
Kediaman keluarga Johnson
Seluruh keluarga besar Johnson sedang berkumpul di Mansionnya Mark Johnson. Mereka merayakan kabahagiaan atas kelahiran cucu laki – laki yang akan menjadi pewaris keluarga Johnson kelak. Namun tidak terhadap Nate wajah nya menampakkan kegembiraan bersama keluarga Mark tapi di hati kecilnya menyimpan kesedihan yang mendalam karena mengingat bagaimana keadaan bayi perempuannya itu. Keluarga itu merayakan kebersamaan berkumpulnya semua keluarga.
Nate mengalihkan perasaan sedihnya dengan menyibukkan diri di dapur membantu para maid. Sesekali dia kelihatan termenung.
“Nyonya apakah kamu baik – baik saja, sebaiknya anda beristirahat saja biar kami menyiapkan segala sesuatu nya untuk makan malam.” Maid
“Baiklah “ Jawab Nate sambil berlalu dari sana hendak menuju ke kamar mandi.
Nate merasa tidak enak badan banyak kejadian yang membuat dirinya sedih namun dia berusaha untuk tidak terlihat sedih.
Dari kejauhan Mark melihat Nate dan segera menghampirinya sambil berbisik
“Natalia ,, Kau masih menangis ?” tanya Mark pada isterinya
“Jaga tingkahmu jangan sampai menimbulkan kecurigaan diantara mereka semua”
“Sudahlah lupakan bayi perempuan mu itu. Ingat putra mu, putra kita sekarang yang harus kau rawat sebagai anak kandungmu sendiri.” geram Mark dengan sambil berlalu menjauh dari Nate.
“Menantu mama di sini ternyata” kata Edith ibu nya Mark yang datang sambil menggendong baby Mike
“Ada apa Mah” Nate
“Kamu tidak usah sibuk didapur, pekerjaan dapurkan sudah ada maid yah. Ayo kita keruangan baby Mike kamu harus menyusukan dia sepertinya sudah lapar” Edith menggendong baby Mike sambil mengajak Nate untuk keruangan c ucunya.
“Wah ruangan yang bagus “ Edith melihat ke seluruh ruangan khusus cucunya itu dengan takjub.
Kemudian Nate memberikan ASI pada bayi itu. Dia membaringkan dirinya di kasur yang disediakan dikamar itu untuk baby sitter Mike kecil. Edith duduk disamping mereka tak lepas pandangannya mengagumi cucu tampannya.
Kemudian dilihatnya Nate meneteskan air mata.
“Kamu kenapa kok menangis, apakah kamu tidak enak badan sayang” Edith bertanya sambil membelai rambut Nate.
“Tidak apa-apa mah hanya rasa haru dan sedikit tidak lelah” alasan yang tidak sebenarnya kenapa Nate menangis.
“Yaudah kamu istirahat saja dulu yah, mama tahu kamu masih lelah dan butuh istirahat yang banyak.”
“ Nanti kalau sudah waktunya makan akan dipanggil. Mama tinggal yah” Edith berlalu sambil menutup pintu kamar.
Setelah mertuanya pergi Nate kembali menangis sambil menyusukan bayi yang bukan anaknya.
Hati Ibu mana sih yang tidak sakit merasakan hal ini. Dia merindukan anak perempuannya. Nate sebenarnya enggan untuk menyusukan anak itu, namun dia juga memiliki naluri keibuan dan tidak tega melihat anak yang sekarang ada dihadapannya itu. Dia mengambil keputusan akhirnya untuk menyayangi anak tiri yang tidak ketahuan itu.
***
“Halo cucu nenek yang tampan dan cantik sudah pulang yah” sambutnya sambil mencium dan memeluk kedua cucunya itu.
“Grandmom ,,, granddad cup cup “ cipika cipiki mereka semua sekeluarga
“Dad ,, Mom “ demikian juga Adrian dan Hana
“Cucu nenek pasti laparkan, nenek sudah siapkan makanan kesukaan kalian “ pertanyaan neneknya di beri anggukan oleh mereka berdua dengan riang mereka bersorak senang . Maid pun segera membawa mereka menuju ruang makan.
“Mom keluarga kita bertambah satu anggota” kata anaknya hendak menjelaskan. Namun mommynya menyela “ Nak kita makan dulu yah nanti saja kita berbincang, kalian pasti sudah lelah dan laparkan.” Seru mommy nya sambil menuju ke meja makan.
