
Melian masuk ke pedalaman hutan Nautabu. Hari sudah larut malam. Di hutan ini, pepohonan tumbuh lebat, meski tingginya tidak seperti pemukiman di kota. Semuanya serba gelap, membuatnya kehilangan jejak Dean dan Liv.
Melian berdecak kesal. Ia membentangkan kedua tangan, lalu menyatukan telapak di atas kepala. Perlahan, kedua tangannya turun ke depan dada, menyisakan jejak garis cahaya lurus di udara yang berwarna putih. Melian meniup, dan detik berikutnya, garis cahaya tersebut melayang sendiri menunjuk ke arah depan.
Bukan hanya Dean saja yang mengetahui cara agar tidak tersesat di hutan pegunungan Nautabu, tetapi Melian juga. Dia sudah hafal apa pun yang Dean tulis dalam "Sang Pangeran Terbuang" karena membacanya berkali-kali, termasuk cara para pendeta mengantarkan Haldir untuk pergi ke Lileathhof di novel tersebut.
Garis cahaya tersebut menuntun Melian bersama pasukannya menuju kuil. Mereka menerobos pepohonan dan semak berlukar selama hampir satu jam, sebelum akhirnya garis cahaya itu menghilang dalam kegelapan, sama seperti yang terjadi pada Dean dan Liv.
Seorang prajurit meraba udara kosong di hadapannya, tempat garis cahaya mereka menghilang. Kemudian, ia terpental sejauh dua meter ke belakang.
"Ah, aku tidak bisa memasukinya!" jerit prajurit tersebut. Beberapa prajurit lain melakukan hal yang sama, dan terpental juga.
Melian mendengkus kasar dan membentak, "Dasar kalian semua bodoh! Tentu saja tidak bisa, karena hanya yang punya energi sihir besar yang bisa masuk lapisan pelindung ini!"
Melian melangkahi tubuh para prajurit yang terpental dan terjerembab ke tanah. Dengan mudahnya, tangan Melian menembus lapisan pelindung tersebut. Gadis itu pun masuk sendiri tanpa bisa diikuti para pengawalnya.
Namun, begitu berhasil melangkah sepenuhnya ke area dalam lapisan, para prajurit kuil sudah bersiaga, menodongkan tombak-tombak mereka ke arah Melian.
"Berhenti! Tidak boleh ada siapa pun yang bisa memasuki kuil saat ini--- arghh!!" Melian menyerang prajurit kuil yang sedang berbicara kepadanya. Para prajurit lainnya terkejut dan segera menyerang Melian yang telah melakukan tindakan kekerasan.
Akan tetapi, meski para prajurit kuil kekuatannya berkali lipat dari prajurit biasa, semua itu bisa dikalahkan oleh Melian begitu saja. Melian dalam novel memang sudah kuat, tetapi Melian yang ini lebih dari pada itu.
"Aku sudah berjaga-jaga, seandainya hal tidak diinginkan terjadi. Aku sudah melatih diriku jadi jauh lebih kuat dari pada yang tertulis di novel!"
Melian berlari mengikuti jalan setapak di hadapannya sepanjang dua ratus meter. Ia bertekad untuk bisa menghentikan Dean kembali ke dunia asalnya, atau semua perjuangan Melian di dunia elf ini sia-sia.
__ADS_1
***
Sementara itu, Dean dan Liv menuruni tangga kecil di bawah dua anak tangga ruang doa, dekat podium. Sebanyak dua putaran tangga mereka lalui, hingga akhirnya mereka tiba di suatu ruangan gelap. Salah seorang pendeta menjentikkan jari. Seketika itu juga seluruh lilin yang tersebar dalam kandil-kandil di tembok menyala.
Liv mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bau debu pasir tertangkap oleh indera penciumannya. Di tengah ruangan, tampak sebuah lingkaran besar. Gambar fase-fase bulan lengkap satu putaran berada di sisi luar lingkaran tersebut. Di tengah lingkaran besar terdapat lingkaran yang lebih kecil. Sekuran dua kaki manusia dewasa yang dirapatkan bila berdiri di sisi dalamnya.
Dean juga tampak memandang ke sekeliling sembari mengangguk-angguk. Pendeta Torion mengajak Dean ke sebuah podium yang berada di sisi kanan ruangan, sebelah lingkaran. Kemudian, pria berjanggut putih itu menunjukkan lembaran-lembaran kertas linen. Pendeta Torion mencatat mantra dalam mimpinya di atas kertas tersebut. Dean bercakap-cakap dengan Pendeta Torion sejenak, sembari menunjuk-nunjuk sesuatu dalam lembaran. Lelaki manusia itu sedang menjelaskan apa terjemahan dalam tulisan kertas tersebut.
