
"Dengar, Rose, Celix, dia tidak menjalin kontrak dengan iblis." Rose dan Celix sama-sama menatap Bryan terkejut dan bingung, berpikir mereka telah menangkap target yang salah, merupakan sebuah pelanggaran jika sampai gadis dihadapan mereka hanya manusia biasa dan mereka mengancamnya seperti ini, ketua mereka yang sialan pasti tidak akan tinggal diam. Bryan mengukir seringaian, membuat Savilla menghilangkan senyumannya dan menatap lelaki didepannya bingung, "Dialah iblisnya…"
Kata-kata itu diucapkan seperti biasa. Tanpa imbuhan atau efek dramatis apapun. Tapi imbasnya luar biasa pada 3 orang yang mendengarnya. Terutama Savilla. Dia secara reflels melangkah mundur, dan dengan panik berkata, "Apa yang kau maksud?! Aku ini manusia!"
Rose dan Celix langsung berubah waspada, meskipun apa yang dikatakan Bryan serasa tidak masuk di akal. "Bryan? Kau yakin dengan kata-katamu? Sejauh yang kami lihat, dia hanya gadis manusia biasa."
"Kalau kalian tidak percaya cobalah gunakan air suci padanya. Itu tidak akan berbahaya bagi manusia, kan? Tapi iblis tentunya tidak tahan dengan air itu. Dan kalian bisa mengecek lehernya. Ada tanda disana. Tapi itu bukan tanda kontrak antara iblis dan manusia biasa. Dia telah melakukan kontrak antar sesama iblis!"
Savilla tertawa mendengar penjelasan Bryan. 'Yang benar saja? Apa sekarang aku sedang bicara dengan orang gila?'
"Hey, aku sungguh tidak mengerti apa yang kalian katakan. Apa ini april mop? kenapa kalian melakukan ini padaku?"
Rose dan Celix saling memandang. Tidak tahu siapa yang harus mereka dukung.
"Celix," Rose berbisik, "Kurasa apa yang dikatakan lelaki itu ada benarnya. Kita bisa mencoba menggunakan air suci padanya."
__ADS_1
"Apa sungguh tidak masalah? Kau tahu seberapa perfeksionis-nya si bos kita itu, kan?"
"Sedikit air suci tidak akan melukai, kan? Ini kan hanya untuk mengecek. Kalau dia sungguh iblis seperti apa yang anak itu katakan, bahayanya jauh lebih besar."
Setelah selesai saling berbisik mereka saling memandang satu sama lain dan mengangguk.
Savilla menjadi tegang melihat 2 orang itu menatap lekat kearahnya.
"Maaf, nak. Kami harus melakukan ini. Ini tidak akan sakit kok." Si lelaki berbicara. Dan tepat setelah ia selesai bicara si wanita berlari kearahnya dengan cepat.
Dalam hitungan detik, wanita itu sudah ada didepannya, dan menyiramkan sebuah botol yang terisi air bening ke seluruh tubuhnya.
Sialan, bahkan di hari libur yang tanpa paman dan bibinya pun, hidupnya masih saja tidak jauh dari kata gila dan menyebalkan.
Awalnya, Air itu terasa biasa saja di kulit Savilla, sampai beberapa menit kemudian dia merasakan sensasi panas dan seolah kulitnya dikelupasi.
__ADS_1
"Akh! Apa ini?!" Savilla memeluki dirinya sendiri sambil meringis kesakitan.
Rose dan Celix langsung berubah waspada setelah melihat reaksi Savilla.
"Apa kubilang, kan? Dia itu iblis!" Savilla mendengar pemuda aneh tadi berbicara dengan semangat.
"Celix, kita harus memusnahkannya."
"Baiklah, Rose."
Memusnahkan..? Sialan! Apa yang mereka bicarakan?
Savilla sambil berusaha menahan sakitnya, melirik ke arah Rose dan Cellix. Cellix mengeluarkan sebilah pedang dan nelumurinya dengan air dari botol yang terlihat sama dengan tadi. Sedangkan Rose mengeluarkan pistol khusus miliknya.
Sialan! Apa mereka sungguh gila?
__ADS_1
Savilla haris mencari cara dan kesempatan untuk keluar dari sini.
Tiba-tiba, Savilla dapat merasakan lehernya terasa sangat perih. Dia mengintip dari pinggiran matanya dan melihat darah keluar dari sana.