
Frode mulai memerintahkan kedua oxin di hadapannya untuk berjalan. Hewan berkaki empat itu pun mulai melangkah.
Perjalanan dimulai. Para penjaga di tembok perbatasan kota dapat dilewati tanpa kesulitan berarti. Tanpa banyak berbicara, Liv menunjukkan isi gerobak, murni untuk berdagang. Para penjaga percaya, dan mereka diizinkan untuk melanjutkan perjalanan.
Gerobak beroda kayu itu mulai berjalan di tanah yang penuh kerikil dan bebatuan. Jalanan di pedesaan jelas tidak semulus di kota. Dengan seluruh guncangan yang ada, rasa sakit mulai menyerang bagian pinggul Dean. Dia mulai mengeluh, "Apa jalannya tidak bisa lebih halus sedikit?!"
"Semua jalanan di desa memang seperti ini, Dean. Kenapa kau tidak menuliskannya mulus di seluruh tempat saja!" sahut Frode. Dean bersungut kesal dan berkata, "Aku bersumpah, pulang nanti kubuat semua jalanan desa mulus seperti di kota!"
"Kalau bisa seperti itu, kenapa kau membuat permukaan jalanannya kasar dari awal?" tanya Liv penasaran. Rasa ingin tahunya memang selalu begitu besar, sama seperti ketika Melian membacakannya buku pelajaran. Liv selalu bertanya tentang hal ini dan itu sampai Melian kewalahan.
"Karena jalan pedesaan di duniaku seperti ini," jawab Dean sambil melongok ke jalan. "Bedanya, setiap roda kendaraan punya lapisan ban karet untuk meminimalisir guncangan."
"Kenapa kau tidak melapisi roda gerobak oxin dengan ban karet seperti itu?"
"Karena penciptaan ban menggunakan teknologi," sahut Dean. Frode ikut menimbrung dalam percakapan. "Di dunia ini, teknologi diciptakan oleh manusia yang sudah punah itu, 'kan?"
Dean mengangguk. "Teknologi punya manusia, sedangkan elf memiliki sihir. Biasanya pengemudi akan meminimalisir guncangan dengan sihir. Tapi karena ... ." Dean melirik ke arah Frode.
Pria tua itu tertawa kecil. "Ya, ya, aku yang bersalah. Sejak awal kekuatan sihirku memang tak terlalu besar, dan aku sudah tua. Aku masih belum sanggup menggunakan sihir sepanjang waktu. Aku berjanji, sesekali aku akan memperhalus perjalanan kita kalau energi sihirku sudah terkumpul banyak."
"Sudahlah. Lama-lama nanti aku juga akan terbiasa--- aww!" Dean mengaduh pada guncangan besar yang baru saja gerobak mereka lalui. Frode menoleh dari balik pundaknya ke arah kabin, meringis seraya meminta maaf pada Dean. Lelaki manusia itu berdecak kesal.
Di ujung jalan, jalur terbagi menjadi dua, yakni kiri dan kanan. Themaris berada di wilayah selatan kerajaan. Frode harus mengambil kiri untuk bisa sampai ke sana. Namun, belokan ke kiri tersebut ternyata dipenuhi para petugas kerajaan yang sedang berpatroli.
Liv melongok ke depan, dari balik bahu Frode. "Ada apa ini? Pemeriksaan lagi?"
Frode mengangkat bahu. "Entahlah, yang jelas, aku belum pernah melihat petugas pemeriksaan barang sebanyak itu."
"Mungkin, kita bisa menanyakannya?" usul Liv. Frode mengangguk dan berkata, "Baiklah."
__ADS_1
Frode terus maju ke arah jalur kiri. Selain gerobak yang dikemudikannya, ada juga beberapa kereta lizardan yang mengantri di depan untuk bisa melewati rute yang sama.
Beberapa petugas berpatroli di sekitar dan memberikan sinyal gerakan tangan untuk putar balik. Para pengemudi kereta lizardan tampak kecewa saat berpapasan dengan gerobak Frode.
"Ada apa ini?" tanya Frode pada seorang petugas yang menghampiri, dibalas dengan menunjuk ke arah depan.
"Jalan di dekat jembatan utama tertutup longsoran bukit. Tinggi gumpalan tanahnya mencapai dua meter," jelas si petugas.
