Purnama Milik Sang Antagonis

Purnama Milik Sang Antagonis
30. Pelindung


__ADS_3

"Arghhh!!" Teriakan Dean memenuhi hutan, disambut suara Liv yang histeris ketakutan. "Dean!!"


Beruang itu menyerang bagian pundak Dean. Sekali pun lelaki itu sudah meronta kesakitan, makhluk itu tidak kunjung melepaskan gigitannya. Dean hanya bisa menahan agar taring makhluk tersebut tidak menancap makin dalam.


Kedua tangan Liv gemetaran. Pelupuk matanya penuh air mata. Gadis itu menutup wajah, menangis, berharap ini hanya mimpi buruk. Akan tetapi, deraman beruang itu masih terdengar.


Tidak ... Dean kesakitan karena aku ... Sebentar lagi dia juga akan tiada sama seperti ibu, karena aku ... Tidak boleh ... Dia tidak boleh pergi ... Tidak boleh!


"Liv! Pergi!!"


"Tidak ... tidakkk!!"


Tiba-tiba, mulut dan kedua mata Liv terbuka lebar. Kepala gadis elf itu mendongak ke atas. Tubuhnya menegang. Matanya memancarkan cahaya hitam. Tanpa bisa dikendalikan, sebuah kabut gelap keluar dari mulut Liv, bergerak menjalar.


Dalam sekejap, kabut itu melilit tubuh beruang yang menyerang Dean. Beruang itu terangkat ke atas, melayang di udara dalam lilitannya, kemudian dibanting berkali-kali ke tanah. Hewan itu menderam kesakitan.


"Liv ...!" Dean tidak mengerti apa yang terjadi. Cepat-cepat dia bangkit dan menyingkir. Dean berjalan tertatih seraya memegangi pundaknya yang terus mengucurkan darah merah.


Ketika beruang itu sudah lemas dan kesakitan, lilitan kabut gelap Liv lepas dari badan makhluk itu. Kemudian, hal di luar nalar terjadi. Seperti yang kabut itu lakukan pada mendiang ibu Liv, hal yang sama terjadi pada beruang itu. Kabut gelap Liv masuk melalui rongga mulut si beruang dan menghisap energinya.


"Liv, sudah cukup!" Dean berteriak memanggil gadis elf itu. Beruang yang tadi menyerangnya sudah kurus kering, kini seperti hanya tinggal gumpalan bulu yang menempel saja. Energi hidupnya telah tersedot habis. Tubuhnya terbujur kaku. Mulutnya menganga, matanya terbelalak kosong.


Setelah intisari pada beruang tersebut habis, si kabut gelap menjalar keluar dari rongga mulutnya, lalu secara cepat kembali masuk ke mulut Liv. Gadis elf itu tersadar kembali. Pancaran matanya tidak lagi gelap. Tubuhnya tidak lagi menegang. Seketika itu pula, Liv ambruk ke tanah.


"Liv!!" Dean berusaha menyadarkan gadis itu. Liv tampak terengah-engah. Dia memandangi lelaki manusia di hadapannya.


"Kau tidak apa ...?" tanya Liv. Tatapannya tertuju pada pundak Dean yang terluka.


"Aku tidak apa! Ayo kita pergi dari sini!"


Dean dan Liv menjauh, berlari makin masuk ke hutan. Liv mengarahkan jalan, dengan kompas di tangan pemeberian Frode. Darah Dean terus mengucur, hingga tubuhnya lemas dan akhirnya jatuh tersungkur.


"Dean!!" Liv segera menghampiri tubuh Dean.


"Sepertinya ... kita sudah cukup jauh ... ," sahut Dean kehabisan tenaga.


"Katakan, aku harus apa?" tanya Liv panik melihat darah merah yang terus mengalir.


"Aku harus menutup lukaku dulu ... ."

__ADS_1


"Baiklah! Duduk di sini!"


Dean duduk bersandar di sebuah pohon, sementara Liv mencari-cari sesuatu di dalam tasnya, apa pun yang bisa dipakai untuk menghentikan aliran darah dari tubuh Dean. Gadis itu mengeluarkan botol air dan sehelai kain gaunnya yang berwarna putih.


"Bantu aku merobek baju di bagian pundakku ...."


"Ah, baiklah," Liv menuruti, meski di satu sisi dia canggung juga. Liv tidak pernah menyentuh tubuh laki-laki.


Liv mendekat ke arah Dean. Pelan-pelan, dia memegang pakaian Dean di bagian pundak supaya tidak terlalu mengenai lukanya. Kemudian, dengan sedikit memberi kekuatan di kedua tangan, Liv berhasil merobeknya. Tampak deretan bekas tancapan gigi beruang bertanduk ganas tadi.


Lagi-lagi, Liv meneteskan air mata. Dean menyadari hal itu, lalu berdecak. "Dari pada kau menangis begitu, lebih baik cepat bersihkan lukaku ...,"


"Iya ... kau terluka saja masih sempat ketus begitu ...,"


Sambil menahan tangis, Liv menyiramkan air persediaan minumnya ke pundak Dean. Lelaki itu meringis kesakitan, terutama ketika Liv membersihkan lukanya dengan kain gaun miliknya. Setelah bersih dari kotoran, Liv membalut luka Dean dengan kain gaunnya yang lain, yang masih kering.


