Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Terdeteksi


__ADS_3

"Aku pulang."


Saat memasuki rumah, yang Savilla lihat hanyalah ruang tamu yang kosong.


Aku lupa, mereka sedang tidak ada dirumah hari ini.


Savilla meletakan tasnya dengan asal diatas kursi, seperti biasanya, dia langsung menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Rasanya sudah agak mendingan sekarang. Savilla tidak merasa diikuti lagi, jadi apalah berada di ruang tertutup dapat melindunginya?


****


Di kamar dia langsung disambut oleh prince, si kucing yang sudah menemaninya sedari ia bayi.


Dirumah ini satu-satunya yang bisa Savilla percaya adalah kucingnya itu. Bahkan teman Savilla tidak ada yang bisa mengalahkan kucingnya dalam hal kepercayaan. maklum saja, Savilla memang hanya mempunyai sedikit teman dan itupun tidak ada yang benar-benar dekat.


Prince juga hanya bersikap jinak kepada Savilla saja. kucing berbulu putih itu sering memberikan tatapan galak dan kadang tidak patuh pada paman dan bibinya.


Savilla lansung mengangkat prince yang sedang berbaring santai diranjang, menciuminya dan memeluknya, lalu menurunkannya kembali.


Dia berjalan kelemari untuk berganti pakaian. melepaskan seragamnya dan melempernya ke arah Prince, sehingga menutupi kucing itu sepenuhnya. Prince diam saja tidak memprotes dengan cara mengeong atau apapun.


Selesai berganti pakaian Savilla mengambil seragamnya yang menutupi Prince dan menggantungkannya di tempat gantungan baju.


Setelah itu, Savilla menidurkan dirinya di kasur, meletakan Prince diatas perutnya lalu mengelus bulu Prince yang menurutnya sangat halus. Savilla tidak tahu prince adalah kucing jenis apa. Dia memiliki bulu yang lebat dan halus, seperti jenis anggora atau persia. Tapi menurut Savilla, Prince jauh lebih indah daripada kucing anggora ataupun persia.


"Aku merasa sangat aneh hari ini, Prince..," Seperti biasa, Savilla mencurahkan isi hatinya pada Prince.


"Meong?" Seolah mengerti Savilla, Prince segera menjawab sambil menjilati cakarnya dengan elegan.


Karena sering berkomunikasi dengan prince, Savilla agak mengerti apa yang kucing itu maksud, meski tidak bisa menerjemahkan secara akurat. Tapi dia tahu, Prince meminta kejelasan ceritanya.


"Saat sekolah tadi, bahkan sampai aku pulang sekolah dan memasuki rumah ini.., aku merasa diawasi," Savilla menjeda ucapannya sesaat, memperhatikan ekspresi prince yang terlihat seperti panik, dia menghentikan gerakan menjilat cakarnya begitu saja. Savilla terkekeh pelan melihatnya, "Oh, dan apa kau tahu? seekor kucing nakal mencakar leherku. Lihatlah."


"Meong? Meong!" Prince terus mengatakan 'meong' dengan cepat. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, jadi Savilla tidak tahu apa yang dimaksudkan kucing itu.


"Apa kau ingin melihatnya?" Savilla mendongakan kepalanya, menunjukan lehernya yang diplester.


Prince dengan hati-hati memeriksa leher Savilla, dengan kaki depannya dia menyentuh kapas yang berada dileher Savilla. Dia berhati-hati agar cakarnya tidak mengenai leher Savilla.


Savilla tertawa kecil saat bulu-bulu halus Prince mengenai lehernya.

__ADS_1


Seolah teringat sesuatu, Prince meloncat dari atas perut Savilla, menuju Sisi ranjang yang kosong.


"Ada apa, Prince?" Berhasil mendapatkan perhatian sang majikan, Prince segera mengeong dan dengan kakinya ia menunjuk-nunjuk lehernya sendiri.


