Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Sesuatu tentang kucing itu (2)


__ADS_3

Saat sampai dikamar. Savilla langsung melemperkan tubuhnya ke kasur dan menatap Prince yang sudah tidur di kursi yang ada di pojokan kamar.


'Bibi tidak pernah protes akan kehadiran Prince. Padahal dia terlihat seperti tipe orang yang membenci binatang. Bahkan jika aku mengajak Prince makan bersama di meja makan pun, bibi tidak protes, asal Prince tidak mengganggu acara makan yang lainnya.'


"Sepertinya, bibi lebih sayang kepadamu daripada aku," Savilla berucap sebelum akhirnya tertidur lelap. Dia membiarkan lampunya menyala, karena dia agak takut dengan kegelapan.


****


Keesokan harinya, karena sedang hari libur, jadi Savilla hanya bersantai di rumah seharian sambil bermain game.


Prince menghampirinya, "Meong."


"Kamu lapar, ya?" Savilla bertanya, dia meletakan hpnya di nakas, dan menggendong Prince, "Sama, aku juga. Tapi sejak tadi pagi. Aku tidak melihat keberadaan paman dan bibi. Aku hanya melihat mereka keluar membawa mobil. Tapi tidak mengatakan apapun padaku. Mungkin mereka kabur dari rumah karena kesal padaku, haha." Savilla tertawa senang, tapi dalam hati ia berkata, 'Enggak mungkin juga, sih, mereka kan anak kecil. Lagian kalau kesal, mungkin mereka akan mengusirku bukannya kabur. ini, kan rumah mereka.'


"Meong," Orince mengeong dengan muka datar.


"Gimana, ya? Aku juga lapar nih. dari pagi belum sarapan sampai sekarang," Savilla mengerucutkan bibirnya, Prince berwajah kusam. "Aku juga enggak bisa masak."


Savilla menengok ke arah jam di mejanya yang menunjukan angka 16.00. 'Aku akan mati kalau terus menunggu dua orang itu pulang.'


"Prince, ayo." Savilla berdiri dengan penuh tekad diwajahnya, "Kita akan berburu penjual nasi."


.

__ADS_1


.


.


.


Savilla menatap kosong pada kertas catatan dan 2 lembar uang 10 ribuan yang dipegangnya.


"Mereka bilang mereka akan pergi selama 3 hari, tapi hanya memberiku uang segini?" Savilla berujar kesal. "Beli apa, ya? Mie instan? Tapi Prince gak bakalan suka sama mie isntan kan? Dia kan kucing."


Savilla menatap Prince yang masih santai duduk di depan televisi sambil menonton film kartun tikus dan kucing kesukaannya.


Savilla menghela napas, "Aku pergi sendirian aja, deh."


Dia meninggalkan Prince diam-diam dan mengunci pintu rumahnya. 'Yah.., semoga kucing itu tidak panik kalau tahu aku menguncinya di dalam rumah sendirian.'


***


"Tapi nanti disekolah aku jajan apa, ya? Uangku tinggal sedikit. Apa bawa bekal saja?"


'Bekal mie instant....' Savilla menangis deras dalam hati.dia mengharapkan paman dan bibinya tidak benar-benar lama meninggalkan rumah. Meskipun kalau mereka ada di rumah Savilla tetap merasa terbebani juga.


"Hey~" Sebuah suara samar-samar menggelitik pendengaran Savilla. Dia dengan penasaran menengok ke arah suara itu. Dan melihat sebuah gang sempit gelap terbentang di depan. Savilla menampakan wajah datar, dia sudah sering menonton film horror untuk mengerti bahwa dia tidak perlu mencari tahu lebih dalam lagi tentang suara itu.

__ADS_1


Savilla berniat melanjutkan langkahnya lagi, tapi sebelum dapat melangkah satu langkahpun suara itu kembali terdengar. "Gadis manis, kemarilah..."


Savilla tidak dapat menggerakan tubuhnya. Suara itu seolah ada untuk menariknya mendekat.


Pada akhirnya dia menyerah dan mengikuti suara itu, masuk ke gang sempit gelap yang entah ada apa di dalamnya itu.


***


Sementara itu, Prince yang acara televisinya sudah selesai mulai bosan dan akan jatuh tertidur sebelum dia menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang di rumah itu. Dia menatap ke arah pintu yang terkunci dengan panik. "Meong?!"


***


Out of story


Savilla: Kamu lapar ya?


Prince: meong


Savilla: Sama aku juga. Tapi hari ini kita makan apa, ya? Uangku sedikit nih :(


Prince: meong


Savilla: Aku udah beli mie sih. Tapi nanti disekolah gimana dong? masa aku harus minta-minta ke teman? aku kan gak punya teman :(

__ADS_1


Prince:.....


Prince: (Nih majikan gue kenapa si. perasaan di chapter ini dia ngomong sendiri mulu deh.)


__ADS_2