Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Bahaya yang mendekat (2)


__ADS_3

"Nek, rumah nenek masih jauh, ya?"


Savilla tidak tahu sudah berapa lama dia berjalan bersama si nenek itu. Bukannya nenek itu minta diantar olehnya? Tapi kenapa sejak tadi malah si nenek yang menarik tangannya?


Hari sudah mulai menggelap, dan lagi semakin lama mereka berjalan tempat yang mereka lalui semakin sepi. Bahkan Sekarang, sudah sepuluh menit dia melalui jalan ini dan tidak menemukan satupun penduduk, bahkan rumahpun tidak ada. Malahan, sekarang mereka seperti berada di tengah hutan.


"Nek?" Savilla memanggil wanita didepannya sekali lagi. Sebenarnya dia takut mengajak nenek itu bicara, tapi jika mereka diam terus, bagaimana kalau nenek itu kerasukan, yang lebih parah lagi, bagaimana kalau dirinya yang kerasukan dan nenek itu meninggalkannya begitu saja?


"Ya?" Nenek itu menjawab panggilan Savilla, Savilla hampir meloncat saking kagetnya, karena penerangan yang sedikit, muka nenek itu terlihat jauh lebih menyeramkan, "Nenek yakin rumah nenek disini, kok. sedikit lagi, sedikit lagi," Nenek itu terus menjawab sedikit lagi setiap kali Savilla bertanya seberapa jauh lagi mereka akan berjalan. Kali ini Savilla sungguh merasa tidak nyaman. Dia harus segera menemukan cara untuk lepas dari nenek itu.


"Ah, kita sampai!"


Jadi nenek itu tidak berbohong tadi?


Savilla baru saja akan merasa lega, tapi dia membatalkan perasaannya, didepannya terdapat sebuah rumah, daripada rumah itu malah lebih mirip seperti gubuk, yang sepertinya sudah ditinggalkan puluhan tahun lamanya.


"Ayo, masuk dulu, kamu pasti lelah mengantarkan nenek daritadi."


Savilla memang merasa lelah, tapi melihat gubuk itu yang seperti tempat syuting film horror membuat Savilla enggan memasukinya.


"E-eh, tidak usah, nek. ini sudah gelap aku--"


Lagi-lagi nenek itu tidak mau mendengarkannya. dia memotong ucapan Savilla begitu saja dan menarik tangannya, "Ayo masuk, jangan sungkan."


Savilla menangis dalam hati, untuk pertama kalinya dia merindukan paman dan bibinya.


***


"Apa? Kalian tidak berhasil menangkap gadis itu? Gadis itu tidak melewati rute yang aku prediksikan?" Bryan tidak tahu harus merasa lega atau heran.


"Baiklah. pokoknya kalau kalian menemukannyapun. Jangan mengejarnya, aku yakin dia memiliki semacam penjaga."


"Iblis yang memiliki penjaga? Aku tidak pernah mendengarnya." Bryan meringis. dia harus menjelaskan hal ini ke mereka. Tapi untuk sekarang dia hanya meminta maaf dan menutup telepon.

__ADS_1


Padahal, 3 hari ini, sejak dia merasakan aura setengah iblis di tubuh Savilla dia terus mengawasi gadis itu. Kebetulan, mereka berada di sekolah yang sama. Tapi Bryan tidak menyadari keberadaan Savilla sama sekali sampai 3 hari yang lalu. Savilla hanya mempunyai 2 rute untuk pulang. Dia tidak pernah melewati jalan lain. Tapi Celix baru saja memberitahunya bahwa Savilla tidak melalui kedua rute itu. Padahal Bryan sampai memberi mereka alat pendeteksi khusus.


Fyuh, mungkin harus dicoba lain kali


***


saat memasuki rumah itu, Savilla dibuat takjub. Rumah itu benar-benar terlihat seperti rumah-rumah di film horror. Tapi bagaimana mungkin gubuk sekecil itu memiliki ruang sebesar ini?


"Silahkan duduk," Nenek itu menuntun Savilla menuju kursi. Savilla melihat banyak sekali potret wanita cantik di dinding. Saking banyaknya, Savilla sampai merasa tembok itu memiliki mata yang terus mengikutinya.


"Itu adalah foto-fotoku waktu masih muda."


'Tidak mungkin!' Savilla berucap dalam hati.


Sulit membayangkan nenek itu waktu masih muda dengan wajah seperti di foto-foto tadi, tapi rasanya mustahil. Lagipula, di foto-foto tadi, orang-orangnya berbeda.


Tiba-tiba Savilla membeku, jangan-jangan foto-foto tadi adalah foto dari para korban nenek ini. Nenek ini mungkin pembunuh perantai atau pengikut sekte sesat. Di film-film alurnya selalu begitu, kan?


Nenek itu pergi dari ruang tamu dan menuju ke ruangan yang sepertinya dapur. Dia langsung kembali lagi dalam waktu singkat dan meletakan secangkir teh didepan Savilla.


Savilla menengok ke cangkir dengan air berwarna merah gelap itu.


*Glek* Savilla menelan salivanya sendiri, 'Apa itu darah?'


"Kenapa tidak diminum?"


"Eng," Savilla bingung harus mengatakan apa.


Tapi sebelum Savilla menjawab, Untungnya, nenek itu berdiri dari kursi dan berkata, "Sepertinya kita kedatangan tamu."


Savilla menatap cangkir didepannya, dia merasa haus. Savilla mengangkat cangkir itu dan mengendusnya, tidak bau darah. Dia mencoba mencicipinya, rasanya lumayan enak. Yakun bahwa minuman itu baik-baik saja, Savilla meminumnya.


Setelah selesai, dia meletakan lagi cangkir itu diatas meja. Dia mendengar suara kaki si nenek yang mulai mendekat.

__ADS_1


Savilla menjerit melihat apa yang dibawa nenek itu.


**


Out of Story


Nenek: *Pergi keluar untuk menemui tamu lalu kembali lagi*


Savilla: *Melihat nenek yang sudah kembali* "Siapa, nek?"


Nenek: "Itu, tim dari acara beda rumah. nenek sudah menolaknya berkali-kali tapi mereka selalu datang lagi."


Savilla: "Beda rumah?"


****


Out of Story 2


Savilla: "Btw, nek. teh yang nenek sajikun itu teh apa?"


Nenek: "Itu darah haid nenek."


Savilla: *panik tapi enggak percaya*"Eh, emangnya nenek masih haid, ya?"


Nenek: "Darah haid nenek yang udah nenek kumpulin dari waktu pertama kali haid."


Savilla: "Tapi gak bau darah, tuh..."


Nenek: "Nenek campurin pakai minyak wangi, jadi aroma darahnya hilang."


Savilla: O_o "Bisa gitu, ya?"


Savilla: "Eh, tunggu--!!" *Keburu mati*

__ADS_1


__ADS_2