Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
29. Tali Suci


__ADS_3

Hari ini, seperti yang telah direncanakan dua hari sebelumnya, Dean, Liv, dan Frode telah tiba di sekitar sisi luar tembok perbatasan kota Hartvig. Tak jauh dari sana, pepohonan Hutan Nitville telah tampak, berjarak rapat dan lebih rimbun dari sekitarnya. Kerimbunan tersebut membuat suasana hutan jadi lebih gelap dan terkesan menakutkan.


"Aku ingin membeli sesuatu untuk kalian, sebelum kita benar-benar berpisah. Tunggu di sini," ucap Frode. Dean dan Liv hanya menuruti tak mengerti. Mereka berdua turun dari gerobak, membiarkan Frode melaju sendirian memasuki Kota Hartvig.


Setelah satu jam menunggu, Frode kembali dengan membawa dua pasang tameng kayu dan pedang sederhana. Dean dan Liv diberikan masing-masing sepasang.


"Ini untuk berjaga-jaga. Kau tidak punya kekuatan sihir, sedangkan sihir Nona Liv sangat lemah. Kalian hanya bisa melawan para monster itu dengan kekuatan fisik," ucap Frode pada Dean sambil menyerahkan semua perlengkapan bertarung itu.


"Paman, pedang ini, 'kan, tidak murah! Paman membelikan untuk kami?" tanya Liv, terkejut melihat pedang besi di tangannya.


Frode terkekeh. "Tidak apa, Nona. Saya bisa lebih khawatir kalau melepas kepergian kalian tanpa alat apa pun untuk bertahan."


Saat perpisahan pun tiba. Liv memeluk Frode erat, yang dibalas olehnya. Pria tua itu juga memeluk Dean. "Berhati-hatilah. Akan kutunggu kalian di Themaris! Berjanjilah untuk bisa selamat keluar dari Nitville!"


"Akan kuusahakan." Dean menepuk-nepuk punggung Frode. Pria tua itu menahan air mata yang sudah berada di pelupuk.


"Dalam beberapa minggu saja, hidupku berubah. Sebentar lagi, hidup Nona Liv juga akan berubah. Semua itu berkat dirimu, Dean!"


Dean hanya tersenyum simpul menanggapinya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dean memang mengubah hidup Frode dan akan melakukan hal yang sama pula untuk Liv. Akan tetapi, sejak awal memang dia juga yang membuat mereka sengsara.


***


Frode mengantar yang terakhir kali hingga ke tepi Nitville. Makin mendekat, aura gelap hutan itu makin terasa. Raut wajah Liv tampak ketakutan.


"Kita akan melewati tali ini begitu saja?" tanya Liv, begitu melihat ada tali putih besar diikatkan pada tiang-tiang yang berjejer mengelilingi sepanjang tepian hutan.


Tali itu merupakan pembatas suci, supaya hewan-hewan buas di dalamnya tidak berlari ke luar dan menyerang warga. Para pendeta yang memasangkan tali tersebut, setelah mereka menanamkan sihir berelemen cahaya di permukaannya. Elemen cahaya tersebut dapat membuat hewan-hewan buas yang memiliki sihir berelemen gelap pergi menjauh.


Udara di sekitar tali suci akan membentuk lapisan tebal kasat mata setelah dipasangkan oleh sang pendeta, sehingga orang biasa pun tidak akan bisa melewatinya, kecuali bila talinya berhasil diangkat.


Liv sudah berada di dekat tali. Baru saja tangannya hendak menyentuh, Liv terpental ke belakang hingga jatuh terduduk. Beruntungnya, kabut hitam dalam dirinya langsung menguar dan menebal, melindungi bagian bawah tubuh gadis itu dari benturan.


Dean dengan sigap menghampiri Liv. "Kamu baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa, hanya kaget!" seru Liv. "Aku seperti ditolak oleh tali itu!"

__ADS_1


"Apa mungkin, karena kabut hitammu itu berelemen gelap, ya?" Dean berusaha menyimpulkan sesuatu. Lelaki itu membantu Liv kembali berdiri.


Kali ini Frode yang mencoba. Pria tua itu mendekat sangat perlahan, agar seandainya dia juga tertolak, dia tidak akan terjungkal seperti Liv tadi. Rupanya, Frode tidak terpental karena elemen sihirnya netral, tetapi tangannya sama sekali tidak dapat menggerakkan tali tersebut.


"Berat sekali! Sepertinya, butuh orang dengan energi sihir yang sangat besar untuk bisa mengangkat tali ini!" seru Frode.


"Bagaimana ini?!" Liv mulai panik.


Dean mulai berpikir. Memang benar, dia menuliskan dalam novel, apa yang dikatakan oleh Frode barusan. Dean berjalan mendekat, mencoba peruntungannya. Dean mendekati tali suci tersebut dan menjulurkan tangan.


"Kau tidak punya sihir, 'kan?" tanya Frode ragu. Dean mengangkat bahu. "Yah, apa salahnya dicoba."


