Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
ketemu!


__ADS_3

"Oh, tuhan!" Savilla menghela napasnya. Dia berusaha mengumpulkan tenaga setelah berlari kencang. Dia harap mereka masih sibuk dengan pertengkaran kecil mereka tentang… dirinya. "Mereka bilang mereka akan membunuhku karena tidak sengaja mendengarkan mereka!" Savilla menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dan kembali berlari dia harus menemukan Nathan sebelum para iblis itu menemukannya terlebih dahulu.


"Nathan!" Savilla berteriak memanggil lelaki berambut putih didepan yang sedang berputar-putar kebingungan. Dia langsung menutup mulutnya, menyadari teriakannya tadi bisa saja didengar oleh anak-anak aneh itu.


"Apa kau sudah menemukan portalnya? Tidak usah terburu-buru kita pasti akan pulang, kok." Nathan menepuk-nepuk bahu Savilla yang terbatuk-batuk karena berlari.


"Ugh, mereka akan menemukanku!"


"Apa? Tidak, tenang saja. Portalnya yidak akan menemukanmu, kau yang menemukan portalnya. Maksudku, tentu hebat jika portalnya yang menghampiri dan mencari kita bukan kebalikannya."


"Para iblis-iblis itu!" Savilla memotong ocehan Nathan dengan kesal.


Nathan menatapnya bingung. "Ya?"


"Tadi aku bertemu dengan sekumpulan iblis, lalu mereka saling berbincang aneh, aku menguping Dan ketahuan, lalu mereka mengira aku penyusup dan ingin membunuhku, Begitulah!" Savilla menjelaskan sesingkat mungkin.


"Sungguh? Dan kau kabur dari mereka?" Nathan bertanya agak tidak yakin.


Savilla mengangguk-anggukan kepala, mengiyakan.


"Cukup hebat mengingat banyak iblis bisa melakukan teleportasi dan memiliki indra yang bagus," Nathan menggedikan bahunya, dia terlihat tidak rela memuji Savilla.

__ADS_1


"Well, aku berlari tak tentu arah jadi kurasa mereka juga kebingungan."


"Ya, mungkin karena mereka sejenis denganmu jadi kau agak susah dideteksi."


Savilla cemberut mendengar fakta aneh yang diucapkan Nathan. Dia masih belum bisa menerima dirinya sebagai iblis.


"Ya.., tapi kita sebaiknya bersembunyi. Apa para iblis itu setingkatan penjaga?"


Savilla menggedikan bahu, "Entahlah," Jawabnya, dia sendiri tidak tahu mengenai tingkatan para iblis, "Oh, tapi tadi mereka bicara tentang rapat pangeran dan putri mahkota dan sebagainya.. dan Lucifer!"


Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Oh, jangan bilang padaku mereka…"


"Mereka apa?" Savilla penasaran karena lelaki didepannya menggantung ucapannya dan tubuhnya lansung membeku seolah sedang kaget.


"Ketemu!"


Saat asap itu mereda, orang yang ada di depan Savilla bukanlah penyihir, melainkan salah satu dari iblis-iblis aneh yang Savilla temui tadi, dia sendiri tidak ingat orang ini yang bernama siapa.


Savilla melonjak kaget karena wajah orang itu sangat dekat denganya dengan senyuman lebar yang mengerikan.


"Hey, kenapa lari dari kami? Kami kan tidak bermaksud jahat, hanya ingin membungkam mulut manismu itu!"

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum dan mengedipkan salah satu matanya pada Savilla.


"Hey, teman-teman dia ada disini loh!" Lelaki itu berteriak, Savilla memelototinya, lalu sadar bahwa sehsrusnya dialah yang takut.


"Oh sial, mereka semua pasti jauh dari sini!" Lelaki itu menggelengkan kepalanya, "Dasar iblis-iblis bodoh…," Dia memfokuskan pandangannya pada Savilla, "Jadi bagaimana kalau kita mengobrol sebentar? Namaku Zagan Asmodeus, kau?"


Savilla menggeleng-gelengkan kepalanya, Senyum Zagan langsung berubah menjadi cemberut begitu melihatnya.


"Kau tidak perlu setakut itu."


"Bagaimana aku tidak takut?! Kalian itu kan iblis!" Savilla agak setengah berteriak.


Zagan menelengkan kepalanya, "apa kah kau tidak pernah melihat benda ajaib bernama cermin?" Wajah Zagan tiba-tiba saja tetlihat senang, "Oh, kau harus melihatnya! Aku selalu melihatnya setiap saat! Benda itu bisa menampilkan ketampanan dan kecantikan setiap orang, kau pasti akan menyukainya! Tapi hanya jika kau merasa cantik saja…"


"…….."


"Apa?"


"Omong-omong apa kau melihat temanku? Dia berambut putih dan mata kuning emas."


Zagan celingak-celinguk disekitarnya, "Oh, apa maksudmu berbulu putih? Haha, kau punya selera yang aneh untuk seorang teman."

__ADS_1


Savilla melihat ke arah yang ditunjuk Zagan dan matanya melotot lebar.


"Aku lebih suka menyebutnya makanan," Zagan tersenyum lebar, "Well, aku bukan Drian, tapi… kurasa hari ini kita akan punya dua makanan."


__ADS_2