Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
1. Liontin dan darah


__ADS_3

Savilla tinggal bersama paman dan bibinya. Dia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Dikarenekan mereka sudah pergi ke alam lain saat savilla bahkan masih belum bisa mengingat wajah mereka.


Tahun ini, ia menduduki bangku kelas 10. Dan yang lebih spesial lagi besok adalah hari ulang tahunnya. Savilla tidak pernah mengadakan ulang tahun sebelumnya. bahkan Paman dan bibinya, mungkin saja tidak pernah mengingat hari ulangtahunnya. Bagaimanapun juga, dia selalu diam-diam membuat harapan setiap hari ulang tahunnya bersama dengan kucing peliharaanya sebagai saksi.


Paman dan bibinya bukanlah orang yang jahat, bahkan menurut tetangga mereka adalah orang yang sangat baik dan religius. Tapi bagi Savilla hal itu juga tidak benar. Mereka tidaklah baik dan tidak juga jahat. seperti saat mereka memperlakukan Savilla, tidak baik dan tidak jahat.


Seringnya, mereka hanya mengabaikan Savilla. entah apapun yang gadis itu lakukan. hanya saja, jika Savilla melakukan sesuatu yang ada di 'daftar aneh' milik paman dan bibinya, mereka akan langsung memarahinya. Membanding-bandingkannya dengan anak kandung mereka, terkadang saat sedang marah bibinya mengatakan sesuatu mengenai ibunya Savilla. Hanya saja, jika itu terjadi dia langsung menghentikan marahnya dan memalingkan muka dari wajah Savilla yang penuh ekspresi bingung dan penasaran.


Savilla tidak pernah tahu mengenai ayah dan ibunya. tidak ada foto orangtuanya yang terpasang dirumah mereka, hanya ada foto ibu dan pamannya sewaktu kecil, itupun wajah ibunya telah dicoret-coret menggunakan sesuatu. selain saat sedang marah, Paman dan Bibinya tidak pernah berbicara tentang sang ibu, apalagi ayahnya. hal ini malah semakin membuat Savilla merindukan mereka berdua.


Savila mulai fokus berjalan ke kelasnya. Dikarenakan ia masih baru dan gendung sekolah yang begitu besar, Savilla kadang sering salah masuk kelas. Itu adalah pengalaman yang memalukan untuk diulangi, tapi dalam waktu 2 bulan ini dia sudah melakukannya 3 kali.


Savilla sampai didepan sebuah pintu yang sudah terbuka, sebelum masuk dia mengecek dulu papan yang berada diatas pintu. Disana tertulis 'Kelas X-mipa 1'


Setelah yakin itu adalah kelasnya Savilla memasuki ruang kelas itu. Masih belum banyak siswa yang berangkat, Savilla hanya melihat 6 tas di kelas itu, 7 jika ditambah dirinya. Tapi orang yang berada dikelas hanya 3 orang gadis yang sedang bergerombol dan berbisik.


Savilla berjalan melewati mereka. Dan menaruh tas di bangkunya sendiri. Paling belakang dan di dekat jendela, tempat kesukaan para siswa SMA berhasil savilla menangkan di hari pertamanya sekolah.


"Hai Sav," salah satu dari para gadis yang sedang bergerombol itu menyapa Savilla.


Savilla dengan santai menyapa balik, "Hai Rav."


Ravena adalah satu-satunya teman Smp Savilla di kelas ini. Tapi mereka tidak begitu akrab saat di Smp. Entahlah, hanya saja Savilla merasa tidak terlalu menyukainya. Mungkin karena kepribadian mereka yang bertolak belakang. Tapi ada sesuatu di diri Ravena yang membuat Savilla tidak betah.


Savilla mengganti posisi duduknya beberapa kali, dia merasa bosan dan jenuh. Berangkat pagi memang ide buruk. Dia biasanya tidak berangkat sepagi ini.


Karena tidak tahan, Savilla memutuskan untuk keluar mencari angin. Mungkin taman belakang sekolah adalah tempat baguna untuk menongkrong sebentar.


****

__ADS_1


Savilla menarik napasnya dalam saat sudah sampai di taman belakang, aroma embun pagi yang menyejukan segera memenuhi udara.


Dia duduk di bangku taman dan memandangi bunga-bunga yang ada disana. Bunga-bunga itu terlihat cantik tapi..,


Savilla memalingkan kepalanya, dia tidak pernah menyukai bunga. Entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman setiap kali ia melihat bunga, apalagi jenis yang cantik. Terkadang rasa tidak sukanya muncul tanpa alasan, seperti saat ia tidak menyukai Ravens meskipun mereka tidak pernah terlibat konflik apapun.


