Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Rencana (1)


__ADS_3

"Mereka lama sekali. Jangan-jangan mereka sudah pulang ke kerajaannya masing-masing. Ini sudah setengah jam!" Zagan berucap setelah 3 menit berlalu dan saling berdiam diri bersama Savilla.


Savilla lagi-lagi mengabaikannya, dia menatap shock pada hewan berbulu putih yang ada di pangkuannya sekarang.


"Apa kucingmu baik-baik saja?" Zagan bertanya. Ikut mendudukan dirinya di sebelah Savilla dan bersandar ke pohon di belakangnya.


Savilla menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sejujurnya Savilla," Zagan meraih dagu Savilla, dia bisa mengetahui nama gadis itu setelah memaksa Savilla mengucapkannya, "Selagi menunggu mereka kenapa kita tidak bersenang-senang dulu saja?"


Savilla menggelengkan kepala lagi. Dia tidak yakin ada hal menyenangkan yang bisa dilakukan bersama Zagan.


"Bisakah kau bicara?" Zagan berucap jengkel.


Savilla menggelengkan kepalanya lagi, "Tidak mau," Ucapnya pelan.


"Sungguh? Kau kejam sekali, perlukah aku menghukummu?" Zagan memperkecil jarak diantara mereka. Savilla berusaha menghindarinya tapi dia terus mendekat.


"Meong!" Kucing di pangkuan Savilla meloncat ke arah Zagan.


"Ouch!" Zagan memegangi lengannya yang tercakar kucing itu. "Hey, ada apa denganmu mahluk kecil?" Zagan mengangkat kucing itu dan mendekatkannya pada wajahnya, "Apa kau juga mau kuhukum?"


Kucing itu menatap Zagan horror.


Zagan melempar kuving itu dengan kasar ke arah Savilla lagi. Savilla menangkapnya dan menatap Zagan melotot.

__ADS_1


"Omong-omong, aku akan pergi mencari yang lainnya dulu. Kau dan mahluk berbulu itu tunggulah disini," Zagan berdiri sebelum dia benar-benar pergi, dia menatap Savilla dalam, "Jangan bergerak, oke?"


Dan begitulah. Zagan menghilang begitu saja.


Savilla mengedipkan matanya.


Dia menatap aneh kucing putih yang ada disebelahnya.


"…..Nathan?" Ucap Savilla tidak yakin, "Apa itu kau?"


"Kenapa kau berubah menjadi kucing? Cepat kembali ke wujud manusiamu dan kita cari tempat bersembunyi."


Savilla menghela napas, "Lupakan portalnya, mereka akn menemukan kita sebelum kita menemukan portalnya. Aku tidak menyarankan bersembunyi di semak-semak, mereka menemukanku tadi."


"Nathan?"


Apa kucing disebelahnya hanya kucing biasa dan bukan Nathan?


"Hey, tunggu dulu… apa kucing ini mati? Dia tidak bergerak sejak tadi."


Savilla teringat kalimat terakhir Zagan sebelum menunggalkan mereka.


Savilla mengelus bulu kucing itu, "Apa kau tidak bisa bergerak? Halo? Nathan? Kucing? Meong?" Savila berusaha membuat kucing itu merespons. "Setidaknya tutuplah matamu!" Savilla merasa terganggu dengan mata kucing itu yang terbuka lebar sejak tadi.


Savilla mencoba mengangkatnya, tapi kucing itu tidak bisa digerakan sama sekali, seperti ada lem yang menempel antara dirinya dengan tanah.

__ADS_1


"Ugh!"


"Apa kau sedang kena sihir…?" Sabilla mengernyitkan dahinya, "Ah, sialan! Aku mungkin sebaiknya meninggalkanmu saja disini!" Savilla dengan kesal kembali duduk.


Tapi jika kucing itu benar-benar Nathan Savilla akan merasa tidak tahu terimakasih sekali. Padahal Nathan sudah menolongnya tadi. Dia juga tidak tahu harus pergi kemana jika berhasil lolos dari mereka.


"Mereka tidak benar-benar ingin membunuhku, kan..?" Savilla bersandar pasrah pada pohon di belakangnya.


Dia meraba sakunya dan menatap sedih pada kalung rusak yang selalu dibawanya itu, "mmm".


Setelah kalung itu rusak, hal-hal aneh mulai berdatangan ke arahnya.


Savilla memasukannya lagi kedalam saku, dan mulai meraba bekas luka dilehernya, kalau pun itu bisa disebut bekas luka, "..Tanda dari Luciffer…?"


"Lucifer… dia malaikat yang dibuang ke neraka, bukan?"


Savilla menelengkan kepala dan membelalakan matanya, "Aku tahu!"


Pada saat itu juga, 7 orang muncul dihadapannya.


"Huh? Aku tadi mendengar seseorang berteriak 'aku tahu' siapa itu?" Drian menengok-nengok sekitarnya.


"Ya, apa yang kau tahu, iblis rendah?" Ash bertanya dengan wajah datar.


"Huh? dia yang mengucapkannya?!" Drian melihat Savilla takjub.

__ADS_1


"Kau tidak sedang membuat rencana untuk mengelabuhi kami, kan?" Chanx meletakan kedua tanganya di pinggang.


__ADS_2