
"meong?"
Savilla melihat Prince yang memerhatikannya dengan lekat. Dia seolah ingin tahu apa yang Savilla pikirkan.
"Halo, prince. selamat pagi, kau sudah bangun, ya? kau sepertinya bangun lebih cepat dariku." Savilla mengulurkan kedua tangannya.
Prince yang mengerti langsung meloncat ke pangkuan Savilla. Savilla mengelus bulu Prince yang lembut.
"Jangan khawatir, aku hanya mengalami mimpi buruk akhir-akhir ini."
"Meong?"
Savilla tadinya akan menceritakan mimpinya pada si kucing. tapi jam waker di pinggir ranjangnya tiba-tiba berbunyi. Savilla menurunkan lagi kucingnya dan segera pergi menuju kamar mandi.
'Padahal aku sedang tidak mood sekolah.'
Selesai mandi, Rose memakai baju seragamnya. Dia menatap ke kucingnya yang sedang tiduran dengan santai sambil menonton televisi yang berada di dalam kamarnya.
Savilla mengambil remote dan mematikan televisinya, membuat si kucing mengeong tidak senang.
"Prince, aku pergi dulu, ya," Savilla mengusap bulu Prince, "Kali ini jangan mengikutiku."
__ADS_1
Kemarin, Savilla memergoki Prince yang mengikutinya ke sekolah. Dia tidak tahu apa yang kucing itu inginkan dengan mengikutinya.
Setelah itu, Savilla menyiapkan peralatannya yang lain dan berpamitan dengan paman dan bibinya.
***
"Inikah tempatnya?" Rose, seorang Exorcist berpengalaman yang dikirim oleh 'boss'-nya memandang jalanan berlalu lalang dari dalam sebuah mobil yang diparkirkan di tempat sepi. "Ini yang namanya kota jakarta?"
"Berhenti mengoceh, kita tidak punya banyak waktu." Celix, yang merupakan partner Rose, menggerutu. Mereka sudah menjadi partner sejak pertama kali memasuki organisasi. Dan selalu menjalankan misi bersama. Tapi tidak sekalipun mereka menyatukan pendapat, bahkan dalam sitiasi darurat, mereka sering berdebat.
"Tapi kota ini terlihat indah. Lihatlah mereka, dengan santai berjalan kesana-kemari, tanpa mengetahui bahaya yang menghampiri."
"Bukankah misi sebelumnya kacau gara-gara kau. Kenapa kau menyalahkanku sekarang?" Rose tersenyum mengejek, membuat amarah Celix memuncak. Tapi dia mengingatkan dirinya sendiri ada yang lebih penting disana.
"Sebaiknya kita cepat bergegas menuju area 11."
Rose berubah ke mode seriusnya, "Dimana itu?"
"Seharusnya, disekitar sini ada kompleks perumahan. Vale bilang itu area 11. Ada kemunculan iblis yang ber-frekuensi disana akhir-akhir ini."
"Vale? Bisakah kita mempercayai bocah itu?"
__ADS_1
"Tidak ada pilihan lain. Dia yang pertama mendeteksi keberadaan iblis itu." Lelaki itu menjawab, dan Rose membalasnya dengan decihan kasar.
Celix menatap Rose tajam, Rose segera mengangkat kedua tangannya, "Baiklah, baiklah. Aku menurut saja, deh."
"Oh, omong-omong, sebelum kita berangkat. Iblis seperti apa yang akan kita hadapi?"
Celix terdiam sesaat, "Entahlah, Tapi Rian berkata Vale mendeteksi keberadaan salah satu dari iblis pemilik 7 dosa besar."
Rose mengerutkan dahinya, "mengapa salah satu dariĀ mereka ada disini?"
"Entahlah, mungkin seseorang memanggil mereka. Atau mungkin mereka menemukan mangsa yang menyenangkan disini."
"Celix, tunggu dulu. Kita tidak mungkin melenyapkan mereka secara langsung, kan? Apa yang akan kita lakukan nanti?"
Celix menunjukan dagunya ke jok belakang yang dipenuhi oleh tas berisi peralatan mereka, "Kita hanya perlu menyucikan siapapun yang mereka rasuki, atau menahan siapapun yang memanggil mereka. Dan memberi jimat di sekitar area itu."
"Cih, apa-apaan ini. Itulah sebabnya dia mengirimkan kita, bukan anggota yang lebih hebat," Nada suara Rose sangat jelas menunjukan ketidak sukaan, "Bagaimana kalau kita mati dalam misi ini?"
"Hahaha, pikirkan itu untuk nanti Rose!" Dengan itu Celix segera mengemudikan mobilnya, meninggalkan tempat sepi itu.
***
__ADS_1