
"Siapa kalian?!" teriak seorang prajurit yang berdiri paling depan, diduga adalah pemimpin dari pasukan kuil yang menghadang Liv dan Dean. Liv bergidik ngeri ketika tatapan matanya bertemu dengan para prajurit.
Dean berdecak. Dia lupa, kalau lapisan ini dijaga oleh para prajurit kuil. Mereka bertugas untuk menjaga dari siapa saja yang berhasil menerobos masuk tanpa izin Pendeta Agung, seperti yang dilakukan Dean dan Liv saat ini. Dean juga menuliskan bahwa kekuatan para prajurit kuil ini dua kali lipat dibandingkan prajurit kastil kota seperti pasukan Melian.
Liv refleks mengangkat kedua tangan, menunjukkan kalau dia tidak bermaksud untuk menyerang atau merugikan siapa pun. Kemudian, Liv memohon, "Tolong, kami ingin bertemu dengan Pendeta Agung. Ini hal yang mendesak!"
"Hanya yang berkepentingan, yang bisa menemui beliau!" jawab seorang prajurit.
Liv terkejut, dia tidak menyangka kalau tidak semudah itu pergi ke tempat portal berada. Liv berusaha memutar otak mencari alasan yang pas.
Tiba-tiba, Dean berdiri di depan Liv, menghadapi para prajurit. "Setidaknya bawa kami ke kuil terlebih dahulu, aku akan menjelaskan semuanya pada Pendeta Agung. Lihatlah!"
Dean menyingkap telinganya yang bulat di hadapan para prajurit. "Aku ini manusia, tapi aku bisa menembus lapisan pelindung kalian. Pasti Pendeta Agung tertarik mendengar hal ini."
Para prajurit terkesiap. Mereka tak menyangka ada manusia di zaman sekarang, terlebih lagi memiliki energi sihir besar sampai bisa menembus lapisan pelindung Lileathhof. Dua prajurit paling depan tampak berdiskusi, kemudian mengangguk-angguk.
Akhirnya, pandangan mereka tertuju kembali pada Dean dan Liv. "Baiklah, tapi kedua tangan kalian harus kami ikat terlebih dahulu, untuk berjaga-jaga."
Baru saja sebelumnya lepas dari borgol, kini Dean dan Liv harus rela diikat kencang lagi oleh para prajurit ini. Bukan sembarang tali yang mereka gunakan, melainkan yang sudah diberi mantra sihir agar bisa memiliki fungsi sengatan, sama seperti borgol anti sihir, bahkan dengan kekuatan berkali-kali lipat.
Kemudian, Dean dan Liv berjalan dikawal oleh para prajurit dari segala sisi. Jarak antara lapisan pelindung yang diterobos oleh Dean dan Liv sampai ke kuil tidaklah jauh, hanya sekitar dua ratus meter. Dalam waktu kurang dari lima menit, Dean dan Liv disuguhi pemandangan kuil Lileathhof yang menakjubkan. Meskipun malam hari, kuil ini tampak bersinar terang.
Tidak seperti bangunan lainnya yang terbuat dari batang pohon besar, bentuk kuil Lileathhof seperti bangunan yang ada di bumi. Bangunan tersebut memiliki empat pilar besar yang menopang di sisi luar. Kemudian, begitu masuk, akan menginjak lantai berlapiskan karpet merah, membentang dari koridor hingga ruang doa. Ada pilar-pilar lainnya yang lebih kecil di dalam, mirip seperti yang di luar.
__ADS_1
Tubuh Liv merinding karena saking takjubnya. Gadis itu terus mengedarkan pandangan ke sana kemari. Ada kesan misterius yang sakral begitu memasuki kuil ini.
Dean dan Liv terus berjalan menyusuri koridor hingga sampai ke ruang doa, yang memiliki langit-langit menjulang tinggi. Di sisi kanan dan kiri ruangan ada kursi panjang, masing-masing lima buah. Di area paling depan terdapat podium untuk pendeta membacakan doa.
Saat ini, ada beberapa pendeta berpakaian gaun putih-putih panjang sedang berada di ruangan tersebut. Begitu pintu ruang doa dibuka dan Dean melangkah masuk ke dalam, para pendeta itu terkesiap.
Mereka semua menoleh seketika ke arah lelaki manusia tersebut. Tak hanya raut wajah terkejut yang mereka tampilkan, beberapa malah menutup kedua matanya dengan tangan, seperti tak ingin melihat Dean langsug.