Frode memandang gelisah pada jalur yang di hadapannya. Beliau membuka gulungan peta Kerajaan Legolas. Untuk sampai ke kota Themaris, gerobaknya harus melewati kota Nygaard dan Tranum. Dari ibu kota ke Themaris dapat ditempuh dalam kurun waktu empat hari, apabila melewati jembatan utama yang ada di jalur kiri.
Akan tetapi, kini jalur tersebut ditutup.
"Jadi, bagaimana bila saya ingin pergi ke Themaris?" tanya Frode lagi. Si petugas melihat peta yang sedang Frode pegang, lalu menunjuk ke wilayah utara yang tertera di sana.
"Anda bisa memilih rute utara, melewati Eetelbum, Hartvig, Erling, dan Eskildsen. Pilihan lainnya, Anda bisa menunggu sampai jalur ini dibuka kembali."
"Kira-kira, berapa lama longsoran berhasil disingkirkan?"
Dean yang ikut mendengarkan dari belakang berbisik, "Kita tidak akan punya waktu untuk menunggu sampai lebih dari dua minggu."
Frode mengintip dari balik pundak, lalu membalas dengan anggukan. Kemudian, beliau berbicara lagi pada si petugas. "Baiklah, kami akan putar balik saja. Terima kasih atas infonya!"
Frode memutar balik arah gerobaknya hingga kembali ke persimpangan, menjauh dari para petugas, mengikuti kendaraan-kendaraan darat lain yang juga harus mengubah rute perjalanan mereka.
"Apa kita akan lewat rute utara?" tanya Liv, dia ikut memeriksa peta yang saat kni dipegang Dean.
Lelaki manusia itu menggeleng dan berkata, "Kita hanya punya waktu sepuluh hari untuk sampai ke kuil Lileathhof. Aku sudah memperkirakan, kalau lewat selatan, kita akan sampai di Themaris dalam waktu kurang lebih empat hari, lalu menelusuri gua di sana dalam satu hari. Kemudian, kita akan melanjutkan perjalanan dan sampai di kuil Lileathhof dua hari berikutnya."
"Jadi, kalau lewat selatan, hanya memakan waktu satu minggu?"
__ADS_1
"Benar. Tapi kalau lewat utara ... kita tidak akan sempat. Total waktu perjalanan akan menjadi sebelas hari. Itu pun kalau tanpa kendala sama sekali."
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Frode kali ini. "Ah, seandainya saja, kita bisa mengendarai hawker ... ."
Frode menunjuk pada seekor burung besar yang melintas di atas gerobak mereka, membawa penumpang. Jelas tidak mungkin mereka bertiga menaiki burung tersebut. Jangankan memiliki, harga sewanya saja jauh lebih mahal ketimbang lizardan.
"Tidak usah hawker, Paman. Seandainya, salah satu dari kita bisa menggunakan kekuatan sihir yang besar, kita bisa saja menerbangkan gerobak ini!"
Liv berkata seraya menunjuk sebuah kereta lizardan mulai melayang dan melewati longsoran. Namun, untuk melakukan hal itu, butuh kekuatan sihir yang sangat besar dan kontrol yang baik. Hanya segelintir bangsawan yang bisa melakukan hal itu.
"Seandainya ada Kak Melian! Dia bisa menerbangkan gerobak ini dengan mudah!" Liv berdecak.
"Sudah, sudah! Percuma berandai-andai. Sebaiknya kita pikirikan rute alternatif!" seru Dean. Lelaki itu memijit pelipisnya. Dia berpikir keras. Pandangan matanya tertuju pada simbol hutan yang ada di peta.
"Ada cara lain, dan ini hanya memakan waktu lima hari untuk sampai Themaris. Menelusuri gua, satu hari. Lalu, dari sana ke kuil kira-kira tiga hari. Jadi, sekitar sembilan hari. Masih ada waktu untuk mengejar fase bulan baru. Tapi ... ."
"Kenapa Dean?"
"Jalur ini jarang dilewati oleh warga," sahutnya singkat.
Liv mengernyit dan bertanya, "Jalur yang mana?"
Dean menunjuk pada area hutan yang ada di antara kota Hartvig dan Tranum. "Lewat hutan ini."
"Ini, 'kan, hutan yang penuh hewan buas itu!" seru Frode.
Liv terkesiap. "Hutan Nitville?!"
Dean menghela napas. Tentu saja ia mengetahui kengerian area tersebut. Nitville adalah hutan yang dipenuhi hewan-hewan buas yang amat agresif dan memakan elf, juga manusia. Begitu narasi yang Dean tulis di dalam novelnya.
__ADS_1
***