Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
46. Liv Themaris


__ADS_3

"Aku pergi dulu, ya, Kak!" Seorang gadis melambaikan tangan di depan pintu kediaman Themaris. Kakaknya menyusul keluar rumah.


"Mau kemana, Liv? Padahal aku dan Haldir ingin mengajakmu jalan-jalan!" seru si kakak.


Liv tersenyum. Kulitnya putih bersinar begitu mentari menyapa saat dia menginjakkan kaki di atas tanah.


"Aku mau ke tepi danau. Lagi pula, mana mungkin aku mengganggu kencannya Kak Melian!" goda Liv, membuat Melian tersipu merah.


"H-hei, ini cuma jalan-jalan biasa ...!" kilah Melian. Liv makin tergelak melihat tingkah kakaknya.


Di belakang Liv, sebuah kereta lizardan dengan simbol keluarga Legolas tiba di pekarangan rumah. Orang nomor satu di negeri ini turun dari kabin. Liv menyambut seraya menundukkan kepala pada lelaki tersebut.


"Salam hormat, Yang Mulia Haldir."


Orang yang diberi penghormatan malah mendengkus. "Kalau di luar untuk acara informal begini, panggil aku langsung dengan namaku saja, Liv!"


Liv melirik ke arah para pengawal yang menyertai kereta lizardan raja baru tersebut, lalu berkata, "Aku bisa dipenggal kalau tidak sopan memanggil raja dengan sebutan nama langsung di depan para prajurit!"


"Tidak akan. Lagi pula, sebentar lagi kau akan jadi adik iparku," tandas Haldir. "Oh iya, kau jadi ikut denganku dan Melian jalan-jalan?"


"Tidak ah, aku tidak mau bengong saja lihat kalian berdua berkencan! Dah!" Liv melambaikan tangan seraya berlari kecil, menjauh. Haldir tertawa melihat tingkahnya. Lelaki itu pun masuk ke dalam lobi kediaman Themaris dan melihat tunangannya berdiri di sana menyambutnya.


"Adikmu, mau kemana dia tadi?" tanya Haldir.


Melian menjawab seraya melirik ke luar rumah. Liv sudah menghilang dari pandangajn. "Oh, seperti biasa, ke tepi danau."


"Ke sana lagi?!" tanya Haldir tak percaya.


Melian mengangguk. "Itu memang tempat favoritnya sejak kecil. Kau juga pertama kali bertemu dengannya di sana, 'kan?"


"Iya, sebelum akhirnya bertemu denganmu." Haldir membelai rambut Melian, lalu mencium punggung tangan gadis itu dengan lembut. "Hari ini, kau cantik sekali."


Wajah Melian jadi merona merah dibuatnya. Namun, itu tidak berlangsung lama, Dehaman keras terdengar dari arah tangga. Olrun Themaris, dengan perawakan tubuh besar dan berdada lebar, turun dari lantai dua. Kegagahannya masih terlihat meski sudah menjelang usia tua bagi para kaum elf. Olrun melihat sepasang muda-mudi di bawah, memicingkan mata pada Haldir, sampai akhirnya tiba di hadapannya.


Olrun memberikan salam hormat pada Haldir, tetapi dengan mata yang masih menatap tajam. Melian menyadari hal tersebut, langsung mencubit pinggang sang ayah.

__ADS_1


"Ayah! Jangan melihat seperti itu!"


"Aww!" Olrun mengaduh. Melian geleng-geleng, tak habis pikir.


Sejak Liv memperkenalkan Haldir padanya, kedua elf tersebut memang sudah saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Liv memperkenalkan Haldir sebagai teman rahasia yang selalu menemani ketika dia bermain di tepi danau.


Hal ini tentu membuat keluarganya kaget. Liv yang tidak pandai berteman karena sangat pendiam, justru akhirnya memiliki seorang teman. Yang lebih mengejutkan lagi, teman Liv satu-satunya itu adalah sang raja.


Olrun Themaris memang sempat tidak menyetujui hubungan Melian dan Haldir. Apa lagi kalau bukan karena latar belakang dari pihak ibu Haldir yang hanya rakyat biasa.


Dengan berbagai macam bujukan, akhirnya Olrun memberikan syarat. Beliau akan merestui mereka berdua asalkan Haldir dapat menunjukkan kompetensinya sebagai raja yang kuat dan bijak, serta pantas disebut sebagai orang nomor satu di negeri.


Hal itu kemudian dibuktikan oleh Haldir, setelah dia berhasil memenangkan perang yang mustahil dilakukan, melawan kerajaan tetangga yang memiliki jumlah pasukan jauh lebih banyak.


Kini, Olrun mau tidak mau merestui hubungan Melian dan Haldir, meski dalam hati masih saja tidak rela. Sejujurnya, Olrun tidak pernah mempermasalahkan latar belakang keluarga Haldir. Olrun hanya masih menganggap bahwa Melian dan Liv sebagai gadis-gadis kecilnya. Beliau tidak ingin melepaskan Melian dalam pernikahan begitu saja.


Jadi, meski Melian sudah mencubitnya, Olrun masih saja memandang Haldir cemburu seperti anak kecil. Haldir pun mengetahui hal ini. Maka dari itu, untuk mengajak Melian keluar rumah, dia mengatakannya dengan hati-hati.


