Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
dalam perjalanan


__ADS_3

Savila dan lainnya sekarang sedang berjalan di tengah hutan. Sabilla menggending kucing putih itu erat di lengannya.


"Kita beruntung karena Perbatasan ini dekat dengan kerajaanku. Disana banyak penginapan. Kita bisa istirahat sebentar." Danius berucap dengan raut senang di wajahnya.


Veera menggeleng, "Hanya kau yang merasa beruntung disini. Sejujurnya, kurasa istirahat hanya akan membuang waktu. Kita itu iblis yang hanya beristirahat setiap beberapa abad sekali. Kenapa kalian para Balphegor suka sekali merendahkan diri ke tingkat manusia."


"Wow, Kak Veera bicara lanjang lebar. Meski masih dalam bahasa yang kasar ayo kita rayakan!"


"Drian jangan membuatku marah! Dan jangan menari seperti seorang idiot!" Veera menendang bokong Drian. Membuat Drian mengaduh kesakitan.


"Dibelakang sepatumu ada durinya! Kenapa kau melakukan itu padaku?!" Ucap Drian dengan wajah kasihan.


"Ah, Darius pasti sedang menikmati istirahatnya di salah satu penginapan sekarang--atau mungkin di tengah jalan--- kenapa aku harus disini bersama orang-orang ribut seperti kalian?"


"Yang ribut itu Drian!" Veera bersikeras.


"Kalian, hentikan.." Chanx berusaha menghentikan pertengkaran antara 3 orang itu, "Jangan terpancing oleh kebodohannya Drian."


"Oh, siapa nama dari kucingmu ini?!" Savilla kaget tiba-tiba diberi pertanyaan oleh Sheera yang tiba-tiba melompat didepannya.


"Um.., Prince?" Dia asal menjawab. Mungkin setengah kepikiran oleh Prince.

__ADS_1


Savilla menatap lagi kucing yang digendongnya, yang dia duga adalah Nathan. Kenapa kucing ini mirip dengan Prince? Warna bulu dan matanya? Serta berat dari kucing ini terasa sama.


"Prince? Pangeran?" Sheera mengerjapkan kepalanya.


"bahasa apa itu?" Ash bertanya heran, "Kenapa kau mengerti banyak bahasa sekali," Ucapnya kesal.


"Ah, Savillaku mempunyai selera yang rendah. Iblis rendah yang memiliki selera rendah. Aku tahu kucing itu terlihat indah. Tap apa kau se kesepian ini sampai menganggap hewan itu pangeranmu?" Zagan berucap melankonis. Dia mendekatkan tubuhnya dengan Savilla. Tapi Savilla menjauhkan lagi jarak mereka.


"Tidak. Ini hanya nama, kok. Aku yidak bermaksud apa-apa," Savilla meringis.


"Tapi aku dari dulu ingin punya kucing!" Sheera mengembungkan pipi, "Maksudku bukan kucing dari dunia manusia seperti itu tapi kucing neraka! Mereka peliharaan yang keren kau tahu!"


"Aku tidak bicara tentang fisik!"


"Ada apa?" Tanya Drian yang sudah selesai bertengkar dengan Veera di depan dan memperlambat jalannya agar sejajar dengan mereka.


"Hanya bicara tentang kucing." Ash menjawab.


"Kerajaan yang akan kita masuki ini… tempat yang seperti apa?" Savilla tidak bisa mengompres rasa penasarannya.


"Kau tidak tahu? Kita akan menuju kerajaan Balphegor." Zagan berucap.

__ADS_1


"Aku tidak tahu itu tempat yang seperti apa," Savilla menundukan kepalanya, berharap mereka tidak curiga, "Aku adalah bawahannya yang mulia Lucifer kau tahu? Dan karena suatu hal aku lebih banyak melakukan tugas didalam istana daripada diluar. Aku bahkan tidak begitu tahu tentang kerajaanku."


"Ah, kasihanya," Sheera mengelus pundak Savilla.


"Kau terdengar seperti iblis yang baru lahir," Ash berucap heran.


"Mungkin usianya masih sekitar 100 atau 200 tahun?" Zagan bertanya-tanya, "Sial itu masih muda sekali! Padahal aku tertarik denganmu, tapi aku tidak mau dianggap bejat karena menyukai iblis bayi."


"Apa itu? Padahal kan semua iblis di neraka sudah mengenalmu sebagai orang bejat!" Ujar Drian membuatnya mendapat kan hantaman di kepala.


Savilla diam. Tidak berani mengucapkan bahwa usianya lebih muda dari yang di tebak Zagan.


"Omong-omong, berapa lama lagi perjalanannya?" Tanya Savilla kepada Sheera.


"Tidak lama!" Jawab Sheera ceria, "Mungkin sekitar 5 atau 6 hari lagi akan sampai."


"Eh?!" Savilla kaget.


"Ada apa?"


"Ah, tidak."

__ADS_1


__ADS_2