Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Rencana (2)


__ADS_3

"Tidak." Savilla mengerjapkan mata. Sial! Padahal dia berhasil tidak gagap tapi suaranya malah bergetar.


"Hm, baguslah. Sungguh sayang jika iblis rendahan sepertimu berpikir hal yang aneh-aneh." Veera berucap ketus.


Mereka semua menatap ke arah Savilla. Savilla memegangi jemarinya. Kucing berbulu putih itu mengusapkan dirinya dikaki Savilla.


"Nah, ayo kita mulai saja." Danius memecah keheningan dan teman-temannya mengangguk.


"Tunggu dulu!" Savilla berteriak lantang, meski suaranya bergetar, "Kalian tidak bisa membunuhku!"


Semua iblis disana terdiam.


"Tapi, kami…"


"Jangan memotong ucapanku!"


"Kau yang memotong ucapanku!" Drian berargumen dengan Savilla.


"Kau duluan yang melakukannya! Pokoknya, jika kalian membunuhku, Lucifer akan marah besar!" Savilla menatap kebawah. Tidak berani menatap satupun dari mereka yang mulai mengeluarkan wujud iblis masing-masing.


"Berani sekali kau memamanggil yang mulia Luci hanya dengan namanya saja!" Chanx berteriak marah.


"Chanx! Kau memanggil gelarnya tapi kau memanggil setengah namanya bukankah itu tidak ada bedanya!" Ash memperingatkan panik.


"Ups!" Chanx menutup mulutnya dengan santai.


"Skandal, skandal," Zagan mendecakan lidah. Sambil menggelengkan kepala.


"Karena kami membunuh salah satu pelayan rendahannya?" Sheera bertanya heran, dia menelengkan kepala lalu menggeleng-gelengkannya, "Nah, no way no way!"

__ADS_1


"No way?" Drian membeo bingung.


"Itu bahasa yang kuambil dari dunia manusia! Keren, kan!" Sheera terkikik senang.


"Hey, iblis rendahan. Lupakan saja ancamanmu itu. Orang seperti yang mulia Lucifer tidak akan peduli pada iblis biasa sepertimu. Dia bahkan tidak akan peduli jika Pangeran Adriel mati." Zagan tersenyum miring.


Savilla terdiam, "Maksudku! Jika aku mati saat ditugaskan untuk berpatroli di daerah ini tuan Lucifer akan curiga! Dia pasti akan menyelidikinya dan jika ketahuan kalian akan tertangkap! Aku hanya tidak sengaja mendengar kalian. kita bisa negosiasi dan melupakan ini!"


"Tidak lucu. Kenapa Savilla-ku menjadi berani seperti ini?" Zagan merengut, "Apa kau kerasukan Leon?"


"Jangan memnaggil nama iblis menjijikan itu," Ash berucap sambil menatap Zagan Horror.


Drian memegangi dagunya, "Ini aneh, ajudan yang mulia Lucifer menawarkan negosiasi pada sesuatu yang mencurigakan dan berpotensi membahayakan Garis keturunannya. Tidak pernah menyaksikan ini sebelumnya."


Savilla menggigit bibirnya diam-diam. Apakah dia salah memilih kata-kata, "Lagian, tidakah kalian berpikir hal ini akan melukai harga diri tuan Lucifer jika salah satu utusannya mati?!"


Semua orang disana terlihat shock.


"Dan itu pasti akan membuatnya mengamuk, kan…?"


"Tunggu dulu, apa ini sebuah ancaman?" Veera menyilangkan tangan di dada.


Savilla mencoba meniru senyuman penjahat yang sering yang lihat di film-film, "Menurutmu?"


"Senyuman yang menjijikan! Aku serius, belilah sebuah cermin saat kau kembali ke kota Pride nanti!" Zagan berkomentar.


Savilla langsung menghilangkan senyumnya dan menggantinya dengan wajah datar.


"Ancamanmu tidak lucu," Veera berucap ketus.

__ADS_1


"Karena ini ancaman bukan lelucon!"


"Apa bedanya ancaman dengan lelucon?" Ash bertanya kebingungan.


"Iya. Apa bedanya?" Darius ikut bertanya.


"Tunggu, tunggu, apa ini sebuah lelucon?" Zagan terdengar bersemangat.


"Oh, oh! Aku tahu! Aku tahu!" Sheera mengangkat tangannya tinggi.


"Apa?!" Drian bertanya semangat.


"Lelucon bisa membuat targetmu ikut tertawa…, dan ancaman….membuat takut!" Semua orang disana terdiam, "Tapi keduanya sama-sama membuatmu gemetar!"


Zagan, Drian, Ash, dan bahkan Sheera sendiri langsung tertawa terbahak-bahak.


Chanx, Danius, dan Veera menatap 4 orang itu kesal.


"Tapi itu tidak lucu!" Savilla berucap. Khawatir pada 4 orang yang sedang tertawa itu.


"Aku akan menghajar mereka saat kita pulang nanti." Chanx berucap yakin.


"Tolong maafkan sikap mereka yang seperti manusia," Veera mengernyitkan dahinya, "--Tidak, tunggu--Kami tidak butuh memohon maaf pada iblis rendahan sepertimu."


"Berhenti memanggilku rendahan!" Savilla merasa kesal, "Jadi?"


"Jadi apa?" Danius bertanya dengan nada datar.


"Jika kami tidak memanggil mu rendahan lalu apa?" Drian bertanya masih setengah tertawa.

__ADS_1


"Simpan masalah itu untuk nanti, Ian!" Veera menendangnya. Membuat Drian jatuh terjengkang. Sheera, Zagan, dan Ash, kembali tertawa kencang.


"Bagaimana dengan negosiasi kita? Kalian melepasku dan aku tidak akan mengadukan masalah ini. Setuju?"


__ADS_2