Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Dunia iblis


__ADS_3

Bryan terus berusaha menghindari bola sihir yang dikirim lelaki itu. Meskipun usahanya sia-sia.


Tapi tiba-tiba saja lelaki itu berhenti menyerangnya. Bryan melihat ke arahnya dan melihat wajahnya yang tiba-tiba menegang. Bryan menyeringai senang. Sialnya, lelaki itu menyadari seringaiannya dan melayangkan satu lagi serangan ke arahnya. Bryan berhasil menghindar.


"Heh? Serangannya meleset?" Senyuman bryan semakin melebar.


"Hentikan seringaian bodohmu itu. Mataku sakit." Lelaki itu menatapnya tajam dan berbicara dengan datar.


"Kau masih punya waktu untuk berbasa-basi, ya?"


***


"Tolong, jaga dia untukku…"


Savilla membuka matanya. Dia bersumpah dia mendengar suara seorang perempuan tepat sebelum terbangun. Apa itu bagian dari mimpinya?


Savilla memandangi sekelilingnya. Diatasnya terdapat pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Savilla mengelus-ngelus alas tidurnya yang terasa seperti tanah dengan beberapa rumput liar.


"kau bangun?" Sebuah suara terdengar dari balik pepohonan.


Savilla menyiagakan dirinya, "Siapa?!"


"Jangan takut. Ini aku," Sesosok lelaki beramput putih dan mata emas muncul dihadapannya.


"Siapa?" Savilla bertanya lagi, kali ini lebih lembut. Karena lelaki ini terlihat mengenalnya, meskipun Savilla tidsk tahu siapa lelaki itu.


"Aku orang yang menolongmu semalam. Namaku Nathan."


"Oh. Sungguhkah? Terimakasih kalau begitu. Aku Savilla." Savilla segera berdiri dengan bantuan dari nathan, "Omong-omong kita dimana?"


"Ini perbatasan ke-2 dari dunia iblis. Aku mencoba mencari portal untuk kembali ke dunia manusia. Tapi ini sulit. Beruntungnya aku berhasil mengejarmu, sebelum lelaki itu membawamu lebih jauh."


Nathan menatap wajah Savilla yang kebingungan, "Sudahlah kujelaskan pun kau tak akan mengerti."


"T-tunggu, Kenapa kau bisa ikut ada disini dan apa yang kau lakukan padaku selagia aku tidak sadarkan diri?" Savilla menatap lelaki itu curiga.


"Hanya kebetulan saja kita bertemu disini. Dan sudah kubilang aku hanya mencari portal sejak tadi."


"Portal?"

__ADS_1


"Kau tahu? Yang untuk transportasi antardunia itu loh. Aku sedang mencarinya agar kita bisa kembali ke dunia manusia…"


"Jadi… maksudmu… kita sungguh berada di dunia iblis?" Savilla berucap dengan ragu, berharap mendengar 'tidak'.


"Tentu saja. Sampai kapan kau ingin menyangkalnya?"


"Menyangkal apa?"


"Bahwa kau adalah iblis."


"Aku ini manusia!"


"Well, setengahnya."


"Huh?"


"Setengah manusia dan setengah iblis..., Setidaknya begitulah dari auramu."


Savilla menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Dia ingin berargumen lagi tapi lelaki ini tidak tampak sedang membohonginya atau apapun. "Dan kau ini apa? Bagaimana kau bisa tahu tentangku?"


"Err, aku… penyihir?"


"Eh, yah begitulah. Hanya saja aku bukan jenis penyihir yang terikat dengan mantra," Nathan menggedikan bahunya. "Hey, ayo kita cari portalnya bersama-sama. Pasti akan lebih cepat ketemu kalau sama-sama."


"Portal yang kau maksud ini… bentuknya seperti apa?"


Nathan mengelus-elus dagunya, "Biar kuingat…um, Ah, bentuknya seperti lift di dunia manusia! Tapi aku rasa untuk di neraka, agak menyeramkan sedikit."


"Aku akan mencari disana dan kau ke arah sana!" Nathan memberikan perintah.


Savilla akhirnya menurut saja agar dia bisa cepat kembali ke dunia manusia.


"Oh iya," Nathan memanggil membuat Savilla berbalik kebelakang, "Jika kau melihat hewan atau tumbuhan atau suara yang aneh, jangab pedulikan. Fokus saja mencari portalnya."


"Eh, tunggu, memangnya ada apa?" Savilla agak merasa merinding dengan peribgatan itu. Tapi Nathan sudah terlanjur berjalan menjauh, tidak mengindahkan nada panik dalam suaranya.


"Tentunya disini tidak ada hal berbahaya, kan?" Savilla bergumam berusaha meyakinkan diri sambil berjalan dengan cepat, lalu ingat bahwa ini adalah dunia para iblis, "Bagaimana kalau aku bertemu hantu?"


"Hihihi!"

__ADS_1


Tubuh Savilla menegang, tapi dia menggelengkan kepalanya, "Fokus pada portal, fokus pada portal…"


"Hahaha!"


"Ya tuhan! Tolong aku!" Savilla berbisik panik.


"Berhenti tertawa! Memangnya kalian tidak kesal padanya?!"


Savilla tercengang mendengar bahasa yang dia pahami, meskipun dia ragu apakah mendengar bahasa itu, tapi anehnya dia memahaminya.


"Mau bagaimana lagi, kan? Dia adalah putra dari yang mulia, jika yang mulia meninggal suatu hari nanti, dia yang akan memimpin neraka, jadi wajar jika sikapnya sesombong itu."


"Tapi kita, kan juga anak raja!"


Savilla akhirnya memutuskan untuk mendekato suara itu. Padahal dia disuruh tidak memedulikannya.


"Ckck. Apa kau masih belum mengerti, level kerajaan kita berbeda dengannya."


"Cih!"


"Lagipula dia 6700 tahun lebih tua dari kita dan dia dilahirkan dan besar di dunia atas. Aku rasa dia tidak akan mau menghabiskan waktu bermain-main dengan kita."


"Dia jugatidak mau mengikuti rapat para pangeran dan putri mahkota!"


"Dia sudah sibuk mendapat undangan dan rapat dengan para raja."


"Bocah yang beruntung! Aku akan memberontak padanya jika dia jadi raja!"


"Husssttt, Ash jaga bicaramu!"


"Hey, apa Kalian mendengar suara detak jantung? Aku terus merasakannya sejak tadi"


"Tidak. Pendengaran kami tidak setajam kau Drian."


"Aku juga merasakan atmosfer disini berbeda. Seperti ada yang sedang bernafas sejak tadi."


Savilla langsung menahan napasnya, jangan-jangan dia ketahuan. Dia segera celingak-celinguk mencari tempat bersembunnyi.


"Aku akan mengecek,"

__ADS_1


Salah satu dari mereka berjalan lurus ke arah Savilla.


__ADS_2