Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Suara


__ADS_3

"Tidak ada siapapun disini." Sheera berucap setelah meneliti semak-semak disekitaran mereka. "Mungkin tadi hanya perasaan kalian saja?"


"Itu tidak mungkin. Kau meragukan pendengaranku?" Drian memprotes.


Sheera terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berbalik kearah teman-temannya, "Entahlah, Mungkin itu halusinasimu."


Savilla bernafas lega. Dia berusaha menenangkan dirinya. Dengan perlahan dia menjauhi tempat itu. Sangat perlahan-lahan agar tidak mengeluarkan sedikit suarapun.


Satu langkah


Dua langkah


Tiga langkah


Savilla mulai agak mempercepat langkahnya meskipun masih pelan.


"Penyusup?" Suara seorang lelaki tiba-tiba berbisik disampinya. Membuat Savilla melonjak kaget, matanya melotot lebar dan dia memekik.


"Danius, tidak lucu. Kami kan mau bermain petak umpet dengannya dulu!" Salah seorang lelaki menghampiri mereka.


"Tunggu, aku--" Ucapan Savilla terpotong.


"Kalian ingin memberinya kesempatan untuk kabur?"


"Eh, dia hanya iblis tersesat yang sedang mencari portal, kan?"


"Bagaimana kau--"


"Lebih berhati-hatilah, Lihat ini, " Danius menarik kerah baju yang menutupi leher Savilla. Membuatnya reflek menutup lehernya dengan tangan dan mundur menjauh dari dua orang itu.


"Bukankah itu--" Sheera tiba-tiba muncul didepan Savilla, matanya memelototi bagian leher yang masih Savilla tutup i dengan tangan. Dan dia memiliki 3 mata di kepalanya. "Tanda dari lucifer!"

__ADS_1


Savilla langsung shock melihat 5 mata lainnya muncul di kepala gadis itu. Bahkan beberapa ditangannya.


"Ah, maaf, aku terlalu bersemangat sampai beberapa mataku jadi terbuka." Gadis itu nyengir lebar sambil menggaruk-garuk kepala.


""Eh, itu artinya dia iblis bawahannya Lucifer?!" Drian berlari ke arah mereka tapi seseatu membuatnya tersandung, dia berguling ke samping membuatnya dalam posisi berbaring, "Gawat, dong!"


"Yang gawat itu adalah dirimu!" Seorang wanita menginjak perut Drian membuat si orang, atau mungkin si iblis, mengaduh. "Kau bisa berteloportasi gunakanlah akalmu!"


"Ow, ow, ow, ow, Veera sakit tau!"


"Tunggu, apa saja yang tadi kau dengar?" Ash menatap Savilla mengintimidasi, "Kau tidak mendengar tentang rencana pemberontakan ku pada Helios Lucifer, kan? Itu bercanda tahu, bercanda!" Ash menyangkal dengan panik.


"Menyedihkan." Zagan menggelengkan kepalanya pada sikap Ash yang sekarang mulai berlutut pada Savilla.


"Tunggu dulu, kalian salah paham," Savilla berusaha menjelaskan.


"Jadi, apa yabg membawamu kesini? Apa yang mulia Lucifer yang mengirimu? Atau anaknya yang menggang- maksudku terhormat yang menyuruhmu memata-matai kami?" Zagan menanyai Savilla.


"Tidak tahu? Aku bisa mempercayai 2 lainnya tapi yang ketiga jelas-jelas bohong."


"Benarkan, Chanx? Gadis ini sedang berusaha membohongi kita!" Drian yang sejak tadi masih berbaring segera bangun sambil menunjuk-nunjuk Savilla.


"Tapi aku sungguh tidak tahu."


"Well, karena dia tahu pembicaraan kita kenapa tidak bunuh dia sekarang?" Chanx tersenyum lebar.


"Haruskah?" Sheeran merasa ragu.


"Dia kan hanya iblis bawahan. Kita tinggal menyuapnya saja."


"Kau kira dia sepertimu?"

__ADS_1


"Apa maksudmu dengan 'sepertiku'?" Merasa tersindir. Sheeran protes.


"Omong-omong aku rasa kita harus membunuhnya. Bagaimanapun juga dia tahu kita menyebarkan fitnah tentang anaknya yang mulia Lucifer. Itu bisa menjadi sebuah tindakan pemberontakan."


Drian mengangkat bahunya, "Itu tidak perlu. Mari tanyai dia dulu apa dia sependapat dengan kita, kalau dia bilang 'ya' kita memasukannya dalam tim, kalau dia bilang 'tidak' kita bunuh!"


"Wah, ide yang brilian dan simpel. Aku menyukainya!" Chax memuji Drian dengan datar. Tapi yang dipuji tetap merasa senang.


"Omong-omong dimana yabg lainnya? Kita hanya berenam? Tidak mengajak saudara kalian?" Danius yang baru saja datang bertanya pada yang lainnya.


"Entahlah. Bagaima denganmu sendiri. Apa Darius tidak kesini?" Vier bertanya


"Tadi dia jatuh tertidur dalam perjalanan, jadi aku meninggal kannya."


"Oh begitu."


"Oy, kau iblis yang disana--"


"Ya?" Semua yang ada disana kecuali Ash menyahut.


"Aku tidak memaksudkan kalian," Ash berdecak kesal. "Maksudku adalah si gadis ini-----…..Dimana gafis itu?!"


"Dia kabur?!"


"Jangan-jangan dia sedang menuju istananya Lucifer?!"


"Gawat! Kita semua akan dipenggal oleh yang mulia Lucifer karena ghibah an kita!"


"Tidak! Iblis rendahan sepertinya tidak akan bisa berteloportasi! Dia harusnya masih di sekitar sini!"


"Cari dan bunuh dia!"

__ADS_1


__ADS_2