Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Night, Night


__ADS_3

***


Savilla menarik napas lega.


Dia untungnya bisa mengekuarkan alasan yang cukup meyakinkan untuk segera keluar dari kolam itu sebelum tubuhnya tidak bisa lagi mentoleransi rasa panasnya.


Meskipun tatapan curiga Veera tadi cukup membuatnya merinding.


Savilla sudah sekalian berganti pakaian di sana. Jadi dia tidak usah mengganti pakaian lagi di kamarnya. "Haha, itu cukup menyenangkan."


Savilla memasuki kamarnya dan melihat Kucingnya sedang tertutup sebuah buku diatas kursi. Dia mengangkat buku itu, "Nathan…?"


Nathan langsung berubah ke wujud aslinya. "Itu kau! Aku kira siapa."


"Apa kau sedang bersembunyi?" Savilla menatap Nathan yang rambutnya masih basah lalu berpindah pada bukunya.


"Tidak! Aku tadi sedang membaca buku lalu merasakan ada aura yang mendekat."


"Kau membaca ini? Memangnya disini ada buku?" Savilla membuka buku itu dan membolak-balik halamannya penasaran, setelah selesai, wajahnya langsung memucat, "Apa ini?"


Nathan menyeringai, "Bukan bacaanmu sehari-harimu, ya?"


"Lagian kau mengerti bahasanya, ya? Ini bukan buku dari dunia manusia," Savilla menyerahkannya pada Nathan.


"Letakan saja di rak sana," Nathan menunjuk di belakang Savilla.'


"Aku mempelajari beberapa bahasa universal, Sangat membantu ketika ingin membuat perjanjian dengan iblis ataupun berkomunikasi dengan malaikat,"


"Bahasa Universal?" Savilla meletakan buku itu di bagian yang kosong dan berbalik ke Nathan.


"Bahasa yang dipakai oleh iblis dan malaikat. Tapi bantak dari 8 dimensi yang memakainya."


"8 dimensi?" Savilla bertanya lagi. Bingung dengn kata-kata aneh Nathan.


"8 dunia berbeda yang terbentuk di alam semesta ini. Termasuk bumi."


"Ohhh…" Savilla menganggukan kepala.


"Sekarang tidurlah, aku akan tidur di sofa ini dan kau tidur di ranjang."


"Aku tidak akan melakukan apapun," Sambung Nathan setelah mendapat tatapan ragu dari Savilla, "Janji."


Savilla tersenyum setelah yakin bisa mempercayai Nathan. "Baiklah, selamat malam."


"Selamat malam."


***


Di pagi hari, Savilla sudah dibanginkan oleh suara berisik dari Sheera. Dia menarik Savilla dari ruangannya dan membawanya di ruang pertemuan.


"Ruang pertemuan apa? Semacam ruang khusus?" Savilla bertanya saat dalam perjalanan.


"Sebenarnya itu hanya kamarnya Danius dan Darius. Mereka mendapat kamar paling besar disini karena mereka adalah langganan dan keluarga kerajaan. Semacam V.I.P!" Sheera menjelaskan.


"V.I.P?" Savilla pura-pura tidak tahu.


"Oh, ya kau belum pernah ke dunia manusia.. sudahlah, lupakan."


Sheera membuka pintu dan memasuki kamar yang disebut ruang pertemuan itu. Savilla kagum melihatnya. Kamarnya memang benar-benar besar. Seperti sebuah rumah.


Ditengah kamar terdapat meja besar dan kursi yang saling berjejer. 7 dari kursi itu sudah ditempati oleh yang lainnya. Sheera berlari untuk menempati 1 kursi yang tersisa.

__ADS_1


"Anu…, Aku duduk dimana?"


Semuanya menatap ke Savilla.


"Oh, ya… aku lupa kalau disini ada seseorang lagi," Danius menepuk dahinya.


"Dia siapa?" Wajah yang tidak familiar bagi Savilla berbicara.


"kau duduk di lantai saja, ya," Chanx berucap santai.


"Atau duduk di pangkuanku?" Zagan mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak terimakasih, aku berdiri saja."


"Berdiri? Disaat semuanya duduk?" Ash tersinggung.


"Iblis rendahan sepertimu beraninya…" Veera mengekuarkan aura gelap.


"Baiklah, baiklah! Aku duduk di lantai!"


"Baiklah, Meeting kali ini aku ingin membahas masalah perjalanan kita untuk mengantar Savilla." Veera membuka pembicaraan.


"Tunggu, tunggu, kita sungguh akan membantunya?" Drian terkejut.


"Tentu."


"Yayy!" Sheera bersorak senang.


"Jadi seperti yang kalian lihat dipeta ini…"


"Tapi aku tidak melihat apapun…" Savilla berbisik pelan.


****


"Apa ada sesuatu yang menarik, Acape?" Dia memandang iblis didepannya dengan tatapan dingin, "Kalau kau berani menggangguku karena hal sepele akan kupenggal kepalamu."


