seharusnya masih makan waktu sampai dua hari, ternyata bisa dipersingkat hingga kurang dari sehari.
Langit sudah begitu gelap. Suasana hutan di pegunungan Nautabu ini cukup mencekam. Keduanya turun dari gerobak dan mulai berjalan ke arah barat laut. Dean mengambil sebatang dahan yang dipatahkannya jadi dua, untuk menjadi obor bagi dirinya dan Liv. Kekuatan sihir Liv cukup untuk menyalakan api obor meski tanpa sumbu sekali pun.
Dean dan Liv berjalan dalam diam, tanpa mengetahui nasib apa yang telah dialami Frode setelah terjatuh bersama Melian dari ketinggian sepeerti itu. Tak lama, isak tangis Liv terdengar. Dia masih tidak menyangka Frode akan mengorbankan diri seperti itu.
"Liv ... sudahlah ... ." Dean berusaha menenangkan gadis elf tersebut. Namun, tangisnya masih saja terdengar.
"Paman Frode ... dia ... "
"Aku akan mengubah kisahnya nanti sepulang dari sini. Aku janji," ucap Dean.
"Apa Paman akan selamat jika aku melakukan hal itu?" tanya Liv.
Dean mengangkat bahunya pertanda tak tahu. "Yang jelas, akan kucoba. Sudah, hapus air matamu."
Dean menyeka air mata yang tersisa di kedua pipi Liv. Gadis elf itu kemudian menyadari bahwa luka di pergelangan tangan Dean sudah menutup sepenuhnya. Liv memeriksa kedua tangan Dean secara saksama.
"Ah, kamu sudah sembuh. Syukurlah!" seru Liv, tersenyum lebar ketika menyadari Dean sudah baik-baik saja.
"Ayo, ini pasti sudah tengah malam. Apa kau sudah kelelahan?" tanya Dean, mengingat hari ini cukup padat. Dini hari ditangkap Melian dan dijebloskan ke penjara kastil. Siang hari sudah berhasil lolos dan kejar-kejaran sampai larut seperti ini. "Kalau kau mengantuk, kita bisa cari tempat untuk istirahat sejenak."
Liv menggeleng. "Tidak sama sekali. Aku ingin kita bisa segera tiba di kuil." Tiba-tiba, Liv teringat sesuatu. "Oh, sebentar."
Dari kedua tangan gadis itu, terpancar cahaya sihir putih, kemudian ditempelkan ke dada Dean. Lelaki manusia itu langsung merasakan aliran kekuatan dan stamina yang baru. Seluruh rasa lelah dan pegalnya hilang, seperti baru saja bangun tidur cukup lama.
"Aku lupa, kalau sihirku sudah kuat. Aku bisa memulihkan stamina dan menunda rasa lapar, hehehe!"
Dean ikut tertawa kecil seraya berkata, "Benar juga, kita terlalu sibuk untuk kabur, sampai lupa makan apa pun seharian ini. Kalau begitu, kau juga membutuhkan sihirmu itu."
Liv menyihir tubuhnya sendiri dengan mantra yang sama. Kini, mereka berdua kembali segar. "Ayo, Kak Melian pasti sedang menyusul."
"Kau harus mengeluarkan panah pemandu yang bisa menuntun kita sampai ke kuil," ujar Dean. Liv mengernyitkan dahi dan bertanya, "Panah pemandu?"
"Cobalah untuk membentuk panah dari kabutmu." Dean memberi instruksi.
__ADS_1
Liv mengeluarkan sihirnya kembali. Tiba-tiba kabut putih miliknya keluar dari tubuh lalu bercahaya, melayang di depan Dean dan Liv. Kabut itu membentuk garis panjang ke arah depan dengan ujung lancip, seperti anak panah. Garis itu menujuk ke suatu arah.
Dean berkata, "Kuil Lileathhof memiliki ilusi optik. Dengan ini, kita tidak mungkin tersasar. Garis ini akan bergerak cepat begitu diperintahkan, jadi kita harus mengejarnya."