Ajaibnya, tali itu dengan mudahnya disentuh, bahkan diangkat oleh Dean dengan satu tangan. Liv dan Frode melotot ke arah Dean bersamaan melihat hal itu.


"Apa kau menuliskan tentang tali ini, supaya bisa disentuh oleh manusia?" Frode bertanya.


Dean menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak memberi karakteristik semacam itu. Aku bahkan tadi sempat lupa ada tali suci ini, sampai aku melihatnya!"


"Tapi, kenapa kau bisa?"


Dean mengangkat tali itu tinggi-tinggi supaya Liv bisa membungkuk dan masuk melewatinya. Kemudian, giliran Dean sendiri yang menyeberang batas tersebut. Kini antara mereka berdua dan Frode dipisahkan oleh tali suci yang melintang.


"Sampai jumpa, Paman!" ucap Liv. Dean pun menambahkan lambaian tangan, lalu berbalik makin masuk ke dalam hutan. Liv pun ikut berbalik, tetapi dirinya masih sesekali menoleh ke arah Frode di belakang.


Frode membalas dengan senyuman, agar Liv tenang. "Sampai ketemu lagi, Nona! Dean!"


***


"Groaaa!!"


"Tch! Awas!" Dean menarik tangan Liv ke belakangnya, agar gadis itu terhindar dari serangan serigala bermata api yang datang melompat ke arah mereka. Dean menebas serigala tersebut. Kepala hewan itu putus dan menggelinding di depan Liv. Gadis itu berteriak.


"Jangan teriak! Berisik!" omel Dean. Liv memandang ke arahnya takut-takut. Kedua tangannya gemetar saking ngerinya.


Dean mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya, amat sangat perlahan. Lelaki manusia itu sedang menahan emosi yang hendak menyeruak dari dalam diri. Sudah belasan hewan ganas menyerang mereka, padahal hari masih pagi. Baru beberapa jam berlalu sejak mereka memasuki Nitville, tetapi Dean sudah kelelahan. Ini dikarenakan Liv yang terlalu takut untuk mengayunkan pedang.

__ADS_1


Dean memandang Liv kesal karena hal itu. Lelaki itu tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun, saking sebalnya. Tatapan matanya cukup menakutkan bagi Liv saat ini.


"Ma-maaf---"


"Kamu itu memang kuciptakan lemah, tapi bukan penakut!" Akhirnya kesabaran Dean habis. Lingkungan tempat tinggal Liv yang selalu dihina membuat Liv seperti itu.


Dean memang tidak menuliskan secara spesifik sifat Liv yang satu itu, tetapi lingkungan mengubah kepribadian Liv. Lingkungan yang diciptakan Dean sendiri. Jadi, sebenarnya Dean-lah penyebab Liv menjadi penakut. Akan tetapi, saat ini Dean perlu melampiaskan emosinya.


"Tapi---"


"Kalau nanti aku berhasil mengubah takdirmu, lalu kamu masih penakut begini, kamu tetap akan dihina orang-orang!"


Liv terkesiap mendengar perkataan Dean. Gadis itu mengakui kalau si penulis dunianya itu ada benarnya juga. Dean memegang erat kedua pundak Liv dan berseru, "Kamu harus bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri! Jangan takut! Ingat, kamu adalah tokoh terkuat!"


"Tokoh terkuat ... ."


"Benar! Haldir saja bisa kamu kalahkan, sampai dia harus memperkuat dirinya untuk melawanmu! Jadi, beranilah!"


Tanpa mereka sadari, seekor hewan mirip beruang bertanduk dua muncul dari arah belakang Dean. Liv melihat hewan tersebut dari balik tubuh Dean, dia kembali berteriak histeris.


Dean berbalik, dengan sigap lelaki itu mengacungkan pedang. Beruang itu menyerang, dalam satu kibasan tangan, pedang Dean terlempar. Lelaki itu kini hanya punya satu tameng kayu. Mata hewan itu begitu menyala melihat dua daging berjalan di hadapannya.


Dean menelan ludah. Dia harus berpikir cepat. Dia bisa saja berlari, tetapi dia tidak bisa meninggalkan Liv. Stamina gadis elf itu tidak bisa diandalkan, dia pasti kelelahan di tengah jalan, apalagi dikejar beruang. Gadis itu harus bersembunyi terlebih dahulu.


"Larilah! Aku akan mengalihkan perhatian monster ini!"


Liv terkejut dengan perintah Dean. "Lalu meninggalkanmu? Tidak!"


"Aku akan menyusulmu, bodoh! Sekarang, lari saja---"


Saat mereka berdebat, beruang itu sudah melompat dan menyerang Dean. Refleks, lelaki itu mengangkat tameng kayunya, yang langsung hancur seketika. Tak menyia-nyiakan waktu, beruang itu melompat ke arah Dean, membuat lelaki itu jatuh terjungkal dengan tubuh beruang menindih di atasnya. Beruang itu berhasil menggigit pundak Dean.


"Arghhh!"


***

__ADS_1


__ADS_2