Tak lama, Dean meninggalkan Pendeta Torion yang masih berkutat pada kertas mantra. Lelaki itu menghampiri Liv, yang tengah asyik memperhatikan fase-fase bulan tergambar di lantai.
"Hei ... ." sapa Dean. Liv menoleh, tersenyum manis pada lelaki itu. Ingin rasanya Dean mencubit gemas pipi gadis elf tersebut, tetapi ditahannya.
Dean melepaskan kalung yang menggantung di leher, lalu memberikannya pada Liv seraya berkata, "Nanti saat ritualnya dimulai, begitu mendengar aba-aba dari Pendeta Torion, tusuklah ujung jarimu sampai darahnya bisa menetes, lalu genggam kalung ini sampai darahmu mengenai permukaannya. Apa kau bisa melakukannya?"
Liv mengangguk perlahan, sembari menerima kalung dari Dean, tanpa berkata apa pun. Kedua matanya lamat-lamat memandangi kalung tersebut.
Namun, ternyata di luar dugaan, Liv malah tampak murung begitu mendegar pertanyaan lelaki tersebut. Pandangan matanya tertuju ke bawah membuat Dean bertanya, "Ada apa?"
"Kita ... tidak akan bertemu lagi?" tanya Liv. Kerongkongan gadis itu rasanya seperti tercekat untuk bertanya seperti itu.
"Iya ... setelah ini, aku akan kembali menjalani hidup di dunia asalku. Kau juga akan menjalani hidup barumu," ucap Dean.
Seketika itu juga, air mata Liv menetes, membuat Dean begitu terkejut. "Kenapa?!"
"Apa kisahku tidak usah diubah saja?" tanya Liv dalam isakannya. Gadis elf itu mendongak ke arah Dean, menampilkan bola mata ungu yang pelupuknya dipenuhi air mata.
__ADS_1
"Jangan pergi ... ," pinta Liv.
Dean menatapnya dalam-dalam dan berkata, "Kita sudah sejauh ini. Dan lihatlah," Dean menunjukkan kedua tangannya yang sudah tak terlihat sama sekali di balik lengan baju, lalu berkata, "aku akan menghilang kalau terus berada di sini."
Isakan tangis Liv tidak berhenti. Hal ini membuat Dean panik sekaligus gusar. "Sudahlah ... jangan menangis terus. Kamu cengeng sekali."
"Tapi ... ." Liv menyeka air matanya, namun masih saja terus menetes. Napasnya sampai tidak teratur karena sesengukan. "Tapi ... ."
"Hei ... ."
Dalam satu gerakan, Dean mengangkat dagu Liv dan mencium hangat bibir gadis elf itu. Air mata Liv yang menetes di pipinya ikut membasahi pipi Dean. Kedua mata Liv terbelalak, tetapi dia tidak menolak.
Gadis elf itu menyambut ciuman si lelaki manusianya degan lembut. Waktu serasa berhenti berputar. Ada sesutau yang berbeda mengalir dari dalam dada kedua makhluk yang berbeda ras ini. Dean tahu, Liv pun tahu, perasaan apa yang mengganggu pikiran mereka selama ini, tanpa harus saling mengatakan.
"Dean ... ," ucap Liv, ketika Dean pada akhirnya melepaskan ciuman. Liv mendekap tubuh lelaki itu erat seraya berkata, "Jangan lupakan aku ... ."
"Aku mencintai kamu, Liv ... ." Pada akhirnya, kalimat itu terucap dari bibir Dean. Lelaki itu tidak tahu apa pun yang bersifat romantis. Selama ini, dia tak pernah punya pengalaman soal itu. Satu hal yang dia tahu pasti, dia harus menyampaikan tiga kata itu pada gadis dalam dekapannya saat ini.
"Waktunya sudah tiba." Pendeta Torion tiba-tiba datang menghampiri. Dean melepaskan dekapannya terhadap Liv dan menyeka air mata di kedua pipi gadis itu.
"Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupakan aku juga, ya," ucap Dean, yang disambut anggukan oleh Liv.
Namun, Pendeta Torion berdeham, menginterupsi. "Maaf, bukannya saya ingin mengacaukan harapan kalian, tapi, hal itu tidak akan mungkin terjadi."
"Apa maksud Anda?" tanya Dean.
__ADS_1
Pendeta Torion menghela napas sejenak sebelum menjawab, "Ketika Tuan Pencipta mengubah alur cerita dunia ini, maka secara otomatis apa yang sudah berjalan akan diputar ulang dari awal. Itu berarti, Nona Liv tidak akan bisa mengingat Anda, Tuan."
***