"Pakaianmu jadi kotor, ya? Maaf ...," ucap Dean lemah.


Liv menyeka air mata yang masih membasahi pipi, seraya berkata, "Bodoh, jangan pikirkan hal itu!"


"Kau ada makanan?" tanya Dean. Liv mengangguk, lalu mengeluarkan persediaan roti dan buah-buahan dari dalam tas. "Kau lapar?"


"Begitukah?"


Dean mengangguk. "Pelajaran dasar dari dunia asalku." Mulut Liv membulat, dia baru mengerti. Setelah luka Dean selesai terbalut, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Tubuh Dean belum pulih sepenuhnya, tetapi dia sudah kuat untuk kembali berjalan.


"Kau yakin, tidak mau beristirahat lebih?" tanya Liv khawatir.


Dean mengibaskan tangan kanannya. "Tidak perlu. Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Lebih baik kita segera keluar lalu menginap di luar hutan. Itu jauh lebih baik."


Dean menggerakkan sedikit pundak kirinya yang terluka. Ketika perih menyerang, lelaki itu meringis, tetapi ditahannya. Dia harus membiasakan diri dengan luka barunya itu. Liv berjalan di belakang dengan raut wajah khawatir. Dean memintanya berjalan di sebelahnya. Saat berjalan bersisian, Dean mengambil pedang dari sarung di pinggang Liv.


"Hei, kamu, 'kan, masih terluka!" seru Liv terkejut.


"Yang terluka pundak kiri, aku dominan tangan kanan. Masih bisa mengayunkan pedang. Kau juga tidak akan menggunakannya!" cetus Dean.


Liv cemberut. Lelaki itu tertawa kecil melihatnya. "Mukamu jangan ditekuk begitu. Lagi pula, kau berhasil melindungiku tadi."


"Oh, yang tadi itu ... aku kenapa?" tanya Liv. Kedua tangannya diangkat ke depan wajah. Liv memandangi anggota tubuhnya itu saksama.

__ADS_1


"Itu adalah sihir ... yang membuat ibumu tiada sewaktu kau lahir," ucap Dean.


Liv tertegun. Kemudian, gadis itu bertanya, "Katamu, kalau menemukan energi sihir yang cocok, aku akan menghisapnya?"


"Benar. Semua hewan ganas di hutan ini berelemen gelap. Semuanya cocok dengan kekuatanmu," jelas Dean.


Liv mengernyitkan dahi. "Kalau memang aku bisa menghisap energi sihir, kenapa aku tetap lemah?"


"Bisa dikatakan, aura di tubuhmu belum terbuka. Aura ini seperti jalan keluar bagi energi sihir untuk berubah menjadi kekuatan. Kalau disederhanakan, kamu punya banyak sihir yang tertampung, tapi tidak bisa dikeluarkan karena jalan keluarnya terlalu sempit," terang Dean.


"Jadi, di gua terbengkalai di kota Themaris ini, ada kristal mana yang dapat membuka aura tersebut?" tanya Liv memastikan.


Dean mengangguk. "Nanti setelah auramu terbuka, kau jadi bisa mengeluarkan semua energi sihirmu yang besar itu dan jadi sangat kuat!"


Dari kejauhan, seekor serigala berlari mendekat. Dean bersiap mengacungkan pedang dengan sebelah tangan. Liv kembali ketakutan, tetapi dia tidak berusaha sembunyi di balik tubuh Dean seperti sebelumnya.


"Liv, sembunyi di belakangku!"


"Tidak, a-aku pasti bisa!" Liv membuka mulutnya, tetapi kabut hitam itu tidak menjalar keluar seperti tadi.


Serigala itu melompat ke arah Dean. Liv berteriak histeris. Sebelum sempat Dean menebas kepala makhluk itu, kabut hitam Liv menjalar keluar dan melakukan hal seperti pada beruang tadi, lalu mengisap energinya. Setelah satu menit, Liv kembali sadarkan diri.


"Wah, akhirnya kau berguna juga! Ternyata kabutmu itu keluar kalau kau ketakutan." Dean manggut-manggut.


Liv memukul dada lelaki itu. "Jangan berkata begitu!"


Dean tertawa dan berkata, "Harusnya kau senang. Itu berarti, kita bisa keluar dari sini tanpa ada seekor hewan lagi menyerang!"


"Andaikan aku bisa meminta kabut hitamku melindungi kita berdua, supaya aku tidak terus-terusan menghisap energi para hewan ganas itu!"


Beberapa detik setelah Liv mengucapkan kalimat tersebut, kabut yang sama menguar dari sekujur tubuh Liv. Kali ini, bukan hanya tubuh gadis elf itu yang diselimuti kabut hitam, melainkan tubuh Dean juga.


"Ini ...?!"


"Permohonanmu dikabulkan," ucap Dean. Dia berusaha merasakan partikel hitam yang menyelimuti tubuhnya, yang berasal dari gadis itu. Tangannya menggapai udara kosong gelap di hadapannya.


"Memang sejak awal, aku menciptakan kabut ini untuk melindungi dan menuruti perintahmu, bukan membuatmu susah."


***

__ADS_1


__ADS_2