"Kau mencari kalungku?" Prince selalu ketakutan setiap kali Savilla menunjukan kalung itu kepadanya, jadi setiap kali di dekat Prince, dia memakai kalung itu dengan bagian bandulnya dimasukan kedalam baju. Savilla lumayan kaget saat Prince mencari kalung itu.


Savilla mengeluarkan kalung patah yang dia masukan kedalam saku bajunya tadi, Prince mengeluarkan ekspresi yang aneh ketika melihat kalung yang terputus itu. seolah dia sedang..,shock.


Savilla tertawa melihat ekapresi Prince. Bagi Savilla, Prince adalah kucing terpintar dan terekspresif yang pernah Savilla temui. Prince selalu mengikuti kemanapun Savilla pergi, kecuali beberapa tempat tertentu, seperti kamar mandi, sekolah, dan kecuali saat Savilla mengajaknya mencuri ikan di dapur waktu Savilla kecil. Prince tidak bergerak sedikitpun dari ranjang saat iru, padahal Savilla sudah menariknya. Jadi Savilla mencuri ikan sendirian. Tapi saat kembali, Prince juga yang memakan habis ikan itu. Dia sempat marah pada Prince yang mencuri ikan hasil curiannya itu. Mengabaikan kucing itu selam 3 hari, tapi Prince yang tidak mengerti apapun tentang perasaan manusia terus mengikuti Savilla seperti biasa.


Tawa Savilla bertambah kencang mengingat hal itu. Dia mengangkat Prince yang masih terlihat shock dan menciumi kucing itu. "Ah, P**rince kau benar-benar sangat imut!"


****


Sementara itu, Seorang wanita sibuk berlari di sebuah koridor rumah, tanpa peduli jika ia menabrak sesuatu apapun. Dia terlihat sangat tergesa, seolah dikejar sesuatu, padahal dibelakangnya tak ada apapun hanya ada beberapa perabotan dan ruang kosong.


"Boss!!" Teriaknya keras sambil mendobrak sebuah pintu.


Saat pintu terbuka terlihat sebuah ruangan yang cukup luas dan gelap, tapi matanya yang terbiasa dengan keadaan gelap dapat mengetahui bahwa bosnya ada disana duduk berhadapan dengan seorang lelaki lainnya dan yang memisahkan mereka hanyalah meja yang diatasnya terdapat papan catur. Tapi Wanita itu tidak bisa mengetahui siapa yang sedang dalam ujung kekalahan di permainan itu.


"Huh, Vale, dimana sopan santunmu?" Pria yang duduk dihadapan si bos berkata dengan tatapan galak Ke arah Vale


"Apa-apaan itu?!" Si senior berteriak, menangkap sedikit kelancangan di nada bicara Vale.


"Cukup," Akhirnya si bos berbicara, "Katakan Vale, apanya yang darurat?"


Vale segera menjawab ketika ditanya oleh bosnya, "Aku mendeteksi keberadaan sesosok iblis di area 11, Bos!!" Vale berteriak dengan antusias.


"Kalau hanya satu iblis mengapa kau menyebut ini darurat, aku tahu kau masih baru, tapi bukankah kami sudah mengajarkan padamu bagaimana cara 'mengusir' mereka,"


Si senior menceramahi, sebagai seorang 'Exorcist' seharusnya tidak sulit untuk mengusir satu iblis, meskipun masih pemula, kecuali iblis yang ditemui benar-benar kuat. "Kalau kau merasa kesulitan, seharusnya kau meminta pada anggota seniormu. Tidak harus langsung ke bos, kan?"


Vale adalah anggota baru di kelompok mereka, kelompok yang dibuat untuk orang-orang yang memiliki 'kespesialan', yang biasanya disebut 'cenayang'. Dia anggota yang cukup merepotkan, tidak mau diajak bekerjasama dan tidak mau mendengarkan perkataan anggota lain. Dia hanya mau mendengarkan kata-kata dari 'bos'. Seolah dia adalah anjing peliharaan milik si bos. Meskipun banyak anggota yang tidak menyukai, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa dia memiliki kemampuan yang hebat sejak lahir. Bahkan diantara orang-orang spesial itu, ia masih bisa dianggap lebih mengerikan.


