
"Untuk sekarang, ayo kita lanjutkan perjalanan sampai Hartvig terlebih dahulu. Di Hartvig, kita akan menyiapkan perbekalan dan menginap bila memungkinkan," usul Dean, yang disetujui oleh Frode dan Liv bersamaan.
Perjalanan dimulai kembali, kali ini dengan rute berbeda. Melalui jalur utara, Dean, Liv, dan Frode harus melalui tiga kota sebelum sampai ke Themaris. Butuh waktu maksimal dua hari untuk bisa pergi dari satu kota ke kota lain menggunakan gerobak. Di sepanjang perjalanan, mereka melalui banyak persawahan dan perbukitan hijau yang terhampar luas.
Menjelang tengah hari, matahari makin terik bersinar. Frode memasangkan sehelai kain panjang untuk dijadikan kanopi di atas kepala Dean dan Liv agar mereka tidak begitu kepanasan, sedangkan Frode melindungi kepalanya sendiri dengan topi jerami.
Sesekali, gerobak singgah di sumur pedesaan untuk memberi minum pada kedua hewan oxin yang telah bekerja keras. Di desa, tidak ada yang melakukan pemeriksaan barang, oleh karena itu, gerobak yang mereka tumpangi bebas keluar masuk tanpa harus berhadapan dengan penjaga gerbang.
"Maafkan aku, karena sering singgah untuk memberi minum mereka," ucap Frode seraya menunjuk pada kedua oxin.
"Tidak masalah. Perkiraan waktu yang tadi kuberikan bukanlah yang paling mepet. Aku juga sudah memperhitungkan waktu-waktu kita beristirahat," sahut Dean.
Selagi para oxin minum, Liv membagikan roti kepada Dean dan Frode. "Terima kasih, Nona! Rupanya Anda telah menyiapkan segalanya!" puji Frode pada gadis elf itu.
"Sama-sama, aku hanya ingin berjaga-jaga saja," balas Liv sambil tersenyum manis. Senyuman itu tertangkap oleh mata Dean, yang tak sengaja melihat ke arahnya. Liv asyik berbincang dengan Frode, sebelum akhirnya menyadari kalau Dean sudah menatapnya cukup lama.
"Ada apa?" tanya Liv.
Dean tersadar dari lamunannya. "Oh! Tidak ada! Ayo, kita berangkat lagi!"
Perjalanan dimulai kembali, hingga hari semakin gelap. Jalanan yang mereka lalui makin tidak terlihat. Jarak perjalanan dari desa sebelumnya sudah cukup jauh, mereka tidak mungkin putar arah hanya untuk menginap. Sebanyak mungkin, mereka ingin memangkas waktu yang ada dengan terus berada di perjalanan.
"Jalanan makin tidak terlihat, kita harus bagaimana?" tanya Frode, sambil sesekali mengarahkan kedua oxin miliknya yang mulai kesulitan berjalan.
Di dunia elf ini, tidak ada pencahayaan kecuali menggunakan lilin atau obor kayu yang disulut menggunakan api sihir. Liv merogoh kembali isi tasnya, lalu mengambil sebuah tongkat obor cukup besar dari dalam sana. "Paman Frode, apa Anda bisa menyulut obor ini?" tanya Liv.
"Bisa, tapi mungkin tidak akan bertahan terlalu lama. Sihirku belum cukup kuat saat ini," jawab Frode.
Untuk menyalakan obor, seseorang perlu memindahkan energi sihir yang dia miliki ke media yang ada. Karena energi sihir yang dimiliki Frode belum cukup banyak, maka api sihir yang disulutnya hanya tahan selama beberapa jam saja.
Dean menyembulkan kepala, mengintip jalanan di depan gerobak. "Tidak masalah. Yang penting, kita bisa memangkas beberapa jam, sambil mencari area yang pas untuk menginap."
"Baiklah." Dengan satu jentikan jari, obor di tangan Liv menyala terang. Frode memasang obor tersebut di palang kayu yang ada di antara kedua kepala oxin.
"Apa kita akan singgah di desa berikutnya untuk menginap?" tanya Liv.
Dean menggeleng. "Setelah ini, tidak ada lagi desa. Seterusnya adalah jalur tanah seperti ini, lalu pepohonan kecil dan sungai, sampai kota Eetelbum," jawab Dean sambil menerawang, mengingat-ingat isi novel yang telah ditulisnya.
