Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
39. Sekali Percobaan


__ADS_3

"Dean!!"


Liv berhenti mencoba. Dia melihat Dean yang kesakitan. Darah segar mengucur deras dari pergelangan tangan lelaki itu. Rupanya, meski tangannya telah berubah transparan, darah yang mengalir tetap terlihat merah. Si penjaga tertawa melihat hal ini.


"Nah, Nona, silakan mencoba sepuasmu, karena tiap kali kau berusaha lepas dari borgol tersebut, serangannya akan berbalik pada manusia ini!" Si penjaga pun melenggang pergi.


"Dean, aku minta maaf ... ." Air mata Liv membuat pandangannya makin buram.


"Jangan pikirkan aku! Lanjutkan terus!"


"Tapi---"


"Lanjutkan!!"


Liv jadi bingung. Dia kembali mencoba atas perintah Dean.


"Arghhh!!"


Tiap kali mendengar Dean menjerit kesakitan, Liv ikut meringis merasakan pedihnya. Gadis itu memejamkan mata, ketakutan melihat Dean yang ada di sel seberang makin kehilangan banyak darah. Kekuatan sengatan borgol tersebut terus berbalik pada Dean, setara dengan kekuatan sihir yang diberikan Liv untuk membebaskan diri. Ditambah lagi, karena Dean adalah manusia, maka sengatan sihirnya terasa menyakitkan berkali-kali lipat.


Tubuh Liv bergetar. Air matanya telah tumpah ruah menetes ke atas borgol. Dia sempat diam sejenak, supaya Dean tidak merasakan sakit yang bertubi-tubi. Namun, Dean malah berteriak memerintahkan sebaliknya.


"Apa yang kamu lakukan ...? Kenapa diam ...?" Dean terengah-engah saat melontarkan pertanyaan ini. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya.


"Ta-tapi ... kamu nanti kesakitan ... ."


"Kubilang, lanjutkan! Makin lama kita di sini, aku akan menghilang ... Sakit masih lebih baik ketimbang menghilang, sebelum sempat pergi ke portal ... lanjutkan ... ."


Liv terdiam sejenak. Dia berpikir keras. Makin aku mencoba, Dean akan makin kesakitan. Aku harus berhasil lepas dari borgol ini dalam satu kali percobaan. Karena kekuatan borgol ini telah terhubung, berarti kalau punyaku lepas, punya Dean juga bisa lepas ... .


Aku harus bisa ... aku harus bisa ... tidak pernah ada yang percaya padaku selain Dean. Ternyata, Kak Melian pun hanya berpura-pura saja selama ini. Dean begitu berarti ... aku tidak mau kehilangan dia ...


Oh, Dewa ... beri aku kekuatan ... kumohon!


Liv memejamkan mata erat, sekali lagi dia ingin mencoba. Kali ini, lebih fokus, lebih konsentrasi. Tubuhnya bergetar. Sepihan debu dan kerikil di sekitar melayang berterbangan. Dean, yang kelelahan dan sakit di sekujur tubuh, menyaksikan fenomena langka ini dari jeruji sel seberang. Tak lama, sebuah aliran sihir terpancar begitu menyilaukan dari tubuh Liv.

__ADS_1


Dalam hitungan detik berikutnya, sebuah suara ledakan menggelegar, meruntuhkan langit-langit dan juga dinding batu penjara.


Liv membuka mata perlahan. Keadaan di sekitarnya telah menjadi puing. Borgol besi di tangan dan kakinya telah patah dan terlepas. Di atas kepala, terdapat bongkahan batu besar hampir menimpa, kalau saja kabut dalam tubuh gadis itu tidak melindungi dirinya. Liv menyingkirkan bongkahan tersebut dengan kekuatan sihir yang sekarang telah lancar dia keluarkan.


Liv menghampiri besi-besi jeruji sel, yang sudah sedikit bengkok terkena ledakan. Liv memegang dua jeruji dengan masing-masing tangan, kemudian mengeluarkan kekuatan lagi. Keduanya langsung bengkok dan membentuk lubang yang lebih lebar, mengikuti gerakan tangan gadis itu.


Liv melangkah keluar. Koridor penjara telah penuh dengan puing-puing. Gadis itu melihat ke arah penjaga yang telah tertimpa bongkahan batu besar. Liv tidak tahu seberapa besar dampak yang dia timbulkan akibat ledakan tadi. Sebagian langit-langit penjara bawah tanah yang terbuat dari batu ini telah runtuh, memperlihatkan langit siang hari yang cerah. Tampak cerah hingga sinarnya masuk menerobos celah.


Liv menghampiri area sel Dean. Kedua matanya terbelalak ketika melihat lelaki itu pingsan. Sepertinya, Dean sempat merasakan sengatan terakhir sebelum akhirnya borgol di tangan dan kakinya terlepas.


Liv segera membersihkan puing-puing yang menimpa lelaki tersebut menggunakan sihirnya, lalu membopongnya. Dean tersadar ketika ada tangan yang bergesekan dengan kulitnya.


"Liv ...?" Dean membuka mata. Pandangannya belum jelas. Hal yang pertama kali dia lihat adalah senyuman Liv di sisinya.


"Kita sudah bebas! Ayo, segera pergi dari sini, sebelum Kak Melian datang. Berpeganganlah padaku kuat-kuat!"


