Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Penyelamat


__ADS_3

"Ouch!" Savilla memegangi lehernya yang terasa sangat perih--meski bagian tubuh lainnya juga perih, tapi tidak se dashyat lehernya--


Apa yang mereka lakukan padaku?


Sebelum, pertanyaan itu terjawab. 2 orang tadi mulai menyerang ke arah Savilla. Savilla hampir saja menangis. Karena bingung, takut, dan marah bercampur jadi satu. Tapi dia sadar, sekarang bukan saatnya untuk menjadi dramatis. Pertama-tama, dia harus bertahan hidup terlebih dahulu. Setelah itu, mungkin ia bisa menangis sepuasnya.


Savilla mencuri kesempatan saat Rose dan Celix mulai meluncur ke arahnya. Dia berusaha berlari menerobos 2 orang itu. Tidak disangka usahanya berhasil. Tapi di depan, ada Bryan yang siap menghadangnya.


"Sebenarnya apa mau kalian?!" Savilla berteriak frustasi pada Bryan. Dia menengok kebelakang. Dan terlihat Rose dan Celix yang berlari membawa senjata mereka masing-masing.


Savilla sekali lagi mencoba bertaruh dan berlari kencang. Dia berhasil menipu Bryan dan melewatinya. Savilla berlari sekencang mungkin. Tapi entah mengapa. Seberapa lama pun ia berlari, jalan keluar tak kunjung ia jumpai.


Savilla merasa agak takut. Padahal tadi tidak terasa begitu lama untuk sampai kesini. Kenapa sekarang jalannya seolah bertambah panjang?


"Ya tuhan, tolong aku…" Savilla memohon dalam hatinya.


Ironis. Padahal tadi mereka bilang bahwa dirinya adalah iblis. Jika hal itu benar, apa tuhan masih mau mengabulkan permohonannya?

__ADS_1


Tak disangka. Seolah mengabulkan permintaan Savilla, dia segera melihat dan mendengar suasana kota yang ada di ujung gang itu.


Savilla menarik napas ngos-ngosan ketika akhirnya berhasil menemukan jalan raya.


"Jangan kira kau bisa lari dariku…"


Savilla bisa mendengar suara Bryan yang mengejar di belakangnya. Dia tidak tahu seberapa dekat jaraknya dengan Bryan sekarang. Tapi Savilla tidak berani mengurangi kecepatan larinya sedikitpun bahkan hanya untuk sekedar berteriak meminta tolong.


Savilla mulai merasakan kakinya berdenyut nyeri.


'Bertahanlah,' Ujarnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri, 'Sebentar lagi aku akan sampai rumah,'


Savilla teris berlari. Dia masih bisa mendengar suara langkah kaki yang tidak seiringan dengan miliknya semakin terdengar jelas.


Lalu disaat gawat seperri ini, dia menyadari sesuatu yang lebih gawat lagi, 'Sialan aku salah jalan!'


Tapi Savilla terus berusaha berlari. Meskipun dia tidak mengenali jalan di lingkungan ini. Dia mengambil jalan ke gang-gang sempit diantara rumah warga.

__ADS_1


Sampai akhirnya langkahnya terhenti karena terhalang tembok besar. 'Cih. Seperti sebuah adegan dalam film saja'


"Kemana kau akan lari, sekarang?" Lelaki itu tersenyum miring. Seolah menyadari kegundahan Savilla.


"Rose dan Celix masih belum datang. Tapi kurasa aku sendiri bisa menahanmu disini."


"Jujur saja, aku sungguh tidak tahu kalian ini siapa dan apa yanh kalian inginkan dariku…"


Bryan memiringkan kepalanya, "Bukankah sudah jelas…?"


Savilla mengeretkan alisnya, dengan marah dia berteriak, "Apanya yang sudah jelas?! Yang jelas di mataku sekarang ini adalah kalian sedang mengincarku tanpa alasan! Dan ingin menyingkirkanku tanpa memberi penjelasan sama sekali."


"Kau ini kan iblis…" Bryan mengatakannya seolah itu adalah sesuatu yang biasa bagi dirinya maupun Savilla, "Masa kau sungguh tidak tahu tentang hal ini?"


"Aku ini manusia!" Savilla berusaha mengelak.


Seingat dirinya, dia tidak pernah menunjukan tanda-tanda bahwa dirinya adalah iblis. Kecuali kenakalan yang sering ia laakukan pada bibinya dan umpatan yang sering bibinya katakan bahwa dia adalah iblis saat bibinya sedang marah.

__ADS_1


Tapi Savilla tidak pernah menganggap hal itu serius. Dia juga tidak pernah memiliki kekuatan aneh atau apapun. Lagipula dia agak tidak percaya dengan keberadaan iblis dan sejenisnya.


"Kau…. itu sudah cukup kan?" Suara seorang lelaki bergema diantara mereka. Itu tidak terdengar seperti suaranya Bryan.


__ADS_2