"Jadi, kita akan menginap di alam terbuka?" tanya gadis elf itu lagi.
"Tidak masalah, Nona. Saya sudah menyiapkan tenda untuk kita bertiga," sahut Frode tersenyum, seraya mengacungkan jempol.
Selang satu jam, gerobak yang mereka tumpangi melewati aliran air sungai kecil, sedikit tertutup oleh rapatnya pepohonan di sisi kiri jalan. Dean menginstruksikan untuk mencari tempat mendirikan tenda di sekitar sungai tersebut. Ada area terbuka yang berhasil ditemukan Liv, lalu mereka sepakat untuk menginap di sana malam ini.
Dean dan Liv mendirikan dua buah tenda, sementara Frode menyalakan api unggun. Setelah tenda kain siap, Frode memberikan sihir tahan air pada permukaan tenda supaya tetap kering meski terkena hujan dan embun. Setelah semua selesai, Frode membaringkan dirinya tepat di atas tikar.
__ADS_1
"Dean, apa di antara pepohonan ini ada yang seperti di Litforest?" tanya Frode.
Dean berpikir sejenak. "Pohon yang berbuah tanpa batas? Itu hanya ada di Litforest. Ini adalah hutan biasa, tidak ada hal ajaib seperti sebelumnya."
"Oh, sayang sekali. Padahal bisa berguna untuk mengisi perut kita sekarang," sahut Frode. Pria tua itu menepuk-nepuk perutnya yang mulai lapar.
"Pohon-pohon di Litforest bisa berbuah tanpa henti?" tanya Liv. Gadis itu tidak mengetahui keajaiban tersebut sama sekali.
Frode mengangguk seraya menunjuk Dean. "Dia yang memberitahuku cara mendapatkannya!"
"Bagaimana bisa?!" tanya Liv lagi dengan nada terkejut.
Dean tersenyum menyeringai. "'Kan, sudah kubilang, aku yang menciptakan dunia ini!"
Liv mendengkus. "Kalau begitu, apa ada keajaiban lain yang kau ciptakan, yang bisa mengenyangkan kita malam ini?"
"Hmmm ... sebenarnya ada. Tapi ini perlu usaha lebih," sahut Dean.
Frode terkejut sampai bangun dari tidurnya. "Keajaiban apa lagi? Makanan?"
Dean mengalihkan pandangan ke arah sungai di dekat mereka. Sungai tersebut sangat jernih hingga dasarnya terlihat. Alirannya tidak terlalu deras, sehingga cocok dipakai untuk memancing. Persis seperti apa yang dia tuliskan dalam novel "Sang Pangeran Terbuang".
"Sungai ini penuh ikan yang bisa dimakan." Dean menunjuk sungai tersebut. "Tidak pernah ada yang memburu mereka, karena tidak bisa dipancing. Mereka tidak tertarik pada umpan."
Dean cengengesan, sambil menjawab, "Entahlah. Waktu itu aku sedang iseng saja membuat ikan-ikan yang seperti itu."
Liv menepuk jidatnya dengan sebelah tangan. "Kalau tidak bisa dipancing, lalu bagaimana cara kita menangkapnya!"
Dean menghela napas. "Jangan putus asa begitu! Ada banyak cara untuk menangkap ikan selain menggunakan pancingan. Misalnya saja, pakai tombak. Atau pakai jala."
"'Jala'? Apa itu?" tanya Frode.
"Jaring untuk menangkap ikan dalam jumlah banyak sekaligus," terang Dean.
Seketika itu juga, Liv menampilkan raut wajah ngeri. "Tidak boleh membunuh hewan secara massal begitu!" hardiknya.
Kemudian, Liv menjelaskan bahwa di dunia elf ini, tidak diperkenankan untuk membunuh dan menyakiti hewan dalam jumlah yang besar. Hal itu dianggap sebagai eksploitasi dan merusak ekosistem, bagi para elf yang kehidupannya sangat bergantung pada alam sekitar. Ada sanksi hukum yang berat apabila ketahuan melanggar.
Dean mengangkat bahu, tidak peduli pada penjelasan Liv. "Kalau kamu bisa menangkap ikan dengan tombak, ya silakan saja. Aku, 'kan, hanya memberi pilihan."
"Tch! Ayo, Paman Frode! Kita buat tombak saja!" ajak Liv sambil bersungut kesal. Frode menurut dan mengikuti. Dengan bantuan dahan kering dan pisau, dua bilah tombak panjang telah siap digunakan.