Wujud kuil Lileathhof tersembunyi di balik lapisan pelindung. Lapisan tersebut akan mengelabui mata, seolah kuil tersebut tidak ada. Siapa pun yang mencari keberadaan bangunannya hanya akan berputar-putar di hutan saja. Garis kabut Liv membantu mereka supaya tidak terkecoh dengan ilusi optik tersebut. Dean teringat pada adegan ini dalam novelnya, ketika Haldir dibantu oleh para pendeta menggunakan sihir yang sama.
Mereka berdua bersiap-siap. Liv memberi sihir tambahan pada tubuhnya dan Dean supaya bisa lebih ringan dari biasanya. Sihir tersebut berguna memudahkan mereka melompat tinggi selama setidaknya satu jam.
Tak lama, Liv memerintahkan garis kabutnya itu untuk menunjukkan jalan. Detik berikutnya, garis itu melesat bagai anak panah lepas dari busur. Dean dan Liv segera berlari mengikuti, seraya memperhatikan tanah yang mereka pijaki agar tidak tersandung.
Untung saja Dean dan Liv sudah memulihkan stamina. Mereka berdua benar-benar berlari tanpa henti di tengah-tengah hutan seperti ini. Sesekali harus melompati akar-akar besar dan bergelantungan di dahan besar. Sihir tambahan Liv tadi membuat tubuh keduanya serasa melayang sepanjang perjalanan. Wajah mereka basah terkena embun yang sudah mulai timbul di permukaan dedaunan yang mereka lewati.
Garis kabut itu terus bergerak dalam kecepatan yang sama, tidak berhenti sama sekali. Terkadang garis itu berbelok tiba-tiba, membuat Dean dan Liv harus mengubah arah lari dan hampir terjatuh. Garis itu memilihkan jalur yang paling singkat, meskipun harus menerobos semak-semak sekali pun.
Setelah hampr satu jam penuh mereka berlari, tiba-tiba garis itu menghilang begitu saja, seperti menembus dinding tak kasat mata. Spontan Liv berhenti, lalu mencari-cari garis kabut tersebut.
"Hilang?!"
Dean ikut berhenti di sebelah Liv, menunjuk ke depan dan berkata, "Bukan, tapi masuk ke arah sana."
Liv berjalan mendekat ke titik garis kabutnya menghilang. Dia meraba udara di hadapannya. Tiba-tiba, tangan Liv menghilang seperti garis tadi.
"Mungkin, ini lapisannya? Apa aku diperbolehkan masuk begitu saja seperti ini?" tanya Liv ragu. "Hanya yang memiliki energi sihir besar, yang bisa masuk, benar? Bagaimana denganmu? Apa aku masuk terlebih dulu, lalu mengabari pendeta untuk membukakan lapisan untukmu?"
Dean menghampiri Liv, dan ikut meraba dinding tak kasat mata di hadapannya. "Iya, usulmu bagus juga--- loh?!"
Dean terkejut, ketika sebelah tangannya juga berhasil menembus lapisan dinding tersebut. "Eh, aku juga bisa masuk?!"
"Wah, apa kau memiliki energi sihir yang besar juga?!" Liv ikut terkejut. Dean mengangkat kedua bahunya.
"Tidak usah dipikirkan, ayo masuk saja!" seru Dean gembira. Liv pun melangkahkan kakinya, masuk melewati batas lapisan pelindung kuil berada. Dean mengikuti setelahnya. Mereka berdua pikir, ini adalah langkah awal yang baik.
Namun, mereka salah. Begitu seluruh tubuh Dean dan Liv sudah berada di dalam lapisan, sebuah tombak sihir telah menodong di depan muka. Sekitar sepuluh prajurit berpakaian serba putih bersiap menyerang, menggunakan tombak masing-masing ke arah Dean dan Liv.
"Berhenti!"
__ADS_1
***