“Marilah kita makan dulu” kata daddy. Hana memandang Adrian mengharapkan penjelasan, di balas Adrian dengan anggukan maksud bersabar.
Hana menyerahkan baby Rose yang sedang tidur kepada maidnya. Adrian memegang tangan isterinya menuju meja makan.
“Lahap sekali makannya, cucu kakek makan apa nih? “
“Fried chicken granddad “ cucu
“semangat makan yah cucu – cucuku” kata kakek yang di angguki Richard dan Lily
Nancy mengambilkan makanan buat suaminya meletakkan di piring yang ada dihadapan suaminya. Begitu juga dengan Hana mengambil makan buat Adrian suaminya. Mereka pun makan bersama suasana terasa hangat, tidak ada yang berbicara hanya kedengaran bunyi kecil dari peralatan makan mereka.
Diruang keluarga akhirnya mereka berkumpul baby Rose juga ada bersama di jaga oleh maid nya.
“Apa sebenarnya yang terjadi ? Mommy Nancy angkat bicara sedangkan suaminya ingin mendengarkan dulu penjelasan dari anak dan menantunya.
Setelah mendengarkan penjelasan dari mereka, akhirnya kedua orang tua Adrian menerima keputusan mereka untuk mengadopsi anak itu. Ryan dan Nancy pun menggendong Rose kecil mereka senang menerima kehadiran cucu angkat itu kini cucunya menjadi 3, Adrian adalah anak tunggal di keluarga itu.
__ADS_1
Kini semakin ramailah penghuni rumah itu. Sebenarnya Adrian memiliki apartemen sendiri, sementara ini mereka tinggal dulu dengan orang tuanya.
Malampun tiba, anak – anak sudah pada tidur, daddy dan mommy Adrian juga sudah tidur. Adrian dan Hana masih berada di kamar baby Rose menidurkan bayi itu dulu dengan di tungguin suami yang duduk disebelahnya.
“Ayo baby Rose cepat bobo’ yah, klo tidak bobo’ digigit nyamuk” gurau Adrian kepada baby Rose yang masih membuka mata sambil mengelus pipinya, Hana mencubit perut suaminya gemas
“Aduuh .. “ kok dicubit sih sayang kan aku nyanyi buat dia
“kok nyanyi nya gitu yang ada bukan bobo’ nih baby, malah ngajak main nih si daddy” Hana
“Sayang aku mau kamu ,, udah lama nih aku diabaikan“ Adrian berbisik ditelinga isterinya sensual mengakibatkan Hana merona.
“ssstt,, adek mau bobo’ daddy” Hana menirukan suara baby sambil nyengir
“Sayang mending kamu cek dulu anak-anak sudah bobo’ belum” Hana
“Baiklah “ Adrian mengecup kening Hana dan berlalu dari kamar itu.
Adrian menunggu Hana di kamar mereka sambil tiduran. Ruang di kamar itu meremang yang menyala hanya lampu dekat meja sebelah kasurnya. Setelah baby tidur ditemani maidnya Hana kembali ke kamar mereka. Dia masuk kamar melihat Adrian sudah tidur, sambil tersenyum lalu Hana menuju ke kamar mandi yang ada di kamar mereka hendak berendam tubuhnya dalam bath tube air hangat. Karena seharian ini dia merasa sangat lelah sehabis pulang dari Villa hanya sedikit istirahat.
Hana selesai dengan ritual mandinya dia kembali merasa segar lalu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi dada hingga ke paha nya sambil mengeringkan rambut berjalan menuju walk in closet.
Tidak dia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dari arah tempat tidur. Seksi sekali dia gumam Adrian.
Dengan perasaan yang berdebar Adrian berjalan menuju ruangan walk in closet memperhatikan isterinya yang sibuk memilih baju untuk dikenakan.
“Berhenti !”
Adrian mendekati Hana yang masih menggunakan handuk dia pun memeluk Hana dari belakang dengan tangan kanan melingkar di bahu dari depan dan tangan kirinya melingkar di perut meletakkan mukanya di ceruk leher sambil menutup mata menghirup aroma dari istrinya aroma bunga lily. Hana terkejut namun dia tahu siapa yang berbicara itu adalah suaminya.
Hembusan nafas Adrian terasa di lehernya membuat nya merinding. Hana merasakan debaran halus ketika kulit mereka bersentuhan.
