Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Mata yang mengawasi


__ADS_3

Untungnya, penjaga UKS sudah berada di sekolah, jadi Savilla bisa segera menutup lukanya dengan kapas dan plester.


Beberapa teman sekelasnya menanyai Savilla tentangĀ  kapas itu. Mengingat lukanya berada di leher bagian atas dan lumayan terekspos.


Savilla hanya menjawab dengan senyuman kecil dan kalimat 'tidak apa'.


Hari mulai berjalan, jam pertama Savilla pun akhirnya dimulai. Seperti biasa dia mendengarkan dengan tenang penjelasan Bu Vivian, guru Matematika mereka.


Tapi ditengah pelajaran, karena merasa bosan Savilla mencoret-coret bukunya. Dia menggambar hal-hal abstrak seperti garis-garis, lingkaran, dan sebagainya.


Ditengah-tengah aktivitas seninya, tangan Savilla membeku. Huh? Apa ini?


Dia segera melihat sekeliling kelas. entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasa ada mata yang terus menatapnya.


Sejak kecil, Savilla selalu mempunyai indra dan intuisi yang kuat. Dia bisa tahu jika ada orang yang berjalan dengan jarak 5 meter darinya. Dan setiap kali Savilla mempunyai firasat, firasat itu cenderung benar.


Tapi siapa yang memandanginya terus-menerus dikelas ini?


Karena letak bangku Savilla paling belakang, jadi rasanya aneh jika ada yang memerhatikannya selama 3 menit tanpa mengalihkan pandangan. Tapi Savilla yakin sekali orang itu memandangnya 3 menit non-stop.


Hanya saja, jika yang memerhatikannya adalah salah satu orang dari bangku di depannya, maka orang itu pasti akan menengokan kepalanya kebelakang kan? Semua siswa dikelas ini sedang memandang lurus kedepan, mendengarkan Bu Vivian dengan seksama. Meskipun beberapa ada yang sedang mengobrol sendiri.


Savilla menengok ke samping, percuma, seperti yang dia duga dari para penghuni bangku belakang isinya orang-orang yang asyik tidur sendiri.


Savilla berusaha mengabaikan perasaan tidak nyamannya. Mungkin ini hanya imajinasinya saja.


Tapi entah kenapa, semakin dibiarkan, rasanya dia semakin intens ditatap.


Mungkin karena tidak tahan, kepala Savilla refleks menengok ke jendela. Pemandangan yang biasa, lapangan luas dengan beberapa pohon beringin dipinggir lapangan. Dan seorang lelaki yang bersandar di pohon beringin itu.


Pandangan Savilla langsung terfokus pada orang itu. Savilla menelitinya. Dia memakai seragam sekolah ini. Seorang laki-laki. Dan rambutnya tertata dengan rapi. Itu...


*apakah Savilla pernah melihatnya? ia merasa seperti pernah melihat lelaki itu disuatu tempat. well, jika sekolah mereka memang sama, seharusnya mereka memang pernah berpapasan, kan?


Tapi ini aneh*.


Savilla melihatnya lebih cermat lagi. Tatapan mata si lelaki itu mengarah kesini. Tidak, bukan kearah Savilla, melainkan ke kelasnya. Seperti ada sesuatu yang ia cari di kelas itu. Sama seperti saat Savilla mencari si 'pengintai'-nya.

__ADS_1


......Tapi mengapa seolah tatapan itu ditunjukan padanya?


Dia menggelengkan kepalanya, kembali mencoret-coret bukunya dengan gambar-gambar aneh. Untungnya, bibinya tidak pernah mengecek buku catatannya. karena banyak sekali gambar aneh dan kata-kata aneh yang ia ciptakan di buku-bukunya.


*****


Bel istirahat pertanda berakhirnya jam pertama akhirnya berbunyi. Savilla menghela napas lega, begitu juga siswa lainya, tapi dengan alasan yang berbeda dengan Savilla. Tatapan itu, Bahkan sampai menit terakhirpun ia masih bisa merasakannya.


Savilla buru-buru keluar berniat menghampiri lelaki misterius itu. Tapi yang bisa Savilla lihat didepanya hanya sebuah pohon beringin tanpa apapun yang menghiasinya.


"Ini aneh..," Gumam Savilla


"Apanya, Vill?" Seorang siswi, yang Savilla ketahui bernama Lula bertanya kepadanya.


Savilla yang tidak menyadari bahwa tadi dia bicara keras-keras,langsung gelagapan, "Oh, enggak, itu.., tadi pulpen aku ilang. Padahal tadi taruh dimeja."


