
"Siapa…?" Savilla mencoba mengintip ke arah lelaki itu. Tapi dia tidak bisa melihat apapun. Matanya terasa silau dan pusing. "Ugh…"
"Kau… ternyata aku benar…" Savilla dapat mendengar suara Bryan cukup jelas
"Ini peringatan terakhirku. Jangan ganggu dia lagi. Atau aku akan perlu menghukumu…" Itu bukan suara Bryan. Tapi entah kenapa, Savilla seolah pernah mendengarnya.
"Kenapa…?"
"……..Milikku."
Huh? Apa tadi orang itu mengatakan sesuatu?
Savilla dapat melihat seseatu melayang ke arah mereka. Beruntungnya, dia sempat menghindar. Tapi seseatu berhasil mengenai Bryan dan membuatnya terpental ke belakang.
'Itu api! Bola api! Dan dengan warna yang aneh! Gila!' Batin Savila.
"Apa yang kau lakukan berdiri disitu…?"
Suara lelaki misterius itu berbicara padanya. Huh, memangnya dia harus apa?
"Cepatlah pergi dari sini.."
"Ah, benar juga!" Savila segera berlari selagi bryan masih sibuk mengurusi lelaki itu. Sekali lagi, dia menengok ke belakang berusha mencari tahu siapa penyelamatnya itu.
Tapi dia tidak dapat melihat apapun saking gelapnya.
***
Didepan gang itu ternyata sudah ada pria yang menyambutnya.
"Nona, tolong ikutilah aku…"
__ADS_1
Savilla agak merasa jengkel sekarang, satu persatu orang aneh tidak karuan muncul ke arahnya, "Kau siapa?"
"Anda tidak perlu tahu. Ikutlah saja denganku."
"Uhh..," Savilla bersiap-siap untuk lari dari lelaki itu tetapi lelaki itu sepertinya menyadari gerak-geriknya dan meraih tangannya, "Apa yang kau lakukan?! Lepaskan atau aku akan berteriak?!"
"Sayang sekali, padahal kita bisa membuat ini mudah untuk dirimu…"
Savilla mulai merasakan kesadarannya menghilang perlahan tapi sebelum itu tubuhnya serasa masuk kedalam sebuah putaran. Ditarik kedalam dimensi yang aneh.
***
"Savilla, apa kau mengerti?" Seorang wanita bertanya pada anak perempuan berusia 7 tahun yang ada di depannya.
"Bibi?" Anak kecil itu bingung sekali. Bibinya tidak seperti biasanya hari ini. Bibinya memang kadang bersikap aneh. Tapi sekarang dia terlihat seperti orang yang ketakutan.
"Apa kau mengerti?" Sang bibi bertanya dengan tidak sabar.
"Uh..," Savilla mencoba mengingat apa yang bibinya katakan, "Aku… tidak memahaminya," Savilla menggeleng-gelengkan kepalanya.
Savilla memandang bibinya dengan bingung dan penasaran.
"Jangan pernah, sekalipun, meminta bantuan pada iblis… Jangan pernah tergoda oleh rayuan mereka."
"Iblis? Maksudmu mahluk jelek yang ada di tv-tv dan film-film horror itu?" Savilla mengingat film seram yang dia tonton minggu lalu yang menayang mahluk bernama iblis yang memiliki rupa jelek dan menyeramkan.
"Ya--Tidak," Sang bibi buru-buru meralat ucapannya, "Mereka tidak seperti yang kau bayangkan. Mereka bisa jadi memiliki rupa seperti manusia--atau bahkan seperti malaikat, tapi jangan sekalipun kau jatuh pada topeng mereka."
"Kalau begitu, kenapa aku tidak boleh meminta bantuan pada iblis?" Savilla kecil tidak mengerti. Jika iblis itu tidak menyeramkan seperti di film-film. Kenapa dia harus menghindari mereka.
"Karena mereka adalah mahluk yang jahat!!" Sang bibi membentak sekali lagi, tapi bukan karena amarah, lebih seperti panik dan ketakutan, "Salah satu dari mereka… telah mengambil adikku…"
__ADS_1
Savilla memandang dengan heran pada bibinya yang terlihat ditengah-tengah amarah dan kesedihan itu.
"Oh, Savilla sayang," Sang bibi memeluk gadis kecil itu, "Aku pasti akan sangat menyangimu.., jika saja ibumu tidak meninggalkan kita berdua seperti ini."
"Ibuku?" Savilla langsung merasa tertarik, "Bibi mengenal ibuku? Apakah 'adik' yang bibi maksud adalah ibuku? Kenapa dia meninggalkanku? Apa… iblis mengambilnya dari kita?"
"Itu benar. Karena itu, berjanjilah padaku, jangan pernah jatuh dalam tipu muslihat mereka. Jangan pernah mempercayai iblis."
"Aku janji!" Savilla kecil segera membalas pelukan bibinya.
"Tapi bibi…," Savilla berucap ditengah pelukan mereka, "Bagaimana jika ada iblis jahat yang menggangguku…?"
"Kau jangan takut. Berdoalah kepada tuhan. Dia pasti akan mengirimkan bantuan dan malaikat pelindungmu pasti akan melindungimu. Apa kau tahu bahwa setiap orang memiliki malaikat pelindungnya masing-masing?"
"Apa aku juga punya?" Savilla bertanya. Malaikat pelindung terdengar menarik untuknya
"Tentu. Anak baik sepertimu tentu saja memiliki malaikat pelindung."
"Wah, sungguhkah? Dia orangnya seperti apa? Siapa namanya? Laki-laki atau perempuan? Dia orang baik, kan? Karena dia malaikat dia pastinya orang yang baik!"
"Savilla, Jangan mempercayainya juga."
"Apa?"
"Tidak, kau tidak boleh mempercayai siapapun! Bahkan jika itu malaikat sekalipun! Kau tidak boleh! Dia-"
"Prince!"
Sang bibi membeku dan langsung menhentikan kalimatnya. Dia berbalik ke belakang. Pandangannya mengikuti Savilla yang berlari ke arah kucing putih kecil itu dan menggendongnya.
"Prince, prince apa kau lapar? Apa kau mau bermain? Ayo kemari, aku akan memberimu makan lalu kita bermain! Hari ini ada ikan sarden!"
__ADS_1
"Jangan mempercayai… siapapun.." Bibinya berucap sambil memandang punggung Savilla yang menjauh bersama kucingnya.
***