Apalagi Adrian yang hanya mengenakan celana boxer dan Hana yang hanya mengenakan handuk, semakin mengeratkan pelukannya. Hanapun menutup matanya menikmati sentuhan demi sentuhan dari suaminya. Hana ikut menimpali pegangan tangan suami yang sedang memeluk nya itu.
“Sayang aku mau pakaian dulu” Hana
Adrian masih diam saking kecanduan wangi Hana dia masih memeluknya semakin erat dengan matanya yang terpejam.
“Tidak usah ,, kamu tidak memerlukannya saat ini sayang“ kata suaminya dengan suara serak karena sudah terangsang.
Dengan posisi Hana masih membelakangi perlahan Adrian menciumi leher Hana dengan begitu lembut, hembusan nafasnya menggoda isterinya yang mulai terangsang.
Adrian mengelus lembut kulit di bagian dada istrinya dari kiri ke kanan perlahan - perlahan dia melepaskan handuk itu sambil meraih bibir Hana dari arah belakang lalu mengecup bibir yang manis itu lembut. Handuk itu sudah terlepas tangan itu sudah menjalar entah kemana – mana mengalirkan aliran cinta yang membuat keduanya semakin berdebar – debar.
Adrian membalikkan tubuh Hana, tanpa melepaskan ciumannya, tangannya satu menahan leher istrinya dan tangan yang satu lagi memeluk pinggangnya membawa semakin erat.
Hana mengeratkan tangannya di leher suaminya seketika Adrian menggesek – gesekkan pinggulnya untuk menggoda nya. Hana tersentak merasakan kehabisan oksigennya karena ciuman yang semakin menuntut dan juga merasakan milik suaminya semakin keras.
“Sayang aku menginginkanmu malam ini” dengan suara serak Adrian memintanya, lalu menggendong istrinya dengan kaki yang melingkar di pinggang suaminya menuju kasur mereka tanpa melepaskan pagutan bibir satu sama lain. Adrian meletakkan perlahan istrinya di tempat tidur lalu melanjutkan kegiatan intim tersebut sepuas mereka.
Pagi pun datang
“Selamat pagi ratuku wanita cantikku”
Cup
Adrian menyapa istrinya. Mereka masih dalam keadaan sama – sama polos tanpa pakaian satupun yang melekat di balik selimut. Mereka dalam posisi saling berhadapan.
“selamat pagi rajaku priaku” balasnya sambil tersenyum
Hana melihat jam di meja sebelah tempat tidur, kemudian dia bangkit.
“Aku hendak melihat anak – anak dulu yah sayang, kamu mandi dulu sebentar aku akan kembali.” Hana. Adrian secepatnya menahan tangan istrinya “Aku ingin di mandikan”
Hana membeliak “Kenapa bayi besar ini ikutan manja yah”
Adrian menarik kembali istrinya dia berdiri dan menggendong istrinya ala bridel style menuju bath tube. Mereka mandi bersama kemudian mengulang lagi percintaan mereka seperti tadi malam.
Selesai mandi Hana menyiapkan pakaian yang hendak dipakai suaminya ke kantoran. Kemudian dia keluar hendak mengunjungi anak – anaknya sebentar.
Hana mengunjungi kamar Richard dan Lily “anak – anak mommy belum bangun nih “ Hana mencoel coel pipi anak nya bergantian supaya mereka bangun.
“Morning mommy” keduanya mencium pipi kiri dan kanan mommynya.
__ADS_1
“Bagaimana tidurnya kurcaci kurcaci ku ini” “apakah nyenyak? “
Sambil mengucek ngucek matanya Richard mengangguk sedangkan Lily masih menguap dan masih menutup matanya gemas
Hana berusaha menerapkan perlahan – lahan kepada kedua anaknya untuk bangun tepat waktu agar kelak mereka akan terbiasa dan disiplin.
“Owh iya bagaimana yah kabar baby Rose ? Bagaimana kalau kita bertiga kesana setuju tidak ?”
“Huaa princes Rose “ celetuk Richard langsung menyadari kalau dia memiliki adek cantiknya itu.
“Kak Icad ini plinces Lily juga lho “ menunjuk dirinya ingin diakui juga sebagai princes dan adek.
“Iya ,, kau kan sudah menjadi princes sejak lama” sayang kakak Icadnya kepada Lily sambil mengelus kepalanya.