Iblis bernama Acape menundukan kepalanya takut, "Ampun, yang mulia pangeran, ini masalah yang cukup penting. Sekitar beberapa hari lalu divisi kami mendeteksi aura aneh yang muncul di perbatasan 2."


Sang iblis di singgasana mengepalkan tangnnya, "Apa itu cukup penting?"


"Yang mulia, Aura itu menunjukan ada 2 iblis yang baru datang dari dunia manusia, lalu salah satunya menghilang."


"Kalau begitu? Cari tahu sumber masalahnya dan selesaikan sendiri! Apa kalian ini anak kecil yang selalu perlu diarahkan?"


"Yang mulia.., Salah satunya legi, selain iblis kami mendeteksi bahwa dia setengah manusia…"


Pria di singgasana terdiam.


"Dan lagi memancarkan aura yang sama dengan yang mulia Lucifer…"


"Cukup, pergi." Perintah sang Pria singkat.


"Kejayaan bagi sang bintang fajar," Acape membungkukan badanya dan pergi dari ruang singgasana.


"Coren, dimana yang mulia raja?" Ucap si pria pada pelayan setianya.


"Sedang memandangi langit di menara, pangeran Adriel." Coren menjawab dengan sopan.


Adriel berteleportasi menuju menara.


"Yang mulia," Adriel membungkukan badan, lelaki yang diajaknya bicara sama sekali tidak menjawab, bahkan masih memunggunginya, "Kami mendapat laporan dari tuan Acape, seorang iblis setengah manusia baru-baru ini muncul di Perbatasan 2."

__ADS_1


Iblis didepannya masih belum menjawab.


"Yang mulia, apakah ini ada hubungannya dengan anda?"


"Aku tidak tahu. Aku tidak menyukai manusia."


"Tetapi…"


"Oh, ya… di dunia manusia masih ada seorang gadis yang mungkin saja benih dariku."


Ucapan itu membuat Adriel bergetar, "Yang mulia!"


"Aku bikang 'mungkin saja'." Iblis itu membalikan badanya, "Itupun kalau dia masih hidup.., Aku lupa sejak kapan aku membuatnya. Berhubungan dengan manusia sungguh bencana." Tatapannya berubah menjadi sedih


"Itu.., aku rasa sekitar 15 atau 16 tahun yang lalu." Adriel masih menundukan kepalanya.


"Kau tidak usah memngingatkanku," Ucapnya dengan nada angkuh, "Sekarang aku punya tugas untukmu. Jemput gadis itu."


"Menjemputnya?" Adriel menatap tidak suka.


"Tentu. Kau harus menyambut adikmu dengan baik, kan? Buat dia betah disini."


"Baiklah yang mulia Lucifer…"


"Tunggu dulu, sebelum itu," Lucifer menghentikan Adriel yang akan berteloportasi lagi. "Jika kau menemukan penyusup diantara mereka, bunuh saja dia."


"Bunuh Penyusupnya?"


"Tidak, kau belum cukup kuat untuk melawannya," Dia terdiam sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya, "bunuh Si gadis."


***


Di dunia manusia…


Rose dan Celix menatap takut pada bos mereka. Mereka baru berani membuat laporan sekarang. Karena mereka harus mengurus Bryan dulu sampai pemuda itu sepenuhnya sembuh.


"Kalian bilang.., kalian tidak berhasil menangkapnya?" Matanya menatap seram ke 2 orang itu. Rian sedang duduk disebelahnya seperti biasa. Sedamgkan Vale berdiri di depan pintu. Menjaga pintu tetap tertutup dan tak ada yang menguping.


Celix menundukan kepalanya, "Bos gadis itu cukup pintar untuk kabur!"


"dianya yang terlalu pintar atau kalian yang bodoh?" Rian berucap sinis


Vale tertawa, "Tuan, seharus,nya anda mengirimku untuk menghabisinya!"


"Bos, iblis itu masih belum tahu cara bertarung tapi ada orang yang melindunginya. Dia orang yang cukup kuat…."


"Omong kosong jangan mencari alasan…" Rian membentak 2 orang itu.


"Cukup Rian," Sang bos mengangkat tanganya, "Vale, menurutmu apa yang harus kita lakukan?"


Vale memegangi keningnya seolah berpikir. "Menurutku, kita harus menunggu sampai dia kembali lagi ke dunia manusia. Kali ini biarkan aku yang mengurusnya."


"Kembali ke dunia manusia? Dia sudah diburu disini, mana mungkin dia sudi untuk kembali?!"


"Diam!" Sang Bos berteriak marah pada Celix, "Kalau begitu aku serahkan masalah ini padamu, Vale."


Vale terkikik senang. Sedangkan Rose dan Celix mendengus tidak suka


****


Sheera: Jangan lupa like, vote, komen, dan share. dan setelah ini bakalan ada pengumuman. harap dibaca ^^

__ADS_1


__ADS_2