"Tapi itu normal. Membenci dan dibenci.., adalah hal yang wajar." Gumam Sevilla, mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia rasakan ini tidaklah aneh. Savilla menatap keatas langit yang sedang bersinar terang, tapi juga agak mendung, "Bahkan tuhanpun.., pernah membenci dan dibenci."


Savilla menggelengkan kepalanya. Tidak, apa yang kupikirkan. Pikiran seperti itu terlalu rumit untuk seorang gadis sma sepertinya, seharusnya ia memikirkan sesuatu yang lebih wajar lainnya. Mengambil contoh yang lebih sederhana, contohnya, boyband dan girlband korea.


Savilla lahir di keluarga yang religius, setidaknya keluarga tempat ia dibesarkan sangat ketat mengenai agama. Sifat religius itu menurun pada Savilla, tentu saja. Tapi terkadang, ada saat dimana ia tidak bisa menoleransi semua kepercayaan ini. Ada saat dimana ia ingin menertawakan tuhan.


"Hm," Savilla menutup matanya.


Seminggu sekali ia memang akan memikirkan hal-hal seperti ini. Bisa dibilang Savilla termasuk golongan orang-orang beriman kuat. Tapi iman saja rasanya tidak cukup untuk membuatnya menyingkirkan pikiran pesimis ini. Atau mungkin selama ini.., Imannya tidak sekuat itu?


Dia menggeleng kepalanya sekali lagi.


Disaat itu, Savilla tiba-tiba melihat seekor kucing di depannya. Merasa tertarik ia membopong kucing itu ke pangkuannya. Kucing itu memiliki bulu berwarna hitam dan mata biru. Perpaduan yang lumayan bagus manurut Savilla.


Dia jadi teringat akan kucing peliharaannya. Prince. Kucing yang Savilla sendiri tidak tahu asal-usulnya, kucing itu sudah ada sejak ia masih kecil, mungkin sebelum ia lahir.


"Hey, hey. Apa kau tersesat?"


Kucing itu, tentu saja tidak menjawab melainkan melihat sekeliling dengan kebingungan.


"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau pendatang baru disekolah ini?" Untungnya, taman belakang bukanlah tempat yang digemari oleh para siswa. Karena banyak sekali rumor menyeramkan yang beredar mengensi spot ini. Tapi kalau saja ada yang melihat Savilla, bisa ditebak apa yang mereka pikirkan.


"Kau tidak usah takut," Savilla mengelus bulu kucing itu. Untuk mengurangi rasa takut si kucing.

__ADS_1


"Meong," kali ini kucing itu menjawab tetapi dengan bahasanya sendiri.


Lama Savilla mengelus kucing itu, si kucing juga terlihat menikmatinya.


Tapi tiba-tiba, seolah kaget, kucing itu meloncat menuju wajah Savilla. Savilla yang kaget tidak sempat bereaksi. Sebelum ia sadar apa yang terjadi, sebuah rasa sakit dan perih terasa di lehernya.


Kucing itu langsung berlari cepat seolah-olah dikejar sesuatu.


Sementara Savilla yang masih agak kaget hanya diam membatu, tetapi ketika merasakan sesuatu mengalir dari lehernya ia segera mengusapnya. Merah.


"Ah, sial."


Bukan darah di lehernya yang membuat Savilla berkata sial. Melainkan kalung peraknya yang tiba-tiba terjatuh ke tanah. Savilla mengambilnya.


'sepertinya rantainya putus,' batin Savilla, 'apakah cakaran kucing sekuat ini?'


Kucing dirumahnya tidak pernah mencakarnya bahkan ketika Savilla berbuat jahat pada kucing itu. dan dia juga tidak sering melakukan interaksi dengan kucing liar. jadi Savilla baru kali ini merasakan rasanya di akar kucing.


Savilla memandang kalung itu baik-baik, kalung ini sudah ada bersamanya sejak kecil, katanya kalung ini adalah pemberian orangtuanya.



Kalung itu memiliki bandul yang aneh. Savilla tidak tahu apa maksud dari bandul itu. Kalung pemberian orangtua biasanya memiliki bandul yang sederhana seperti bentu hati atau semacamnya, kan?. Tapi kalung ini berbentuk dasar segitiga. Tapi selama  bukan pentagram, Savilla boleh memakainya. Lagipula kalau tidak bolehpun ia akan tetap memakainya. Kalung ini mungkin adalah benda terakhir yang orangtuanya berikan kepada Savilla.


'Bagus, sekarang kalungku malah rusak. berlumuran darah pula.'


Savilla mengepalkan telapak tangannya dan menggenggam kalung itu erat. Lalu ia memasukannya kedalam kantung bajunya.


Mungkin aku bisa membetulkannya, akan kucoba nanti dirumah.

__ADS_1


*******


__ADS_2