Hana bangga memiliki anak – anak yang saling mengasihi itu.
Waktu kecilnya aja Richard sudah sayang banged sama adek nya, besarnya nanti gimana yah Hana bergumam dalam hati. Jadi penasaran gak sabar melihat mereka tumbuh membesar menjadi dewasa seperti apa.
“Morning cucu – cucuku” Sapa kakek dan nenek mereka dari lantai bawah
“Morning granddad morning grandmom” balas Richard dan Lily namun mereka tidak melihat wajah kakek dan nenek yang menyapanya.
Secepatnya Richard dan Lly berlari menuju ke kamar adik baru nya untuk menyapa. Kakek dan nenek yang melihat mereka antusias geleng – geleng kepala merasa senang karena cucu – cucunya bahagia.
“Apakah mereka sesemangat itu mempunyai adik perempuan ?” tanya Nancy kepada Ryan
“Kamu merasa diabaikan kah? “celetuk suaminya itu menahan tawa
“Apakah kamu tidak merasa demikian, biasanya mereka menyapa kita awal pagi” kata istrinya tak mau kalah. Hana meminta maaf atas kelakuan anak – anaknya kepada kedua mertuanya. Namun mereka tidak mempermasalahkan nya karena mereka sangat sayang kepada cucu nya itu.
Baby Rose sudah bangun dan sudah dimandikan maid, Hana dan anaknya bermain – main bersama dengan baby Rose yang di gendong maid, mereka turun kebawah bersama maid masing masing bertemu kakek dan neneknya hendak sarapan bersama.
Tiba – tiba Richard dan Lily menghampiri kakek nenek
“I am sorry granddad ,, Iam sorry grandmom” memeluk mereka, kakek nenek itu mengernyitkan dahi nya.
“Sori for what “ bahasa gaul kakeknya sambil senyum.
“Kalian tidak ada salah sayangku “ kakek nenek itu menjawab seraya mencium kening mereka masing – masing.
“Tadi kami tidak menjawab kakek dan nenek dengan benar” Kakek dan nenek itu tersentuh atas permintaan maaf dari cucunya.
“Kemarilah” titah kakek sambil memeluk kedua cucunya.
Tadi Hana memang sempat memberikan wejangan kepada kedua anaknya supaya tidak seperti itu lagi. Menyuruh mereka juga meminta maaf.
Hana kembali ke kamar mendapatkan suaminya yang sudah memakai seragam dan dia membantu mengikatkan dasi di krah pakaian kerja yang di pakai suaminya.
“Sudah ganteng, wangi lagi “ puji Hana spontan pada suaminya yang membuat sumringah.
“Apakah aku tidak usah pergi kerja sayang ?” Adrian
“Ehhh “ bingung Hana
“Kau menyuruhku libur ? “ Adrian
“Owh tidak bukan be.. “
Adrian memagut bibir Hana yang tidak jadi melanjutkan bicaranya. Puas Adrian mencium bibir istrinya “manis sekali ,, sarapan pagi ini manis sekali “ goda Adrian lalu mencium kening istrinya lagi kemudian mereka keluar dari kamar hendak sarapan bersama.
Suasana di bawah pagi – pagi itu sangat ramai karena suara anak – anak.
“morning daddy “ seperti biasanya anak anak mencium pipi daddy nya
“Morning too my prince and princes jawabnya dan kamu juga bayi kecil “ kata Adrian sambil mengelus lembut pipi bayi itu sambil mencium bibirnya gemas.
“Anak daddy yang imut tumbuh kembang dengan baik yah, jaga mommy mu dan jadi anak patuh, oke.” Seolah mengerti kata daddy nya Rose menarikan tangan dan kaki nya sambil ketawa riang. Kemudian menuju meja makan untuk sarapan. Selesai sarapan Adrian dan Papanya berangkat ke kantor bersamaan diantar supir pribadi mereka masing – masing.
Nancy mencoba untuk dekat dengan baby Rose ditemani para maid mereka ada di ruangan bermain bersama cucunya yang lain.
“grandmom apakah kau bisa menggambar sesuatu untuk ku ?” tanya Lily kepada nenek yang lagi menggendong baby Rose. Sepertinya Lily merasa cemburu akhir – akhir ini semua perhatian dikeluarganya tertuju pada adek kecilnya itu.
Nancy menyerahkan baby Rose kepada maid, Hana sedang menemani Richard melukis juga. Mereka pun menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1