Frode dan Liv berjalan ke tepi sungai yang dipenuhi bebatuan. Benar kata Dean, banyak sekali ikan berwarna jingga, berenang kesana kemari di dalam air sungai yang jernih.
Liv memusatkan perhatiannya pada seekor ikan bertubuh besar. Liv mengambil ancang-ancang dengan tombaknya, bermaksud untuk mengincar ikan tersebut.
__ADS_1
Seharusnya kalau berbadan besar, akan makin mudah dijadikan target! Begitu kata Liv dalam hati.
Namun, dia salah. Begitu Liv melancarkan serangan, ikan itu langsung berenang cepat, menjauh dari senjata Liv. Tubuh gadis itu oleng, hampir terjatuh ke dalam aliran air, kalau saja Frode tidak memegangi tangannya. "Hati-hati, Nona!"
"Terima kasih, Paman!" sahut gadis elf itu. Kali ini, Frode yang mencoba peruntungannya. Namun, sama seperti Liv, pria tua itu juga tidak berhasil.
Sekitar dua puluh menit, mereka tidak membawa hasil apa-apa. Makin lama, Liv makin kesal dan muak. Liv menusuk-nusuk tombaknya secara kasar pada kumpulan ikan apa pun yang berada di dekatnya, hingga menimbulkan gemericik tak beraturan, disertai teriakan.
"Aahhh! Susah sekali, sih--- ah!!"
"Nona!"
Tubuh Liv kembali oleng. Lagi-lagi gadis itu diselamatkan oleh seseorang. Bukan Frode, melainkan Dean. Dengan satu tangan, Dean menarik gadis elf itu hingga tubuhnya jatuh dalam pelukan lelaki tersebut.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dean. Begitu dekat wajahnya dengan gadis itu, hingga embusan napasnya terasa di kulit Liv.
"A ... aku baik-baik saja ... ."
Dean dan Liv masih terpaku akan kedekatan wajah mereka satu sama lain, sampai Frode berdeham membuyarkan suasana. Dean tersadar dan cepat-cepat melepaskan dekapannya pada Liv, membiarkan gadis itu menjauh dari tepi sungai.
"Bagaimana, sudah ada yang tertangkap?" tanya Dean, mengalihkan perhatian.
Frode tersenyum kecil melihat tingkah kedua anak muda tersebut, kemudian menjawab, "Belum satu pun."
"Hah, sudah kuduga!" Dean tersenyum meremehkan.
Merasa tidak terima, Liv balik menantangnya. "Coba saja kalau kau bisa!"
Dean pergi melangkah masuk ke sungai. Di tangannya sudah ada keranjang anyaman milik Frode dan sehelai kain panjang. Airnya tidak terlalu dalam, hanya sampai di bawah lututnya. Lelaki itu berdiri di dekat bebatuan yang ada, lalu merentangkan kain panjang yang telah dia beri banyak lubang sampai jadi seperti jaring. Lubang-lubang tersebut memang tidak rapi, tetapi cukup untuk berfungsi sebagai jala.
Dean mengikat kedua ujung kain tersebut masing-masing pada sebuah ranting. Kemudian, kedua ranting itu ditancapkan ke tanah di pinggir sungai, di sisi kanan dan kiri. Kain itu membentang, siap untuk menjaring ikan yang ada.
Liv melihat hal tersebut dan protes, "Hei! Jangan pakai jaring!"
"Berisik, kau!" sahut Dean ketus.
Tak lama, sekitar enam ikan terjebak tidak bisa berenang ke sisi seberang kain. Dengan sigap, lelaki itu menangkap ikan yang ada dengan keranjang di tangan. Air yang ikut terbawa ke dalam keranjang pun surut melalui lubang-lubang anyaman kecil, menyisakan ikan-ikan yang berlompatan di dalamnya.
"Nah, dapat banyak. Besar-besar pula!" seru Dean senang, seraya memperlihatkan isi keranjangnya pada Frode dan Liv. "Cukup untuk kita bertiga malam ini."
"Tapi, peraturan---" Liv mau membantah lagi, tetapi tidak sempat karena perkataannya dipotong oleh Dean.
"Peraturan yang tadi kamu bilang itu, aku yang menulisnya. Kuberi pengecualian untuk kali ini, karena terdesak."
***
__ADS_1