Tapi tetap saja sikap kekanakannya adalah kelemahan Vale yang juga bisa membahayakan organisasi.


Vale mencebik saat si senior menceramahinya seperti itu. Dia paling tidak suka saat orang lain, selain bos, memberi komentar atas aksinya.


Tapi si bos juga tidak menanggapi. Apa yang dikatakan si senior tidak sepenuhnya salah. Memanggilnya hanya untuk satu iblis, itu sedikit berlebihan.

__ADS_1


"Tapi!" Vale berusaha membenarkan dirinya, untungnya dia sungguh punya alasan untuk melibatkan bosnya dalam masalah ini. "Bos, aku rasa iblis itu mempunyai hubungan dengan salah satu dari 7 iblis yang mempunyai kerajaan di neraka itu, umm, apa namanya," Vale berbicara terbata-bata dan agak kebingunagn dengan kata-katanya sendiri. Tapi si bos dan senior yang sudah tahu dan mengerti apa yang dikatakan Vale, muka mereka tiba-tiba memucat dalam kegelapan, "Ah, itu dia! 7 dosa besar!"


Benar apa yang si bos dan senior takutkan.


"Aku merasakan aura salah satu dati mereka!" Vale menambahkan


Si bos, meskipun terkejut dan khawatir berbicara dengan tenang, "Bagaimana bisa? Bukankah seminggu yang lalu kita menetap sementara di wilayah itu dan wilayah itu aman-aman saja? Dan kelompok Dextria juga ke wilayah itu tidak lama ini, mereka bilang wilayah itu bersih."


Kelompok Dextria adalah kelompok perkumpulan cenayang lainnya. Dextria dan Astropy (nama dari kelompok ini) lumayan dekat dan sering bertukar informasi.


"Aku tidak tahu bos. Mungkin, mungkin saja seseorang dari wilayah itu telah memanggil iblis atau mungkin malah telah membuat perjanjian dengan iblis."


"Itu sulit dipastikan. Iblis dengan kekuatan hebat atau rangking tinggi memiliki harga diri yang besar untuk sekedar membuat perjanjian dengan manusia. Lagipula, selama ini Area 11 aman-aman saja, yang aku tahu di daerah itu banyak orang religiusnya. Meskipun mungkin ada satu dua orang berhati busuk, tapi akan susah untuk menerobos masuk tempat yang memiliki banyak perlindungan. Meskipun, kurasa jika iblisnya memang kuat, akan berbeda cerita." Kali ini si senior yang berbicara.


Ruangan itu terhening tanpa suara untuk sesaat. Vale baru saja akan memberikan pendapatnya, tetapi suara bos terlebih dahulu muncul.


"Kau pergilah Vale. Aku akan membicarakan masalah ini hanya dengan Rian."


Vale merasa kecewa karena dia diusir, padahal dia yang memberi informasi. Tapi karena ini perintah dari bosnya, Vale segera membalikan badan.


"Sebelum itu...,"


Vale segera membalikan badan lagi atas panggilan dari bosnya, mungkin bosnya berubah pikiran dan memutuskan untuk mengajaknya ikut 'mengobrol'.


"Apa kau  memberitahukan ini pada orang lain?"


Vale agak sedikit kecewa tapi segera menjawab, "Tidak. Aku segera berlari kesini saat mendeteksi iblis itu."


"Bagus, jangan beritahukan pada siapapun."


"Baiklah, bos."


"Sekarang pergilah."


"Baik." Vale kali ini benar-benar keluar dari ruangan.


Saat di ruangan hanya ada si senior Rian dan si bos. Si bos berkata, "Dimana letak area 11?"


"Disekitaran kota jakarta. Aku akan memberikanmu informasi lengkapnya nanti."

__ADS_1


Si bos hanya mengangguk mendengar jawaban Rian.


__ADS_2