Sang Pendeta Agung yang sedang memimpin doa, langsung menghampiri Dean dan Liv dengan tergopoh-gopoh. Janggut putih panjang serta kerutan di wajah membuatnya memang terlihat sepuh dibandingkan para pendeta lainnya. Meski begitu, dia tetap berusaha lari ke arah Dean, tanpa memberi penjelasan sedikit pun mengenai siapa Dean dan Liv.
Begitu tiba di hadapan Dean, secara mengejutkan sang Pendeta Agung membungkukkan tubuhnya serendah mungkin seraya berkata, "Selamat datang, Tuan Pencipta!"
Spontan, para prajurit kuil yang mengawal lelaki manusia itu terkesiap. Liv juga sama terkejutnya. Meski Liv tahu kalau Dean memang pencipta dunianya, tetapi gadis elf itu tak menyangka bahwa Pendeta Agung bisa mengenali Dean langsung.
Seorang prajurit bertanya pada sang Pendeta Agung. "Tuan Pencipta ... maksud Anda ...?"
Kemudian, beliau terkejut ketika kedua pergelangan tangan Dean diikat tali. "Apa-apaan kalian ini! Lepaskan ikatannya!"
"Maafkan kami!" Dua orang prajurit segera melepaskan ikatan yang mengekang pergelangan tangan Liv dan Dean masing-masing.
"Anda mengenali saya?" tanya Dean seraya tangan kirinya memeriksa pergelangan tangan kanan yang pegal akibat diikat.
Pendeta Agung mengangguk dan berkata, "Sebelumnya perkenalkan, nama saya Torion dan saya---"
__ADS_1
"Iya, Anda adalah Pendeta Torion. Tentu saja saya mengenal Anda. Bagaimana Anda bisa tahu kalau saya yang menciptakan dunia ini?" tanya Dean lagi.
Pendeta Agung Torion tersenyum, "Energi sihir Anda begitu besar, Tuan, bahkan melebihi siapa pun yang ada di ruangan ini, termasuk saya dan Nona muda ini. Ibarat cahaya, tubuh anda ratusan kali lebih menyilaukan ketimbang semua orang yang ada di dunia ini," jelas Torion.
Dean mengangguk-angguk paham. Dia memiliki energi sihir yang begitu besar, hanya dia tidak bisa mengeluarkannya sebagai kekuatan. Meski begitu, hal ini menjelaskan mengapa tubuhnya yang terluka bisa cepat sembuh. Energi sihirnya menyembuhkan Dean dari semua luka yang dia terima selama di dunia elf ini.
Dean menghela napas lega, "Syukurlah, aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Langsung saja, tujuanku kemari adalah ... ."
Dean menjelaskan secara singkat perjalanannya yang tiba-tiba terjebak di dunia elf ini, dan keinginannya untuk bisa kembali pulang ke dunia asal, melalui portal yang ada di kuil tersebut. Konfliknya dengan Melian pun ikut dijelaskan.
Cerita Dean diakhiri dengan permintaan. "Tolong bantu aku mengaktifkan portal tersebut."
Pendeta Torion terkejut. Dia mengelus-elus janggut panjangnya. "Saya memang telah mencatat mantra yang diberikan oleh sang Dewi melalui mimpi tersebut, tapi saya belum selesai menerjemahkannya. Maka dari itu, saya belum paham bagaimana caranya."
"Apa Anda lupa kalau aku adalah pencipta dunia ini?" Dean mengangkat salah satu ujung bibirnya, tersenyum. "Saya tahu terjemahannya, saya juga tahu apa saja yang dibutuhkan untuk mengaktifkan potal tersebut."
"Ah, benar juga!" Wajah Pendeta Torion tampak berseri-seri. "Kalau begitu, mari, saya antarkan sampai ke ruangan portal."
Sebelum mengantarkan Dean dan Liv, Pendeta Torion menghampiri pemimpin prajurit dan berkata, "Jagalah lapisan pelindung lebih ketat lagi, jangan sampai ada yang berhasil menerobos dan mengganggu ritual ini."
"Siap, laksanakan!" Sang pemimpin prajurit beserta pasukannya pun kembali keluar kuil dan berjaga di sekitar lapisan pelindung.
Pendeta Torion menunjukkan jalan ke arah belakang podium. Terdapat dua anak tangga yang menghubungkan ke lantai atas tempat perpustakaan kuil berada. Namun, portal tersebut berada di ruang bawah tanah. Liv tampak kebingungan, sementara Dean terlihat tenang-tenang saja.
__ADS_1
Tiba-tiba, Pendeta Torion menekan satu titik kecil pada permukaan kayu yang ada di antara kedua anak tangga tersebut. Detik berikutnya, permukaan kayu putih itu tersebut berputar, menampilkan apa yang tersimpan di baliknya. Ada tangga kecil melingkar, tersembunyi di sana.
***