"A-Ayah, bolehkah saya mengajak Melian untuk jalan---"


"Tidak boleh!" tandas Olrun cepat. "Dan aku belum jadi ayahmu!"


"Tidak!"


"Ayah! Jangan begitu!" Giliran Melian yang cemberut sekarang. Hingga suara sesosok wanita terdengar, memasuki ruangan.


"Ada apa ini?" Suaranya yang lembut mampu menenangkan seluruh ketegangan. Melian berlari menghampiri wanita ini dan memeluknya.


"Ibu ... Ayah mulai begitu lagi sama Haldir!" Melian mengadu. Sang ibu pun tersenyum, lalu menatap suaminya.


"Olrun, jangan seperti itu," ucap wanita tersebut.


"Tapi, Elanor---"


Olrun ingin membalas, namun pandangan matanya bertemu dengan tatapan istri yang tajam, memintanya untuk diam. Seketika itu juga, sang pria tua gagah dan perkasa tersebut langsung mengatupkan mulut. Olrun bisa melawan siapa pun yang ada di dunia ini, kecuali Elanor, istrinya tercinta.

__ADS_1


Elanor mengalihkan pandangan pada Haldir, kemudian memberikan penghormatan. "Salam, Yang Mulia. Maafkan suamiku."


"Tidak apa, Nyonya---"


"Ibu. Kami akan menjadi orangtuamu juga sebentar lagi, benar?" sahut Elanor. Haldir tersenyum seraya mengangguk. Haldir melirik ke arah Olrun, yang masih tampak sebal.


"Ibu, aku pergi jalan-jalan dulu, ya!" Melian memeluk tubuh orangtuanya sambil berpamitan.


"Oh iya, Liv mana? Kamu tidak mengajaknya?" tanya Elanor. Melian mengangkat kedua bahunya.


"Liv tadi pergi lebih dulu ke tepi danau. Padahal, aku sudah mengajaknya!" seru Melian.


"Ya sudah, hati-hati, ya!" pesan sang ibu sebelum kereta lizardan menuju pusat kota.


Sementara itu, di tepi danau Moonlite yang berlokasi di belakang kompleks istana, sesosok gadis elf yang tadi sedang dicari oleh keluarganya kini tengah duduk sendiri di tepi danau. Sejak Haldir bertunangan dengan kakaknya, lelaki itu jadi jarang menemani Liv mengobrol lagi.


Orang-orang mengira kalau Melian telah merebut Haldir dari sisi Liv, padahal sebenarnya tidak begitu. Sejak awal bertemu, Liv hanya menganggap Haldir sebagai teman. Semua wanita di Kerajaan Legolas ini memuji Haldir akan ketampanannya.


Liv pun mengakui bahwa teman barunya itu memang rupawan, tetapi anehnya, hati Liv sama sekali tidak bergerak untuk menganggap Haldir lebih dari itu. Liv bahkan ikut bahagia ketika akhirnya Haldir bertemu dengan Melian dan mereka saling jatuh cinta.


Liv pun tidak mengerti, mengapa dia tidak tertarik pada lelaki mana pun yang pernah ditemuinya. Wajah Liv sama cantiknya dengan Melian. Liv bahkan memiliki kekuatan sihir lebih besar ketimbang Melian, bahkan bisa dianggap terkuat kedua setelah Haldir. Hal ini makin dibuktikan ketika dia lahir, Pendeta Agung Torion, orang tersuci di negeri ini, mendatanginya dan memberikan berkah. Pendeta Agung Torion tidak pernah melakukan hal itu pada siapa pun sebelumnya.


Liv banyak didekati para pria, tetapi tidak ada satu pun yang bisa berlabuh di hatinya. Entah mengapa, perasaannya selalu tertuju pada foto dalam kalung yang tergantung di lehernya. Kalung itu merupakan pemberian Pendeta Agung Torion ketika Liv baru saja lahir. Ibunya selalu memasangkan kalung itu di leher gadis itu, menganggapnya sebagai berkah Dewa.


Suatu ketika saat beranjak remaja, Liv membuka loket kalung berukuran setengah telapak tangan tersebut.


Terdapat dua gambar di sana. Bukan lukisan, yang ini kualitasnya seperti benar-benar gambar yang ditangkap dan diabadikan. Foto pertama berisikan sepasang dewasa, pria dan wanita, dan dua anak kecil. Seperti sebuah foto keluarga.


Foto kedua berisikan wajah seorang pemuda. Kulitnya cokelat dan telinganya bulat. Jelas ini adalah ciri tubuh manusia. Yang tidak dimenegerti Liv adalah, kenapa Pendeta Agung Torion memberikan kalung berisi gambar manusia padanya.


Kenapa rasanya aku sangat mengenal orang ini? Dia siapa, ya? Liv selalu bertanya-tanya dalam hati.


Selalu pertanyaan yang sama. Yang tahu jawabannya adalah Pendeta Agung Torion, tetapi Liv tidak pernah bertemu dengan beliau lagi setelah kelahirannya itu.


Tiba-tiba dari arah kejauhan, tampak seseorang berlari ke arahnya, menghampiri di tepian danau. Liv tampak terkejut, dia refleks berdiri. Lelaki tersebut berhenti di hadapannya, menatapnya dalam dan penuh kehangatan.

__ADS_1


"Kamu! Namamu Liv Themaris, 'kan?"


***


__ADS_2