"Oh. Palingan dicolong sama jaka lagi. Lo kan tau sendiri dia kaya gimana. Eh, tunggu deh," Seolah menyadari sesuatu, Lula segera menyambung ucapannya, membuat perasaan lega Savilla ikut menghilang, " pulpennya ilang dimeja, kok lo carinya diluar sih?"


"Engg, ya itu aku mau cari jaka. Siapa tau beneran dia yang ngambil." Savilla segera buru-buru menjawab. Agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Oh.." hanya itu kata yang diucapkan oleh Lula sebelum berlalu pergi.


****


Savilla duduk manis di bangku taman belakang sekolah. dia meletakan kotak makannya diatas pangkuan.


Savilla memandang sekeliling, mencari keberadaan kucing yang pagi tadi itu. Nihil, dia tidak bisa menemukan apapun. "Mungkin kucing itu sudah pergi," Gumam Savilla.


Toh, kalau dia bertemu lagi dengan kucing itupun, Savilla akan mengabaikannya.


Seolah teringat sesuatu, Savilla mengeluarkan jasad kalungnya yang rantainya sudah putus itu.


Dia memandangnya dengan teliti. Savilla heran kenapa kalung itu bisa tiba-tiba putus sekarang, padahal waktu kecil dia sering menarik-narik kalung itu dari lehernya, meskipun tidak pernah melepaskannya. Tapi kenapa baru terputus sekarang?


Mungkinkah keawetan kalung itu akhirnya memudar setelah bertahun-tahun dianiyaya Savilla?


Savilla menghela napas, Kalau seperti itu, dia juga kan yang membuat kalungnya terputus...

__ADS_1


Saat Savilla sedang asyik berdebat dengan pikirannya, dari sudut matanya ia melihat sesosok bayangan hitam.


Savilla segera membalikan badannya kearah dimana ia melihat bayangan tadi. "Siapa itu?!" Tangan Savilla yang sedang memegang sendok bergetar kecil, tapi cukup untuk membuat sendoknya ikut bergetar.


"Siapa itu?!" Setelah beberapa menit, ia mengulang pertanyaanya lagi, tapi tetap tidak mendapat jawaban.


Savilla menggelengkan kepala. Mungkin hanya imajinasinya. Dia berusaha untuk melanjutkan memakan makanannya lagi. Tapi perasaan seperti sedang diawasi kembali menghampiri Savilla dan membuat dirinya tidak tenang. Akhirnya dia menyerah pada makanannya yang baru hanya ia makan beberapa sendok itu.


***


Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Savilla merasa lega dan segera buru-buru mengambil tasnya. Dia tidak sabar ingin segera pulang. Bukan karena merindukan rumah. Tapi karena merasa tidak nyaman.


Savilla merasa terus-terusan diperhatikan sepanjang hari ini. tidak hanya oleh manusia, tapi bahkan hewan dan tumbuhan seolah terus mengawasinya. entah bagaimana dia bisa merasa seperti itu.


Savilla berjalan cepat meninggalkan kelas dan akhirnya setelah melangkahkan kakinya dengan kecepatan penuh. Dia berhasil menembus gerbang sekolah.


Awalnya, Savilla mulai merasa lega. Berpikir bahwa selama dia berada di luar area sekolah perasaan merasa diawasi akan berhenti menggangunya.


Tapi setelah beberapa langkah, perasaan itu malah semakin menguat. Membuatnya terjingkat beberapa kali.


"Apa-apaan ini?!" Savilla berteriak kesal, untungnya jalanan itu sedang sepi hanya ada beberapa kendaraslan yang lewat.


Apa mungkin aku naik angkot saja, ya? Siapapun yang sedang mengawasiku tidak akan bisa menjangkauku jika aku berada dalam ruang tertutup, kan?


Ah, tidak. Apapun itu asal jangan angkutan umum. Hindari tempat ramai.


Instingnya langsung merespons. Tempat ramai adalah jalan keluar yang bagus jika kau sedang diawasi. Karena siapapun yang sedang mengawasimu, akan kebingungan jika harus mengawasi dalam keramaian.


Tapi sekarang ini, Savilla merasa tempat ramai hanya akan memperburuk situasi. Dia memilih untuk mengambil rute yang jarang dilewati orang.


Tapi percuma saja. Firasat bahwa dirinya sedang diawasi tidak juga hilang. Lagipula, Savilla tidak yakin 'hal' seperti apa yang mengawasinya


.


.


.

__ADS_1


...Ah, ini membuatku frustasi.


__ADS_2