Tangan Dean dan Liv saling bertautan. Sihir Liv memancar, terlihat mengalir dari tubuh gadis itu ke Dean, melalui gandengan tangan mereka.


Sama seperti waktu keluar dari gua bawah tanah, kedua kaki Dean dan Liv melayang, terbang hingga setinggi dua meter dari atas tanah. Terus meninggi, menuju ke permukaan tanah di atas melalui celah lubang langit-langit penjara yang telah runtuh, lalu melayang menuju luar kastil Themaris.


Terdengar teriakan Melian dari arah belakang. Melian menjentikkan jari, terbentuklah panah sihir yang melesat langsung mengenai pinggang Dean.


"Arghhh!!" Dean spontan melepaskan pegangan tangannya dengan Liv. Lelaki itu dan Liv jatuh terjerembab ke atas jalanan di luar pagar kastil.


"Dean! Kamu tidak apa-apa?" tanya Liv panik.


Dean segera bangkit seraya tertatih. "Masih bisa kutahan, ayo kita cepat pergi!"


"Tunggu!" Sebuah gerobak oxin muncul dari kejauhan. Sosok yang mereka rindukan pun tiba. Frode tampak memacu kedua oxinnya dengan cepat, menghampiri Dean dan Liv.


"Paman!" pekik Liv senang. Frode menghentikan laju gerobak berisi tong-tong buah tersebut, berhenti tepat di depan Dean yang memegangi lengannya. Frode terkesiap melihatnya.


"Kau tidak pakai baju dan terluka, Nak! Dan Nona Liv, kau cantik sekali!" komentar Frode, membuat Liv tersipu.


"Terima kasih, Paman, hehehe ... ."

__ADS_1


"Sudah, ayo! Kita tidak punya banyak waktu! Liv, kau bisa menerbangkan gerobak ini, 'kan?" tanya Dean mendesak. Liv mengangguk cepat.


"Biar aku yang pegang kendali. Paman duduk di belakang saja bersama Dean."


Liv naik ke atas kursi kemudi, sementara Dean dan Frode menempati gerobak di belakang. Liv sekali lagi mengeluarkan sihirnya, kali ini pancaran sinar kekuatannya menyelimuti seluruh gerobak. Kemudian, benda beroda empat itu terbang melayang, lengkap dengan kedua oxin di depan.


Tadinya kedua hewan tersebut tampak panik begitu melihat tanah di bawahnya makin menjauh. Liv mengelus-elus kepala mereka berdua. Dari tangan Liv juga terlihat sihir yang mengalir. Seketika itu juga, kedua oxin tampak tenang dan menerima kenyataan bahwa mereka bisa terbang. Kemudian, Liv segera mengarahkan gerobak menuju Pegunungan Nautabu.


"Kalian pegangan, ya!" teriak Liv pada Frode dan Dean. Mereka bertiga pun terbang melayang dengan gerobak oxin.


Mereka bertiga tampak takjub melihat pemandangan di bawah, yang makin lama makin terlihat kecil. Mereka terbang menjauh dari kota, pemandangan di bawah berubah dari pohon-pohon menjulang tinggi menjadi peternakan dan pertanian. Liv berusaha menyeimbangkan posisi gerobak agar tidak oleng diterpa angin berhembus.


Sementara itu, Frode tampak panik melihat seluruh tubuh Dean penuh bercak merah, terutama di bagian lengan dan kedua pergelangan tangan akibat sengatan sihir borgol besi.


"Bercak merah apa ini?!" teriak Frode panik. Pria tua itu makin menjadi ketika Dean menyebutkan bahwa bercak tersebut adalah darah manusia.


"Pakailah baju!" Frode mengeluarkan sesuatu dari peti kayu yang ada di sudut gerobak. Sehelai pakaian elf berwarna cokelat. "Hanya ada ini, semoga pas."


"Gerobakmu ini lama-lama seperti kantung Doraemon, apa saja ada," komentar Dean. Lelaki itu pun mengenakan pakaian yang diberikan oleh Frode.


"Dora--- apa itu? Cepat obati lukamu!" tanya Frode tak mengerti.


Dean menggeleng seraya tertawa kecil. "Bukan apa-apa. Dan soal luka ini, nanti juga sembuh sendiri."


"Apa maksudmu?"


Dean pun mengungkapkan hal aneh yang terjadi pada dirinya. "Lukaku lebih cepat sembuh dibandingkan biasanya, mungkin karena aku bukan makhluk dari dunia ini. Tapi dampaknya, makin lama aku di sini, aku akan makin menghilang," ucapnya seraya menyeka darah di lengan, memperlihatkan anggota tubuh yang sudah tak terlihat.


Frode menatap ngeri pada lelaki manusia tersebut. "Berarti, kita harus cepat-cepat sampai di kuil, kalau tidak---"


"Hei, berhenti!!" Suara Melian kembali terdengar. Spontan, Frode dan Dean menoleh bersamaan ke arah belakang. Tampak Melian menaiki burung hawker, diikuti puluhan prajurit dengan kendaraan serupa.


Kemudian, deretan panah sihir melesat ke arah gerobak yang dinaiki Liv, Dean, dan Frode.


***

__ADS_1


__ADS_2